“MEMANCING” DI DANAU, DAPAT BULLDOZER DAN BUS

“MEMANCING” DI DANAU, DAPAT BULLDOZER DAN BUS
By Paijo

Awal tahun 2007 ini, banyak terjadi musibah yang melibatkan alat transportasi mulai dari kapal tenggelam, kecelakaan kereta api, sampai pesawat jatuh. Di daerah saya, juga terjadi musibah tenggelamnya sebuah bis ke dalam danau. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut. Kecelakaan itu sendiri terjadi ketika sebuah bis yang dicarter oleh rombongan sebuah sekolah yang hendak melakukan studitour jatuh dan tercebur ke danau ketika diseberangkan dengan menggunakan sebuah raft ( ponton bermesin ). Pada saat kejadian, raft sebenarnya sudah hampir sampai di dermaga tujuan yaitu tinggal sekitar 300 meter lagi. Menurut keterangan salah satu anggota pramuka yang ikut mengevakuasi korban, kecelakaan terjadi karena raft kehilangan keseimbangan sehingga oleng dan menyebabkan bis tercebur. Adapun penyebab hilangnya keseimbangan tersebut, dikarenakan penumpang berkumpul di satu sisi raft untuk menghindari percikan ombak dan untuk melihat dermaga tujuan yang sudah dekat. Karena musibah tersebut, akhirnya studitour batal dan rombongan kembali ke daerah asal setelah dievakuasi dan ditampung di sebuah asrama.

Sampai saat ini, bus tersebut masih berada di dasar danau dan belum bisa dievakuasi. Namun telah dipasang rambu ( penanda ) berupa pelampung yang diikat dengan pemberat di lokasi bus untuk mempermudah upaya pencarian dan evakuasi. Upaya evakuasi tidak akan mudah karena kontur dasar danau di lokasi tersebut cukup terjal. Walaupun jarak dari tepi hanya sekitar 300 meter, tapi kedalaman di lokasi tersebut lebih dari 100 meter bahkan mungkin bisa mencapai 300 meter. Danau tersebut memang dikenal sangat dalam karena merupakan danau terdalam di Indonesia dan kedua terdalam di dunia. Bagian terdalamnya mencapai lebih dari 700 meter. Menurut teman saya yang anggota diving club dan sudah mengantongi lisensi, hanya diver yang berlisensi master saja yang boleh menyelam sampai kedalaman lebih dari 50 meter. Untuk menyelam sedalam itu, resikonya sangat tinggi. Oleh karena itu, harus dicari cara lain yang lebih aman untuk mengevakuasi bus tersebut.

Lebih dari setahun lalu, persisnya menjelang akhir tahun 2005, juga terjadi kejadian serupa. Namun yang tenggelam bukanlah bus melainkan sebuah bulldozer seberat 8 ton. Walaupun lebih berat dibandingkan bus, namun evakuasi bulldozer tersebut tidak terlalu sulit karena kedalaman lokasi tenggelam “hanya” sekitar 70 meter. Lokasi berhasil ditemukan berdasarkan jejak minyak ( solar ) yang naik ke permukaan dari tangki bahan bakar. Kemudian, bulldozer “dipancing” dengan menggunakan sebuah pengait besar yang diikat dengan sebuah sling baja. Kemudian sling tersebut diikatkan pada sebuah pelampung besar agar tidak terlepas kembali. Proses “memancing” tersebut dibantu dengan sebuah kamera bawah air. Setelah berhasil “dipancing”, teman saya yang penyelam tersebut datang ke ruang kerja saya untuk menanyakan bagaimana cara mengangkat bulldozer terebut ke permukaan kemudian membawanya ke tepi. Setelah dia menceritakan situasinya secara detail, maka menyodorkan 2 alternatif yaitu :
1. Mengangkat dengan gaya apung drum ( dapat dilakukan hanya jika bulldozer dapat dijangkau penyelam )
Siapkan 40 buah drum yang telah dibuka kedua tutupnya dan diberi cantolan ( pengait ) di tengah-tengah lingkaran atasnya. Cantolan tersebut harus mampu menahan beban tarikan minimal 200 kg. Pasang tali berkekuatan minimal 200 kg sepanjang 4-5 meter ke tiap-tiap drum. Kemudian bawa drum-drum tadi ke lokasi, isi dengan air dan tenggelamkan mendekati bulldozer. Selanjutnya, penyelam mengikatkan tali penambat drum-drum tadi ke kerangka pelindung operator pada bulldozer. Setiap tertambat sekitar 5-10 drum, isilah drum dengan udara dari kompresor di perahu melalui selang yang diberi pemberat. Drum yang yang telah berisi udara akan menarik tali tambat ke atas karena gaya apungnya. Jika seluruh drum telah tertambat dan terisi udara, maka pelan tapi pasti bulldozer akan terangkat dan tinggal ditarik ke tepi yang dangkal. Alternatif ini beresiko tinggi dan menuntu kerja keras dari para penyelam. Salah satu resiko fatal yang saya sampaikan adalah bahaya terjerat atau terlilit tali tambat, dan putus atau lepasnya ikatan tali tambat yang bisa menyebabkan drum meluncur ke atas dan menghantam penyelam atau perahu di permukaan.

2. “Memancing” dengan kait dan katrol
Untuk “memancing” dengan katrol diperlukan sebuah raft ( ponton ) yang dapat mengangkut beban lebih dari 8 ton ( minimal setara dengan 40 drum ) dan sejumlah katrol mekanik yang total daya angkatnya lebih dari 8 ton pula. Selain itu diperlukan sejumlah sling baja yang total daya tariknya lebih dari 8 ton. Setelah sejumlah kait sudah nyantol pada kerangka pelindung operator bulldozer, maka secara serentak semua katrol dioperasikan untuk mengangkat. Dengan cara itu, pelan tapi pasti bulldozer akan terangkat keatas mendekati raft tetapi masih terendam air. Kalau sudah naik mencapai batas maksimal, maka raft ditarik ketepi yang lebih dangkal. Alternatif ini relatif kecil resikonya dan tidak perlu terlalu banyak penyelaman yang berbahaya.

Dari dua alternatif yang saya sodorkan, akhirnya dipilih alternatif yang terakhir. Namun sempat mengalami kegagalan karena pelaksana tidak mengikuti ketentuan yang saya berikan. Waktu itu digunakan ponton yang dibuat dari 20 buah drum ( seharusnya 40 drum ) yang digandeng-gandeng menggunakan besi siku dengan cara dilas. Ketika bulldozer ditarik menggunakan katrol dari atas ponton, bukannya bulldozer yang terangkat ke atas tetapi justru pontonnya yang tertarik ke bawah. Setelah kegagalan itu, akhirnya mereka menggunakan ponton 40 drum dan sukses mengangkat bulldozer tersebut. Setelah semuanya berakhir, barulah pada bertanya ke teman saya tentang siapa yang menentukan jumlah drum harus 40 dan darimana angka tersebut. Penjelasan teman saya sederhana dan mudah dipahami seperti pada saat saya jelaskan kepadanya. Volume satu drum sekitar 210-220 liter. Jika drum tersebut berisi udara dan diceburkan ke danau ( air tawar ), maka gaya angkat maksimal drum sama dengan berat air yang volumenya satu drum ( 210-210 liter ) yaitu sekitar 210-220 kg dikurangi berat drum dalam keadaan kosong ( 10-20 kg ). Jadi gaya angkat satu drum kira-kira 200 kg. Oleh karena itu tiap 5 drum mampu mengangkat 1 ton, sehingga perlu 40 drum untuk mengangkat bulldozer yang beratnya 8 ton.

Untuk bus yang sekarang belum dievakuasi tersebut, juga dapat dilakukan pengangkatan dengan cara yang sama asal bisa “dipancing”. Jika berat bus sekitar 3 ton, maka perlu ponton dengan gaya angkat minimal setara 15 drum. Kepada salah seorang petugas evakuasi, saya menyarankan untuk dibuatkan semacam jangkar yang bisa masuk ke jendela bus. Supaya bisa nyantol secara mantap, saya sarankan dibuatkan jangkar yang bisa menguncup ketika melewati jendela bus dan membuka kembali ketika sudah sampai di dalam. Kalau jangkar sudah dibuat, pekerjaan tersulit adalah “memancing” bus tersebut karena terletak jauh di kedalaman sehingga pasti dalam keadaan yang gelap gulita. Apalagi kalau ternyata posisi jendela bus tidak menghadap ke atas. Seandainya kamera bawah air mampu menjangkau, bisa saja bus dikait dan dibalikkan dulu sebelum “dipancing”. Yang merasa ahli memancing pasti penasaran, namun ini bukan lomba memancing berhadiah, melainkan evakuasi korban musibah. Terimakasih dan salam eksperimen.

7 Komentar

  1. Paijo said,

    Februari 20, 2007 pada 12:49 am

    @ Arif Kurniawan
    Saya memang tidak sebut lokasi persisnya karena 2 alasan. Pertama, pihak yang kena musibah mungkin akan merasa kurang nyaman jika diketahui banyak orang ( apalagi kalau wartawan ) karena bisa mempersulit “posisi”-nya. Yang kedua, untuk menjaga privasi saya agar tetap merasa aman karena di sebuah daerah terpencil sangat mudah untuk mencari seseorang dengan hanya mengetahui lokasi dan nama panggilannya. Saya harap anda mengerti situasi yang saya hadapi. Terimakasih dan salam eksperimen.

  2. Februari 19, 2007 pada 8:06 pm

    Gile, keren banget. Canggih triknya euy. Hebring ceunah. Hebatttt.

    Eh, BTW Kang, lokasinya dimana? KOk tidak disebut?

  3. Paijo said,

    Februari 12, 2007 pada 11:46 pm

    @ Dhitos
    Hmmm …. juga.

  4. dhitos said,

    Februari 12, 2007 pada 9:49 am

    Hmmm…

  5. Paijo said,

    Februari 12, 2007 pada 4:15 am

    @ Helgeduelbek
    Memang sangat sederhana dan aplikatif, tapi jarang disadari manfaatnya

    @ Passya
    Memang berat dozer berkurang kira-kira 1 ton karena volume besi totalnya sekitar 1 meter kubik. Tapi juga ketambahan berat lumpur dan perlu cadangan gaya apung untuk memastikan sukses.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  6. passya said,

    Februari 11, 2007 pada 7:35 am

    pa’e…berat (massa?) jenis bulldozer di dalam air apa gak berkurang…

  7. helgeduelbek said,

    Februari 11, 2007 pada 2:53 am

    Aplikatif macgever!!!, saya cuman mlongo mbacanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: