KINCIR AIR PAIJO-1
Setelah sekian lama mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan kincir air type roda ( kincir lintasan ), saya menemukan banyak kelemahan-kelemahan yang beberapa diantaranya adalah :
1. Jumlah air yang tumpah sebelum mencapai titik terbawah sewaktu kincir berputar cukup banyak. Akibatnya, ketinggian efektifnya berkurang banyak bahkan sampai 50 %. Hal itu disebabkan karena penempatan sudu yang tetap pada roda sehingga tidak dapat diatur saat penumpahan airnya.
2. Putaran poros kincir sangat lambat ( RPM rendah ), meskipun torsinya besar. Putaran poros juga cenderung menurun dengan bertambahnya diameter roda. Hal tersebut menimbulkan masalah ketika akan digunakan untuk memutar alat yang memerlukan putaran cukup tinggi seperti dinamo listrik. Untuk mengatasinya, biasanya digunakan gearbox ( mahal, kehilangan daya sedikit ) atau multiple puley atau multiple chain-gear ( relatih murah, kehilangan daya agak banyak )
3. Sulit dan mahal jika dibuat dengan diameter besar untuk air terjun yang tinggi. Selain itu juga menyita tempat yang luas baik dalam pemakaian apalagi dalam penyimpanan dan pengangkutan
4. Sulit untuk diproduksi secara masal karena sifatnya yang kurang fleksibel terutama dalam hal ukuran ( diameter ). Kincir dengan diameter tertentu hanya cocok untuk air terjun dengan ketinggian tertentu pula dan tidak cocok untuk ketinggian yang berbeda. Jika dipaksakan justru kurang efektif dan efisien dan bahkan mungkin tidak dapat bekerja sama sekali.
Untuk mengatasi masalah di atas, saya tidak mau terjebak dengan hanya berkutat pada pengembangan kincir air type roda yang menurut saya sudah mentok. Oleh karena itu, saya mencoba untuk mendesain kincir model lain ( type lintasan ) dengan memanfaatkan roda gigi dan rantai sepeda motor ( bekas ) untuk menggantikan fungsi roda.
Adapun langkah-langkah pembuatan kincir rantai adalah sebagai berikut ( lihat GAMBAR ) :
1. Bentuk dasar kincir terdiri atas delapan buah gir besar ( gbr no. 1 ) dan dua buah rantai panjang ( gbr no. 2 ). Setiap rantai melekat pada empat buah gir yang disusun berbentuk persegi panjang, memanjang dari atas ke bawah dengan ketinggian yang disesuaikan dengan tinggi air kerjun. Kemudian dua set gir-rantai yang bentuk dan ukurannya identik tadi dipasang sejajar.
2. Agar kedua set rantai panjang dapat berputar secara bersamaan ( sinkron ), maka perlu dibuat tambahan 2 gir kecil ( gbr no.7 ), 2 gir besar ( gbr no.8 ) dan 2 buah rantai pendek ( gbr no.4 ) sebagai penghubung kedua set gir-rantai terdahulu. Dua buah gir besar tersebut ( gbr no.8 ) masing-masing dipasang secara konsentris ( seporos ) dengan sebuah gir besar ( gbr no.1 kiri atas ) pada tiap-tiap set gir-rantai. Dua gir kecil sisanya ( gbr no.7 ) dipasang konsentris pada satu poros panjang sehingga masing-masing gir kecil tersebut sejajar dengan gir besar pasangannya di bawah ( gbr no.8 ). Pada poros panjang ini juga dapat dipasang gir besar ( gbr no.9 )atau puley yang dihubungkan dengan dinamo listrik atau alat lainnya. Setelah itu barulah dipasang rantai yang sama panjang ( gbr no.4 ) supaya sinkron. Cara sinkronisasi demikian perlu dilakukan untuk menghindari kehilangan tempat/ruang untuk bak air jika digunakan poros penghubung langsung antara dua buah gir besar yang saling berhadapan.
Catatan :
Sinkronisasi diperlukan jika tidak mungkin menghubungkan pasangan gir-gir besar ( gbr no.1 ) dengan poros panjang. Hal itu disebabkan penggunaan gir yang diameternya lebih kecil dari pada penampang bak air. Situasi seperti ini justru paling sering terjadi karena gir besar sepeda motor yang diameternya paling besar sekalipun masih terlalu keci dibandingkan penampang bak air yang diperlukan untuk kincir yang sebenarnya.
Jika menggunakan gir besar ( gbr no.1 ) yang diameternya lebih besar dari penampang bak air, maka sinkronisasi tidak diperlukan. Hal itu disebabkan tiap pasangan gir besar ( gbr no.1 ) dapat dihubungkan secara konsentris dengan menggunakan poros panjang tanpa menghalangi gerakan bak air ketika mencapai gir. Dengan cara tersebut, kedua set gir-rantai akan sinkron dengan sendirinya. Selain itu, juga terjadi penghematan jumlah gir, rantai, dan bearing. Penghematan bearing ini juga terjadi pada semua poros karena dengan memasang gir secara konsentris pada poros panjang berarti cukup menggunakan single bearing ( tidak perlu double bearing ) di tiap ujung poros.
3. Langkah selanjutnya adalah membuat sejumlah bak air ( gbr no.3 ). Besar-kecilnya bak air disesuaikan dengan debit air dan desain kecepatan kincir. Bak air ini dapat menggunakan ember besi atau kaleng besar atau dapat dibuat sendiri dari seng tebal, plat besi, maupun papan kayu. Yang penting bentuk, berat, dan daya tampungnya seragam supaya seimbang ketika dipasang. Pada masing-masing bak air ini dibuat cantolan dengan 2 lubang ( atas-bawah ) yang dilekatkan permanen pada satu mata rantai dengan menggunakan keling. Cantolan tersebut dipasang sedikit di atas titik berat ( central mass ) bak air ( diukur ketika bak air dalam keadaan penuh ). Dalam posisi itu, bak air akan stabil namun mudah diputar untuk menumpahkan airnya ketika telah mencapai gir bawah. Penumpahan air akan terjadi secara otomatis ketika bak telah mencapai gir bawah karena posisi bak air yang terus mengikuti arah rantai.
Alternatif lain pemasangan bak air :
Pada masing-masing bak air dipasang mekanisme poros putar sehingga dapat berputar bebas ketika terpasang pada rantai seperti sangkar penumpang pada kincir pasar malam. Poros ini dipasang sedikit di atasnya titik berat ( central mass ) bak air ketika sedang penuh maupun kosong. Posisi itu memungkinkan bak senantiasa selalu menghadap lurus ke atas namun mudah diputar ketika akan menumpahkan isinya. Hal itu bertujuan untuk mengurangi tumpahnya air sebelum waktunya dan memudahkan proses pengisian ketika bak kosong telah berada di bagiaan gir atas. Selain itu juga dipasang tuas penumpah yang berfungsi memutar bak dan menumpahkan air secara otomatis ketika bak telah mencapai gir bawah dan tuas tertahan oleh batang penumpah. Batang penumpah ini dipasang statis untuk menahan tuas dan kemudian memaksa bak air berputar menumpahkan isinya ketika telah mencapai gir bawah.
Kelebihan kincir rantai dibandingkan kincir roda adalah :
1. Jumlah air yang tumpah percuma sedikit sehingga tenaga air dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal
2. Putaran poros kincir ( RPM ) puluhan bahkan ratusan kali lebih cepat daripada kincir roda untuk ketinggian air terjun dan kecepatan linier yang sama. Kecepatan putar poros sudah tidak perlu banyak penyesuaian dengan alat/dinamo sehingga tidak diperlukan lagi gearbox yang mahal.
3. Dapat dibuat untuk ketinggian air terjun berapa saja sesuai keadaan dan keperluan dengan hanya menambah atau mengurangi panjang rantai tanpa mengubah bentuk dan ukuran bagian lainnya. Tentu saja jumlah bak air harus disesuaikan juga supaya jarak antara bak air seragam dan relatif rapat. Dalam hal menambah panjang rantai, perlu diperhitungkan kekuatan rantai dalam menahan beban beratnya bak beserta air dan rantainya sendiri untuk mengindari rantai putus atau cepat aus. Selain itu juga harus tersedia ruang yang cukup untuk berputar ketika bak air mencapai gir bawah.
4. Dapat diproduksi secara masal karena kincir rantai yang persis sama dapat digunakan untuk air terjun dengan ketinggian yang sangat bervariasi. Penyesuaian hanya diperlukan pada panjang rantai dan jumlah bak. Lebih praktis lagi jika rantai dan bak dibuat dan dijual dalam hitungan segmen ( misalnya tersedia 1, 2, 4, 8, dan 16 segmen ). Satu satuan segmen terdiri dari satu bak lengkap dengan poros, tuas penumpah, dan 2 rantai dengan jumlah ruas tertentu yang seragam. Panjang rantai tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga ketika dipasang sambung-menyambung menjadi untaian bak-bak yang rapi dan seimbang.
Disamping kelebihan, kincir rantai ini juga mempunyai kekurangan. Adapun kekurangannya antara lain :
1. Rantai dan gir akan terkena air dan terancam perkaratan sehingga cepat rusak. Hal itu dapat dikurangi dengan membuat poros bak yang lebih panjang agar jarak antara bak dan rantai cukup jauh. Rantai juga perlu dicat sebelum dipasang dan diberi pelumas ( grease ) secara rutin dan sering. Lebih baik lagi jika dipasang alat khusus untuk menghambat proses perkaratan yang bekerja secara elekro-kimia. Tentang cara kerja alat ini akan dibahas dalam tulisan tersendiri.
2. Bearing cepat rusak karena kemasukan air. Untuk mengatasi hal itu, dapat dilakukan dengan membuat dudukan bearing dari pipa yang dibuntu sebelah ujungnya dengan plat besi dan dilas. Kemudian dibuatkan seal dari karet tebal ( bisa ban bekas atau konveyor ) yang berbentuk seperti ring. Seal tersebut kemudian dipasang pada dudukan untuk menutupi bearing. Supaya kedap air, dapat diberi lem ( super glue atau epoxy ) antara seal dan dudukan bearing. Selain itu, lubang seal harus span dan agak menggigit poros. Supaya bearing dapat diberi pelumas tanpa membuka seal, maka perlu dibuatkan lubang / saluran pada dudukan bearing yang diberi penutup dari mur-baut yang dilas agar rapat tapi mudah dibuka-tutup.
3. Kurang cocok jika digunakan untuk menggerakkan penumbuk padi karena putaran poros yang cepat dengan torsi yang relatif kecil
4. Sulit dibuat untuk debit air yang cukup besar karena keterbatasan kekuatan rantai motor. Cara mengatasinya, dapat dibuat dengan rantai dan gir rangkap ( mudah ) atau dibuatkan rantai yang lebih besar ( tapi sulit ). Alternatif lain adalah menggunakan rantai talang yang banyak dijual di toko besi. Namun jika menggunakan rantai talang, perlu dibuat ’gir’ tersendiri yang cocok dengan bentuk dan ukuran rantai talang. Bentuk ’gir’ yang dapat digunakan adalah seperti ’gir’ yang digunakan pada kerekan rantai yang digerakkan dengan tangan yang banyak dijual di toko teknik dan toko perlengkapan mobil.
Kincir rantai ini barulah berupa ide dan sketsa dan belum pernah dibuat prototype-nya. Selain kincir rantai, saya juga telah membuat sketsa desain Kncir Roda Rantai yang memadukan konsep kincir rantai dan kincir roda. Salah satu kelebihan dari kincir desain baru tersebut adalah mempunyai dua poros keluaran dengan RPM dan torsi yang berbeda jauh sehingga dapat digunakan untuk keperluan yang lebih bervariasi tanpa perlu tambahan gearbox. Tentang Kincir Paijo-2 ( Kincir Roda Rantai ) tersebut, akan saya bahas dalam tulisan tersendiri. ( Paijo )
Paijo berkata,
Nopember 29, 2006 pada 7:45 am
Mohon maaf jika seluruh comment pada halaman ini terhapus secara tidak sengaja ketika ada gangguan koneksi internet di tempat saya.
Selain itu, saya juga berikan link ke gambar Kincir Air Paijo-1 ( yang bisa didownload dan dicetak ) sesuai janji saya sebelumnya. Terimakasih dan salam eksperimen.
Teguh berkata,
Januari 6, 2007 pada 9:35 pm
Dari paparan kincir “Paijo 1″ rangka kincir sebesar apa ? saya bayangkan konstruksi rangka kincir sama dengan kincir dalam kurungan supaya tidak ambruk ketika menerima beban.?
Mas Paijo boleh nanya?, saya kesulitan menentukan menentukan ukuran capasitor untuk motor pompa dan exhaust , apa mas Paijo punya formulanya
Terima kasih
Paijo berkata,
Januari 8, 2007 pada 2:34 am
@ Teguh
Rangka atau penyangga kincir dapat dibuat dari besi siku. Konstruksi dan ukuran besi siku hendaknya disesuaikan dengan beban. Dapat juga digunakan pipa besi yang tebal. Kayu juga bisa tapi kurang awet. Yang paling saya sarankan justru menggunakan beton bertulang, murah-kuat-tahan lama. Yang perlu diperhatikan adalah dudukan bearing musti terikat kuat dan stabil pada rangka, namun mudah di buka ketika akan diperbaiki atau diganti.
Rupanya anda menggunakan motor induksi ( brushless ), yang memang harus menggunakan kapasitor. Tentang ukuran kapasitor, saya tidak punya formulanya. Selama ini saya menggunakan cara coba-coba, tapi hati-hati sebab resikonya motor bisa rusak karena panas. Cara mencoba yang paling aman yaitu dengan memasang kapasitor yang paling besar kapasitasnya dulu, amati beberapa menit. Setelah itu, coba dengan yang lebih kecil dan amati beberapa menit. Yang memberikan suara putaran paling halus dan paling cepat, itulah yang paling cocok. Selain itu, motor juga tidak cepat panas. Secara umum sih, semakin besar kapasitas dari kapasitor hasilnya semakin baik dan suara motornya biasanya makin halus dan tidak cepat panas. Selamat mencoba.
Irwan berkata,
Januari 15, 2007 pada 8:39 am
Salam Kenal.
Ternyata di blog ada juga orang yang kereatif dan banyak ide.
Saya juga sebenarnya ada beberapa ide untuk membuat sesuatu tapi terkadang terbentur pada bahan baku dan hal2 lain yg saya belum bisa memecahkannaya. Disini saya berharap mungkin anda dapat menolong saya untuk memecahkannya.
Nanti Insya Allah saya akan tulis beberapa rencana eksperimen saya.
Harapan saya anda bisa mengkoreksi dan mungkin mengaplikasikannya (dana saya terbatas).
Paijo berkata,
Januari 16, 2007 pada 4:15 am
@ Irwan
Salam kenal juga dari saya. Saya tunggu ide-ide anda. Masalah memang akan selalu ada tapi solusinya juga selalu ada jika kita mau berusaha. Jika kita punya komitmen dan motivasi kuat, apapun pasti akan dapat kita capai. Terimakasih dan salam eksperimen.
Apik berkata,
Januari 17, 2007 pada 10:19 am
Salam kenal Pak Paijo,
Ide & disain kincirnya bagus sekali.
Mau tanya juga nih. Apa Bapak pernah bereksperimen kalau kincirnya berputar mendatar seperti gasing bambu? Bak-bak air disusun mengelilingi poros seperti pada tangga putar/ulir sekrup. Sumber air tidak jatuh dari atas tapi dialirkan melalui beberapa pipa sejajar dengan kemiringan ulir, mengenai bak-bak air yang mengelilingi sepanjang poros vertikal. Baknya dipasang miring dan menghadap langsung ke arah datangnya air dari pipa. Bisa kebayang gak ya, dan kira-kira apa bisa berputar cukup kencang?
Terima kasih.
Paijo berkata,
Januari 18, 2007 pada 1:18 am
@ Apik
Salam kenal juga dari saya dan terimakasih atas apresiasi anda.
Kalau kincir dibuat poros vertikal seperti itu tidak akan bisa berputar karena berputarnya kincir adalah akibat gaya berat air yang mendorong bak kebawah bukan kecepatan air yang jatuh. Jadi supaya berputar, arah gerakan bak musti sama dengan arah gaya berat yang mendorongnya.
Yang dapat dibuat dalam posisi seperti yang anda bayangkan adalah turbin dan propeler yang relatif bebas diposisikan sesuka hati karena bergerak berdasarkan momentum / kecepatan air dari pipa pesat ( kecepatan tinggi ), bukan gaya berat secara langsung seperti kincir.
Secara prinsip, ada perbedaan besar antara kincir dengan turbin jika digunakan pada debit air dan ketinggian yang sama. Kincir memanfaatkan gaya berat air dan menghasilkan putaran poros dengan kecepatan rendah tapi torsinya ( kekuatan putar ) besar. Sedangkan turbin memanfaatkan kecepatan air dan menghasilkan putaran poros dengan kecepatan tinggi tapi torsinya kecil. Karena adanya perbedaan karakteristik tersebut dan juga masalah keterbatasan teknis lainnya dari keduanya, maka perlu survey dan kajian sebelum menentukan pilihan. Tujuan penggunaan juga menjadi faktor penentu. Hal itu untuk memastikan bahwa proyek akan layak secara teknis maupun ekonomis.
Terimakasih dan salam eksperimen.
Mulyadi berkata,
Januari 31, 2007 pada 3:43 am
Dh pak Paijo,
Salam kenal sebelumnya. Saya sangat tertarik dengan design dan kreasinya.
kami pernah mencoba membuat turbine sederhana dengan tenaga dari sumur panasbumi yang tidak ekonomis. Turbine tsb telah dikoneksikan dengan generator, tetapi karena kami bukan engeneering, maka sewaktu uap dihembuskan ke turbin tsb, rotasinnya tidak konstant.
Dapatkah Pak Paijo memberikan ulasan bagaimana cara membuat rotasi generator bergerak konstant.
Pada saat itu kami hanya bermain dengan buka/tutup valve, sehingga pada saat tidak dijaga, ….. tejadi overspeed, dan rontoklah belt yang menghubungkan turbin ke generator.
Terima kasih sebelumnya.
Mulyadi
Paijo berkata,
Januari 31, 2007 pada 7:58 am
@ Mulyadi
Salam kenal juga dari saya, dan terimakasih atas apresiasi anda. Saya ini juga hanya seorang eksperimenter bonek yang tidak pernah mengecap pendidikan enginering tingkat apapun. Semua pengetahuan dan ketrampilan yang berkaitan dengan rekayasa dan mesin saya pelajari sendiri secara otodidak baik dari buku-buku, internet, dan juga teman-teman di lingkungan saya tinggal dan bekerja. Terus terang, saya belum pernah mendesain atau membuat alat yang berkaitan dengan turbun uap tapi saya akan mencoba mendesainnya khusus untuk anda. Untuk itu, sebaiknya anda menginformasikan beberapa data yang saya perlukan supaya saya memiliki gambaran yang relatif lengkap situasi yang anda hadapi. Data tersebut antara lain : jenis turbin, ukuran fisik turbin, temperatur uap, tekanan uap, kecepatan putar turbin, daya generator, kecepatan generator, dll. Yang sangat penting juga adalah jenis atau model valve atau keran uap yang digunakan dan cara mengatur bukaannya. Lebih baik lagi jika dilengkapi foto beserta keterangan seperlunya bagian demi bagian ( yang utama saja ).
Dari masalah yang anda sampaikan, tampaknya anda memerlukan STABILISATOR TURBIN UAP. Stabilisator tersebut diperlukan karena tiga kemungkinan yaitu :
1. Tekanan uap dari sumber berfluktuasi sedangkan beban relatif konstan ( tetap ). Jika tekanan naik, putaran trrbin cenderung lebih cepat. Sedangkan jika tekanan turun, putaran turbin cenderung melambat.
2. Beban kerja yang berfluktuasi sedangkan tekanan uap relatif konstan. Jika pemakaian listrik banyak, beban menjadi berat dan turbin cenderung melambat. Sebaliknya jika pemakaian listrik sedikit, beban menjadi ringan dan turbin cenderung lebih cepat.
3. Tekanan uap maupun beban kerja berfluktuasi. Ini merupakan kombinasi masalah yang cukup rumit.
Dari ketika keadaan tersebut diatas, saya juga perlu informasi keadaan mana yang paling mendekati keadaan di lokasi anda. Informasi itu penting untuk menentukan pilihan teknologi yang cocok diterapkan.
Cara kerja stabilisator yang akan saya desain, pada prinsipnya menyeimbangkan antara beban keja dengan jumlah uap yang masuk ke turbin. Jika beban bertambah, maka otomatis jumlah uap yang masuk bertambah. Demikian juga jika beban berkurang, maka otomatis jumlah uap yang masuk juga berkurang. Supaya mudah pembuatan maupun pengaplikasiannya, saya akan menggunakan desain yang full mekanik. Sederhana, murah dan handal, meskipun presisinya kurang bagus. Tapi untuk pembangkit listrik yang tidak terlalu kompleks, sudah cukup efektif.
Untuk mendesainnya, saya perlu waktu sekitar 2-3 minggu ( maklum sambilan ). Namun karena saya masih punya hutang 3 artikel ( desain juga ) yang telah dipesan oleh pengunjung lain dan masing-masing perlu sekitar 1-2 minggu, maka saya perkirakan paling cepat pertengahan Maret baru bisa saya kerjakan. Namun demikian, tidak selalu yang pesan belakangan saya kerjakan belakangan juga. Ada kemungkinan juga saya dahulukan artikel pesanan anda tergantung datangnya ide dan mood. Untuk pengiriman gambar atau foto ( jika ada ), dapat dikirim ke e-mail saya ( mr_paijo_paidin@yahoo.co.id ).
Terimakasih dan salam eksperimen.
arya berkata,
Februari 1, 2007 pada 2:34 am
saya lagi mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikro hidro tapi saya mengalami kendala dalam masalah turbin. Turbin yang ingin saya gunakan dari kayu dengan diameter 2M adapun terjunan air yang ada cuma 2M & debit air yang ada 150 lt/dtk. Tolong carikan info atau literatur yang bisa saya gunakan….Makasih untuk infonya & ide2nya. Semoga yang kita kembangkan dapat berguna bagi masyarakat….
Ribut Mulyadi berkata,
Februari 1, 2007 pada 6:17 am
Yth pak Paijo,
Thank for your immediate response.
Karakteristik uap panasbumi adalah temperatur 180-200 C, tekanan uap 5-12 bar, kecepatan alir uap 5-8 ton/jam, berpotensi untuk menegendapkan kabonat/silika pada tekanan udara luar ( atmosfir).
Rencana kami, generator end (dynamo) akan kami beli/ambil dari generator end bekas atau baru (kapasitas kecil dahulu), misal : 3kVA, 220/110V, 50-60Hz, 1500rpm.
Tubin yang kami design berupa beberapa (10-20) lempengan (disc) berjajar dengan jarak 0.5 mm yang menempel pada poros turbin. Atau model jet-nozzle yang prinsip pemutannya seperti pada sprinkle penyiran rumput/tanaman.
Yang sampai saat ini yang kami belum mengetahui adalah bagaimana membuat kecepatan alir uap sama dengan kecepatan generator dan konstan.
Ma’ kasih pak Paijo.
regard,
Mulyadi
Paijo berkata,
Februari 7, 2007 pada 12:41 am
@ Arya
Mungkin yang anda maksud adalah kincir, bukan turbin. Untuk literatur, anda dapat mencari dengan google menggunakan kata kunci KINCIR AIR. Untuk ketinggian air terjun 2 meter dan debit 150 liter perdetik, potensi listrik yang dihasilkan adalah 3000 watt. Namun karena adanya kehilangan daya dalam proses konversi, maka sudah cukup bagus jika bisa menghasilkan 1000-2000 watt tergantung teknologi yang digunakan.
@ Ribut Mulyadi
Konsep dasar dari alat yang anda perlukan, dapat anda baca pada posting STABILISATOR TURBIN UAP ( bag-1 ).
Terimakasih dan salam eksperimen.
hary berkata,
Maret 16, 2007 pada 9:37 am
saya juga sedang mengembangkan PLTMH, selama eksperimen baru menggunakan kincir roda. saya hanya bisa mjenangkap sedikit dari gambaran mas paijo?kalo boleh saya dikirim gambar ato foto model turbin dan perlengkapan lainya lewat e-mail. terimakasih
Paijo berkata,
Maret 16, 2007 pada 11:10 am
@ Hary
Gambar di atas dapat dilihat dengan jelas seperti aslinya jika anda download ke harddisk. Soal foto dari modelnya, saya belum memilikinya. Terimakasih dan salam eksperimen.
hary berkata,
Maret 17, 2007 pada 10:47 am
matur thank you boss…saya dah pelajari dirumah..kalo boleh tau, rumahnya bos paijo dimana?saya ni eksperimenter anyaran aliar new. jadi masih miskin ilmu sebagai lulusan SMA, dan juga miskin dana tapi tetep semangat..
saya memiliki rekan eksperimen tapi dah mo lulus sarjana pendidikan, dan mungkin bakal sulit jumpa darat..
ide pertama saya dari angan membut pembangkit listrik dengan bandul yang berayun kanan-kiri tanpa henti..gerak ayunan saya ubah menjadi gerak melingkar yang memutar dinamo.
ide itu belum saya laksanakan, karena menurut ide saya bandul tersebut tidak mapu mempertahankan gayanya dan akan berhenti di tengah..
saya berpikir bandul apa yang bisa bergerak terus, dan berapa besarnya untuk menghasilkan daya sampe beratus-ratus watt.
bagemana pendapatnya boss..
hary berkata,
Maret 17, 2007 pada 11:04 am
alkisah ide itu buntu karena saya terbaring sakit, dan harus belajar berjalan kaya baby..karena tabrakan dan kaki saya patah..tapi alhamdulillah sekarang saged mlampah..
kemudian saya bertemu dengan rekan yang juga kakak kelas saya SMA yang mau buat ekperimen untuk TA, dan idenya malah jadi PLTMH..
saya mulai merancang alat, buat dieksperimenkan di pegunungan daerah purworejo..
awalnya membuat turbin roda dari plat alumunium yang dibentuk mangkok, kemudian dipasang di pelek sepeda dengan dinamo yang kecil muter dan hasilnya minim banget. setelah ganti dinamo yang lumayan gede, ternyata ga kuat muter.(catatan: saya menggunakan tranmisi puli untuk menghubungkan turbin dengan dinamo)
karena ga muter, saya ganti sudu mangkoknya dengan yang lebih besar juga. dengan dua pelek dan sudunya saya pasang di tengah dua pelek itu. sekarang muter…tapi masih kurang cepet muter sampe dinamo RPMnya baru sekitar 150, hasilnya baru sekitar 35 V, 1,5 mA. kecil….. banget…
padahal saya peke dinamo bekas truk yang di ujikan hasilnya sampe +150V.
saya masih ingin mencoba yang ini dulu, solusinya untuk ekserimen saya ini gimana boss?supaya hasilnya bisa lebih besar menurut beberapa orang, saya harus merubah kincir..gampangnya nyoba-nyoba.
mohon bantuan ilmunya.
matur nuwun ‘n salam ekperimen
hary
hary berkata,
Maret 17, 2007 pada 11:22 am
waah………………..ternyata tinggal di sulawesi pedalaman… maap baru tau, saya baru bergabung..saya pikir rumahnya deket2 purworejo. jadi bisa ketemu..
Paijo berkata,
Maret 20, 2007 pada 9:27 am
@ Hary
Persis yang anda katakan, bandul pasti akan berhenti di tengah. Jika mengharapkan bandul berayun terus tanpa tambahan tenaga dari luar berati STIKA ABADI juga yang tidak mungkin untuk dibuat.
Tentang PLTMH, musti dihitung dulu berapa potensi energi air terjun yang ada. Cara menghitungnya sederhana, potensi daya ( watt ) = 10 x debit ( liter /detik ) x ketinggian ( meter ). Dari potensi daya tersebut, tidak mungkin seluruhnya dikonversi menjadi listrik tetapi ada sebagian yang hilang karena gesekan, kebocoran, dll. Untuk PLTMH sederhana, sudah cukup bagus jika efisiensinya mencapai 50-60 %. Kalau sudah tahu besarnya potensi energi, baru kemudian dibuat desain kincir/turbin dan rangkaian generatornya. Daya generator musti lebih kecil daripada potensi daya karena ada tenaga yang hilang seperti tersebut diatas. Supaya kincir bisa memutar generator, maka daya kincir musti lebih besar daripada daya generator. Yang sering menjadi masalah adalah adanya perbedaan kecepatan putar kincir dan kecepatan putar generator. Pada umumnya, putaran kincir lebih lambat daripada putaran generator. Untuk mengatasi masalah itu, diperlukan alat multiplikator putaran yang telah saya bahas sedikit pada artikel saya yang berjuduL PENGHUBUNG MESIN DENGAN GENERATOR.
Saya sudah hampir 15 tahun tinggal di Sulawesi dan saya berasal dari daerah Magelang bagian timur dekat Gunung Merbabu-Merapi.
Terimakasih dan salam eksperimen.
ahmad berkata,
Maret 26, 2007 pada 5:01 pm
aku Ahmad di Lampung
mas paijo, di daerah saya ada kolam berundak-undak yang debit airnya lumayan (gak kering walau musim kemarau), saya berencana ingin membuat PLTMH mini yang punya kapasitas 500VA, yang ingin saya tanyakan, dinamo dan jenis kincir apa yang bisa saya gunakan serta apa saja peralatan pendukung lainnya? berikut gambaran instalasinya mas. saya mungkin bisa gunakan pipa 5 inch untuk mengarahkan air ke kincir. bisa gak mas saya hasilkan listrik seperti PLN yang mempunyai tegangan 220 V, frekuensi 60 Hz?
matur nuwon banget mas atas perhatiannya.
Paijo berkata,
Maret 27, 2007 pada 11:15 am
@ Ahmad
Sepertinya anda yakin betul bahwa potensi tenaga air yang akan anda pakai mampu menggerakkan generator 500 VA. Untuk memastikannya, anda bisa mengukur dulu debit air ( liter pertdetik ) dan ketinggian terjunan ( meter ). Untuk menghitung potensi dayanya, dapat digunakan rumus sederhana daya ( Watt ) = 10 x debit ( liter perdetik ) x ketinggian ( meter ). Untuk dapat memutar generator 500 VA diperlukan potensi daya lebih besar daripada 500 VA. Realnya bisa 600 - 800 Watt tergantung dari pilihan teknologi konversi yang digunakan. Jika menggunakan turbin, mungkin hanya perlu sekitar 600 Watt. Namun jika menggunakan kincir, bisa memerlukan 800 watt karena efisiensi kincir lebih rendah daripada turbin.
Soal jenis generator ( dinamo ), saya sarankan memilih yang bekerja pada putaran ( RPM ) rendah. Mengenai jenis kincir yang cocok, itu tergantung dari berapa debit air dan ketinggian terjunan. Jika debit air besar dengan ketinggian rendah, mungkin cocok menggunakan kincir roda yang memanjang. Jika debit air kecil dengan terjunan tinggi, mungkin lebih cocok menggunakan kincir rantai. Jika debit air besar dengan terjunan tinggi, mungkin lebih cocok menggunakan turbin.
Peralatan lain yang diperlukan adalah sistim multiplikasi putaran untuk menyesuaikan RPM kincir dengan RPM dinamo jika RPM kincir lebih rendah daripada RPM dinamo. Tentang hal itu sudah saya bahas pada artikel saya sebelumnya ( PENGHUBUNG MESIN DENGAN GENERATOR ). Kalau listriknya mau bagus ( 220 volt 60 Hz ) juga diperlukan stabilisator putaran turbin. Cara kerjanya stabilisator turbin air adalah mengatur suplay air ke turbin secara otomatis sehingga selalu sesuai kebutuhan beban. Jika turbin berputar terlalu cepat maka suplay air akan berkurang, dan jika turbin berputar terlalu lambat maka suplay air akan bertambah.
Untuk mengalirkan air ke kincir bisa menggunakan sistem kanal maupun pipa. Luas penampang kanal atau pipa musti disesuaikan dengan debit air dan selisih ketinggian kedua ujung kanal atau pipa. Semakin besar debit air, maka semakin besar pula kanal atau pipa yang diperlukan. Semakin rendah selisih ketinggian kedua ujungnya juga diperlukan kanal atau pipa yang semakin besar.
Terimakasih dan salam eksperimen.
Rizal berkata,
April 20, 2007 pada 10:52 am
Salam Kenal Mas….
saya mau tanya neh mas, saya mau merancang sebuah PLTA tetapi hanya untuk kalangan sendiri atau dengan menggunakan air sumur. hanya untuk menghasilkan sekitar 450 watt. apa bisa saya menggunakan air sumur ?? kalau saya perhatikan cara kerjanya hampir sama dengan kincir mas paijo. karna disini fungsi kincir hanya untuk membuat putaran di poros kan yg berfungsi untuk menghasilkan listrik ?
Rizal berkata,
April 20, 2007 pada 10:56 am
Salam Kenal Mas….
Saya mau tanya neh mas, saya mau merancang sebuah PLTA tetapi hanya untuk kalangan sendiri atau dengan menggunakan air sumur. hanya untuk menghasilkan sekitar 450 watt. apa bisa saya menggunakan air sumur ?? kalau saya perhatikan cara kerjanya hampir sama dengan kincir mas paijo. karna disini fungsi kincir hanya untuk membuat putaran di poros kan yg berfungsi untuk menghasilkan listrik ?
Tolong mas jelaskan dari mana saya bisa mengambil api dan massa untuk menghasilkan arus listrik. Karena saya memang tidak ada dasar elektronik atau listrik sama sekali sewaktu sekolah dulu.
kalau dapat tolong mas kasih penjelasan yang detail ke saya ya, cukup lewat email aja mas, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih banyak mas…
Wassalam
RIzal
aninda.f berkata,
Mei 8, 2007 pada 11:24 pm
maaf numpang tanya. saya anak kelas 2 smp. dan kebetulan saya terpilih menjadi wakil dari sekolah saya untuk mengikuti lomba karya ilmiah remaja se-provinsi. judul yang akan saya gunakan adalah penggunaan kepingan cd bekas sebagai sumber tenaga listrik. mahasiswa ITB-lah yang pertama kali menemukan penemuan ini. karena saya amat tertarik, maka saya mengangkat judul ini sebagai tema pembahasan saya pada perlombaan kali ini.
hal ini bisa dibilang merupakan suatu penemuan baru. dan itu akan menjadi nilai plus dalam pembahasan saya nanti. tapi masalahnya, judul tersebut saya temukan di internet. dan kebetulan di situs tersebut tidak dijelaskan bagaimana rinciannya. itu yang masih membuat saya bingung.
pada situs tersebut, dijelaskan bahwa adanya pengaruh dari efek termokopel-lah yang menyebabkan adanya aliran listrik. tapi pengetahuan saya mengenai termokopel masih sangat cetek. dan saya-pun masih bingung dengan sistem kerja yang dilalui sampai akhirnya sebuah kepingan cd bisa menghasilkan listrik.
apabila ada yang mengetahuinya, saya memohon dengan amat sangat mengenai infonya agar saya dapat mengetahui lebih jauh mengenai sistem kerja dari kepingan cd tersebut yang menggunakan efek termokopel. oh iya, hampir lupa. saya merasa tertarik dengan topik mengenai lumpur panas lapindo yang katanya bisa menghasilkan listrik. bisa minta di jelasin nggak tentang topik itu? atau mungkin ada yang mau ngasih masukan tentang judul lain yang tidak kalah menarik, tapi lebih mudah bagi saya untuk mencari infonya? silahkan saja, bisa dikirim langsung ke alamat email saya: coemagwygpoeny@yahoo.com sekali lagi saya mohon bantuannya.terima kasih banyak.
dani berkata,
Mei 25, 2007 pada 2:57 am
halo…. mas
kincir angin sebuah pergerakan ,untuk itu apakah bisa diketahui bila kecepatan kincir air,bisa berubah dengan terkena kecepatan angin akan bisa berubah kecepatannya
bantu saya mas….!
beserta rumusnya
Ayub berkata,
Mei 28, 2007 pada 7:43 pm
Hallo mas…..
Saya punya baling-baling atau blade yang digerakkan oleh gearbox dengan energy 22 kW menghasilkan putaran 1470 rpm, tentunya putaran ini tergolong kencang untuk menghasilkan energy. Bagaimana jika dari putaran blade tersebut akan saya konversi menjadi tenaga listrik dengan menggunakan dinamo 15 kVa untuk menggerakkan alat lain dengan energy 7,5 kW ? Kira2 berapa kW energy yang akan saya dapatkan ? Bagaimana dengan putaran blade tersebut, apa putaran akan terhambat ?
Tolong jawab email saja mas, karena saya perlu buaaaanget. Trim’s dan salam kenal.
Acil berkata,
Juni 22, 2007 pada 10:33 am
Salam kenal mas,
mas saya mau tugas akhir (TA) tentang mikro hidro bisa bantu kirimi data yang mas punya atau mas ketahui terutama macam-macam tipe turbin untuk mikro hidro semua tolong mas. thank.
kincir mas tu termasuk plta atau pltmh?
WANTO berkata,
Juni 23, 2007 pada 10:45 pm
Pak Paijo,
Bapak punya tutorial ataupun artikel yang memuat cara dan standard yang benar untuk membuat sebuah dinamo/generator.
Mulai dari dimensi/ukuran dari magnet, rotor, dll komponen2 lain yang saya blum mengerti, sampai jumlah lilitan, dll, juga besar keluaran tegangan dan arusnya.
Mungkin itu dulu untuk saat ini.
Mohon tanggapan dan komentar dari bapak.
Terima kasih.
Wanto
Miftahul ulum berkata,
Juli 3, 2007 pada 8:46 pm
Bisakah saya mempelajari membuat kincir yang telah dibuat oleh para penemu.
Miftahul ulum (MeNgEtAhUi) berkata,
Juli 3, 2007 pada 9:10 pm
Sudah lama saya menelusuri tentang KINCIR AIR PAIJO.
Karena saya ingin mengembangkan diri saya sendiri. Sayapun ingat masalalu beberapa Pedesaan yang belum terpasang listrik disitulah saya berpikir bagagaimana saya mengembangkan hidup saya agar bisa membantu pedesaanitu.
Karena dipedesaan itu adasatu tempat yang posisinya bisa dimanpaatkan, jadi saya ingin memanpaatkan tempat itu untuk membangun kincir.Di tempat itupun sudah turpasang 2bendungan beton mungkin bisa untuk memasang baling2 cukup besar.
Saya mohon kepada para penemu/yang mengerti cara membuat kincir dan mengetahui bahan yang akan diperlukan untuk membuat kincir.
alsa berkata,
Juli 26, 2007 pada 2:12 pm
Gunakan pengalaman orang lain. teknologi turbin sudah maju dan effisien . Belajar dulu baru inovasi. desain anda konyol. turbin yang terbukti mudah, murah efisien contuhnya adalah turbin cross flow. atau kalau mau yang paling sederhana adalah water whell . bisa juga propeler.
Trwy berkata,
Agustus 19, 2007 pada 1:48 pm
Paijo, Bwt yang lebih detail Lagi….hmmm n bwt eksperimen yang banyak lg y….
Seno berkata,
Agustus 19, 2007 pada 9:58 pm
Mas paijo, Maju…. terus …. jangan lekas menyerah……..
Terus terang saya juga sudah lama membuat eksperimen kaya mas paijo tetapi baru kali ini saya menemukan situs ini yang membahas diskusi tentang Turbin Air (Water Wheel).
Saya sangat tertarik dengan diskusi ini, memang sudah banyak artikel yang saya dapat dari internet. dan selama ini saya mengotak-atik eksperimen saya sendir tanpa ada yang membimbing saya. memang sudah banyak modal yang saya keluarkan… untuk melakukan eksperimen tersebut walaupun saya sering menuai kegagalan….
tepi entah kenapa hati saya sering timbul inspirasi baru untuk merubah rancangan eksperimen saya…maksud saya timbul inspirasi baru untuk memperbaiki kekurangan dari eksperimen kegagalan tersebut…
Mas paijo kalo boleh saya tahu bagaimana cara memperoleh dana untuk eksperimen… selama ini mas paijo memperoleh dana eksperimen darimana mas apakah dari luar atau dari kocek mas paijo sendiri?
Mas Paijo Kalau boleh Tahu Mas Paijo tinggal dimana Mas…
kabari saya di senocipta74@yahoo.com
Maju Terus IndonesiaKu
SENO
dodo berkata,
Agustus 20, 2007 pada 5:59 pm
Keren Mas,
Kapan-kapan saya mo nyumbang ide aja tapi maaf saya bukan org teknik jadi sering mentok di itung-itungannya. Tapi seneng bgt mikir teknologi sederhana utk memudahkan kerja di desa.
Salam
dodo
hary berkata,
Agustus 21, 2007 pada 11:03 am
Assalamu’alaikum kang Paijo.
lama saya tidak mengunjungi blogg ini karena konsen dilapangan, masih penelitian yang lalu tentang PLTMH. setelah kurang berhasil di Purworejo, saya melanjutkan ditanah kelahiran saya Kebumen. dengan turbin model Crossflow dan juga nyoba Pelton ternyata efisiensi masih sangat rendah. semua hal sudah saya perhitungkan sebelumnya, dan perencanaan yang lebih matang.saya mengakui kurang studi lapangan yang sudah menggunakan teknologi PLTMH.
saya masih bersemangat menekuni atau bekerja didunia eksperimen, walaupun basic pendidikan saya ilmu keguruan. bila kang Paijo berkenan, mohon saya diberi saran!
Paijo berkata,
Agustus 24, 2007 pada 1:45 pm
@ Rizal
Air dari sumur tidak bisa untuk memutar turbin karena letak air sumur lebih rendah dari permukaan tanah. Untuk dapat memutar turbin, air harus dijatuhkan atau diluncurkan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Supaya menghasilkan listrik, tidak diperlukan dan massa tapi diperlukan generator/dinamo yang diputar oleh poros kincir atau poros turbin.
@ Aninda
Saya minta maaf karen terlambat merespon berhubung kesibukan saya yang sangat padat pada beberapa bulan terakhir ini. Tentang termokopel dan termoelektrik, saya tidak ahli dalam bidang itu karena latar belakang saya bukan fisika. Kalau tentang kemungkinan lumpur lapindo bisa menghasilkan listrik, itu sangat mungkin. Saya pernah mendiskusikannya dengan teman-teman saya di blok ( http://energi.wordpress.com/ ).
@ Dani
Saya agak sulit memahami pertanyaan anda. Yang anda tanyakan kincir air atau kincir angin ataukah memang kincir air yang terkena angin. Karena itu adalah pergerakan, maka jelas akan terperngaruh kecepatannya. Namun untuk menghitungnya, saya tidak ahli dalam hal itu.
Bersambung ….
ALIEF berkata,
Agustus 24, 2007 pada 6:17 pm
Salam Experiment Pak…
Bisa minta tolong beri contoh mesin gerak abadi yang menggunakan energi bebas magnet tidak Pak?
Terimakasih.
Tia Inayatillah berkata,
Agustus 27, 2007 pada 10:07 pm
Begini, saya itu salahsatu murid SMU yang ingin mengembangkan teknik seperti kincir air dan sebagainya. cuman, saya ingin kincir air yang sederhana. apakah anda bisa memberitahukan saya bagaimana caranya. terimakasih. ditunggu sekali jawabannya.
Paijo berkata,
Agustus 29, 2007 pada 1:47 pm
@ Alief
Mesin gerak abadi itu tidak ada dan tidak mungkin dibuat pak. Termasuk yang dibilang orang menggunakan energi magnet yang gratis ( free = gratis ). Itu semua adalah akal-akalannya David Lee dkk yang berhasil menipu sekirar sejuta orang dan berhasil mengumpulkan uang jutaan dollar.
@ Tia Inayatillah
Kincir yang sederhana dapat berupa sebuah roda yang diberi sudu. Posisi sudu-sudu tersebut dibuat miring supaya dapat menampung air. Untuk mencari gambar dari kincir tersebut, dapat dicari dengan google dengan kata kunci KINCIR AIR. Dapat juga dicari di Wikipedia.
Terimakasih dan salam eksperimen.
Yayo berkata,
September 5, 2007 pada 10:24 am
salam…
saya mau nanya nih, saya mencoba membuat kincir air yang dibuat dari bahan plat seng. akhirnya jadi kincir. untuk menyalurkan air saya gunakan pipa paralon. tapi saya punya masalah, pipa yang saya gunakan mengempis waktu menyaluirkan air. sebabnya kira-kira apa? apa karena faktor pipa yang tipis. tekanan dalam pipa dengan udara luar besar mana? kalo besar dalam pipa, kenapa pipa malah mengempis? ato juga karena arus air dalam pipa yang memuitar sehingga menarik semua yang ada didekatnya termasuk pipa?
sebagai gambaran tambahan: kemiringan pipa sekitar 45 derajat dan saya menggunakan pipa pendatar keatas 1 buah.
saya bingung mas Paijo dengan fenomena ini karena terbatasnya ilmu dan pengalaman, mohon solusinya?
terimakasih buanget sebeliumnya
Paijo berkata,
September 5, 2007 pada 10:53 am
@ Yayo
Kempisnya pipa diakibatkan oeh kecepatan aliran air yang cukup tinggi. Semakin tinggi kecepatan air, maka tekanannya akan semakin turun dan pipa akan semakin kempes. Untuk mencegah atau mengurangi kempesnya pipa seperti itu, dapat dilkukan tiga hal yaitu :
1. Gunakan pipa yang ukurannya ( diameternya ) bebeda-beda dari atas ke bawah. Di bagian atas digunakan pipa yang besar dan semakin ke bawah semakin kecil.
2. Gunakan pipa yang tebal terutama untuk bagian tengah ke bawah.
3. Dibuatkan saluran udara berupa sambungan T ke atas untuk menyeimbangkan tekanan di dalam dan di luar pipa. Jarak antar saluran udara kira-kira 10-15 meter vertikal. Yang nomor 3 ini dilakukan jika telah dilakukan nomor 1 dan 2 tapi masih kempes juga.
Terimakasih dan salam eksperimen.
Lily berkata,
September 13, 2007 pada 10:05 am
Mas Paijo,, bantuin gw dunk…
Tlg rancangin design alat GLB/GLBB/Gerak Melingkar/Gerak Parabola…
Pliiiiiiz mas… Ney tugas fisika.. Yg simple” aja deh..
Paijo berkata,
September 14, 2007 pada 11:52 am
@ Lily
Waduh, yang diminta kok banyak sekali. Bingung saya karena pesaman yang sudah lama saja masih belum kebagian waktu. Untuk GLB dan GLBB, bikin saja ticker timer seperti yang dijual di toko alat lab. Konstruksinay sederhana dan bahannya juga murah, cuman dua buah magnet pintu ( bisa dibeli di toko besi ), sebuah kumparan ( bisa dibuat dari trafo adaptor yang dicabuti inti besinya ), dan sebuah gergaji besi ( bisa bekas atau dibeli di toko besi ). Untuk ticker-nya,bisa dibunakan ball point yang dipasang statis. Jalur untuk pita dibuat menggunakan kawat atau paku yang dibengkokkan.
Untuk gerak melingkar, itu susah untuk membuatnya. Kalau untuk gerak parabola, bisa dibuat dengan memanfaatkan jarum suntik ( atau jarum infus ), selang kecil ( dihubungkan ke kran air ), dan kertas milimeter ( milimeter block ). Prinsipnya adalah bahwa air yang memancar keluar dari jarum tsb akan mengikuti gerak parabola. Untuk memperlihatkan hubungan antaran jarak vertikal ( y ) dan jarak horizontal ( x ), maka kertas milimeter ( sebaiknya dilaminating atau dilapisi plastik supaya tidak basah ) yang sudah diberi sumbu ( X dan Y ) dan skala dipasang pada papan/triplek. Triplek tsb perlu dibuatkan alas/kaki/statip supaya bisa berdiri di atas lantai/meja. Pada perpotongan sumbu X dan Y, dibuat seubah poros untuk menempatkan jarum tadi sehingga sudut elevasi jarum bisa diubah-ubah. Supaya lebih afdol, perlu juga dipasang busur derajat untuk mengukur elevasi jarum. Kalau dibuat dalam skala yang agak besar, sumbu X dna Y sepanjang satu meter misalnya, tidak perlu digunakan kertas milimeter tetapi bisa dibuat garis-garis di tripleknya menggunakan spidol. Supaya mudah dibaca, maka pada skala kelipatan 10 cm ( 0, 10, 20 dst ), garisnya dibuat tebal atau digunakan warna lain yang lebih menyolok.
Selamat mencoba, terimakasih dan salam eksperimen.
oon berkata,
Oktober 25, 2007 pada 3:58 pm
s4y4 butuh bantu4n n!
pengen tau rahasia pintar itu opo yach?
Paijo berkata,
Oktober 26, 2007 pada 9:04 am
@ Oon
Karena saya bukan orang pintar, saya tidak tahu apa rahasianya. Tapi menurut pendapat saya, ada beberapa usaha yang dapat dilakukan supaya bertambah pintar yaitu antara lain :
1. Banyak membaca apa saja yang diminati
2. Peduli pada hal-hal atau kejadian-kejadian di sekitar
3. Senantiasa berfikir positif
4. Mencoba untuk berfikir tidak mengikuti mainstream
5. Senantiasa mencari cara alternatif untuk menyelesaikan masalah
6. Berani mencoba hal-hal baru
Kalau anda tertarik, anda bisa membaca posting saya berjudul MENJADI KREATIF & PRODUKTIF ( http://paijo1965.wordpress.com/mencari-ide-kreatif/ ).
Terimakasih dan salam eksperimen.
Nurdin berkata,
Oktober 29, 2007 pada 3:59 pm
Tulisan ini bukan merupakan sebuah komentar namun sebuah acuan buat Mas Paijo.
Mas Paijo,… Mau nggak coba pembangkit listrik gua???
Untuk gambaran singkat,……………………………
Mesinnya gua kasih nama : PLTBB (Pembangkit Listrik Tanpa Bahan Bakar).
Mesin ini tidak menggunakan Bahan Bakar, dan juga tidak membutuhkan tenaga air, angin, uap dsb tapi menggunakan sebuah………………………..
Penjelasan lebih lanjut ada pada makala yang saya buat. kalau Mas Paijo berminat, kirim jawaban ke e-mail saya supaya saya kirimkan tulisan tentang PLTBB yang saya maksud.
Indra_ulo berkata,
Nopember 8, 2007 pada 4:34 pm
mas aku bisa dikirimi diagram beserta detailnya ga?saya pengen mengembangkan potensi didaerah saya yang masih kurang dikembangkan potensinya.kirim ke email aya ya mas bos?Indra_ulo@yahoo.co.id makasih ya mas bosss.??? GBU..
Paijo berkata,
Nopember 9, 2007 pada 10:44 am
@ Nurdin
Saya berminat untuk membaca makalah anda. Sestelah saya pelajari, baru saya bisa simpulkan bahwa ide anda itu layak atau tidak layak untuk dibuat. Kalau ide anda fresh (original) dan fisibel baik secara teoritis maupun teknis, saya berminat membuatnya. Untuk itu kita dapat bekerja sama dalam sebuah team. Saya akan kirim jawaban melalui e-mail segera. Terimakasih atas tawaran dan kepercayaan anda pada saya.
@ Indra_ulo
Gambar yang saya pasang di atas sudah cukup detail, dan saya tidak mempunyai gambar yang lebih detail dari itu karena saya bukan berlatar belakang teknik. Kalau dilihat gambar di atas, memang kurang jelas karena di kecilkan untuk menyesuaikan dengan tempat yang tersedia. Tapi anda dapat mengambil gambar tersebut diatas sesuai aslinya dengan menempatkan mouse pada gambar kemudian klick kanan dan pilih SAVE IMAGE AS …. Semua gambar pada blog saya juga dapat diambil dengan cara seperti itu.
Terimakasih dan salam eksperimen.
Sukri berkata,
Nopember 13, 2007 pada 11:16 am
oi Jo,gambar kincirnyo mano. Jangan cak maen2 tu. Topok naon niku!
St. Midian Ritonga, SE berkata,
Nopember 29, 2007 pada 2:46 pm
pagi mas, pendatang baru dari Medan
Kami berterima kasih kepada Mas Paijo dan bersyukur pada Tuhan atas web ini dimana dapat memjadi berkat untuk orang lain.
Orang kampung pingin nonton tv, dengar radio, charge HP !
Mas, kampungku di Pagaranpadang, ± 12 jam perjalanan darat dari Medan sampai di kota Kecamatan Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Jarak dari Kota kecamatan ±14 Km artinya disitulah jaringan PLN baru ada. Kampungku sudah ratusan tahun lamanya, sampai sekarang masih terisolir. Jumlah penduduk yang beragama Kristen 15 KK dan yang beragama Islam 12 KK. Ada aliran sungai dengan lebar sungai 5 meter ( terdapat 1 air terjun ± 2 meter), Jarak dari sungai ke pemukiman 200 meter mendaki. Pertanyaan kami setelah membaca paijo1965.wordpress.com adalah :
1. Tolong mas, kasih idenya untuk menciptakan Pembangkit listrik tenaga kincir air ke semua penduduk dan.
2. Kalau bisa, tolong gambarkan dan peralatan yang diperlukan dan hitungan biayanya.
3. Kalau ada di Medan relasi mas, tolong berikan alamatnya.
Terimakasih, mudah-mudahan ide mas bermanfaat bagi penduduk kampung kami. Good Luck, God bless You
Nurul Huda berkata,
Nopember 29, 2007 pada 9:33 pm
Hallo Mas Paijo, salam kenal, saya Nurul Huda, umur 45 th, tinggal di Jakarta, kalau boleh bisakah saya tau alamat lengkap Mas Paijo, saya tertarik utk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Kincir dengan kapasitas sekitar 20.000 watt untuk dipergunakan sendiri pada rumah saya yang ada di Jawa Tengah, kalau baca literatur diatas saya bingung krn bukan berasal dr teknik, mudah2an Mas Paijo mau memberikan alamat…thanks
Mariz berkata,
Desember 2, 2007 pada 3:07 pm
Met siang mas.Mas Paijo, aq minta bantuannya, kira-kira untuk membuat sebuah kincir air sedarhana dengan kualitas yang bagus kira-kira diperlukan biaya berapa ya mas. Dan komponen alatnya terdiri dari apa saja? Terimakasih.
Emilius berkata,
Desember 6, 2007 pada 3:51 pm
Saya berencana untuk membuat kincir turbin di desa saya di kalimantan barat, mohon jika Mas Paijo bersedia untuk mengirim gambar cara menggulung dinamo untuk tipasang di turbin, terima kasih sebelumnya.
atmo4th berkata,
Desember 14, 2007 pada 8:55 am
Mas paijo kreatif tapi sebaiknya juga harus banyak baca. gunakan pengalaman orang lain. kincir air umurnya sudah lebih 100 tahun digunakan di indonesia oleh belanda dan sekarang sudah banyak teknologi yang lebih baik lebih murah dan lebih andal serta mudah dibuat dengan teknologi sederhana.
coba buka website PT. Heksa Prakarsa teknik atau cihanjuang teknik atau kramat raya . mereka itu produsen mikro hydro yang sudah diakui dunia . jadi saran saya kitan jangan mundur ke teknologi seratus tahun yang lalu.
Teknologi kincir air dan turbin air sudah sangat maju jadi intinya pelajari teknologi dan pengalaman para pendahulu jangan coba kreatif tapi pengetahuan tidak dicoba ditambah. gunakan pengalaman orang lain untuk berfikir kreatif. semua teknologi paijo sulit dikembangkan dan bahkan akan embuat orang sesat dengan kreatifitasnya.
maaf ya mas kita kan saling mengingatkan di blog ini dan jangan malah menjadi goblog.
John berkata,
Januari 17, 2008 pada 12:48 pm
Met siang mas.Mas Paijo, aq minta bantuannya, kira-kira untuk membuat sebuah kincir air sedarhana untuk listrik dengan kualitas yang bagus kira-kira diperlukan biaya berapa ya mas. Dan komponen alatnya terdiri dari apa saja? Terimakasih.
ary berkata,
Januari 26, 2008 pada 9:31 pm
gmn cara bikin sensor angin?
taufik_eza berkata,
Februari 1, 2008 pada 10:43 am
met pagi mas paijo!aku mau minta banyuan nich mas.kira-kira untuk membuat prototep kincir air menghabiskan dana berapa mas?dan saya mau tugas akhir,tolong kirimkan data-data yang menunjang untuk merancang suatu kincir air mas!sebelumnya terima kasih mas!
arif berkata,
Februari 8, 2008 pada 9:08 pm
saya mau minta paijo terangkan tentang kaedah membina sebuah kincir air
beroda yang bersambung dengan sistem scara
Udin berkata,
Februari 12, 2008 pada 11:48 am
Bisa gak minta detail bahan untuk buat kincir air listrik sederhana untuk media pembelajaran siswa SD
Hendra berkata,
Februari 19, 2008 pada 11:36 am
Yth Pa. Paijo,
Saya rencana mau buat kincir air utuk pembangkit listrik yg sederhana, bisa gak tolong dibantu gambar, data-data peralatan, cara pembuatannya yg mendetail serta hitung-hitungan berapa daya listik yg akan dihasilkan untuk sebuah kincir air yang berukuran sedang ( data dari panjang rantai dan putaran (RPM)).
Atas perhatiannya kami haturkan banyak Terima Kasih.
Salam.
kincir « Alkabri’s Weblog berkata,
Maret 6, 2008 pada 12:22 pm
[...] 3. Langkah selanjutnya adalah membuat sejumlah bak air ( gbr no.3 ). Besar-kecilnya bak air disesuaikan dengan debit air dan desain kecepatan kincir. Bak air ini dapat menggunakan ember besi atau kaleng besar atau dapat dibuat sendiri dari seng tebal, plat besi, maupun papan kayu. Yang penting bentuk, berat, dan daya tampungnya seragam supaya seimbang ketika dipasang. Pada masing-masing bak air ini dibuat cantolan dengan 2 lubang ( atas-bawah ) yang dilekatkan permanen pada satu mata rantai dengan menggunakan keling. Cantolan tersebut dipasang sedikit di atas titik berat ( central mass ) bak air ( diukur ketika bak air dalam keadaan penuh ). Dalam posisi itu, bak air akan stabil namun mudah diputar untuk menumpahkan airnya ketika telah mencapai gir bawah. Penumpahan air akan terjadi secara otomatis ketika bak telah mencapai gir bawah karena posisi bak air yang terus mengikuti arah rantai. Alternatif lain pemasangan bak air : Pada masing-masing bak air dipasang mekanisme poros putar sehingga dapat berputar bebas ketika terpasang pada rantai seperti sangkar penumpang pada kincir pasar malam. Poros ini dipasang sedikit di atasnya titik berat ( central mass ) bak air ketika sedang penuh maupun kosong. Posisi itu memungkinkan bak senantiasa selalu menghadap lurus ke atas namun mudah diputar ketika akan menumpahkan isinya. Hal itu bertujuan untuk mengurangi tumpahnya air sebelum waktunya dan memudahkan proses pengisian ketika bak kosong telah berada di bagiaan gir atas. Selain itu juga dipasang tuas penumpah yang berfungsi memutar bak dan menumpahkan air secara otomatis ketika bak telah mencapai gir bawah dan tuas tertahan oleh batang penumpah. Batang penumpah ini dipasang statis untuk menahan tuas dan kemudian memaksa bak air berputar menumpahkan isinya ketika telah mencapai gir bawah. Kelebihan kincir rantai dibandingkan kincir roda adalah : 1. Jumlah air yang tumpah percuma sedikit sehingga tenaga air dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal 2. Putaran poros kincir ( RPM ) puluhan bahkan ratusan kali lebih cepat daripada kincir roda untuk ketinggian air terjun dan kecepatan linier yang sama. Kecepatan putar poros sudah tidak perlu banyak penyesuaian dengan alat/dinamo sehingga tidak diperlukan lagi gearbox yang mahal. 3. Dapat dibuat untuk ketinggian air terjun berapa saja sesuai keadaan dan keperluan dengan hanya menambah atau mengurangi panjang rantai tanpa mengubah bentuk dan ukuran bagian lainnya. Tentu saja jumlah bak air harus disesuaikan juga supaya jarak antara bak air seragam dan relatif rapat. Dalam hal menambah panjang rantai, perlu diperhitungkan kekuatan rantai dalam menahan beban beratnya bak beserta air dan rantainya sendiri untuk mengindari rantai putus atau cepat aus. Selain itu juga harus tersedia ruang yang cukup untuk berputar ketika bak air mencapai gir bawah. 4. Dapat diproduksi secara masal karena kincir rantai yang persis sama dapat digunakan untuk air terjun dengan ketinggian yang sangat bervariasi. Penyesuaian hanya diperlukan pada panjang rantai dan jumlah bak. Lebih praktis lagi jika rantai dan bak dibuat dan dijual dalam hitungan segmen ( misalnya tersedia 1, 2, 4, 8, dan 16 segmen ). Satu satuan segmen terdiri dari satu bak lengkap dengan poros, tuas penumpah, dan 2 rantai dengan jumlah ruas tertentu yang seragam. Panjang rantai tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga ketika dipasang sambung-menyambung menjadi untaian bak-bak yang rapi dan seimbang. Disamping kelebihan, kincir rantai ini juga mempunyai kekurangan. Adapun kekurangannya antara lain : 1. Rantai dan gir akan terkena air dan terancam perkaratan sehingga cepat rusak. Hal itu dapat dikurangi dengan membuat poros bak yang lebih panjang agar jarak antara bak dan rantai cukup jauh. Rantai juga perlu dicat sebelum dipasang dan diberi pelumas ( grease ) secara rutin dan sering. Lebih baik lagi jika dipasang alat khusus untuk menghambat proses perkaratan yang bekerja secara elekro-kimia. Tentang cara kerja alat ini akan dibahas dalam tulisan tersendiri. 2. Bearing cepat rusak karena kemasukan air. Untuk mengatasi hal itu, dapat dilakukan dengan membuat dudukan bearing dari pipa yang dibuntu sebelah ujungnya dengan plat besi dan dilas. Kemudian dibuatkan seal dari karet tebal ( bisa ban bekas atau konveyor ) yang berbentuk seperti ring. Seal tersebut kemudian dipasang pada dudukan untuk menutupi bearing. Supaya kedap air, dapat diberi lem ( super glue atau epoxy ) antara seal dan dudukan bearing. Selain itu, lubang seal harus span dan agak menggigit poros. Supaya bearing dapat diberi pelumas tanpa membuka seal, maka perlu dibuatkan lubang / saluran pada dudukan bearing yang diberi penutup dari mur-baut yang dilas agar rapat tapi mudah dibuka-tutup. 3. Kurang cocok jika digunakan untuk menggerakkan penumbuk padi karena putaran poros yang cepat dengan torsi yang relatif kecil 4. Sulit dibuat untuk debit air yang cukup besar karena keterbatasan kekuatan rantai motor. Cara mengatasinya, dapat dibuat dengan rantai dan gir rangkap ( mudah ) atau dibuatkan rantai yang lebih besar ( tapi sulit ). Alternatif lain adalah menggunakan rantai talang yang banyak dijual di toko besi. Namun jika menggunakan rantai talang, perlu dibuat ’gir’ tersendiri yang cocok dengan bentuk dan ukuran rantai talang. Bentuk ’gir’ yang dapat digunakan adalah seperti ’gir’ yang digunakan pada kerekan rantai yang digerakkan dengan tangan yang banyak dijual di toko teknik dan toko perlengkapan mobil. Kincir rantai ini barulah berupa ide dan sketsa dan belum pernah dibuat prototype-nya. Selain kincir rantai, saya juga telah membuat sketsa desain Kncir Roda Rantai yang memadukan konsep kincir rantai dan kincir roda. Salah satu kelebihan dari kincir desain baru tersebut adalah mempunyai dua poros keluaran dengan RPM dan torsi yang berbeda jauh sehingga dapat digunakan untuk keperluan yang lebih bervariasi tanpa perlu tambahan gearbox. Tentang Kincir Paijo-2 ( Kincir Roda Rantai ) tersebut, akan saya bahas dalam tulisan tersendiri. ( Paijo ) [...]
mboel berkata,
Maret 13, 2008 pada 3:21 pm
mas Paijo
bisa minta tolong gak
apa mas paijo punya artikel tentang dinamo
khususnya berkaitan dengan listrik yang dihasilkan. faktor-faktor apa saja ya yang berpengaruh dari dinamo untuk menghasilkan listrik. Ada rumusannya ga ya…
Oiya untuk kincir air juga ya … apa saja ya faktor yang harus diperhatikan untuk mendesainnya dan rumusan tenaga listrik yang mungkin dihasilkan.
Tuoolong ya
makasih buanyak. Eh tolong lagi bisa kirim ke email saya langsung ga??
makasih lagi ya….
oiya walaupun saya pake email its saya bukan dosen jadi jangan berpikiran saya pinter lhoo…he..he..he
Sukses terus bereksperimen salut
i ketut sukorata berkata,
Maret 22, 2008 pada 2:44 pm
saya sangat butuh gambar skema pembangkit listrik tenaga air.karena listrik di kampung saya tidak bagus,saya ingin membuat pakai di namu.dan menggunakan air.yang saya buat dari kolam./bak air.yang tinggi dan seperti air terjun…bisa kan saya minta gambar nya yang jelas.dan ukuran perhitungan kipas /baling2 yang memutar dinamu.thanks atas bantuannya.
ibrahim berkata,
Maret 28, 2008 pada 5:10 pm
Pak “Paijo”, bisa tolong jelaskan secara mendetail cara membuat kincir air pembangkit listrik, karena saya ingin membuatnya sebagai bahan ujian praktek fisika, kalau bisa dikirim ke e-mail saya, mohon bantuannya. terima kasih.
RAMOT SIALLAGAN berkata,
April 2, 2008 pada 11:25 am
PAK bisa minta tolong untuk memuatkan proses gambar bergerak mengenai cara kerja turbin uap.Tapi kalau bisa di kirim ke e-mail saya,mohon bantuan dari Bapak.Terima kasih.
samsul berkata,
April 4, 2008 pada 12:13 pm
mas paijo…tolong doeng,buatin skema ilustrasi beberapa contoh pembangkit listrik baik air,uap dan turbin,serta rincian…………..insya Allah,jadi amal jariah
Tio berkata,
April 8, 2008 pada 9:57 pm
mas, saya butuh ide dan masukan untuk karya ilmiah. Saya murid SMA kelas 2.
edie berkata,
April 23, 2008 pada 9:38 am
mas paijo,,punya skema turbin,,buat listrik tenaga uap
khoirudin berkata,
Mei 4, 2008 pada 2:52 pm
kang bagi hasil risetnya dong
trims
untitle berkata,
Mei 6, 2008 pada 6:35 pm
bang,banyakin dunk informsinyah!!!
tugas fisika banyak yang gk kelar niii….
txzzzz….
grendy berkata,
Mei 7, 2008 pada 11:34 am
salam kenal
saya tertarik dengan aktifitas dan apa yang dihasilkan oleh pak paijo terutama yang berhubungan dengan energi alternatif atau energi cadangan.
kebetulan sekali saya akan mengadakan seminar dan pameran tentang fisika dan energi, saya ingin mengusung tema teknologi kerakyatan pada pameran ini maaf pak bisa gak saya minta alamat bapak supaya bisa ketemu dan bapak tau gak tempat-tempat dan orang yang banyak menciptakan teknologi energi murah tepat guna untuk rakyat.
terima kasih banyak ya pak.
di tunggu loh balasannya.
Budi Santoso berkata,
Mei 8, 2008 pada 12:01 pm
Pak Paijo kalau ada acara dimaksud mohon diinfokan kemasyarakat luas agar ilmu yang bapak peragakan dapat bermanfaat bagi orang banyak terima kasih.
edan berkata,
Mei 9, 2008 pada 2:39 pm
saya tambahkan kelemahan - Kelemahan kincir ini:
1. sangat bergantung berat air sehingga kalo ingin daya yang besar maka bak air harus besar.
2. rugi-rugi gesekan disetiap roda cukup besar karena ada banyak roda.
3. gaya berat air yang memutar roda akan dikurangi gaya berat bak air kosong, sehingga resultan gayanya kecil.
4. seandainya penghubung gear adalah rantai, maka diperlukan peralatan take-up untuk menjaga kekencangan rantai karena semakin lama rantai akan semakin kendor, jika kendor rantai akan terlepas dari gear.
hary berkata,
Mei 12, 2008 pada 10:11 pm
Assalamu’alaikum kang Paijo…
Ngapunten kang badhe nyuwun pirsa lan ngudi ngelmu…
saya mau bantu temen san sudara saya di desa, lokasi gunung daerah purworejo..
Alkisah kang…warga disana sekarang menggunakan pompa air model piston untuk memompa air (sumber air dibawah dan rumah penduduk di atas). untuk menggerakan pompa warga menggunakan generator, dengan harga BBM yang makin melambung….warga mulai bingungg karena iurannya jelas bertambah..belum lagi konsumsi listrik…dll..mahal deh…padahal orang gunung, kang paijo tau sendiri..pendapatan kebanyakan dari bertani…
saya punya rancangan menggunakan kincir air model belanda, itulah yang kincir dari kayu yang dibuat seperti roda.. kondisi aliran disana debit tidak begitu besar, tingginya pun hanya sekitar 1-1,5 meter ( itupun harus menambah tinggi bendungan sekitar 0,75 m)..selain itu, saya pilih bahan dan model dari kayu supaya warga disana gampang membuat dan meniru modelnya dengan biaya yang relatif murah.
perlu saya gambarkan juga, bahwa sumber air yang dipake warga bukan dari air sungai yang akan digunakan sebagai penggerak kincir. melainkan dari sumber mata air,yang kemudian ditampung dikolam dekat sungai..
sedikit tentang rancana saya dan konco-konco:
bendungan akan kami tambah supaya ketinggian terjun air bertambah menjadi 1,5 m..air kami alirkan melalui saluran terbuka dengan ukuran sekitar 50 x 50 cm..pada ujung saluran akan lebih kecil untuk memperkuat semprotan air. semprotan air akan menggerakan kincir dari kayu yang berdiameter sekitar 1 meter, kincir tersebut kami liliti belt sebagai menuju poli kecil, poli kecil tersebut satu poros dengan sebuar poli yang lebih besar berdiameter sekitar 30 cm. dari poli ini kami sambung ke Pompa air model piston….sementara kami menggunakan pompa piston karena yang sudah di punya warga dan pompa ini tidak membutuhkandaya yang besar. dengan asal sudah berputar saja, air sudah bisa naik..
kira-kira itulah gambaran rencana saya dan teman2. saya mengharap komentar dari kang paijo ato teman2 yang membaca tulisan ini.. demi membantu masyarakat yang semakin terjepit dengan naiknya BBM..terimakasih sebelumnya.
JELLY berkata,
Mei 19, 2008 pada 6:48 pm
malem mas,
saya orang awam yg kebetulan tergugah u bikin listrik kecil2an d sebuah desa pedalaman kaltim yg blm terjamah peradaban.
jujur aja dr 2th yl sy cr info u bikin kincir air tp g ada yg respon apalagi jawab sampe agak putus asa karna sy cm punya niat tp bner2 gaptek.
di desa TONDA, kab.KUTIM, KALTIM ada sungai kecil lebar 2m yang arusx g deres tp g pernah kering jg pd musim kemarau.
tolongin sy mas..minta gambarx yg jelas, alat2 yg hrs d beli sampe gmana ngrawatx,biayane piro..
tengkyu mas..
miko berkata,
Juni 5, 2008 pada 3:16 pm
mas saya tertarik dengan generator termoelektrik,bisa ngak mas sharing literaturnya.
thank b4
Rudianto SW berkata,
Juni 9, 2008 pada 5:35 pm
As WW
Mas boleh tolong kirim cara menggulung motor listrik.
trims.
mansyur berkata,
Juni 10, 2008 pada 8:22 am
bagaimana kalu kincir air untuk bendungan yang agak landai, bisa ngqak
tasrip berkata,
Juni 20, 2008 pada 9:41 pm
Bagaimanakah cara menghitung tranmisi gear box apabila putaran kincir angin max 60 Rpm ?
Biasakah kincir tersebut dapat menarik air dengan kedalamn kurang lebih
50 Meter ?Trims sebelumnya dan saya sngat butuh sekali karena pemerintah kurang berfikir tentang irigasi pertanian sedangkan BBM terus naik.
Phitias berkata,
Juli 7, 2008 pada 12:03 pm
mohon diberikan penjelasan lebih spesifik mengenai turbin pembangkit, perlengkapan yang di butuhkan, dimana mendapatkan kelengkapan, sampai dengan instalasinya tentang turbin pembangkit tenaga listrik tenaga air. di saat krisis energi seperti sekarang diperlukan suatu sistem dengan swadaya sendiri, sebenarnya banyak yang berminat tetapi tdk mengetahui teknisnya…
thx
Tjhombro berkata,
Juli 11, 2008 pada 10:01 am
Pak Paijo, Salut buat bapak atas kerativitasnya…
Melihat banyaknya Xperimenter yang mampir di blog ini kayaknya seru juga kalau ada ngumpul bareng… saya sendiri ada di Jakarta…
Salam,
Tjhombro@yahoo.com
……YM online 8-5
adi wijaya berkata,
Juli 15, 2008 pada 1:43 pm
salam keanl Mr. Paijo
Saya mau tanya gimana buat pembangkit listrik sederhana, dan apa bahan-bahannya.khusus untuk anak smp kelas 2.
regard.
adi
IWAN KRISTIAN berkata,
Juli 17, 2008 pada 1:18 pm
kepada Yth. Paijo di tempat. saya pendatang baru ingin gabung2, pak saya mau minta tentang perincian membuat kincir air seperti yang bapak pernah jelaskan sebelumnya. saya bingung bagaimana cara menghitung rincian2 dan pa aja yang harus di perhatikan dalam membuat kincir tersebut, sekaligus faktor pa saja yang harus diperhatikan.saya mohon penjelasannya. kalau gak keberatan kirim ja ke E-mail saya atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih……….