MENYIASATI GANGGUAN NAVIGASI PESAWAT

Ada banyak faktor yang berperan dalam keselamatan penerbangan, mulai dari faktor manusia, kelaikan teknis pesawat, cuaca, dsb. Salah satu hal yang sering disebut-sebut dan patut diduga ikut memiliki andil dalam masalah keselamatan penerbangan tersebut adalah HP ( Hand Phone alias ponsel….. bukan HP-nya Paijo yang hilang lho ). Sebagai seorang eksperimenter, saya tergelitik untuk ikut nimbrung ngudhar gagasan tentang masalah tersebut bukan karena ikut-ikutan setelah membaca artikel PONSEL PENYEBAB ADAM AIR HILANG  di blog Trilogy, melainkan karena kepedulian saya pada masalah safety yang berhubungan dengan kesadaran dan kelakuan penumpang pesawat yang berhubungan dengan HP dan alat elektronik lainnya. Beberapa waktu yang lalu, saya juga sempat menulis sebuah comment di blognya pak Dewo ( KETIKA PONSEL ANDA TIDAK DIANGKAT) bahwa saya tidak pernah mau bawa-bawa HP kemana-mana. Hal itu tentu ada alasannya tapi jelas bukan karena saya takut nyasar ke kantor tetangga atau motor butut saya ngadat karena navigasi dan sistim pengendali kacau gara-gara interferensi frekuensi HP.
Mengingat potensi bahaya fatal yang bisa menimpa pesawat yang dapat dipicu “hanya” oleh ponsel atau alat elektronik lainnya, saya punya ide yang kemungkinan dapat diterapkan untuk mengatasi ( atau minimal mengurangi ) kerawanan tersebut yaitu :

1. Otoritas penerbangan membuat aturan baru yang lebih keras ( tapi logis ) untuk menghindari pemilik HP nakal. Caranya, dilarang membawa HP ke dalam kabin. Semua HP musti dilepas battery-nya dulu dan dimasukkan dalam bagasi ( untuk menghindari HP on sendiri jika ada goncangan keras ). Juga diberikan alternatif lain yang lebih nyaman yaitu bisa menitipkan HP pada awak kabin pada saat boarding atau dipintu pesawat. Untuk itu, perlu disediakan semacam gantungan ( tag )yang berisi identitas dan nomor seat untuk memudahkan awak kabin mengembalikan HP kepada pemiliknya pada saat pesawat telah mendarat dan berhenti dengan sempurna. Urusan tag tersebut musti dilakukan pada saat dan merupakan bagian dari proses check in. Selain berupa tag, boleh juga berupa kantong atau tas HP yang berlogo air line yang sekaligus dapat menjadi suvenir tergantung kreativitas tiap-tiap air line. Jadi dapat menjadi sarana kampanye keselamatan dan sekaligus sarana promosi. Sebagai contoh, pada tas/kantong HP diberi logo dan tulisan A-MAD-AIR MENGUCAPKAN TERIMAKASIH KEPADA ANDA YANG TELAH BERPARTISIPASI MENINGKATKAN KESELAMATAN PENERBANGAN. Saya yakin bahwa sovenir yang harga perolehannya tidak seberapa ini akan meningkatkan motivasi penumpang ( yang notabene hadiah minded ) untuk menitipkan HP-nya pada awak kabin. Bagi penumpang yang masih membandel juga dan terbukti melanggar aturan tersebut, musti disiapkan perangkat hukum yang sah dengan sangsi pidana yang berat karena membahayakan keselamatan umum.

2. Perlu dilakukan upaya teknis untuk menghindari ( minimal mengurangi ) kemungkinan interferensi frekuensi alat navigasi dan pengendali pesawat dengan frekuensi HP atau alat-alat elektronik umum lainnya. Misalnya, alat-alat navigasi dan pengendali pesawat dibuat untuk bekerja pada rentang frekuensi yang sekarang ini tidak digunakan pada HP atau alat elekronik umum lainnya. Mengapa bukan frekuensi kerja HP dan alat lain yang musti pindah ? Ya jelas, karena yang mengalami masalah adalah pesawat, bukan HP atau lainnya. Logikanya sederhana, pihak yang terganggu yang harus rela pindah frekuensi. Selain itu, jumlahnya juga lebih sedikit , lokasinya juga jelas ( pasti di bandara ), sehingga lebih mudah didata dan mustinya juga lebih mudah untuk diatur karena sebagian besar dimiliki oleh badan hukum. Untuk melakukan upaya teknis ini secara serentak, mungkin terlalu mahal karena harus mengganti alat navigasi dan pengendali semua pesawat yang ada dalam waktu bersamaan. Namun jika dilakukan secara bertahap dan sistematis, praktis tidak akan banyak memerlukan dana tambahan. Caranya, buat aturan bahwa semua pesawat baru harus menggunakan alat navigasi dan pengendali yang bekerja pada frekuensi baru. Penggantian alat navigasi dan pengendali yang sudah uzur pada pesawat lama juga mesti migrasi ke frekuensi baru tersebut. Dengan cara tersebut, mungkin dalam waktu 5-10 tahun kedepan sudah tidak ada lagi penggunaan frekuensi lama yang terbukti rawan interferensi. Supaya hal serupa tidak terulang di masa depan, buat juga aturan yang jelas dan tegas untuk pabrikan HP dan alat elektronik umum agar tidak memproduksi HP dan alat elektronik umum lainnya yang bekerja pada frekuensi yang telah dkhususkan untuk keperluan navigasi dan pengendalian pesawat terbang. Perangkat hukum maupun sangsi berat bagi pelanggar juga musti disiapkan.
3. Bagi penumpang yang membawa magnet atau alat yang mengandung magnet berkekuatan tinggi seperti hard disk, motor listrik, speaker dsb, pihak air line musti menyediakan SANGKAR MAGNET yang berupa kotak khusus yang dapat mencegah ( atau minimal mengurangi sampai batas aman ) keluarnya medan magnet ke sekitarnya. Secara teknis, hal itu sangat mungkin dapat dilakukan dengan menempatkan magnet dan alat yang mengandung magnet ke dalam kotak yang terbuat dari bahan besi yang cukup tebal dengan sambungan yang rapat dan homogen. Logikanya, garis-garis gaya magnet akan cenderung mengikuti besi yang berada cukup dekat dan ”menghubungkan” kedua kutubnya dan membentuk ”lingkaran” tertutup. Untuk magnet batangan, ladam ( berberntuk U ), atau bentuk lain, tempelkan besi ( yang besarnya sesuai dengan magnetnya ) menghubungkan kutub-kutub yang berlawanan sebelum memasukkannya kedalam SANGKAR MAGNET tersebut. SANGKAR MAGNET tersebut hendaknya ditempatkan di bagian ruang bagasi yang paling belakang yang notabene paling jauh dari alat navigasi dan pengendali pesawat yang lazim ditempatkan di bagian depan pesawat ( hidung dan kokpit ). Penempatan tersebut untuk meminimalkan efek dari medan magnet yang sempat ”bocor” keluar sangkar.

Demikian gagasan ( ngoyoworo ) saya semoga dapat menjadi bahan masukan bagi air line maupun otoritas penerbangan kita. Ada yang ingin urun rembug juga ?

Iklan

4 Komentar

  1. Iwan Purnama said,

    Oktober 11, 2010 pada 6:23 am

    Wah ini bagus sekali, ini bukti kepedulian. Kalo analisa aku dari ilmu yg aku dapat Frek. HP sangat jauh kali dg frek Nav, Penerbangan dan Power HP sangat kecil kali jadi kesimpulan sangat kecil kali bisa ganggu / interferensi. Kalo pendapet aku cendrung ganggu : Wireless Telephon (ada di jual bebas) frek ada dekat Frek Penerbangan (108 – 136 MHz) emang isi pembicaraan sama dg HP (org Tel), dan perlu di catata isi pembicaraan HP gak bisa didenger oleh Radio Biasa harus ada alat semacam decoder kali baru bisa tahu informasinya, Yah perlu diteliti lagi kali
    Salam Iwa Surabaya

  2. Februari 22, 2009 pada 8:23 pm

    Salam eksperimen mas Paijo…

    Mas Paijo, apa kabar?? Udah lama banget ga ke blog ini lg, trakhir dulu tanya2 ttg dinamo. Oya, td saya search di Google dgn keyword “magnet batangan” dan langsung muncul blog ini di nomor satu (salut mas…).
    Sebelumnya saya minta maaf, hal yg mau saya tanyakan ini ga ada hubungannya dengan navigasi pesawat, tp ada di tulisan mas Paijo itu.

    Gini mas Paijo, saya mau tanya dimana beli magnet batangan (ukurannya tidak terlalu besar mgkin seukuran rokok)? Klo ada yg lebih besar jg gpp.
    Mas, pernah ga nulis ttg bagimana magnet permanen itu dibuat?? Jika belum, mohon dikupas ya mas, klo sudah saya minta link-nya aja.

    Oiya, aku link blog ini ya mas… sumpah, keren bgt blog ini…

    Salam eksperimen….

  3. Paijo said,

    Februari 12, 2007 pada 4:45 am

    @ Dewo
    Mungkin benar yang anda katakan, namun saya belum pernah dapat referensi yang mendukungnya. Pesawat di negara kita memang sudah pada uzur, sehingga mirip kayak ikut acara fear factor saja ketika menaikinya.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  4. dewo said,

    Februari 10, 2007 pada 8:46 am

    Konon frekuensi seluler modern tidak mengganggu sistem navigasi pesawat modern. Cuma sayangnya pesawat di Indonesia sudah berumur lebih dari 15 tahun. Ya jelas saja, pesawat dengan umur lebih dari 15 tahun tentu sudah termasuk usang, baik bahan/material mau pun teknologi.

    Begitu kah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: