PINDAH RUMAH

Hari Sabtu kemarin (30 Agust 2008) merupakan hari bersejarah bagi saya sekeluarga. Pada hari itu kami pindahan dari rumah dinas (fasilitas kantor) ke rumah pribadi (cicilan). Meski pindahnya tidak jauh (sekitar 1 km), tapi ternyata repot juga. Meskipun kami sudah mencicil untuk memindahkan barang-barang kecil yang bisa diangkut pakai sepeda motor selama dua minggu terakhir, tapi ternyata masih banyak juga yang belum terangkut sampai sekarang. Pada hari Sabtu tersebut, khusus mengangkut perabotan rumah mulai dari kasur, meja-kursi, lemari, rak buku, yang fital untuk menunjang kehidupan di rumah baru. Karena barang yang diangkut tidak banyak, maka selesai hanya dalam 4 kali angkut dengan kijang opencap bantuan dari kantor. Yang sampai sekarang belum tersentuh sama sekali adalah bengkel eksperimen beserta isinya yang masih menunggu kesiapan bengkel baru nan sempit di belakang rumah baru. Barang-barang di bengkel ini yang justru lebih banyak dan juga lebih berat daripada perabotan rumah karena sebagian besar terbuat dari besi. Selain itu juga ada tumpukan aneka macam besi (stok bahan eksperimen) yang beratnya tidak kurang dari satu ton di gudang yang juga musti dipindahkan. Saya perkirakan akhir bulan ini (akhir Sept 2008) pindahan baru benar-benar tuntas. Setelah itu baru menyusul pemberkatan rumah.

Pindah ke rumah pribadi merupakan keputusan sulit dan berat bagi saya sekeluarga yang lagi sudah terlanjur betah tinggal di rumah dinas (fasilitas kantor) selama 14 tahun. Namun setelah mempertimbangkan beberapa faktor akhirnya kami putuskan untuk pindah. Faktor yang mendorong untuk pindah antara lain:

1. Rumah dinas sudah tua, rumah kaleng buatan tahun 70-an. Kayu kerangka sudah banyak yang lapuk dan instalasi listriknya sudah tidak aman lagi sehinga rawan kebakaran. Sampai saat ini sudah ada beberapa rumah sejenis dan seusia yang mengalami kebakaran (sekurang-kurangnya 5 unit yang masih saya ingat). Peralatan listrik di dalamnya juga sudah tua terutama AC. Sedangkan untuk electric water heater dan kulkas masih layak meski telah ada sejak sebelum saya menempati rumah tersebut. Yang terbaru adalah electric stove tapi sudah lebih dari 10 tahun juga.

2. Rumah baru adalah milik sendiri, seperti apapun keadaaannya. Disamping itu, juga diberikan bantuan pinjaman yang dapat dicicil dalam jangka panjang.

3. Diberikan tunjangan yang dapat membantu untuk membayar cicilan rumah, listrik, air, gas. Meski tidak mencukupi untuk menutup semua pengeluaran tapi sangat menolong.

Adapun faktor yang membuat berat untuk pindah antara lain:

1. Beban pinjaman besar yang harus dicicil dalam waktu lama, dan pinjaman tersebut sampai sekarang belum/tidak diasuransikan. Bagi pegawai kecil yang hidup hanya dari gaji seperti saya, hal itu sangat berat.

2. Listrik dan air di rumah lama gratis sehingga tidak pernah pusing mikir kenaikan TDL, harga minyak tanah, maupun harga gas elpiji. Di rumah baru, tidak ada yang gratis.

3. Kualitas bangunan rumah baru yang menurut saya tidak sesuai dengan harga yang harus dibayar. Kualitasnya beda jauh dengan rumah contoh terutama ukuran besi dan campuran beton. Bagi saya yang cenderung safety minded, hal itu membuat saya tidak nyenyak tidur karena merasa tidak aman. Saya merasa perlu untuk membuat tempat tidur cadangan di bengkel yang jelas lebih safe karena bertiang besi dan beratap seng.

4. Rumah baru dibangun kopel di lahan yang sempit. Luas bangunan 60 m2, luas tanah 176 m2. Karena dekat tetangga, saya tidak leluasa untuk melakukan aktivitas di bengkel eksperimen terutama pada malam hari karena dapat mengganggu tetangga. Untuk mengurangi gangguan, saya perlu membuat dinding dan plafon bengkel yang dapat menyerap suara tapi dengan ventilasi yang bagus. Mungkin lapisan stirofoam dapat membantu.

5. Signal HP yang sangat lemah di lokasi rumah baru karena terhalang bukit. Sementara itu, telepon rumah belum bisa dipindahkan karena jaringan kabel di tiang telepon dekat rumah baru tidak ada yang kosong (seluruhnya sudah terpakai). Hal itu membuat komunikasi jadi sulit.

6. Rumah baru jauh dari halte bus sekolah sehingga anak-anak harus jalan kaki 500 meter ke halte terdekat. Dalam hal ini saya terkecoh oleh sebuah halte kecil yang berjarak hanya 100 meter dari rumah saya yang ternyata sampai sekarang belum bisa difungsikan karena jalan utama di perumahan terlalu sempit untuk bus sekolah.

Setelah pindah ke rumah baru, kami harus belajar untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan baru sesuai situasi dan kondisi yang baru yaitu antara lain:

1. Mandi dengan air dingin, karena dirumah baru tidak ada pemanas air. Kalau mau sekali mandi air hangat yang harus mau bersusah-sudah merebus air. Untuk ke depannya, saya berencana untuk membuat sendiri pemanas air tenaga surya.

2. Memasak menggunakan kompor minyak, karena di rumah baru tidak ada kompor listrik dan gas susah dicari dan juga mahal. Di gudang, saya punya beberapa elemen kompor listrik tipe spiral maupun type plate (bahan eksperimen) tapi tidak mampu membayar rekening listriknya. Maklum, kompor listrik koleksi saya yang paling kecil 1000 watt dan saya paling besar 2200 watt yang jelas bisa bikin meteran ngganjret (berputar cepat sekali) dan bisa bikin kantong jebol.

3. Menghemat listrik, karena rumah baru menggunakan listrik PLN dan musti bayar tagihan listrik sendiri. Melakukan kebiasaan mematikan lampu jika tidak dipakai rupanya masih perlu waktu terutama untuk anak-anak. Maklum, di rumah lama dayanya besar dan tidak dipasang meteran sehingga tidak tahu total daya yang dipakai. Kalau di rumah lama saya bisa mengelas tanpa takut breaker anjlok atau kantong jebol, sekarang saya berhenti ngelas untuk sementara karena daya terpasang di rumah baru hanya 1300 watt tidak mampu menghidupkan trafo las 160 ampere yang perlu daya sekitar 4000 watt. Kalau mau mengelas lagi, saya harus menabung dulu untuk beli genset diesel 8-10 PK (sekitar 5000-7000 watt).

4. Menhemat air, karena di rumah baru dipasang meteran air. Waktu masih di rumah lama tidak dipasang meteran air sehingga tidak tahu jumlah air yang dipakai.

5. Tetangga baru dan lingkungan baru yang mana kami musti pandai-pandai menyesuaikan diri.

6. Mengurangi aktivitas yang menimbulkan kebisingan. Hal ini yang cukup berat untuk saya yang hoby kerja bengkel dimana mesin gerinda dan mesin bor adalah peralatan standard yang tidak bisa ditinggalkan. Untuk sementara, saya hanya akan beraktivitas pada siang hari di hari libur. Di rumah lama, hal itu bukan masalah karena jauh dari tetangga. Di samping itu, tetangga terdekat di rumah lama mempunyai hoby yang sama dan sama-sama sering mbengkel sampai malam hari bahkan sampai subuh jika sedang mengejar tenggat waktu.

Bagaimanapun juga, sesuatu yang baru selalu menawarkan peluang dan harapan baru bagi pemiliknya. Di rumah sempit yang berdiri di lahan yang juga sempit akan terasa lapang jika ditata dan dinikmati dengan hati yang lapang pula. Semoga.

Iklan

15 Komentar

  1. joko said,

    Januari 17, 2010 pada 6:13 am

    mas paijo,aq usul sampean lek gae blok ojo akeh2,mesakne sing kirim komentar.gak sampean bales hi2 guyon lo mas!aq lg blajar ngeblog,nek gelem ngajari tambah pahala.nek tahun ngarep durenq panen tak undang,tapi wingi mung woh siji bobote 5 kg wong sak gang keduman kabeh.aq pecinta tanaman,tujuanq blajar blog supaya wong sak indonesia seneng nandur wit n yoiku cinta tanaman.ok

  2. bije said,

    Agustus 5, 2009 pada 5:21 am

    Sugeng buat paklik paijo (mau panggil pakde koq nanti panjenengan keliatannya udah tua banget)

    Semoga rumah barunya barokah, baik, dan bikin penghuninya betah dan semakin baik… amin

    saya punya usul buat alokasi penggunaan energi untuk workshop paklik.
    Gimana kalo rumah baru ini di otak-atik biar full hemat energi?? ekstrimnya, seluruh sumber energi rumah dibikin swadaya saja. pake turbin angin sama panel surya misalnya. gak usak tergantung PLN & PDAM (TELKOM g bisa dilepas kayaknya)

    naaah, maka sisa banyak tuh bates daya di meteran listrik, pake smua buat bengkelnya (kecuali mesin las yang makan listrik gede itu)

    dimanapun paklik tinggal, bengkel musti tetep jalan

    hidup paklik paijooooooo!!!

  3. AGustiNusa said,

    Juni 7, 2009 pada 2:49 am

    pak.. usul, rumahnya dibikin yang seperti di film ‘blast from the past’ keren tuh..
    tp jangan sampai ketimpa pesawat spt di ceritanya..

    salam hu-mor

  4. accan said,

    Februari 4, 2009 pada 9:23 am

    Salam KEnal.. 😛

  5. Januari 30, 2009 pada 5:39 am

    Wah, mas Paijo ternyata baru pindahan ya… selamat menempati hunian baru ya mas… 🙂 Salam bt keluarga semua…

  6. aji said,

    Desember 10, 2008 pada 10:27 am

    Beberapa waktu yang lalu saya mempercayakan sejumlah uang saya untuk di investasikan dalam bentuk VALAS dan portfolio saham di Valbury Dengan iming – iming keuntungan dalam waktu yang cepat.
    Yang saya dapatkan ternyata tidak sesuai dugaan, ternyata itu semua hanya akal – akalan saja. Dan setelah saya selidiki ternyata semua orang yang bekerja disana adalah lulusan SMU atau sederajat dan mereka semua tidak memiliki ijin yang resmi dari instansi terkait.
    Jadi saya menyarankan agar anda yang berinvestasi di tempat tersebut untuk segera menarik dana anda sebelum terlambat. Cukup saya yang jadi korban jangan sampai ada korban lebih lanjut lagi. Nama salesnya BUDI MULYANA ( NO HP 0856-8102XXX ) orang ini sangat licik dan tak segan-segan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

  7. rudyhilkya said,

    November 7, 2008 pada 4:52 pm

    lama nih nggak berkunjung ke tempat sang eksperimenter eh untung tak pindah beneran rumahnya di wordpress seperti posting.
    OK pak, keep ber-experiment .. kami menanti yang heboh dan mengasyikan dari ulasan sampeyan 😀

  8. indungg said,

    Oktober 11, 2008 pada 11:47 am

    Selamat Pindah rumah ya bro,..
    Semoga Krasan dan Sukses di tempat yg baru!
    Salam kenal.

  9. tante asih said,

    September 28, 2008 pada 9:22 pm

    wah….. baru pindahan yach…, pasti seru donk rumah baru. tahun depan dech kita maen ke soroako…, om thomas pengen motret.

  10. ricky said,

    September 14, 2008 pada 8:24 am

    Selamat Ya mas sukses… kapan niih pemberkatannya

  11. Indah Sitepu said,

    September 13, 2008 pada 12:20 pm

    selamat pak rumah barunya…

    saya ingat bapak sebagai orang pertama yang comment di blog saya…

  12. Arsyad Salam said,

    September 2, 2008 pada 4:15 pm

    met punya rumah baru pak.. biar gimana juga pasti beda rasanya tinggal di rumah sendiri ama rumah dinas… biar gimana namanya rumah dinas tetap plat merahh 🙂

  13. mbelGedez™ said,

    September 2, 2008 pada 10:28 am

    Selamat pindah rumah, ya pak….
    Biarpun kecil tapi milik sendiri. Puwas rasanya… 😀

    Soal cicilan, coba pak Paijo kontak Bumi Putra atau Bringin Life, mereka ada produk nyang kalok ndak salah namanya SWAKADANA.
    Gunanya meng cover cicilan utang begetoo.
    Jadi kalok misalnya terjadi sesuwatu terhadap pak Paijo, maka SISA UTANG ituh nyang mbayarin angsurangsi…. :mrgreen:

  14. ulan said,

    September 1, 2008 pada 4:42 pm

    selamat pindah rumah om.. kirain rumah nya para blogger..

  15. pank said,

    September 1, 2008 pada 3:17 pm

    waaa… sdih n capek jg y mas…. tp kan bisa lebih leluasa dgn ide2 baru untuk rmh baru…
    Slamat Pindah2 buat keluarga…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: