BEREKSPERIMEN SEJAK KECIL

Sejak kecil ( SD ), saya sudah tertarik tentang hal-hal yang bersifat teknik dan mekanik. Banyak eksperimen kecil-kecilan yang telah saya lakukan sejak kecil hingga sekarang. Sangat disayangkan, sebagian besar tidak terdokumentasikan bahkan nyaris tanpa jejak sama sekali. Namun demikian, ada beberapa diantaranya yang cukup menarik untuk disharingkan. Saya bersyukur dikaruniai daya ingat grafis yang cukup kuat sehingga saya masih dapat mengingat semua eksperimen saya bahkan sampai ke detailnya sekalipun. Belakangan ini, saya berusaha untuk merekonstruksi hasil-hasil eksperimen saya terdahulu untuk disharingkan dengan anak-anak saya dan juga orang lain yang berminat. Saya menyadari bahwa saya hanyalah seorang eksperimenter bonek. Dapat dikatakan bahwa bakat saya berkembang karena alam, dan tidak tersentuh pendidikan formal yang berhubungan dengan teknik karena masalah kesulitan biaya. Namun demikian, saya bangga menjadi seorang Paijo Eksperimenter Freelance.

PENEMUAN PERTAMA
( Kincir tongkat jungkat-jungkit )

Ketika masih kecil ( SD ) saya sering disuruh orangtua saya untuk menjaga padi di sawah supaya tidak habis dimakan burung pipit. Karena bosan menjaga selama seharian, saya berfikir untuk memanfaatkan aliran air pancuran di situ untuk menggerakkan orang-orangan sawah. Untuk itu akhirnya saya buat sebuah kincir kecil ( kincir type lintasan ) yang porosnya diberi engkol untuk menarik-narik tali yang dihubungkan ke orang-orangan sawah yang diberi bunyi-bunyian ( kaleng yang diisi kerikil ). Kincir ini kemudian tidak dapat berfungsi ketika debit air menjadi sangat kecil. Oleh karena itu saya kembali mencari cara lain untuk menggerakkan orang-orangan sawah tadi. Mulailah proses rekayasa tanpa bantuan gambar, hanya berimajinasi sambil memegang benda-benda di sekitar sebagai alat bantu. ( Catatan : Cara seperti itu masih saya gunakan sampai sekarang dan terbukti efektif. Biasanya gambar/sketsa baru saya buat setelah proses visualisasi. Untuk desain yang cukup rumit, biasanya proses visualisasi dan pembuatan sketsa dilakukan selang-seling secara bergantian )
Setelah desain ( di kepala ) jadi, maka alatnyapun saya buat dan ternyata sukses. Alat tersebut saya saya beri nama kincir tongkat jungkat-jungkit. Kincir tongkat versi pertama hanya berupa sebatang bambu sepanjang kira-kira satu setengah meter yang dibuat seperti mainan jungkat-jungkit. Pada satu ujung diberi beban ( pemberat ) dan pengait tali, sedang diujung lainnya diruncingi ( seperti bambu runcing ) untuk menadah air pancuran. Cara kerjanyapun sangat sederhana. Ketika ujung runcing kosong, ujung berpemberat berada di bawah dan ujung runcing berada diatas menadah air pancuran. Ketika ujung runcing penuh air ( lebih berat daripada pemberat ), maka ujung berpemberat akan naik dan ujung runcing akan turun karena lebih berat. Ketika dalam posisi itu ( menungging ), maka air akan tumpah sehingga ujung runcing akan kembali kosong dan ringan. Hal itu akan menyebabkan ujung runcing kembali naik lagi ke posisi semula dan menadah air pancuran lagi. Demikian seterusnya, sehingga kincir akan bergerak jungkat-jungkit. Aplikasi kincir tongkat pada waktu itu adalah untuk menarik-narik tali yang dihubungkan dengan orang-orangan sawah agar bergerak-gerak terus dan berbunyi ( digantungi kaleng yang diisi kerikil ) supaya burung pipit tidak memakan padi di situ. Kelebihan kincir tongkat jungkat-jungkit adalah sederhana dan dapat bekerja pada debit air yang sangat rendah.

Perkembangan lebih lanjut, saya sudah mendesain ulang kincir tongkat jungkat-jungkit yang lebih sempurna. Bahannya bukan lagi bambu melainkan kayu ( balok, papan , dan paku ) atau besi ( pipa, plat, bearing ). Prinsip dasarnya tetap sama yaitu jungkat-jungkit. Penyempurnaan saya lakukan pada penampung air dengan sistim pintu air ( sistim sliding / geser dan sistim engsel ) yang akan membuka total secara otomatis ketika mencapai tanah ( dasar ) ketika bergerak turun. Selain itu, saya menambahkan mekanisme semacam gerendel penahan yang akan terlepas secara tiba-tiba ketika air di bak telah penuh. Hal tersebut untuk memberikan efek gerak cepat penuh tenaga ketika berjungkit. Jika dibuat dalam ukuran besar, kincir tongkat akan dapat digunakan untuk menggerakkan pompa air ( type piston ), atau untuk menggerakkan penumbuk padi ( alu ). Kelemahannya, tidak cocok untu menggerakkan dinamo listrik maupun alat lain yang memerlukan gerakan berputar. Kelemahan yang lain, pengaturan frekuensi jungkat-jungkitnya masih kurang fleksibel. Anda tertarik ?

11 Komentar

  1. rizqilla said,

    Desember 23, 2011 pada 2:48 pm

    pak paijo yth,
    saya ada limbah cairan semacam thiner,
    kira2 bisa di manfaatkan utk apa ya?

  2. Desember 30, 2009 pada 1:18 pm

    wah sejak kecil sudah pinter. bisa membuat teknologi tepat guna.

  3. Balthazar said,

    Februari 26, 2008 pada 7:22 pm

    Yth. Pak Paijo

    Pak Paijo, saya mau request cara membuat Penghasil Listrik Tenaga Angin?
    Terima kasih berat.
    Gbu

  4. Paijo said,

    Agustus 23, 2007 pada 2:55 pm

    @ Hendra
    Maaf kalau respons saya telat. Disamping itu, saya bingung dan tidak punya ide bagus. Yang terlintas di kepala saya hanya yang saya dapat dari buku terbitan tahun 1800-an. Idenya tentang mesin uap sederhana dari bahan kaleng bekas.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  5. hendra said,

    April 26, 2007 pada 2:15 pm

    om paijo bisa bantu aku gak?
    di skul aku dikasi tugas yang akan dipresentasikan 10 hari lagi untuk buat aplikasi sederhana dari termodinamika,aku bingnung soalnya temen2 da bikin apa yang akan mau buat,kaya kalor yang bisa buat buat turbin bergerak ato semisalnya! aku si pengen bikin kincir angin yang dihubungin ke gear kemudian dari gear itu di hubungin ma dinamo, minta tolong sarannya ya om?
    maaf kalo bisa kirimin ke email

  6. Paijo said,

    Maret 16, 2007 pada 9:09 am

    @ Koecing
    Rupanya neng Koecing juga suka eksperimen ya, bisa dilanjutkan terus untuk bidang informatika yang sekarang neng geluti. Yang paling utama, nikmati keasyikannya dulu. Yang paling efektif adalah eksperimen sistim proyek misalnya membuat sesuatu program/software/hardware yang ambisius dan tidak pernah terpikirkan oleh orang lain tapi memiliki manfaat nyata. Kasih target kualitas yang tinggi dan waktu yang ketat, lakukan dengan all out. Soal manfaat, yang pertama bisa dirasakan adalah semangat juang yang tinggi tidak kenal menyerah, kreativitas dan kemampuan penalaran yang meningkat drastis. Adapun manfaat jangka panjang yang paling terasa adalah selalu bisa menemukan cara alternatif dari banyak persoalan kerja maupun persoalan hidup. Selain itu, lingkungan pergaulan dan lingkungan kerja biasanya memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap orang yang memiliki reputasi di bidang eksperimen/penelitian di bidang apapun. Jadi menurut pengalaman saya, eksperimen merupakan hoby yang sangat produktif karena akan menumbuhkan kebiasaan baik dan sikap positif maupun soft skill lainnya yang tidak bisa diperoleh di ruang kuliah. Adapaun kiat untuk menjadi kreatif dan produktif sudah saya bahas di artikel MENJADI KREATIF & PRODUKTIF.
    Lho … kok saya malah kasih nasehat kayak orang tua saja ya neng. Terimakasih dan salam eksperimen.

  7. koecing said,

    Maret 15, 2007 pada 8:28 pm

    waktu kecil, saya juga suka mencoba. tapi g’secanggih mas paijo mpe bisa bikin sesuatu. saya paling senang ngoprek…😛 ngebongkar sesuatu, liat dalemnya ‘n cari tau cara kerjanya. hihihi… jadi barang2 ang ada di dekat saya g’pernah awet. spt game boy, piano2an, kamera air, disket dll. pernah saya bongkar. dari kecil, saya sudah kenal ma solder + timah(mengingat kerjaan bpk saya tukang service tv ^_^). jadi dulu suka main2 dgn itu -tentunya sembunyi2..😛 –

    dulu pengennya masuk elektro. pengen bisa nyiptain barang elektronik gtu.. tapi sayang.. bapak saya g’stuju saya tll bersentuhan ma listrik(dari kecil sll dijauhin..😦 ) dan akhirnya sekarang saya nyasar di sini…. kuliah d t.informatika…😀

  8. Januari 18, 2007 pada 7:34 am

    Ini hanya tim buat yang masih punya anak yang masih kecil karena mau tidak mau anak adalah anugrah bagi kita sebuah penemuan mengatakan bagaimana kita bisa mendidik anak dengan baik pasti semua bilang ah itu mah gampang tetapi dengan kata gampang itulah kita bertanya ? tanya baik itu secara batin ataupun dengan naruli tetapi semua ini mungin kita bisa melihat apakah pernahkah kita sewaktu kecil bermain dan melakukan yang seperti jaman sekarang mungkin kita menjawab sekarang itu INSTAN tetapi sewaktu itu pada jaman-jaman kita 20 tahun kebelakang wah lebih jauh !!!!!!!!!!!!!!!!! nah apakah kita bisa menerapkan semua itu dengan gaya-gaya kita seperti dulu jawabannya ada pada kita Ok

  9. Agus Gunawan said,

    Januari 18, 2007 pada 7:18 am

    kalau orang lain sejak kecil begitu banyak yang mempunyaipengalaman saya juga mungkin akan menambah pengalaman dengan teman-teman sewaktu saya kecil ya kira-kira sd kelas 3 pernah seorang guru mengatakan ingat pelajaran matematika itu sulit dan jangan macam-macam dengan pelajaran matmatika eh ternaya waktu itu kan di suruh perkaliaan 3 X 3 berapa semua jawab 9 tetapi begitu guru bertanya lagi coba siapa yang bisa menjawab berapakah yang jumlahnya 9 maka saya menjawab 4+5, 6+3, 8+1 dan 3 X 3 guru itu bingung kenapa coba ??????????

  10. Paijo said,

    November 27, 2006 pada 5:06 am

    @ Thamrin
    Betul kata Anda, masa kecil tidak akan pernah kembali. Itulah sebabnya saya sharingkan pengalaman saya waktu kecil agar dapat dijadikan kaca benggala para generasi penerus.

  11. Thamrin said,

    November 24, 2006 pada 3:43 am

    Justru dimasa kecillah kita harus mulai menumpuk “pengalaman” yamng akan menjadi bekal kita saat dewasa. Karena nggak akan balik lagi Mas.
    Selamat bereksperimen….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: