PERDEBATAN DOKTER VS PENJUAL ROKOK

PERDEBATAN DOKTER VS PENJUAL ROKOK

by Paijo

Pro-kontra masalah rokok selalu saja seru untuk diperdebatkan. Bahkan bloger sekelas wadehel saja membahasnya ( baca: Merokoklah supaya cepat masuk surga )

Suatu hari ada talk show di TROMPET TV sebuah stasiun TV yang khusus menayangkan ceritaberita. Tampil dalam talkshow tersebut dua orang nara sumber yaitu seorang dokter ( dr. Paidin ) dan seorang penjual rokok ( Paimo ). Dalam acara tersebut terjadi adu argumentasi antara dr. Paidin yang menyarankan orang berhenti dirokok merokok dengan Paimo yang jelas menyarankan orang untuk merokok.

Dokter Paidin : “Asap rokok sangat berbahaya untuk kesehatan. Makanya di setiap bungkus maupun di setiap batang rokok diberi tulisan PERINGATAN PEMERINTAH : MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”

Paimo : “Lho, itu kan peringatan pemerintah, bukan peringatan dari pabriknya. Pemerintah kan menikmati cukai rokok juga, makanya tulisan peringatannya tidak pernah lebih besar daripada pita cukainya. Asapnya untuk kita, cukainya untuk pemerintah. Adil kan ??? Lagi pula yang ditulisi kan hanya rokok dan bungkusnya saja, sedangkan asapnya tidak ada tulisannya kan, apalagi nikmatnya.”

Setelah berdebat dan saling adu argumentasi, maka tibalah saatnya masing-masing kubu untuk menyampaikan pernyataan terakhir sebelum moderator menutup acara.

Dokter Paidin : “Penelitian di laboratorium membuktikan bahwa asap rokok mengandung lebih dari 1000 macam senyawa beracun berbahaya. Diantaranya adalah karbon-mono-oksida, tar, dan formaldehida yang bersifat karsinogen. Jumlah maupun jenisnya, mirip dengan yang ditemukan pada asap knalpot. Jadi merokok, sama saja dengan memasukkan knalpot ke dalam mulut. Jadi, hentikan sekarang juga produksi dan penjualan rokok yang hanya akan meracuni masyarakat kita.”

Paimo merasa tersinggung dan terpojok oleh pernyataan dokter Paidin yang keras menohok dan jelas ilmiah abis. Tidak mau kalah dengan sang dokter, iapun mengajukan pernyataan terakhir yang tidak kalah garang dan “ilmiah”.

Paimo : “Penelitian laboratorium saja tidak cukup, harus dibuktikan dengan survey di lapangan. Silakan saudara-saudara lebih mempercayai dokter Paidin yang hanya berdasarkan penelitian laboratorium, atau lebih mempercayai saya yang pengamat lapangan. Yang jelas dan pasti, orang-orang yang datang ke ruang praktek dokter Paidin seratus persen sakit. Bahkan kemarin ada yang meninggal setelah disuntik. Saya tahu persis karena saya berjualan rokok di seberang tempat prakteknya. Sedangkan orang-orang yang datang membeli rokok di kios saya seratus persen sehat walafiat. Jadi silakan anda pilih, menjadi pasien dokter Paidin atau membeli rokok di kios saya.”

Terimakasih dan salam eksperimen.

Iklan

19 Komentar

  1. lizzy said,

    Februari 24, 2008 pada 8:03 pm

    Daripada buang2 uang untuk hal yang ga berguna (rokok) dan cuma membawa penyakit lebih baik uang itu kita pakai tuk hal yg berguna, seperti utk makan…toh jaman sekarang makan aja udah susah jd jangan ditambah susah..
    atau uang yg dipake bwat beli rokok disumbangin ke orang yg ga mampu (dapet pahala dari Tuhan lho)..

  2. Paijo said,

    Maret 7, 2007 pada 10:23 am

    @ DeKing
    Hiya juga ya ….
    Kalau merokok beli, perokok rugi bangsa untung…..
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  3. deKing said,

    Maret 7, 2007 pada 6:12 am

    Kebetulan saya bukan perokok, tetapi saya ingin nyumbang komentar 😀
    Peringatan pemerintah:

    MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN SERANGAN JANTUNG, …

    Yang merugikan kan merokok DAPAT karena itu juga merugikan pabrik rokok, tetapi bagaimana kalau merokok BELI??? hehehe 😀

  4. Paijo said,

    Maret 6, 2007 pada 1:45 am

    @ Nay
    Maaf, saya juga ndak bawa korek je.
    Ternyata anda adalah perokok rendahan ( kelas 3 ), bukan perokok sejati.

    Perokok aktif, dapat dikategorikan menjadi 4 kelas sebagai berikut :
    – Perokok kelas 1 adalah perokok sejati, punya rokok dan punya korek sendiri
    – Perokok kelas 2 hanya bermodal korek saja tapi minta rokok dari orang lain khususnya kepada perokok yang tidak punya korek
    – Perokok kelas 3 hanya mempunyai rokok saja tapi tidak punya korek api. Kelasnya lebih rendah daripada yang hanya bermodal korek karena korek tanpa rokok masih lebih bermanfaat daripada rokok tanpa korek, misalnya untuk membersihkan gigi sehabis makan atau untuk menyalakan lilin saat mati lampu.
    – Perokok kelas 4 hanya bermodal mulut doang, tidak punya rokok maupun korek. Kalau ada orang lain merokok, berusaha mendekati supaya ditawari.

    Dari keempat kelas perokok tersebut, yang paling sulit berhenti adalah perokok kelas 4. Hal itu disebabkan tidak adanya motivasi ekonomi, karena bagi mereka merokok atau tidak merokok sama-sama tidak mengeluarkan uang.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  5. nay said,

    Maret 5, 2007 pada 12:20 pm

    nyuwun sewu pa’de, bu’de, ada yg punya korek api ? ta’ pinjem dulu ya, aku nda bawa. mau smoking diruang sebelah, boleh

  6. Paijo said,

    Februari 26, 2007 pada 11:55 pm

    @ Mardun
    Saya setuju dengan pendapat anda, yang dikatakan oleh sdr Wadehel memang tepat sekali bahwa harus sama-sama beradap. Kalau itu sudah bisa dilakukan, maka masing-masing pihak bisa melakukan pilihannya secara merdeka sekaligus tidak mengganggu kemerdekaan orang lain yang memilih jalan berbeda. Terimakasih dan salam eksperimen.

  7. mardun said,

    Februari 26, 2007 pada 6:00 pm

    hehehe lucu juga ceritanya, saya nggak anti rokok dan nggak menganjurkan orang merokok. terserah deh

    yang jelas kalo katanya wadehel (yang sayangnya hanya ditujukan pada para perokok) kita semua (perokok dan bukan) harus sama-sama beradab. yang merokok harus tahu diri, yang nggak merokok harus tau tempat 😛

  8. Paijo said,

    Februari 24, 2007 pada 2:47 am

    @ Cakmoki
    Cerita itu sudah lama saya bikin ketika saya masih merokok. Nama tokoh dalam cerita aslinya adalah Paijo, yang kemudian saya ganti dengan Paimo karena saya sudah berhenti merokok dan mendorong orang untuk berhenti merokok. Terimakasih dan salam eksperimen.

  9. cakmoki said,

    Februari 23, 2007 pada 9:57 am

    Hehehe, saya salut sama Paimo, eh maksud saya yang nulis cerita.
    Gak bakalan habis tuh masalah rokok dan tidak merokok.
    Salam kenal Pak 😀

  10. Paijo said,

    Februari 12, 2007 pada 4:35 am

    @ Dani Iswara
    Yang paling tidak sip yaitu merokok tanpa eksperimen.

  11. Dani Iswara said,

    Februari 11, 2007 pada 3:47 am

    sip eksperimen tanpa rokok 😀

  12. Paijo said,

    Februari 7, 2007 pada 1:44 am

    @ Arifkurniawan
    Yang merokok sebenarnya mau komen juga, tapi mungkin malu-malu kuda kucing.

  13. Februari 6, 2007 pada 9:31 am

    Hehehe… sayang yang komen yang ndak merokok saja.
    Perokok ndak ada yang komen… hehehe

  14. Paijo said,

    Februari 6, 2007 pada 1:37 am

    @ Anang
    Merokok memang identik dengan membakar uang. Tapi kalau berniat berhenti merokok hanya berdasarkan kalkulasi ekonomi semata, kecil kemungkinan untuk berhasil. Perlu lebih dari itu untuk berhasil.

    @ Wadehel
    Terimakasih atas ucapan selamatnya. Memang saya harus berjuang keras untuk dapat berhenti merokok.

    Buat orang yang tidak merokok :
    Hormatilah orang yang merokok, karena mereka telah membayar cukai untuk negara. Sampaikan dengan sopan jika anda merasa terganggu dengan asap rokok.

    Buat orang yang merokok :
    Hormatilah orang yang tidak merokok, jangan mentang-mentang telah membayar cukai untuk negara. Patuhi rambu dilarang merokok di tempat umum. Sebelum merokok, tanyakan dengan sopan kepada orang yang berada dekat dengan anda apakah merasa terganggu atau tidak.

  15. wadehel said,

    Februari 5, 2007 pada 1:39 pm

    Wah, udah berhenti juga toh, selamaaat 😀

    Buat para perokok:
    Sebenernya ngerokok silahkan aja sih, yang punya badan kan anda, tapi tolooong, merokoklah seperti orang beradab, hormati orang yang tidak merokok 🙂 Ok!

  16. Anang said,

    Februari 5, 2007 pada 4:54 am

    dari pada merokok membakar uang.. mending uangnya buat saya aja..

  17. Paijo said,

    Februari 2, 2007 pada 3:06 am

    @ Helgeduelbek
    Berarti sama dengan saya. Saya berhasil berhenti merokok sejak 17 Januari 2003 setelah sebelumnya cuma bisa berhenti 3 bulan dan 6 bulan. Untuk berhenti yang terakhir ini, berkat training motivasi diri yang saya ikuti. Training tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Motivasi Indonesia. Jadi untuk berhenti merokok, saya perlu beberapa juta untuk biaya training. Tapi manfaatnya jauh lebih besar daripada biaya investasinya. Jadi investasi ( untuk ) kesehatan penting demi kita dan keluarga kita semua. Terimakasih dan salam eksperimen.

  18. helgeduelbek said,

    Februari 2, 2007 pada 12:12 am

    ups ketinggalan… saya bukan perokok tapi anti rokok, sebab tidak sedikitpun saya mendapatkan kenikmatan dari rokok. Jadi para perokok pasti mendapatkan kenikamatan.

  19. helgeduelbek said,

    Februari 2, 2007 pada 12:10 am

    Cerita yang menarik…. ketok cerdase sing ngarang cerito. Tapi keputusan akhir terserah saja, mau ngrokok silahkan… asal jangan sampai mebuat orang lain merasa tersiksa. SAya juga rokok kang. jadi kalau mau ketemu saya matikan dulu rokoknya, kalau tidak saya ambil jarak, untungnya kebanyakan mau ngerti.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: