POMPA AIR TENAGA GRAVITASI

POMPA AIR TENAGA GRAVITASI
By Paijo

( Update : Artikel ini berisi analisis bahwa pompa air tenaga gravitasi seperti pada gambar TIDAK MUNGKIN BERHASIL. Jadi artikel ini tidak membahas tentang cara membuat pompa air tenaga gravitasi )

Pompa air tenaga gravitasi yang bisa memompa air dari sumur tanpa memerlukan bahan bakar maupun listrik tentu menjadi impian semua orang. Sudah banyak pula eksperimenter yunior yang menggambar desain serta membuat prototypenya baik berupa miniatur maupun dalam skala penuh.

POMPA GRAVITASI

Konsultasi dengan orang yang menguasai mekanika sudah dilakukan. Hitung-hitungan juga sudah dilakukan dan hasilnya sangat meyakinkan bahwa pompa pasti bisa bekerja karena berat air dalam drum ( 4 ) jauh lebih besar daripada berat air dalam pipa yang menuju sumur ( 3 ). Semua sudah tampak sempurna dan tinggal diujicoba. Namun sayang, impian tadi harus buyar ketika prototype tidak bisa bekerja sesuai harapan. Tanpa kenal menyerah, gambar desain dibuka kembali, angka-angka dihitung ulang, serta sambungan-sambungan diperiksa kalau-kalau ada yang bocor. Namun tidak satupun kesalahan maupun cacat cela yang bisa ditemukan. Akhirnya diputuskan untuk mengganti pipa dengan ukuran yang berbeda, yang menuju sumur diganti yang lebih kecil sedangkan yang menuju kran diganti yang lebih besar. Setelah dicoba lagi, ternyata hasilnya nihil dan pompa tetap tidak bisa bekerja. Setelah beberapa kali coba-coba, akhirnya sang eksperimenter yunior frustasi dan menyerah kalah karena kegagalan yang menyakitkan tanpa pernah tahu sebabnya. Sejak saat itu, sang eksperimenter yunior memilih berhenti menjadi penjelajah teknologi dan kembali menjadi orang biasa lagi dan menangalkan status eksperimenternya. Seperti itulah kira-kira pengalaman pahit yang dialami beberapa eksperimenter yang pernah membuat pompa air tenaga gravitasi seperti pada gambar. Waktu, tenaga, pikiran, maupun uang terbuang percuma tanpa hasil.

Seandainya eksperimenter tersebut mau mempelajari mekanika fluida, tentu akan bisa menemukan masalah yang menyebabkan kegagalan pompa tersebut tanpa harus frustasi segala. Kekeliruan telak yang ia lakukan adalah salah mengidentifikasi variabel yang mempengaruhi kerja sistem yang didesain yaitu :
• Menurut asumsinya, total gaya berat air yang akan bekerja pada sistem. Prinsipnya seperti jungkat-jungkit, jika kuasa lebih besar daripada beban maka pasti bisa mengangkat. Setelah dihitung, kuasa ( m2 x h2 ) lebih besar daripada beban ( m1 x h1 ). Kesimpulannya, pompa pasti bisa bekerja.
• Kenyataannya sistim tersebut bekerja bukan berdasarkan prinsip jungkat-jungkit atau tuas melainkan berdasarkan prinsip mekanika fluida. Jadi hanya tekanan hidrostatik dan tekanan atmosfer saja yang berpengaruh pada sistem tersebut, sedangkan total gaya berat air ternyata tidak mempengaruhi kerja sistem tersebut. Jika dihitung, ternyata tekanan yang mendorong air dari C ke B lebih besar daripada tekanan yang mendorong air dari A ke B sehingga tidak mungkin air di A mengalir ke C. Dengan demikian, pompa tidak akan pernah bekerja.

Pada kasus kegagalan eksperimen STIKA ABADI yang lain, juga terjadi kekeliruan semacam itu dalam mengidentifikasi variabel yang mempengaruhi kerja sistem. Namun hal itu akan dibahas dalam artikel yang lain jika ada yang penasaran. Terimakasih dan salam eksperimen.

(bersambung ke bagian 2 )

& Komentar

  1. helgeduelbek berkata,

    Februari 21, 2007 pada 4:02 pm

    Wah bener2 eksperimenter kang paijo… TApi kayaknya sih memang bisa yah… cuman sayangnya saya gak punya ilmu dan kurang begitu mau repot, ditunggu kang. Tetep eksperimen yah!

  2. Paijo berkata,

    Februari 22, 2007 pada 12:16 am

    @ Helgeduelbek
    Jangan-jangan sampean belum baca detailnya. Artikel saya di atas justru menjelaskan bahwa desain tersebut tidak akan pernah bisa bekerja karena bertentangan dengan hukum alam. Saya tergelitik untuk mengupasnya karena banyak eksperimenter lain yang ngotot bahwa itu bisa bekerja. Hal itu sudah lama kami perdebatkan di Forum Diskusi Energi LIPI. Celakanya lagi, eksperimenter yang pro tidak pernah menunjukkan bukti bahwa memang bisa tapi tetap saja ngotot. Namun di blog saya, saya tidak akan melayani debat macam itu ( walaupun akan menaikkan traffic ) karena tidak sesuai dengan tujuan saya ngeblog. Jadi bagi yang masih penasaran, saya persilahkan untuk membuktikannya di lab / lapangan dan sampaikan kepada saya jika ternyata saya salah. Terimakasih dan salam eksperimen.

  3. Irwan berkata,

    Februari 22, 2007 pada 9:20 am

    Kalo yg kaya gini saya ud liat di TV zaman loeloe di TVRI kalo ga salah, tapi pada saat itu bisa tuh bekerja saya liat ko (ga tau ya kalo di dalem tongnya ada pompa listrik).
    Seingat saya pipa hisap lebih besar (3/4 Inc) dari pipa keluar (1/2 Inc), terus pada belokan menuju titik B di kasi sambungan T dan keran bukannya elbow tujuannya untuk mengisi air ke pipa hisap pada bagian atas tong jg dikasih keran untuk mengisi tong hingga penuh, ga perlu di buat leher angsa pada pipa keluarannya pake satu elbow terus pipa arah horisontal dan keran, sepertinya pada bagian atas tong ada sebagian udara akobat ruang antara sambungan T dan elbow yg terhubung ke tong. Udara tersebut akan bertekanan negatif bila keran pengeluaran dibuka, dan tekanan negatif ter sebut menarik air pada pipa hisap.
    Maap nih bukannye ngajarin tapi itu yg saya inget coba lg yah pake ukuran sebenarnya.

  4. NolBuku berkata,

    Februari 22, 2007 pada 9:34 am

    Free Energy yah ……
    Sebenarnya saya tertarik sama jalan pikiran temen sampeyan yang pada pro itu, argumen mereka begimana.

  5. Paijo berkata,

    Februari 23, 2007 pada 12:38 am

    @ Irwan
    Kalau yang anda lihat di TV itu benar dan tidak ada trick, pasti pompa seperti itu sudah dipasarkan sejak lama dan penemunya sudah jadi milyarder. Kebohongan publik macam itu sudah lama dilakukan oleh beberapa eksperimenter sontoloyo bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga di luar negeri. Salah satu yang paling parah adalah di Amerika dan Canada yang dilakukan oleh Dennis Lee dengan Sundance Generatornya. Sampai pertengahan tahun 2006 saja dia sudah mendulang jutaan dollar dari para members yang jadi korbannya. Saking lihainya dia dan teamnya, para korban bahkan tidak merasa kalau dirinya adalah korban. Dennis Lee sendiri pernah dipenjara sebelumnya karena kejahatan sejenis. Anda dapat mengecek info tersebut melalui google dengan kata kunci DENNIS LEE, PERMANENT MAGNET MOTOR, atau FREE ELECTRICITY. Agar informasi yang anda dapat seimbang dan tidak menyesatkan, baca juga situs yang skeptis terhadap Dennis Lee tersebut.

    @ NolBuku
    Terus terang saya sudah capek berdiskusi atau berdebat dengan para pendukung free energi khususnya STIKA ABADI seperti pompa air tenaga gravitasi di atas. Kebanyakan dari mereka berfikir dan bekerja dengan cara trial and error. Dalam mengajukan pendapat, kebanyakan juga tidak didasari data/fakta maupun argumen yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Yang lebih parah lagi, tidak ada satupun yang bersedia memberikan hasil analisa kuantitatif karena mereka lebih mengandalkan intuisi atau feeling. Celakanya, intuisi hanya akurat jika telah terlatih dalam jangka waktu yang cukup lama, itupun tidak selalu tepat.
    Pada bulan Oktober 2006, saya pernah memberikan tantangan di Forum Diskusi Energi LIPI kepada para pendukung PLTMg untuk memberikan bukti bahwa PLTMg memang sudah bisa dibuat dan bekerja sesuai desain. Sampai hari ini, para pendukung maupun yang mengklaim telah berhasil membuat PLTMg tersebut belum bisa membuktikan omongannya. Padahal bukti yang saya minta tidak muluk-muluk dan sangat elegan. Kalau benar telah menemukan, patentkan. Kalau tidak mau mematentkan, publikasikan desainnya di media massa/internet/blog agar dapat ditiru orang lain. Dan kalau memang belum menemukan, segera cabut klaimnya. Karena tantangan itu, saya justru dikritik habis-habisan oleh yang lain. Jadi sepertinya mereka lebih suka bermimpi terus dan tidak mau dibangunkan karena takut menghadapi kenyataan. Yang sangat saya sayangkan, Thread-nya rusak gara-gara spam ringtone. Saya sudah hubungi langsung pengelola web-nya tapi belum ada perubahan apa-apa, topiknya tetap tidak nongol. Spamer tergiur karena topik tersebut adalah yang paling ramai dan berlangsung setiap hari sejak Agust 2005.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  6. Irwan berkata,

    Februari 23, 2007 pada 4:20 am

    Maap nih saya jg ga tau itungannya, tapi itu sekedar seingatnya aja, sebenarnya sih saya berharap alat tersebut bisa bekerja.
    maap lg nih kedobelan komennya apus komen saya salah satunya bisa kan.

  7. ben-ben berkata,

    Maret 2, 2007 pada 2:07 pm

    memang sulit dipercaya, mungkin saya adalah salah satu korban dari percobaan ini. pada masa SMU saya pernah melakukan experimen ini namun tidak berhasil. muangkin saya salah desain atau salah membuat alatnya. memang pada waktu itu tanpa perhitungan. mohon kalo memang experimens ini berhasil saya dikasih info.
    mari kita hitung ulang experimen ini dengan persamaan bernouli. tapi menurut saya agar percobaan ini berhasil diperlukan perbedaan tekanan yang cukup tinggi.
    bila kita tidak dapat melakukan itu maka percobaan ini kemungkinan besar tidak akan berhasil

  8. Paijo berkata,

    Maret 5, 2007 pada 1:18 am

    @ Ben-ben
    Saya salut pada pengakuan anda, soalnya jarang yang mengaku. Dalam kasus pompa gravitasi ini, dihitung atau tidak dihitung akan tetap saja gagal karena bertentangan dengan hukum alam. Dari faktor tekanan, jelas tidak mungkin bekerja seperti yang sudah saya bahas di atas. Anda bisa mencobanya dengan persamaan bernauli. Jika anda tidak keberatan, anda bisa mengirimkan rincian perhitungan anda ke e-mail saya ( mr_paijo_paidin@yahoo.co.id ). Mengenai perbedaan tekanan, justru itulah pokok masalahnya. Gravitasi menghasilkan tekanan dari C ke B yang lebih tinggi daripada tekanan dari A ke B. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan gravitasi tidak mungkin bisa mengalirkan air dari A ke C. Kesimpulan yang sama juga diperoleh jika menganalisa energi mekanik di titik A dan di titik B. Jika anda tertarik, saya akan bahas analisa energi mekanik tersebut dalam posting tersendiri. Terimakasih dan salam eksperimen.

  9. michael berkata,

    Maret 6, 2007 pada 8:36 pm

    sebelumnya saya minta maaf sama mas paijo, karena mungkin saya dinilai mendebat.

    rancangan pada bahasan diatas saya rasa tidak termasuk dalam PERPETUAL MOTION atau STIKA ABADI, karena ada sumber energi eksternal yang memotori kerja sistem, yaitu energi potensial gravitasi bumi yang merupakan energi yang menarik seluruh benda menuju ke inti bumi, gravitasi ini pula yang menjaga udara, air dan lainnya yang ada di bumi ini agar tetap beraturan. bahkan bulan yang mengorbit mengitari bumi itupun karena adanya gravitasi.

    air mengalir berdasarkan perbedaan ketinggian, suhu, dan secara natural tidak akan mengalir jika syarat ini tidak terpenuhi. ini menunjukkan energi potensial dari air inilah yang memegang peranan. dimana energi ( E ) = massa ( m ) * gravitasi ( g ) * ketinggian ( h )

    karena gaya gravitasi bumi arahnya ke inti bumi, kita bisa memisahkan volume air pada A-B dan B-C, dari volume air ini dapat dihitung massa dari air, dengan patokan massa-jenis air murni = 1 kg/liter. dan nilai gravitasi 9.8 m/s2

    dari kondisi diatas, mari kita ambil beberapa variabel, anggap sebagai berikut :

    h1 : 8 m
    h2 : 4 m
    total air pada pada B-C = 200 liter
    volume A-B = 8,83 liter

    karena berpatokan massa-jenis air = 1 kg/liter
    maka, massa B-C = 200 liter * 1 kg/liter = 200 kg
    massa A-B = 8,83 liter * 1 kg/liter = 8.83 kg
    jadi energi potensial air pada B-C (Eb-c) = 200 kg * 9,8 m/s2 * 4 m
    = 7840 joule
    dan energi potensial air pada A-B ( Ea-b) = 8,83 kg * 9,8 m/s2 * 8 m
    = 692,272 joule

    dari perhitungan diatas, dapat dilihat adanya beda potensial yang cukup besar, sebagai syarat dasar terjadinya aliran air.

    masalah tekanan hidrostatik dari air, dimana hanya kedalaman air yang menjadi variabel, karena massa-jenis air dan gravitasi nilainya sama, saya rasa itu lebih cocok bila kita ingin menghitung tekanan terhadap benda yang dimasukkan kedalam air, karena salahsatu sifat air juga menekan ke segala arah, baik terhadap benda yang di tempatinya, maupun benda yang dimasukkan kedalamnya.

    mungkin hanya itu garisbesar-nya, pengembangannya masih luas.

    demikian, dan salam penutup dari saya, terus berkarya.

  10. Feri Adisumarta berkata,

    Maret 6, 2007 pada 8:39 pm

    Kemarin pernah saya coba di rumah ibu di Palembang, tp sifatnya sangat sementara.
    Karena gak ada peralatan pendukung untuk membuatnya yang cukup memadai.
    Pada saat kondisi tabung tidak telalu tinggi, air bisa mgalir ke titik B.
    Namun bila tabung ditinggikan maka air tidak mampu lagi mencapai titik B.
    Mungkin itu dulu masukannya.
    Salam Kenal dari Medan, Insya Allah saya mau coba lagi.

  11. Alief berkata,

    Maret 7, 2007 pada 9:16 pm

    Asyik banget pembahasannya, ikut nimbrung ah….
    Saya pikir ini mungkin saja benar adanya, tapi ada batasan tertentu dalam nilai ketinggian dan diameter pipa. Sehingga mungkin saja kapasitas air yang dialirkan jadi terbatas dan tidak “balik modal”.
    Untuk membuktikannya secara itung-itungan, sek tak bukae dulu buku Mekflu ne Fox Mc Donald (lek sempat) :D

  12. Alief berkata,

    Maret 7, 2007 pada 9:26 pm

    # Michael: :Lha lek Energi BC lebih besar dari AB trus airnya ngalir ke mana? Apa akan ngalir ke C atau ke A…. Aku dadi melok bingung….

  13. Paijo berkata,

    Maret 8, 2007 pada 3:58 pm

    @ Michael
    Saya menghargai niat anda berdiskusi dengan mengajukan analisa rinci. Kalau untuk yang seperti itu, saya bersedia melayani dengan senang hati karena bukan debat kusir.
    Mengenai hasil perhitungan energi potensial air, memang benar seperti yang anda hitung bahwa sisi kanan ( B-C ) jauh lebih besar daripada sisi kiri ( A-B ). Yang menjadi masalah, percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa selisih energi potensial tersebut tidak berperngaruh pada arah aliran air dalam rangkaian pipa seperti gambar di atas. Sedangkan yang berpengaruh pada arah aliran air dalam rangkaian pipa tersebut adalah tekanan hidrostatik dan tekanan udara luar ( tekanan atmosfer ). Secara aktual di lapangan, tekanan atmosfer mempengaruhi batas maksimal ketinggian vertikal h1 dan h2. Karena tekanan atmosfer di A dan C bisa dianggap sama, maka tekanan atmosfer hampir tidak ada pengaruhnya terhadap arah aliran air asal batas maksimal h1 dan h2 tidak dilanggar. Jika batas tersebut dilanggar, maka akan terdapat ruang hampa di bagian atas ( B ) sehingga air tidak akan bisa mengalir kemanapun. Sedangkan gaya kapiler sangat kecil sehingga bisa diabaikan. Jadi yang berpengaruh paling dominan adalah tekanan hidrostatik.

    Analisa tekanan justru merupakan bagian yang vital karena air merupakan fluida yang pasti tunduk pada hukum-hukum mekanika fluida. Salah satu hukum terpentingnya adalah bahwa fluida mengalir dari yang bertekanan lebih tinggi menuju ke yang bertekanan lebih rendah. Adapun penyebab adanya perbedaan tekanan tersebut dapat bermacam-macam dan tidaklah penting, yang penting adalah selisih tekanan yang dihasilkannya. Salah satu penyebab perbedaan tekanan tersebut adalah perbedaan ketinggian vertikal kolom air dalam pipa ( h1 > h2 ). Sedangkan total gaya berat air ternyata tidak berpengaruh pada tekanan jika ketinggian vertikal kolom air tetap. Hal itu berarti total energi potensial air juga tidak berpengaruh pada tekanan jika ketinggian vertikal kolom air tetap.

    @ Feri Adisumarta
    Menurut pendapat saya, mungkin lebih baik jika anda buat dulu dalam skala kecil dulu ( skala lab ) sebelum membuat dalam dalam skala besar ( alat sebenarnya ). Hal itu untuk menghindari pemborosan dana jika terjadi kegagalan.

    @ Alief
    Jumlah total energi potensial saja tidak akan berpengaruh pada arah aliran air jika tidak disertai selisih tekanan yang sesuai. Mengapa demikian ? ( lho malah takon to yo ). Hal itu dikarenakan jumlah energi potensial yang besar tidak selalu menyebabkan tekanan yang tinggi. Saya kira itu sudah clear karean tekanan hidrostatik hanya tergantung pada pecepatan gravitasi, massa jenis cairan dan ketinggian vertikal kolom cairan saja. Sedangkan volume total dan masa total cairan tidak berpengaruh sepanjang rho, g dan h tetap.

    Mengenai analisis energi potensial, saya telah bahas di artikel lanjutan yaitu POMPA AIR TENAGA GRAVITASI ( 2 ). Dengan bergabungnya sdr Michael dan cak Alief, diskusi makin seru sehingga saya musti siapkan artikel lanjutannya yaitu POMPA AIR TENAGA GRAVITASI ( 3 ) yang mengupas hasil percobaan skala lab dari pompa tersebut secara lengkap. Kalau saya anggap perlu, saya akan siapkan lanjutannya lagi dengan POMPA AIR TENAGA GRAVITASI ( 4 ) yang mengupas tentang hasil ujicoba prototype pompa air tersebut dalam skala penuh. Desain mana yang perlu saya coba, saya serahkan kepada para netter yang penasaran, kalau perlu saya sertai foto atau video sekalian biar pada puas. Tapi rasanya tidak adil kalau saya yang musti membuat prototype skala penuh dan mengujicobanya karena bukan saya yang penasaran. Lagi pula, dari analisis tekanan saja saya sudah tahu kalau pompa tersebut tidak akan bisa bekerja. Namun demikian, nilai pengetahuan dan hikmah dari percobaan yang gagal tersebut masih sepadan dibandingkan dengan pengorbanan untuk mendapatkannya. Nilai-nilai inilah yang selalu saya pegang teguh selaku seorang eksperimenter bonek. Nilai-nilai tersebut juga saya coba untuk tanamkan kepada beberapa eksperimenter muda yang sedang saya bina untuk menghadapi babak final LCEN 2007 bulan Mei mendatang di Graha Sepuluh Nopember di kampusnya cak Alief.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  14. antoni berkata,

    Maret 17, 2007 pada 3:58 pm

    Dear Pak Paijo…
    Perkenalkan saya Antoni, seorang mahasiswa dari jurusan teknik elektro univ.andalas padang..
    Saya telah membaca tulisan Bapak tentang Pompa dan gravitasi…
    Saya ingin bertanya, apakah bapak pernah melakukan eksperimen lain ttg grafitasi.?.
    Kebetulan, kira2 setahun lalu saya sempat melakukan eksperimen berupa merancang sebuah MESIN GRAVITASI…
    prinsipnya, saya dan team memanfaatkan gravitasi sebagai input yg bisa dikonversi menjadi energi listrik..
    Kami merancang sebuah turbin yang di ujung2 lengannya dipasang beban..
    Beban2 inilah yang akan dipengaruhi oleh gravitasi dan pada akhirnya turbin akan bergerak kontinu…
    keuntungan dari eksperimen ini, kita bisa memanfaatkan gravitasi yang mana gravitasi sangat mudah untuk ditemukan tak peduli tempat, cuaca..dan yang paling penting, besarnya gravitasi stabil.. sehingga kita tdk dipusingkan oleh perubahan apapun…
    dari eksperimen ini kami bisa menghasilkan daya listrik 1 kW perhari.. Kami kira, daya ini bisa dibilang lumayan buat perumahan di pedesaan yg tak tersentuh oleh PLN…
    Oiy, hasil eksperimen ini sempat kami presentasikan di PIMNAS (pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) 2006 di Malang..
    Salam Eksperimen
    antoni_056@yahoo.com

  15. Paijo berkata,

    Maret 20, 2007 pada 10:10 am

    @ Antoni
    Saya belum memiliki gambaran yang utuh tentang mesin yang anda buat sehingga saya agak kesulitan untuk melakukan judgement apakah mesin anda termasuk STIKA ABADI atau tidak. Tapi dari sekelumit keterangan anda, saya menduga bahwa mesin anda tergolong stika abadi karena tidak memerlukan input energi dari luar sistem. Yang menjadi pertanyaan saya, berapa lama mesin dapat bekerja kontinu menghasilkan listrik, satu jam, satu hari, satu bulan atau satu tahun. Karena banyak eksperimenter yang mengklaim bahwa mesinnya bisa menghasilkan listrik sekian kwh perhari padalah mesinnya hanya mampu bekerja selama satu jam kemudian berhenti. Jadi realnya hanya menghasilkan seperduapuluhempat dari yang diklaim. Setelah saya amati, ternyata kwh yang dihasilkan tersebut juga bukan hasil nyata tetapi hanya berasal dari energi kinetik roda karena diberikan kecepatan awal untuk start. Jadi ketahuan bohongnya juga.akhirnya. Untuk mesin anda, mungkin bagus kalau dijelaskan mekanisme kerjanya dan gambarnya agar bisa diuji apakah stika abadi atau bukan. Terimakasih dan salam eksperimen.

  16. Feri Adisumarta berkata,

    Maret 20, 2007 pada 2:18 pm

    Saya eksperimen lagi.
    Menggunakan tabung (bekas stoples diameter 10cm tinggi 15cm) dan selang 1/4 inch.
    Posisi masuknya pipa B tidak di Top tabung namun sekitar 1cm dibawah nya.
    dan pipa keluaran ada di tengan-tangah (kita belum coba untuk tabung dengan bentuk kerucut untuk keluaran, kemungkinan tekanan bentuk kerucut akan terfocus ke titik terkecil dalam artian memfocuskan power grafitasi)
    Untuk itu saya bisa katakan bisa berhasil, namun masih sederhana, dimana ketika dilakukan percobaan tersebut kita bisa mengeluarkan air dengan ketinggia sekitar 5cm dari batas ketinggian air sumber.
    Jika kita turunkan dari 5cm maka air akan mengalir lebih banyak, dan pada titik 5cm air akan berhenti mengalir.
    Jika kita tinggikan lebih dari 5 cm maka gelembung udara kan masuk ke tabung karena adanya gaya tarik kembali dari pipa b dan tabung tersebut.
    Artinya kita bisa menentukan titik potong bila dibuatkan grafik antara tekanan dan tingginya kemampuan tabung untuk mampu memanfaatkan gaya grafitasi.

  17. eriek berkata,

    Maret 20, 2007 pada 4:48 pm

    Saya juga pernah baca pada tahun 80 an, sepengetahuan dari yang saya dapat bisa bekerja dengan baik.
    Yang ingin saya tanyakan dari hasil dari asumsi yang terdapat diatas kesimpulannya , pompa pasti bisa bekerja, boleh dong kita pembaca dapat contoh dari bentuk nyata.

    Kebutuhan saya untuk menggantikan pompa aquarium yang akiran listriknya sering mati

  18. Paijo berkata,

    Maret 22, 2007 pada 8:42 pm

    @ Feri Adisumarta
    Tekanan hidrostatik air tidak tergantung dari bentuk tabung, tetapi hanya tergantung dari ketinggian vertikal dari permukaannya saja. Keluarnya air pada percobaan anda belum merupakan indikasi bahwa percobaan berhasil kecuali airnya mengalir terus menerus ( Apakah pada percobaan anda, airnya dapat mengalir terus menerus ? ). Jika air mengalir hanya beberapa saat kemudian berhenti, itu bukan karena pompanya bekerja melainkan karena sistem sedang berproses menuju keseimbangan tekanan yang baru ketika kran atau ujung pipa dibuka. Setelah keseimbangan tekanan tercapai, maka air akan berhenti mengalir. Jika pipa yang anda gunakan cukup kecil, maka tidak ada udara yang masuk ke pipa karena terhalang adhesi dan tegangan permukaan air. Namun jika pipa yang digunakan cukup besar, maka udara akan dengan mudah masuk ke pipa dan menggantikan air di dalam reservoir. Fungsi dari leher angsa adalah untuk mencegah masukknya udara tersebut.

    @ Eriek
    Sepertinya banyak yang percaya dengan berita di TV tersebut, tapi buktinya sekarang mana ? Biar nama penemunya ( atau orang yang mengaku-ngaku telah menemukannya ) tidak pernah terdengar. Apalagi kalau berharap bisa menemukan pompa tersebut di pasaran, tidak mungkin. Itu bukti bahwa berita tersebut bohong ( atau lebih halusnya, kekeliruan jurnalistik ). Seandainya berita tersebut benar adanya, pastilah pompa tersebut sekarang sudah menjamur.
    Penjelasan saya di atas bukan asumsi pak, melainkan analisis tekanan berdasarkan mekanika fluida yang sudah teruji di laboratorium. Sayangnya pak, hasil analisis saya justru menunjukkan bahwa pompa tersebut pasti tidak bisa bekerja. Hal itu bertentangan dengan anda harapkan. Jadi sepertinya masih harus terus menggunakan pompa listrik untuk aquarium anda.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  19. michael berkata,

    Maret 24, 2007 pada 1:07 pm

    @ Feri Adisumarta

    dari experiment yang anda lakukan sudah menunjukkan kemajuan, hanya tinggal memperbesar gaya B-C yang akan mendapatkan gaya berlawanan dari B-A, yang harus di ingat adalah, air tidak seperti benda padat, yang dapat kita pegang salah satu ujungnya guna memindahkan dari satu tempat ke tempat lain, ini berarti bahwa gravitasi tidak berinteraksi dengan air dalam satu kesatuan, tapi berinteraksi dengan satu satuan terkecil dari air itu sendiri.

    Ini mengindikasikan bila anda ingin mendapatkan selisih gaya, anda harus membuat prbedaan luas pipa. semakin luas pipa, semakin banyak jumlah molekul air yang ditarik oleh gravitasi, ini saya sarankan berdasarkan analisa kecepatan luncur air yang hanya antara 8 – 10 km/jam dalam tekanan atmosfir ( udara bebas ). Dari sini anda bisa hitung waktu waktu yang diperlukan untuk mengosongkan tabung injector dalam keadan terbuka, dan menghitung berapa total tekanan negative yang bias ditimbulkan dalam keadaan tertutup, dan berapa energi yang bias dimanfa’atkan dari terciptanya tekanan negative guna melakukan usaha pemindahan air. Tinggal menyesuaikan debit air maksimum input dengan nilai tekanan negative. Sedangkan debit output akhirnya sama dengan debit input, hingga mutlak dibutuhkan leher angsa guna menjaga agar pada pipa output tetap dapat terisi penuh (mampat) oleh air walau dalam kecepatan yang kurang dari yang seharusnya.

    rancangan ini sebenarnya menggunakan teori dasar water siphoning, hanya dimodifikasi sedemikian rupa dengan menggali sifat-sifat air itu sendiri dan di interaksikan dengan sumber energi eksternal yaitu gaya gravitasi yang akan menimbulkan pemampatan volume ruang dan menghasilkan tekanan. dalam water siphoning digunakan sebuah selang / pipa dengan diameter yang sama dimana air dipindahkan dari satu tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah, sehingga tanpa dihitungpun pasti akan terlihat selisih volume air dari pipa sumber ke titik puncak dan dari puncak ke bawah menuju tempat tujuan air yang lebih rendah. namun bila ukuran diameter dari selang / pipa di manipulasi sedemikian rupa, akan terjadi disfungsi karena terjadi benturan antara sifat alami zat, volume ruang dan gravitasi.

  20. Edward Saleh berkata,

    April 5, 2007 pada 4:00 pm

    Saya sedang meneliti juga pompa air vkum dengan tenaga gravitasi, kayaknya mirip, mohon informasi kalau sudah sukses

  21. dimas berkata,

    April 5, 2007 pada 10:29 pm

    saya juga pernah nyoba tapi tingginya masih rendah kurang dari 1meter

  22. Paijo berkata,

    April 9, 2007 pada 11:43 am

    @ Michael
    Rupanya anda sangat optimis dengan pompa gravitasi. Tetap semangat.

    @ Edward Saleh
    Semoga percobaan anda berhasil.

    @ Dimas
    Bisa diinformasikan hasilnya dan apa kendalanya sehingga bisa diketahui netter lainnya.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  23. michael berkata,

    April 12, 2007 pada 9:31 pm

    @ Kang Paijo

    terimakasih atas semangatnya, maklum kang, dalam bereksperiment saya kurang mengutamakan teori, sebab teori adalah buah eksperiment, dan eksperiment lanjutan bisa (bukan harus) ditunjang oleh teori sebelumnya.

    seperti dalam beberapa komentar kang paijo sebelumnya, hendaklah teori bukan dijadikan hafalan saja, harus diketahui sejarah eksperiment pencetus teori itu, dari situlah kita bisa tau persis dalam kondisi seperti apa teori itu berlaku.

    salam eksperiment

  24. Feri Adisumarta berkata,

    April 13, 2007 pada 9:55 am

    @ Michael

    Seperti kalau kita sedang praktikum fisika dasar, sering terjadi keanehan di lab tersebut.
    Dimana laporan yang dibuat harus sedekat mungkin dengan teori, kalau diviasinya besar maka kita diminta mengulang sama asisten Lab.
    Padahal justru menurut saya, yang mesti dicari adalah faktor kenapa terjadinya diviasi tersebut.
    Praktik benar berdasarkan teori yang dibuat. Namun kenyataanya banyak sekali teori justru dibuat setelah terjadinya percobaan-percobaan yang kadang melenceng dari teori dan juga sering ternyata hasilnya ditemukan dengan tidak sengaja.
    Tul gak?

  25. danang yuliantoro berkata,

    April 13, 2007 pada 9:52 pm

    teori yang cukup bagus , en aku dah coba , ya not bad lahhhh!

  26. michael berkata,

    April 14, 2007 pada 3:37 pm

    @ Feri Adisumarta

    yang anda kemukakan benar, sebenarnya diviasi dalam praktik harus menjadi bahan analisis baru, tidak perlu dilakukan praktikum ulang bila hanya bertujuan untuk melakukan pendekatan dengan teori. tidak perlu dipersoalkan masalah jeleknya alat dan lain-lain, yang penting ada analisa dari pelaku praktik (yang tidak ngawur/asal dan dangkal tentunya).

    alam semesta tercipta atas ilmu pengetahuan yang maha sempurna, dan yang diketahui oleh manusia sangat-sangat-sangatlah sedikit sekali (maaf, hanya ingin menekankan betapa sedikit). eksperiment telah melahirkan teori, dan bukan sebaliknya, dan sering terjadi revisi teori dari eksperiment baru dalam tema yang sama hanya beda kondisi yang dapat menunjukkan bahwa teori sebelumnya kurang relevan

    eksperimenter sama seperti teknisi, dituntut untuk menguasai flowchart secara forward maupun reverse, dan harus berusaha memperluas percabangan dalam flowchart dan bisa menempatkan teori sebagai referensi.

    tidak sedikit ilmu berharga yang tidak terbukukan dari eksperimenter takternama, dan tidak ada usaha darinya untuk mempublikasikan atau mempatenkan, karena kebanyakan dari orang-orang jenis ini memiliki tingkat ekonomi baik, dan kurang menyukai birokrasi dan popularitas, hingga ilmunya terbawa oleh usianya. sayang….

  27. Sofjan berkata,

    April 19, 2007 pada 12:11 pm

    Hallo Kang Paijo

    Saya lihat gambar anda yang hanya mengandalkan udara dari dalam tanah saja, bagaimana mungkin tanpa pendorong dan tanpa sirkulasi udara di dalam tanah yang hanya mengandalkan kekuatan tarikan gravitasi saja… air bisa di sedot oleh tenaga gravitasi? sedangkan pompa air yang memakai energi listrik dll saja tidak akan mampu menyedot air dalam tanah secara maksimal (hanya sebatas udara yang ada di tanah / sama sekali tidak mampu apabila hampa udara.

    Begini analisa saya yang perlu anda lakukan dan jangan cepat putus asa;
    usul saya kepada Kang Paijo… coba Akang buat dua Pipa, yang satu untuk air, dan yang satu lagi untuk angin.

    Gunakan Angin sebagai pengungkit pompa daya gravitasi anda.

    Jawab pertanyaan saya; apakah air bisa bergerak di ruang hampa udara?

    Selamat mencoba…
    Sofjan.

  28. rico berkata,

    April 20, 2007 pada 9:17 pm

    kayaknya airnya ngalir dari tanki ke sumur deh. karena daya isap pipa di sumur lebih gede dari pipa keluar leher angsa itu tidak ada gunanya deh sama aja.

  29. harno berkata,

    April 26, 2007 pada 1:29 pm

    Saya pernah mencoba pertama dengan drum besi, karena paralon ke sumur terlalu besar dan kran terlalu dekat dengan drum. sehingga udara masuk dari kran alias tdk dapat berhasil . Percobaan kedua dengan terpaksa drum plastik, karena cari drum stainless tidak ada & mahal tujuan untuk agar tidak kempes. ternyata yang saya perkirakan terjadi.

  30. prie berkata,

    April 30, 2007 pada 10:31 pm

    untuk pompa gravitasi saya sangat tertarik. saya tidak mendebat, cuma saya mo tanya apakah sudah dipraktekkan? jsaya dukung maju terus pantang mundur

  31. agus berkata,

    Mei 4, 2007 pada 1:15 pm

    saya juga orang yang pernah melakukan eksperimental yang sama tapi sayangnya saya dapat kesimpulan bahwa itu merupakan kesalahan dalam aplikasi kita tentang ilmu pengetahuan, dan teknologi tidak bisa melaksanakan itu. sama dengan reaksi fisi dalam energi nuklir…..

  32. juliach berkata,

    Mei 4, 2007 pada 2:52 pm

    Sistem ini sudah ada sejak jaman dulu di Bali. Pertama kali saya mengujungi desa Munduk, Bali th. 1989 dan tinggal di sana selama 1 minggu. Sempat terheran-heran juga sih, tapi setelah berpikir sejenak logika baru jalan. Air ditarik dari sungai yg jauh di dalam jurang naik ke gunung yg tinggi.

    Memang hebat.

  33. harno berkata,

    Mei 16, 2007 pada 2:15 pm

    Saya lihat paijo sekilas menawarkan pompa sejenis untuk perikanan darat berarti udah bisa dong & benarkah? Saya baru cari2 & coba2 untuk tanaman dan kolam dari sumur kedalaman air 4 meter’

  34. nursodo berkata,

    Mei 19, 2007 pada 6:10 pm

    salam kenal, terus terang saya tertarik dng rubrik ini, saya pengen thu teori dasarnya, sehingga pompa dapat menghasilkan debit 3 ltr/det, dengan ketinggian drum min 10 m, trim

  35. wong berkata,

    Mei 22, 2007 pada 3:19 am

    blog yang menarik. saya ingin berbagi informasi tentang pompa air tenaga gravitasi. saya pernah liat sistem pompa menggunakan gravitasi ini di daerah tempat tinggal saya. tetapi sistem ini tidak digunakan untuk memompa air dari sumur, tapi dari tandon air didalam tanah dengan kedalaman tandon kurang lebih 4 m dari permukaan tanah. dan dengan ketinggian drum ( reservoir ) yang sama sekitar 4 m dari tanah. drum yang digunakan seperti drum minyak tapi terbuat dari fiber. untuk pengisian air di reservoir pertama kali memang masih menggunakan bantuan pompa listrik. dan ini bisa bekerja. mungkin ini bisa digunakan untuk memompa air dari sumur, tapi dengan posisi drum yang lebih tinggi disesuaikan dengan kedalaman air didalam tanah.

  36. zamroni berkata,

    Mei 23, 2007 pada 4:52 pm

    menurut saya pompa air tenaga grafitasi masih lupa dengan prinsip tekanan udara. coba bayangkan, bahwa faktanya adalah bahwa udara menekan kesegala arah, jadi pada pipa keluarnya air udara pasti akan memasuki pipa tersebut sehingga air tidak mungkin mengalir. kalau lebih jelasnya ingkatlah fenomena air yang mengisi penuh pada gelas, jika permukaan gelas kemudian ditutup bengan kertas maka air tidak akan tumpah hal ini karena udara menekan kedalam gelas (udara mempunyai sifat menempati ruang). makasih

  37. Palelo berkata,

    Juni 15, 2007 pada 10:53 am

    @nursono
    Klo teori dasarnya Q=rho * g*h
    syaratnya ya harus h2>h1
    sesuai dengan hukum bernoully atau kaidah-kaidah dasar mekanika fluida

  38. abu berkata,

    Juni 20, 2007 pada 9:58 am

    Mas Wong. Boleh Tahu gak, alamat lengkapnya. Kayaknya buat skala kecil menarik banget. Dimana saya bisa lihat pompa itu. sebab dalam waktu dekat saya juga akan bikin bak tandon air hujan, nah kan asyik kalau bisa aplikasi pompa yang seperti di daerah asal mas Wong. Saya di klaten, kalau mungkin mau lihat , di daerah mana ya letaknay. Mohon Info. Terima kasih. ( ini email saya . abudilah@plasa.com )

  39. michael berkata,

    Juni 28, 2007 pada 10:27 pm

    @ Zamroni

    menurut saya anda juga lupa hukum sebab-akibat, fakta yang anda paparkan bahwa udara menekan kesegala arah adalah sebuah akibat, pernahkah anda fikirkan apa penyebabnya ?, jawabanya adalah gravitasi, itulah sebabnya bumi terbentuk secara berlapis dari massa atom terberat pada bagian terbawah dan yang teringan di bagian atasnya, bahkan udarapun terbagi atas tujuh lapisan, dan itu terjadi secara natural.

    contoh yang anda berikan lebih mengarah pada sifat volume dan ruang, air tidak akan jatuh bila nilainya kurang dari satu tetes, satu tetes bagi ruang gelas yang keras adalah nilai yang banyak dan harus tergantikan pada saat bersamaan, gravitasi menarik air dari gelas, tapi dinding gelas tidak mengizinkan air meninggalkan ruang tanpa pengganti, udara luar yang diharapkan sebagai pengganti tidak bisa menerobos masuk dari bagian bawah yang hanya ditutup kertas bila air tidak terlebih dahulu keluar karena massa jenisnya lebih rendah, tapi yang terjadi justru ketika tetes demi tetes air jatuh, kertas akan semakin rapat menutup karena hanya sisi inilah yang bisa bergerak menyesuaikan dengan volume aktual akibat berkurangnya air, dan akan sampai pada satu kesetimbangan dan air tak lagi menetes.

    kasus yang anda contohkan juga akan terbatas pada bahan penutup yang memiliki massajenis yang lebih ringan dari air, seperti kertas, plastik dll, sedang untuk bahan lain yang massajenisnya lebih berat perlu pengkondisian khusus dimana massajenis bisa diabaikan dengan membuat perbandingan massa yang tepat.

  40. Miftahul ulum "yakin." berkata,

    Juli 3, 2007 pada 10:21 pm

    Konsultasi dengan orang yang menguasai mekanika sudah dilakukan. Hitung-hitungan juga sudah dilakukan dan hasilnya sangat meyakinkan bahwa pompa pasti bisa bekerja karena berat air dalam drum ( 4 ) jauh lebih besar daripada berat air dalam pipa yang menuju sumur ( 3 ). Semua sudah tampak sempurna dan tinggal diujicoba. Namun sayang, impian tadi harus buyar ketika prototype tidak bisa bekerja sesuai harapan. Tanpa kenal menyerah, gambar desain dibuka kembali, angka-angka dihitung ulang, serta sambungan-sambungan diperiksa kalau-kalau ada yang bocor. Namun tidak satupun kesalahan maupun cacat cela yang bisa ditemukan. Akhirnya diputuskan untuk mengganti pipa dengan ukuran yang berbeda, yang menuju sumur diganti yang lebih kecil sedangkan yang menuju kran diganti yang lebih besar. Setelah dicoba lagi, ternyata hasilnya nihil dan pompa tetap tidak bisa bekerja. Setelah beberapa kali coba-coba, akhirnya sang eksperimenter yunior frustasi dan menyerah kalah karena kegagalan yang menyakitkan tanpa pernah tahu sebabnya. Sejak saat itu, sang eksperimenter yunior memilih berhenti menjadi penjelajah teknologi dan kembali menjadi orang biasa lagi dan menangalkan status eksperimenternya. Seperti itulah kira-kira pengalaman pahit yang dialami beberapa eksperimenter yang pernah membuat pompa air tenaga gravitasi seperti pada gambar. Waktu, tenaga, pikiran, maupun uang terbuang percuma tanpa hasil.

    Seandainya eksperimenter tersebut mau mempelajari mekanika fluida, tentu akan bisa menemukan masalah yang menyebabkan kegagalan pompa tersebut tanpa harus frustasi segala. Kekeliruan telak yang ia lakukan adalah salah mengidentifikasi variabel yang mempengaruhi kerja sistem yang didesain yaitu :
    • Menurut asumsinya, total gaya berat air yang akan bekerja pada sistem. Prinsipnya seperti jungkat-jungkit, jika kuasa lebih besar daripada beban maka pasti bisa mengangkat. Setelah dihitung, kuasa ( m2 x h2 ) lebih besar daripada beban ( m1 x h1 ). Kesimpulannya, pompa pasti bisa bekerja.
    • Kenyataannya sistim tersebut bekerja bukan berdasarkan prinsip jungkat-jungkit atau tuas melainkan berdasarkan prinsip mekanika fluida. Jadi hanya tekanan hidrostatik dan tekanan atmosfer saja yang berpengaruh pada sistem tersebut, sedangkan total gaya berat air ternyata tidak mempengaruhi kerja sistem tersebut. Jika dihitung, ternyata tekanan yang mendorong air dari C ke B lebih besar daripada tekanan yang mendorong air dari A ke B sehingga tidak mungkin air di A mengalir ke C. Dengan demikian, pompa tidak akan pernah bekerja.

    Pada kasus kegagalan eksperimen STIKA ABADI yang lain, juga terjadi kekeliruan semacam itu dalam mengidentifikasi variabel yang mempengaruhi kerja sistem. Namun hal itu akan dibahas dalam artikel yang lain jika ada yang penasaran. Terimakasih dan salam eksperimen.

  41. Asep berkata,

    Juli 4, 2007 pada 11:14 am

    Saya Asep “Setelah saya baca artikel itu saya tertarik untuk nyoba. Pas Pulang ngantor saya langsung coba dan ternyata hasilnya Mengecewakan (Pompa Airnya tdk dapat bekerja).

  42. brandon berkata,

    Juli 10, 2007 pada 3:18 pm

    NO COMENT

  43. ADI berkata,

    Juli 10, 2007 pada 11:27 pm

    Mas, teorinya detail banget tapi kok hasilnya nol gimana sich. Itu pompa dragon tinggal kasih beban kan bisa turun, trus naiknya tinggal kasih pegas atau pakai prinsip vacum beres kan….kayaknya waktu Kuliah Kerja Nyata buat pacaran ya….

  44. Eddyg berkata,

    Juli 16, 2007 pada 2:57 am

    Mas mas,
    Barangkali pipa masuk perlu diganti dengan yang lebih kecil, beberapa pipa dimaeter 2 mm, pipa keluar tetap, logikanya pipa kecil akan menambah loses, dan menjadi pipa kafiler, saya sudah pernah coba dan berhasil mengangangkat setinggi 2m, tetapi debitnya sangat kecil cuma 0.1 ltr /detik, selamat menccoba

  45. odin berkata,

    Juli 26, 2007 pada 10:47 am

    pompa itu sudah pernah saya bikin dan tak bisa berjalan , setelah saya renungkan gaya untuk menaikan air lebih besar dibanding dengan gaya air yang akan turun tidak peduli berapa besar volume air yang di gantung di tabung atas rumus gampangnya ((Rho(R).G.H))=F. (H) dari pipa kolam bawah sampe tabung atas selalu lebih tinggi dibanding (H) tinggi tabung hingga ke permukaan kolam . jadi mau segede apaun tabung gantung tak akan bisa mengangkat air dari bawah. hal ini oleh ilmuwan 1abad yang lalu sudah pernah dilakukan dan diberi nama teori swacala abadi. dan tidak pernah berhasil, dan kita meributkanya lagi .

  46. oiprayogi berkata,

    Agustus 2, 2007 pada 4:22 am

    Saya ga nyambung sama pompa air tenaga gravitasi. Tapi saya lagi punya angan-angan bikin sumur jetpump tapi pompanya adalah mekanik. Gunakan paralon 1/4 ” 6 batang jadi 18 meter. Gunakan juga tambang jemuran baju dibundel-bundel tiap satu jengkal. Panjang tambang dua kali panjang paralon ditambah 1/2 meter deh. Bundelan ini dibuat agak pas dengan diameter paralon, jadi musti pake tambang yang agak gede. Untuk penggeraknya menggunakan roda putar yang bisa diengkol atau digoes seperti sepeda. Tambang tadi bergerak masuk paralon dari dalam sumur dan keluar di atas dan terus berputar(cycle). Bundelan tambang tadi mendorong air di dalam paralon. karena berlangsung terus menerus maka terkumpul air yang keluar secara terus menerus juga. Bisa buat sketsanya ga kang… Kesuwun. jo lali jajal klik saya. Soalnya saya masih baru.

  47. Paijo berkata,

    Agustus 2, 2007 pada 8:27 am

    @ Semua
    Sempat terbersit penyesalan di benak saya karena saya terlanjur posting artikel ini. Saya menyesal karena tampaknya banyak pembaca yang memahaminya sepotong-sepotong sesuai kepentingan masing-masing sehingga tidak memahami maknanya secara utuh. Mungkin tidak semua sih, tapi setidaknya hanya ada satu dua pembaca yang dapat menangkap pesan saya dalam posting tersebut di atas. Kalau dibaca dengan cermat termasuk keterangan pada gambar secara mendetail ( gambar dapat didownload ke harddisc ), posting saya sama sekali tidak membahas cara membuat pompa air tenaga gravitasi seperti yang ditangkap oleh sebagaian besar pembaca. Padahal, posting saya di atas justru menguraikan hasil analisis dan bukti ilmiah bahwa pompa air tenaga gravitasi seperti pada gambar tidak mungkin dapat bekerja.

    @ Odin
    Anda benar, analisis anda sejalan dengan analisis saya. Pompa seperti pada gambar di atas tidak mungkin dapat bekerja.

    @Oiprayogi
    Kalau Pompa Tali yang seperti anda ceritakan, itu dapat dibuat dan dapat bekerja. Kakak ipar saya pernah membuatnya untuk sumur sedalam 5 meter dan berhasil. Namun kebocorannya cukup besar. Untuk sumur yang cukup dalam, dapat juga digunakan sistim Rantai Bergayung yang belum sempat saya posting. Untuk membuat sketsa Pompa Tali, saya bisa membantu tapi harap sabar karena antrian pesanan sudah membludak. Maklum, eksperimen hanya merupakan perkerjaan sambilan di luar jam kerja. Tentang klik, itu pasti akan saya kunjungi blog anda jika saya sudah sempat.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  48. didi berkata,

    Agustus 4, 2007 pada 6:20 pm

    Mas, bagus amat ride-idenya.
    saya skrg jg lg merancang kincir angin utk memompa air laut yang akan digunakan petani garam di kabupaten aceh barat daya.
    saya rancang sistem poros horizontal,tp saya kesulitan cara mentransmisikan daya dari rotor menjadi gerakan naik turun tuas pompa.
    ada gak rancangan yang pernah mas paijo buat dan telah di ujicoba.
    juga perbandingan gear/roda gigi yang dibutuhkan.
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

    Salam Merdeka
    Blangpidie,Aceh Barat Daya

    Didi Irawan

  49. burmawi berkata,

    Agustus 9, 2007 pada 12:38 pm

    Ass, pompa yang begini didaerah pedesaan pegunungan sumatra pernah saya temukan, saran saya untuk lebih baiknya anda mempelajari hukum-hukum yang berlaku dimekanika fluida lebih dalam lagi terutama tekanan air dan head loss yang terjadi , insya Allah bisa berhasil.

  50. djakie berkata,

    Agustus 21, 2007 pada 10:36 pm

    dengan dilihat secara kasat mata jelas pompa ini tidak akan dapat bekerja secara continue walaupun dengan dimensi tabung sebesar apapun kecuali h2>h1

  51. Paijo berkata,

    Agustus 24, 2007 pada 1:25 pm

    @ Didi
    Untuk mengubah putaran poros horizontal menjadi gerakan naik turun, gunakan engkol seperti stang piston mesin motor atau mobil. Karena arah porosnya berubah-ubah sesuai arah angin, maka ujung stang piston tersebut musti dihubungkan dengan semacam pushrod ke pompa dengan poros yang bisa berputar bebas ke segala arah. Dengan demikian, pompa akan bekerja terus tanpa terpengaruh oleh arah poros kincir. Dengan desain seperti itu, roda gigi sama sekali tidak dibutuhkan, yang dibutuhkan hanya engkol dan pushrod saja yang musti bisa bekerja pada RPM kincir. Oleh karena itu, ukuran pompa juga menjadi lebih kecil tapi bekerja pada kecepatan yang cukup tinggi. Keuntungannya, desain sederhana dan murah. Kerugiannya, efisiensinya akan sedikit lebih rendah.

    @ Burmawi
    Saya sudah mempelajari hampir segala jenis pompa air yang ada. Yang bapak temukan itu memang tanpa mesin tanpa listrik dan tnpa bahan bakar, tapi saya yakin itu adalah pompa hidram yang mengeluarkan suara seperti menghentak-hentak ketika bekerja. Pompa tanpa mesin ada banyak jenisnya pak dan yang seperti gambar di atas tidak mungkin bisa bekerja karena bertentangan dengan hukum mekanika fluida. Pompa seperti desain di atas hanyalah rekaan para eksperimenter yang sedang mencoba melawan hukum alam atau yang belum memahami hukum alam. Sedangkan yang sudah memahami mekanika fluida pasti tahu kalau pompa tersebut tidak akan pernah bisa bekerja seperti analisa saya di atas. Sayang sekali banyak pembaca yang salah tangkap dan mengira saya mempublish cara membuat pompa seperti gambar di atas.

    @ Djakie
    Saya sependapat dengan anda, cuman banyak pembaca lain yang salah mengerti atau kurang teliti membaca posting saya di atas.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  52. JONI berkata,

    Agustus 26, 2007 pada 9:41 pm

    DI TUNGGU EKSPRIMEN YG LAINNYA MAS PAIDJO.

  53. bukhari berkata,

    September 2, 2007 pada 8:16 pm

    Itu melanggar hukum alam sebab permukaan air selalu datar dan itu tidak perlu perhitungan macam-macam.Jika Ujung pipa keluaran yang keluar dari tangki lebih rendah dari permukaan air sumur pasti pompa akan berjalan normal. Dijamin pompa akan bekerja.Tetaoi jika ujung pipa keluaran itu sama rata dengan permukaan air sumur air gak bakan bisa keluar. ok!

  54. Paijo berkata,

    September 3, 2007 pada 12:23 am

    @ Joni
    Siap pak, masih banyak ide yang belum sempat dicoba.

    @ Bukhari
    Perhitungan rumit diperlukan untuk menyakinkan orang-orang yang tidak tahu tapi tetap saja ngotot. Saya sampai capek menjelaskan dengan kata-kata di forum diskusi energi LIPI, makanya saya buat postingan sendiri yang menggunakan analisa gambar dan rumus-rumus supaya lebih mudah dipahami.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  55. vanatik berkata,

    September 5, 2007 pada 1:03 am

    bagus tuh proyek nya gak gitu baru tapi jarang ada yang pernah buat buat orang2 yang butuh air bersih di daerah.

  56. Paijo berkata,

    September 5, 2007 pada 8:07 am

    @ Vanatik
    Itu bukan proyek bro, tapi analisis untuk membuktikan bahwa pompa seperti itu tidak mungkin bisa bekerja karena bertentangan dengan hukum alam. Terimakasih dan salam eksperimen.

  57. mbah darmo berkata,

    September 13, 2007 pada 12:48 am

    exsperimen kang paijo…mengingatkan aku akan uji coba ku yg hampir sama kinerjanya.sama kita juga tidak mengunakan energi listrik,kinerjanya hampir sama dengan pompa vacum yang mengunakan tekanan udara untuk mengangkat air dari kedalaman 15 meter (max).dan sudah di uji cobakan ..dan berhasil.

    Terimakasih dan salam exsperiman.

  58. Paijo berkata,

    September 14, 2007 pada 11:08 am

    @ Mbah Darmo
    Eksperimennya mbah Darmo menggunakan energi apa ya ? Kalau bisa, tolong diceritakan lebih rinci supaya saya dan juga teman-teman bloger/netter yang lain bisa mempelajarinya. Terimakasih dan salam eksperimen.

  59. Fhuja Lesmana berkata,

    September 28, 2007 pada 8:30 am

    salam buat paijo tolong saya bantu mau bikin pompa gravitasi yang sesuai dgn sistim yang pak paijo buat.terima kasih

  60. badruz berkata,

    Oktober 4, 2007 pada 11:10 pm

    MasPaijo, saya di sebuah desadi Sumatera Barat. Di desa saya adasebuah pompa air tenaga gravitasiyang kamu gunakan untuk menaikan air dari sumber air ke menara air, kemudian disalurkan ke masayarakat. Cuma saya masih bingung cara kerja pompa tersebut. Katanya pompa itu sudah ada sejak saya belum lahir, dan orang yang bikinnya juga udah meninggal. kasihan orang desa say jika andai poma tersebut rusak dan tidak tau memperbaikinya. bentuknya seperti drum dan berbunyi keras seperti suara pandai besi waktu dia bekerja. kira2 menurut mas paijo gimana cara kerja pompa tersebut. karena kami gak berani membukanya.

  61. arief kancut berkata,

    Oktober 6, 2007 pada 1:28 pm

    usaha bagus,. saya salut dengan semua usaha anda ,. terima kasih untuk dedikasimu..

  62. Rooney berkata,

    Oktober 10, 2007 pada 10:04 pm

    Yayyailah gakan bisa bekerja karena tekanan air yang ada didalam tanah untuk zaman ayeuna sudah lebih kecil dari pada tekanan air yang ada didalam drum, kecuali jika paijo menemukan aliran sungai bawah tanah yang masih bagus alirannya apalagi tidak terganggu oleh pipa2 artesis. saya jamin itu pasti airnya bisa keluar tapi jadi sumur artesis wewewewewewkewkekwkewekwekwkewkewkewewkekwe

  63. min berkata,

    Oktober 16, 2007 pada 12:21 am

    kayane gak mungkin bisa, itu tabung no 4 gak ada fungsinya kali ya.
    jadi kita buang aja tabung reserpoir, jadi bentuknya kaya selang air/pipa air yang di tarik dari A ke B, dan melengkung dari B ke C. yang ada daya tarik B ke A lebih besar dari B ke C. Anak Smp aja pasti tau itu. Orang kalo terlalu “pintar” n banyak rumus jadinya bisa mimpi kaya gitu. Coba kalo mikirnya sederhana kaya anak SMP, gak mikirin rumus gravitasi “nyemplung sumur” kaya gitu, pasti itu orang gak bakalan rugi bikin “patung pipa” kaya gitu ngabisin duit aja.
    Jaman sekarang banyak orang yang keblinger karena “pinter”-nya. Gak tau apa cuman pinter ato merasa pinter karena banyak tau rumus.
    Kalo komentar saya salah, tolong jangan di muat. Tapi tetep saja air itu gak bakalan muncrat dari kran C, kecuali pake pompa ato Jin.

  64. mbe berkata,

    Oktober 17, 2007 pada 6:01 pm

    mas paijo saya sangat tertarik.saya pernah bahas ini dan di bilang bawah pipa yang kearah sumur bawahnya di pasang katup biar air tidak jatuh lagi ke sumur tapi bisa di hisap ke reservoir.apakah sudah dibuat oleh mas paijo?
    maap klo saya salah.

  65. POMPA AIR TENAGA GRAVITASI ( 2 ) « PAIJO berkata,

    Oktober 23, 2007 pada 10:15 am

    [...] … baca juga bagian 1 [...]

  66. Dede berkata,

    Nopember 6, 2007 pada 3:38 am

    Mas Paijo…
    pada desain Anda memang saya SETUJU bahwa TIDAK bisa air dari sumur tersedot, kalau diameter pipa sumber dan pipa outputnya sama.

    TETAPI….Anda belum coba MENGANALISA beberapa komentar2(misal Feri) yang telah mencoba menggunakan perbedaan diameter pipa. Dengan perbandingan diameter pipa input, pipa output,dan volume tabung, kemungkinan bisa dicari nilai ambang agar air mulai mengalir
    btw…hanya intuisi saya aja…hehehe

    Dikatakan gagal, jika tidak bisa ngangkat air sama sekali. karena teori Anda mengatakan begitu. (( SAYA SETUJU DG TEORI ITU, tetapi kalo kondisi skemanya SEPERTI ITU ))

    Dikatakan berhasil, jika sudah bisa mengangkat air dari sumber terserah kontinu atau tidak.(walau belum tentu TIDAK KONTINU kan??).

    Maap kalo salah..

  67. dino berkata,

    Nopember 13, 2007 pada 6:56 pm

    Terus terang qt sulit ngerti Teori mas paijo, yg jelas seperti ini klo gak salah = teori bejana ber hubungan atau apalah,tidak asing buat saya mirip GBR flow Diagram yg mas buat dengan yg saya lihat dari taman, karena berdasarkan pengalam (cerita dari teman). pernah memperatekan langsung membuat kolam ikan kecil (sirkulasi) dengan reservoir (bak penampungan air dari drum bekas). intinya (katanya) reservoir saat itu harus benar2 vakum (kedap udara). dan kalo ga salah lagi harus ada 2 katup (valve) in & out.
    Qt do’akan semoga teori mas paijo sukses dalam praktikumnya….thks
    MAJU TERUS PANTANG MUDUR…..
    KEGALAN ADALAH KEBERHASILAN YG TERTUNDA……
    SERIBU KEGAGALAN TIDAKLAH BERARTI JIKA KEBERHASILAN DIDAPAT DLL……..

  68. fikri berkata,

    Nopember 15, 2007 pada 1:51 pm

    mas paijo,tu kreatif juga ya..
    tapi mas kalo pompanya dihubungkan dengan komputer bisa nggak,kan biar lebih canggih gitu…..

  69. Irwan berkata,

    Nopember 15, 2007 pada 6:34 pm

    Waduh Pa ko jadi rame ya.
    Saya ko jadi sependapat pompa ini kayanya ga bakal berhasil.
    Saya pernah kuliah teknik mesin dapet mata kuliah konversi energi dan mekanika fluida. Walau nilai saya ga gitu bagus saya pernah dapat materi tentang kavitasi fluida khususnya air yaitu jika air di beri tekanan negatif sampai batas tertentu (saya lupa nilainya) akan terjadi kavitasi (kevakuman). Seperti halnya pompa jet pump posisi pompa tetap di atas tetapi ada pipa jet yang dimasulan kembali ke pipa hisap untuk mencegah kavitasi dan sekaligus mendorong air. Dengan demikian jika pun beda tekanan didapatkan namun terjadinya kavitasi sangat mungkin.

  70. sigit berkata,

    Nopember 27, 2007 pada 9:27 pm

    http://digilib.ampl.or.id/detail/detail.php?row=6&tp=kliping&ktg=airminum&kode=2994

  71. albuchory berkata,

    Nopember 28, 2007 pada 12:07 pm

    jo itu bisa bekerja klo jarak ketinggian gak begitu besar, itu namanya methode syphon, air mengalir dari tangki 4 sehingga menimbulkan kevakuman pada tangki,kalo tekanan kevakuman itu lebih besar dari tekanan hisap(ketinggian air) pada pipa hisap atau bahasa tekniknya NPSH (net positive suction head) maka air dari sumur bisa terangkat, so persoalannya bagaimana bisa meningkatkan kevakuman pada tangki

  72. heztyra berkata,

    Nopember 29, 2007 pada 7:07 pm

    wahhhhhhh menarik juga artikelnya, jo paijo cepat ditemukan aja solusinya, biar cepat berhasil, Perekonomian pedesaan harus cepat diangkat, dengan keberhasilan eksperimen ente……. coba aja dibuat vakum reservournya, dan dibuat memanjang, vakumnya disedot pake pompa listrik dahulu, ato lubang outlet (bahasa kamu leher angsa) diperbesar, gampang gampangan aja,memang kayaknya mirip sipon pada saluran

  73. endro berkata,

    Desember 2, 2007 pada 9:50 pm

    Emang kang Paijo pada thn 85 an di tvri pernah ditayangin tentang pompa air grafitasi (tapi sayang ibu yang nyaksiin dan beberapa tatanggaku). saat itu aku juga sangat tertarik untuk mencobanya. tapi juga selalu gagal seperti yang anda coba. dalam hati emang aku ga terlalu yakin dengan tayangan itu.(abis bertolak belakang teori hidrostatik) mengenai jungkat-jungkit itu yang bikin aku percaya. kalo ini masih sampe sekarang waaah…. buktikan aza dengan barangnya dan buat aza yang banyak dan di jual. pasti laku keras dan dipatenkan sehingga pemegang hak langsung jadi milyunerrr…. he4. uenak kan. tapi seorang explorer pasti kurang berfikir kearah itu. iya kan kang paijo?

  74. Zep berkata,

    Desember 4, 2007 pada 4:30 pm

    Klo ni mah temen satu dusun saya pernah buat tapi jarang yg brhsilll, soale ga pada pake teori. klo punyae kang Paijo baru jlas wong ada teorine. bagus deh kang….. Teruss brexperiment……

  75. Karto berkata,

    Desember 6, 2007 pada 12:06 am

    @Jin_Iprit
    Memang omonganmu cermin jin iprit
    Lambemu payah
    Katrox banget

  76. JiN_iPRIT_BERSABDA berkata,

    Desember 10, 2007 pada 10:11 pm

    TERUS BERJUANG JO…….EKSPERIMEN LO.SANGAT ILMIAH BANGET, COBA AJA LO GANTO TABUNG LO DENGAN PVC dIA 10″, DUA BUAH, DENGAN ASUMSI YANG SATU TABUNG KOSONG, MUNGKIN AJA BISA NAIK TU AIR, DENGAN MENCIPTAKAN RUANG HAMPA, MAKA AIR AKAN TERSEDOT KE ATAS, JANGAN TERLALU BANYAK TEORI, LANGSUNG AJA PRAKTEK…………

  77. teja berkata,

    Januari 7, 2008 pada 12:11 am

    tidak bisa karena anda seharusnya menggunakan 2 buah drum dg level berbeda…3 akan lebih ok tuh. coba hitung ulang

  78. emye berkata,

    Januari 9, 2008 pada 3:10 pm

    Apa bedanya pompa di atas dengan pompa hidrolik? Pompa hidrolik khan juga berkerja tanpa bantuan energi lain selain tekanan udara dan gravitasi air. Pompa hidrolik sudah ada sejak zaman dulu, ada di buku pelajaran, dan di banyak tempat di Malang Selatan sudah digunakan pompa sejenis dengan nama okemoto, dibuat oleh seseorang bernama Tomo.

  79. sataria berkata,

    Januari 22, 2008 pada 2:15 am

    bang fluktuasi..itu apa sih?

  80. jabat berkata,

    Januari 23, 2008 pada 2:44 pm

    weleh weleh top banget, mas paijo ki. kebetulan mas taon 2006 lalu kami ada beberapa orang ribut masalah pompa air grafitasi ini, setelah dicoba dengan berbagai peralatan sedernaha memang tidak membuahkan hasil. Ya awalnya sih jalan sebentar trus memble, berhenti.
    nah kami juga berkesimpulan untuk memikirkan yang lain. kebetulan ada suatu desa yang butuh banget air bersih, ada sumber tapi rada sulit menaikkan dengan mesin kecil
    nah keliatannya alternatif mereka pake hidram, tolong dong mas, dikasih (di-email) parameter untuk hidram, biar coba diitungin dengan kondisi real apakah memungkinkan ato tidak. terimakasih.. (kami awam)

  81. sataria berkata,

    Januari 23, 2008 pada 6:58 pm

    Bang paijo, bisa tolong jelasin teori Bernoulli …seperti yang aq tau begini bang teorinya tapi cara memahaminya bagaimana ya?

    P1 + ρV + γ z1 = P2 + ρV + γ z2

  82. ANDI SYAHIBUL berkata,

    Januari 31, 2008 pada 10:25 pm

    Mbah Darmo
    apakah bisa ditamplkan destgn pompa vacum yang telah berhasil menggunakan tekanan udara untuk mengangkat air dari kedalamam 15 meter maksimal. Saya akan mencoba dikebun saya. terima kasih

  83. lorens berkata,

    Februari 15, 2008 pada 12:44 am

    permisi, numpang nimbrung..???
    lho, bknx itu bisa2 sj terjadi ? yang pntng kan kondisi tabung hrs penuh olh fluida (dlm hal ini Air) dan jgn sampai terdapat udara didlm tabung(kavitasi).dan tabung hrs dlm keadaan penuh sebelum diletakkan ditempat yang tinggi dr permukaan sumber air.
    jd menurut saya ini hubungannya pada “kevakuman” dari tabung tersebut, sehingga “Energi yang masuk = energi yang keluar” ya tentu ada hubungan jg dengan ketinggian. masalah diameter pipa di perbesar/diperkecil itu hanya memperoleh kecepatan aliran saja.loses jg, tp itu jg klo mo cr nilai efisiensinya saja.
    maaf klo komentar saya salah…
    trus lah berexperimen …

  84. Faza berkata,

    Februari 25, 2008 pada 7:03 pm

    Dibujuki kang Paijo, jarene teori iki gak bisa mengalirkan air. Yo mesti gak isok, sing isok teorine gak ngene, tapi kang Paijo sing lewih ngerti nimbang Inyong. Tak enteni teori sing isok ngompa banyu dengan prinsip gravitasi. Selamat berjuang….. Merdeka…. (gak tuku banyu )

  85. widia berkata,

    Maret 25, 2008 pada 6:52 pm

    oke bangetzzzzzz deh

  86. Leonard berkata,

    Maret 28, 2008 pada 11:14 am

    Analisis Pompa air tenaga gravitasi menyimpulkan Pompa air tenaga gravitasi tidak mungkin bekerja karena h2h1 (Pipa h2 sedikit lebih besar dari pipa h1).Artinya h2 dimasukkan lagi kedalam sumur dengan tanpa memakai leher angsa dan katup penutup satu arah. Setelah itu pipa h2 disambung dengan pipa yang lebih kecil (h3) dari h1. Pipa h3 ditarik ke atas subur sebagai media pengelua air. Tujuannya agar air yang terangkat lewat h1 terus mengalir lewat h2 tanpa berhenti. Tekan yang sudah tercipta oleh h2 akan mendorong air terus terangkat dan keluar melalui h3.
    3. Buatlah sebuah Pompa air tenaga gravitasi dengan mekanisme h2>h1 (Pipa h2 sedikit lebih besar dari atau sama dengan pipa h1).Caranya h2 ditarik lurus dengan kemiringan tertentu hingga mencapai jarak tertentu (10m – 20m) yang memberikan tenaga tarik yang cukup untuk mengangkat air lewat h1.

    Terimakasih bagi yang ingin membantu mewujudkan impian kami ini.

  87. Mousanfu berkata,

    April 1, 2008 pada 11:00 pm

    Kalau yang diusulkan leonard jelas bisa sayangnya kita harus menggali tanah yang lebih rendah dari peremukan air sumur untuk bisa mengambil airnya.
    Kesalahan logika pendukung PATG antara lain :
    1.menganggap air sebagai partikel yang punya tali untuk menarik partikel lainnya air lainnya.
    2. menyamakan proses mengalirnya air diruangan terbuka dengan air yang mengalir pada pipa

    Saya sarankan lebih baik mengembangkan penelitian mengalirkan air ketempat yang lebih tinggi dengan menggunakan prinsip pipa kapiler. teliti kenapa pohon kelapa bisa memompa air setinggi pohonnya.

  88. GUSNAR berkata,

    April 5, 2008 pada 11:10 pm

    AKU JUGA LIAT DI TVRI SURABAYA SEKITAR TAHUN 91 KAYAK YANG DI LIAT BANG IRWAN.SEKEDAR TAMBAHAN WAKTU ITU PAKE DRUM 200 LT.MAKSIMUM KETINGGIAN AIR 8 METER.

  89. heldhi berkata,

    April 8, 2008 pada 6:09 pm

    salut om PAIJO… jawaban om atas setiap komentar yg masuk enak diikuti, tidak asal sembarang bunyi tapi dilampiri bukti2 ilmiah…. sangat bermanfaat …. salam, Gusti berkahi

  90. Ade berkata,

    April 23, 2008 pada 6:29 pm

    benar, mas GUSNAR…, antara tahun 1989-1991 saya juga lihat saat itu di TVRI Surabaya. Yang menyajikan kalau tidak salah dari ITS.

    Beberapa bulan lalu saya ketemu teman yang mengelola pertanian organik di daerah darmaga-Bogor, dia kedatangan tamu dari Jambi. tamu tersebut memberikan skema sumur grafitasi yang sudah berhasil diaplikasikan di jambi.

  91. agung berkata,

    April 28, 2008 pada 12:38 pm

    itu mah udah ada, sejak 50 tahun lalu, nama bekennya hydram, coba browse aja pake nama hydram,… pasti banyak sy dah coba bikin tuh. ok. betul free of energy tp…?? cm bisa di daerah dgn sumber air yg ber counture.. (ada kemiringannya)…. yg dipake bukan prinsip jungkat jungkit tapi alirean vacuum yg bs menarik air dari sumber.

  92. mas kenongo berkata,

    Mei 2, 2008 pada 8:02 pm

    waduh….
    Temen saya lagi penasaran banget tuk nyoba pompa yg ginian.Sampai rambut rontok,biaya tak terhitung lagi sudah abis.Tolong deh bantuian dia ke no hp 081802780807.

  93. joko Firmansyah berkata,

    Mei 3, 2008 pada 3:49 pm

    salam experiment..
    mas teruslah berkarya, kalo ada yang protes itu dah hukum alam (wong nabi aja ada yang gak suka kok, apalagi manusia biasa kayak kita ngene!! ya to ??)
    buat yang ngaku dah berhasil buat ni pompa jangan cuma ngomong doongg, bagi ke kita-kita kek…. (ya nggak mas?) kita kan tau harga BBM dah setinggi langit, jadi kalau ada teknologi tepat guna dan sederhana why not ?.
    o ya mas saya pernah ngunjungi web ITB kalo gak salah, mereka tuh ngerancang Pompa air tenaga kincir angin, tapi sayang skema gambar dan cara kerjanya gak disampe’in, malah ngasi brosur, kita disuruh beli mereka punya kincir. cobak mas di kaji pompa kincir anginne.
    salam experiment

    joko firmansyah
    medan..

  94. bob berkata,

    Mei 7, 2008 pada 1:44 pm

    kalo di pasang pompa untuk umpan bagaimana,apa tetap jalan? mumpung alat udah dibuat.dari pada mubasir.

  95. boby nulik berkata,

    Mei 7, 2008 pada 2:01 pm

    saya akan coba dengan tabung facum,dengan bantuan pompa tambahan kalo tak berasil,yaaaaa biarrrrrr

  96. Fredy berkata,

    Mei 21, 2008 pada 2:38 pm

    Mas Paijo,
    Mungkin perlu di inventarisir percobaan temen2 yang gagal sehingga temen2 yg lain bisa mencoba menbuat dengan me modifikasi yg lebih baru.
    Saya hanya berharap semangat teman-teman untuk mencipta tetap terjaga dan berhasil menemukan dikemudian hari.

    Saya juga pernah mencoba 8 tahun yang lalu, yang hasilnya gagal. Tapi saya jadi semangat lagi saat temen saya cerita bahwa dia pernah lihat di daerah Cirebon. disitu menggunakan drum yang digantung di pohon. saya tidak dapat info yg lebih detail dari teman saya itu. Pengennya, Saya mau mencoba lagi tapi cari referensinya dulu lah…

    Untuk teman2 mencari reff pompa ram bisa di search “hydrolic ram” banyak kok. Bukunya juga ada terbitan Kanisius Yogya, murah lagi.
    mudah-mudahan membantu, tks

  97. NaGaRa berkata,

    Mei 22, 2008 pada 6:09 pm

    Gw dah pernah coba, cuman gak berhasil, pake dirijen.. Coz wat ngisi airnya gampang.. tuh tabung musti kedap udara, gk ada udara yg masuk dari luar tabung itu, coz biar tekanan di atas air mendorong tuk keluar dan menvakum air seiring jalannya keluarnya air.. Kesalahan gw kesulitan untuk bikin tabung kedap udara… Maw bikin lubang tuk selang gak pas, gw cuma kurang keterampilan teknik.. Kemarin gw bikinnnya…

  98. orang mampir berkata,

    Mei 26, 2008 pada 12:42 pm

    wah emang gak bisa, kalo bisa lhak enak. gak ada mesin yang bisa jalan sendiri dan terus-terusan lagi. semuanya butuh energi.

    dulu juga pernah bikin, tapi gagal juga

  99. naek berkata,

    Juni 3, 2008 pada 2:15 am

    mantap bahhh

  100. gembol berkata,

    Juni 6, 2008 pada 9:35 am

    sy bikin pompa berprinsip hydram,alhmdulilah berhasil walaupun air yg kluar msh kcil karena aliran air sumber hanya air selokan biasa/bukan dr ktinggian.Kapasitas input sdng sy tmbah untk tekanan,mas Paijo mhn kmentar.

  101. bogel berkata,

    Juni 7, 2008 pada 12:45 am

    Saya koq masih optimis pompa sistem gravitasi bisa bekerja…seingat saya memang ada dulu di TVRI ditayangkan….tinggal designnya saja yang kurang pas…mungkin kalau air di tangkinya tidak penuh (ada ruang udara) justru bisa terjadi kevakuman terus bisa mengangkat air dari pipa supply. Saya baru aja coba pakai botol plastik seadanya..cuma jadi penyok botolnya…tapi yang bikin semangat dari selang supply air sudah mulai naik walaupun gak sampai botolnya…

    Jujur masih penasaran….rasanya gak mungkin TVRI bohong waktu itu….

    Selamat berexperimen…

    Cheers, Bogel Balikpapan

  102. gembol berkata,

    Juni 10, 2008 pada 10:53 pm

    saat ini saya sedang eksperimen pompa apung,sumber air hanya +/- 0.3 mtr.Dengan diameter pipa 3″ mampu mengangkat air setinggi 8 mtr sebanyak 2 ltr/gerakan.Prinsip dasarnya adalah seperti kita menggerak-gerakan pipa paralon kedalam air yang dibawahnya dipasang valve , yang lama kelamaam air akan naik.Mohon doanya.

  103. COEN berkata,

    Juni 23, 2008 pada 5:08 pm

    Sistem tidak bisa bekerja karena menyalahi hukum energi. “Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya”. Sistem tersebut ingin menghasilkan energi tanpa adanya input energi. Jika dapat mengalir, paling hanya beberapa saat, tidak bisa continyu (hanya menghabiskan air di tangki saja).

    Mesin-mesin yang input energinya 0 tersebut disebut PERPETUAL machine.
    Jika ada yang coba buat pompa tersebut mending diurungkan saja, menghabiskan waktu dan energi.

    Saya BERANI bertaruh 10 juta rupiah diatas materai jika sistem tersebut berhasil.

    Hormat Saya,

    SAG
    Mechanical Engineering UGM

  104. BUNG DULLAH berkata,

    Juni 24, 2008 pada 2:44 pm

    Saya sepakat dengan kang Paijo. Sangat logis sekali. Mungkin teman-teman netter mesti jeli. Gaya gravitasi itu baru akan bekerja jika ada ketinggian. Jika kita lihat gambar, ketinggian h1 lebih tinggi dari h2. Artinya tinggi h2 dianggap lebih rendah berarti gaya tarik yang disebabkan gravitasi pada h1 lebih besar dibanding h2. Sehingga air tidak akan tertarik. air keluar dari tempat penampungan ke keran pasti. Tapi itu tidak diikuiti oleh terhisapnya air ke tempat penampungan karena gaya tarik gravitasi di h1 lebih besar dari h2. Lho h2 kok bisa lebih rendah gaya tariknya? karena semua benda tertarik ke dalam bumi karena gaya gravitasi. tentu berbeda besar gaya gravitasi yang dihasilkan antara h2 dan h1 mengingat h1 lebih dalam ke perut bumi jadi memiliki ketinggian lebih tinggi dibanding h2 yang hanya bisa sampai di permukaan tanah. Inilah kelogisan mengapa pompa gravitasi itu tidak dapat berfungsi. Memang sekilas jika kita pake fealling aneh jika tidak bisa bekerja. Tapi justru lebih aneh kalo pompa itu bekerja dengan melawan prinsip hukum alam… tul ngak kang..

  105. ardianto berkata,

    Juli 5, 2008 pada 6:27 pm

    Banyak yang ndak baca secara detail…
    Kesal saya…

  106. sapi kurap berkata,

    Juli 10, 2008 pada 4:02 pm

    iya mana ada yang dari taruhan 10 juta, udah jelas jelas Kang Paidjo bilang mesin itu jelas ga jalan. Pembaca yang aneh. (*. lu juga .*)

  107. conan edogawa berkata,

    Juli 16, 2008 pada 1:19 pm

    huebat neh kang paijo….tapi bukan jiplakan tho?

  108. Tjhombro berkata,

    Juli 16, 2008 pada 2:47 pm

    Hmmm…. jadi kalau bisa dapet 10 juta neh….
    Okay…. let’s see…

  109. dasmi berkata,

    Juli 17, 2008 pada 3:26 am

    Air ( bak penampung) + vacuum ( drum) + Gravitasi + Kincir air + dinamo = energi listrik………………………
    Ga ada yang ga mungkin Brurr bila Tuhan berkehendak…
    Mas Pai, maju terus…. ditunggu info selanjutnya

Tulis sebuah Komentar