POMPA AIR TENAGA GRAVITASI ( 2 )

POMPA AIR TENAGA GRAVITASI ( 2 )
By Paijo

( Update : Artikel ini berisi analisis bahwa pompa air tenaga gravitasi seperti pada gambar TIDAK MUNGKIN BERHASIL. Jadi artikel ini tidak membahas tentang cara membuat pompa air tenaga gravitasi )

( … baca juga bagian 1 )

Ketertarikan para eksperimenter terhadap desain maupun prototype Pompa Air Tenaga Gravitasi dari waktu ke waktu tidak pernah surut. Dengan adanya kenaikan harga BBM dan kenaikan TDL, ketertarikan tersebut berubah menjadi obsesi berdasarkan keyakinan bahwa Pompa Air Tenaga Gravitasi tersebut merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah energi yang berkepanjangan. Bahkan pada dekade delapanpuluhan, ada salah satu stasiun TV yang menayangkan ujicoba prototype yang diyakini sukses oleh banyak orang. Sebagian besar orang amat terkesan dengan penemuan yang spektakuler tersebut. Betapa tidak, dengan Pompa Air Tenaga Gravitasi tersebut, orang dapat menaikkan air dari sumur ke permukaan tanah tanpa memerlukan bahan bakar maupun listrik. Tinggal putar keran, maka air akan naik dari sumur melalui pipa dan drum dan keluar dari keran menuju bak atau ember.

Pompa Air Tenaga Gravitasi

Kemudian ide tersebut berkembang lebih lanjut untuk membuat pompa dengan ukuran besar. Dengan pompa ukuran besar, maka jumlah air yang dihasilkan juga lebih besar sehingga dapat digunakan untuk menggerakkan kincir atau turbin air. Selanjutnya, kincir atau turbin digunakan untuk menggerakkan generator sehingga dapat menghasilkan listrik. Untuk menghemat air, maka air yang telah digunakan untuk memutar kincir atau turbin dikembalikan lagi ke sumur untuk dipompa lagi sehingga membentuk suatu siklus. Jadi secara keseluruhan, sistem tersebut dapat dikatakan sebagai pembangkit listrik tenaga gravitasi yang dapat menghasilkan listrik tanpa bahan bakar. Sungguh merupakan suatu ide yang brilian, yang pasti didukung oleh masyarakat luas yang sedang mengalami krisis energi.

Ditengah optimisme dan euforia para pendukung Pompa Air Tenaga Gravitasi tersebut, ternyata ada segelintir eksperimenter yang skeptis dengan ide brilian tersebut. Saya adalah salah satu yang paling getol mengajukan argumen bahwa ide tersebut mustahil untuk diwujudkan karena berlawanan dengan hukum alam. Hukum alam pertama yang dilawan yaitu bahwa air dalam sistim pipa hanya dapat mengalir dari yang bertekanan lebih tinggi menuju ke yang bertekanan lebih rendah. Tentang hal itu telah saya bahas dalam tulisan saya terdahulu. Hukum alam kedua yang dilawan yaitu hukum kekekalan energi mekanik. Hukum tersebut sederhana dan sudah clear dan dalam konteks pompa gravitasi tidak mungkin salah.

Untuk memindahkan suatu benda ke tempat yang lebih tinggi, diperlukan usaha yang besarnya sama dengan perubahan energi potensial mekanik benda tersebut. Jadi untuk memindahkan air dari sumur ke permukaan tanah yang lebih tinggi diperlukan usaha, berarti diperlukan energi dari luar sistem. Jadi Pompa Air Tenaga Gravitasi seperti pada gambar tidak mungkin bisa bekerja karena tidak ada masukan energi dari luar sistem.

Selain adanya kemustahilan berdasarkan analisa tekanan dan analisa energi mekanik, juga terdapat kejanggalan dari sisi sosialisasi dan komersialisasi dari pompa jenis tersebut. Pompa Air Tenaga Gravitasi dipublikasikan pertama kali pada dekade delapan puluhan atau sekitar 20 tahun yang lalu. Seandainya temuan tersebut dipatentkan pada waktu itu juga, maka patent tersebut telah atau hampir kadaluwarsa. Yang janggal, pompa tersebut sampai sekarang belum pernah diproduksi dan dipasarkan kepada masyarakat umum padahal telah ditemukan sejak lama. Demikian juga tidak ada satupun lembaga ilmu pengetahuan semacam LIPI, BPPT, maupun perguruan tinggi dan pabrikan yang menyatakan bahwa Pompa Air Tenaga Gravitasi seperti pada gambar maupun variannya dapat bekerja sesuai dengan abstraksi desainnya. Oleh karena itu, saya berkesimpulan bahwa berita penemuan Pompa Air Tenaga Gravitasi yang sangat spektakuler tersebut merupakan berita bohong belaka ( HOAX, hoak….hoak….saya mau muntah….maaf ). Berkaitan dengah hal itu, saya membuka kesempatan untuk semua netter yang memiliki informasi yang berkaitan dengan Pompa Air Tenaga Gravitasi tersebut untuk berbagi informasi di forum ini. Informasi tersebut bisa berupa URL, nama lembaga, atau nama orang yang mempunyai bukti fisik atau dokumentasi tentang Pompa Air Tenaga Gravitasi.
Terimakasih dan salam eksperimen.

& Komentar

  1. Paijo berkata,

    Januari 1, 1970 pada 12:00 am

    @ Michael
    Jika bagian 1-3 dibuang dan bagian 4-5 diisi air kemudian bagian atasnya ditutup rapat maka maka akan keluar air sedikit ( bisa beberapa puluh liter tergantung h2 ) dan akan berhenti setelah terjadi kesetimbangan tekanan. Jika tidak digunakan leher angsa ( langsung pipa lurus ), maka air akan keluar sampai habis dan akan digantikan oleh udara yang akan masuk melalui pipa yang sama jika ukuran pipa cukup besar. Jika diameter pipa cukup kecil, maka air tetap akan keluar tapi tidak sampai habis. Air akan berhenti keluar setelah tercapai kesetimbangan tekanan.
    Tentang hitung-hitungannya, bisa agak rumit kalau ingin menghitung ketinggian kolom air yang tersisa setelah keadaan setimbang. Supaya real betul, musti anda tentukan dulu berapa h2, diameter drum, panjang drum, dan diameter pipa. Kalau itu sudah lengkap, saya bisa kasih hitung-hitungannya.
    Pada keadaan setimbang, tekanan udara dalam drum ditambah tekanan hidrostatik air di leher angsa sama dengan tekanan udara luar ( tekanan atmosfer ). Dari situ, dapat disusun persamaan dengan he ( ketinggian kolom air ketika terjadi kesetimbangan tekanan ) sebagai variabel bebasnya. Dengan menyelesaikan persamaan tersebut, maka nilai he dalam keadaan setimbang dapat ditentukan.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  2. deKing berkata,

    Maret 7, 2007 pada 6:08 am

    Sebelumnya salam kenal
    Artikel bagus, tapi maaf gambar kurang jelas sehingga untuk saya yang bingung tentang Fisika lumayan repot untuk mencocokkan analisis dengan keterangan di gambar (terutama di sumur Part 1). Padahal artikelnya keren sekali dan benar2 menarik.
    Sekedar tanya nich:

    Untuk memindahkan suatu benda ke tempat yang lebih tinggi, diperlukan usaha yang besarnya sama dengan perubahan energi potensial mekanik benda tersebut

    Saya bingung dengan istilah energi potensial mekanik (maklum saya benar2 bingung dengan Fisika), tapi seingat saya Energi mekanik=Energi potensial+Energi Kinetik dimana besarnya energi mekanik selalu konstan sehingga semakin besar EP maka semakin kecil EK. Jadi saya bingung dengan penggunaan kata potensial dan mekanik secara bersamaan mengikuti kata energi.
    Terima kasih atas penjelasannya…

  3. Paijo berkata,

    Maret 7, 2007 pada 8:58 am

    @ DeKing
    Anda benar. Kalau kata mekanik yang saya gunakan kurang pas, bisa anda anggap tidak ada. Kata mekanik dalam artikel di atas untuk menekankan bahwa yang saya maksud memang Energi Potensial Mekanik. Penekanan saya rasa perlu karena ada energi potensial lainnya yaitu Energi Potensial Kimia. Energi potensial mekanik dapat diekstrak dan dikonversi dalam bentuk lain ketika benda berpindah ke tempat yang lebih rendah seperti pada PLTA. Sedangkan Energi Potensial Kimia dapat diekstrak dengan cara mereaksikan dengan zat lain seperti pada pembakaran bahan bakar pada motor bakar.
    Sebagai contoh, sepotong kayu yang berada ketinggian 1 meter di atas lantai memiliki 2 macam energi potensial. Energi potensial mekanik karena ketinggiannya dan energi potensial kimia karena dapat menghasilkan energi jika dibakar. Pada air, memang hanya mengandung energi potensial mekanik saja karena tidak bisa dibakar.
    Untuk menghindari kebingungan lebih lanjut, maka kata mekanik akan saya coret ( strikethrough ) agar masih tetap bisa dilihat. Terimakasih dan salam eksperimen.

  4. jokotaroeb berkata,

    Maret 7, 2007 pada 12:04 pm

    Pertama salam kenal dari saya,

    Bagus sekali artikelnya mas betul yang deKing bilang gambarnya ga jelas coba diperjelas lagi mas.

  5. Paijo berkata,

    Maret 7, 2007 pada 12:15 pm

    @ Jokotaroeb
    Itu sudah maksimal je, kalau dibersarkan lagi tempatnya tidak muat. Kalau mau jelas betul, didownload dulu gambarnya dengan menggerakkan mouse pada gambar kemudian klik gambar disket yang muncul di pojok kiri atas gambar tersebut. Ukuran filenya sangat kecil karena saya gunakan format PNG. Terimakasih dan salam eksperimen.

  6. qzplx berkata,

    Maret 7, 2007 pada 9:14 pm

    Mas paijo, thanks uda mampir yah, hehehe, menurutku pompa gravitasi itu logis juga, cuman daya tekananya kan hanya sebatas gravitasi 10ms kwadrat, saya kurang nangkap, saya suka fisika, coba di ilustrasikan……

  7. Paijo berkata,

    Maret 8, 2007 pada 10:15 am

    @ qzplx
    Terimkasih juga anda telah mampir ke blog saya.
    Kalau dipikir mendalam betul, sebenarnya tidak logis juga. Karean gaya gravitasi arahnya ke bawah kok diharapkan mengalirkan air yang arahnya ke atas. Yang logis itu ya kalau mengharapkan gravitasi mengalirkan air ke bawah seperti pada sistim irigasi atau sistim pipa PDAM. Banyak eksperimenter yang terobsesi dan terjebak karena mengira sistim pipa dan drum seperti pada gambar bisa bekerja seperti jungkat-jungkit. Padahal hasil percobaan di lab tidak demikian halnya. Air sebagai zat cair akan berperilaku sebagai fluida yang hanya bisa mengalir dari yang bertekanan lebih tinggi ke arah yang bertekanan lebih rendah. Pada Pompa Air Tenaga Gravitasi seperti gambar di atas atau variannya ( gambar dapat anda download / save di PC anda supaya bisa dilihat dengan jelas ), perancang mengharapkan bahwa akan terjadi yang sebaliknya. Apa mungkin ?

    Ternyata batu sandungan bukan hanya Pompa Air Tenaga Gravitasi tapi masih banyak yang laiinya termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Magnet. Di India dan di beberapa negara lain, bahkan ada museum tentang prototype gagal alat-alat semacam itu. Anda bisa mencarinya di Google dengan kata kunci PERPETUAL WHEEL atau FREE ELETRICITY. Kalau dirunut penyebab banyaknya eksperimenter yang “terantuk batu yang sama” tersebut kemungkinan besar adalah buruknya sistim pembelajaran IPA dan Matematika di sekolah. Banyak pelajar yang memahami fisika hanya sebatas rumus matematis dan melupakan aspek fisis. Padahal seharusnya, rumus matematis hanya alat yang digunakan untuk meng-kuantifikasikan besaran dan untuk melihat pola hubungan antar variabel yang berpengaruh pada sistem. Semua rumus di fisika klasik diperoleh dari analisis data percobaan di lab. Alat analisisnya adalah statistik regresi, terutama regresi linier, regresi kuadratik, dan regresi eksponensial. Sedangkan regresi logaritmik jarang dipakai. Untuk fisika klasik macam mekanika dan mekanika fluida, mustinya harus saling mendukung antara teori dan praktek di lab. Kalau hanya teori saja, maka akan melahirkan pelajar yang lebih mempercayai teori dari pada fakta di lab atau lapangan. Logikanya sederhana saja, kalau teori dan fakta tidak sesuai, yang salah teorinya atau faktanya. Masalah tersebut menyebabkan miskonsepsi dan misunderstanding berantai yang semakin hari bisa semakin parah. Celakanya lagi, banyak guru IPA dan Fikika yang juga mengalami miskonsepsi dan misunderstanding tersebut, bisa dibayangkan bagaimana muridnya. Sistim evaluasi juga turut ambil bagian karena penguasaan materi Fisika hanya diukur dengan nilai Ujian Nasional saja yang membuat guru semakin malas memanfaatkan lab yang notabene boros waktu dan tenaga. Akhirnya jalan pintas diambil seiring dengan menjamurnya lembaga bimbingan belajar yang mencekoki siswa dengan soal-soal tanpa menggarap konsep dasarnya. Hal tersebut rupanya sudah disadari oleh para segelintir pendidik ( guru ) tetapi tampaknya masih kurang disadari oleh penentu kebijakan di negeri ini.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  8. edylu berkata,

    Maret 8, 2007 pada 3:16 pm

    Salam kenal …. ni kang
    Wah kang paijo nih artikel bisa ga di gabung dengan listrik tenaga air,
    air yang keluar dari pompa di salurkan ke turbin….biar bisa mengahasilkan listrik

  9. Arief Fajar Nursyamsu berkata,

    Maret 8, 2007 pada 3:23 pm

    “Untuk fisika klasik macam mekanika dan mekanika fluida, mustinya harus saling mendukung antara teori dan praktek di lab. Kalau hanya teori saja, maka akan melahirkan pelajar yang lebih mempercayai teori dari pada fakta di lab atau lapangan”.

    Ya.. ini sama saja dengan belajar Sejarah Fisika.

    Pada praktek di Lab, sering seorang asisten praktikum meminta kepada peserta untuk mengulang praktikum karena hasilnya melenceng jauh dengan teori. Lah ini kan aneh, karena harus mengulang supaya hasilnya mendekati atau sama dengan teori. Tidak masalah kalo tujuan mengulang adalah untuk membuat peserta mengerti dan lebih berhati-hati dalam bereksperimen, tetapi bukankah lebih penting kalau peserta itu bisa menganalisa bagian mana dari uji lab-nya yang salah. Parahnya lagi, nilai praktikum juga ditentukan oleh “kedekatan” hasil uji lab dengan teori.

    Bagaimana menurut Bapak?
    Mohon dijelaskan juga mengenai pengertian miskonsepsi.

    Terima kasih Pak.

  10. Paijo berkata,

    Maret 9, 2007 pada 12:31 pm

    @ Edylu
    Mungkin anda belum sempat membaca artikel diatas secara lengkap. Untuk menggabungkannya dengan PLTA, jelas tidak mungkin karena pompa tersebut tidak akan pernah bisa bekerja.

    @ Arief Fajar Nursyamsu
    Mempelajari sejarah fisika, itu hal lain lagi dan hal itu justru cukup penting dan sangat bagus jika dilakukan bersamaan dengan mempelajari teori. Sebagai contoh, saya pernah bertanya kepada seorang siswa SMA tentang sebuah rumus. Pertanyaannya : “Diantara rumus-rumus berikut ini, manakah yang paling dulu ditemukan, F = m.a ,atau m = F / a ataukah a = F / m ?”. Beberapa siswa tersebut bingung dan tidak dapat memberi jawaban yang memuaskan karena mereka hanya berfikir bahwa ketiga rumus tersebut sebenarnya adalah sama dan hanya dibolak-balik secara matematis seperti 6 = 2×3 , 2 = 6/3 , 3 = 6/2. Seandainya mereka mempelajari sejarah/kronologi ditemukannya rumus tersebut, maka hal kebingungan tersebut tidak akan terjadi. Kebingungan yang sama juga terjadi ketika ditanyakan bagaimana caranya diperoleh tetapan-tetapan pada fisika/kimia/matematika seperti tetapan gravitasi Newton ( G ), bilangan Pi ( 3,14… ), bilangan avogadro, dsb. Sebagaian besar guru mungkin tidak pernah membicarakan apalagi mengajarkan hal-hal semacam itu. Kemungkinan penyebabnya sekurang-kurangnya ada dua hal. Pertama, gurunya sendiri tidak menguasai tentang hal tersebut. Kedua, tidak menyadari pentingnya hal tersebut untuk siswa karena tidak pernah ditanyakan pada soal Ujian Nasional.

    Tentang carut-marutnya urusan yang menyangkut praktikum di lab, itu sudah merupakan lagu lama yang masih sering dinyanyikan. Menurut pendapat saya, beberapa penyebabnya adalah :
    1. Kurangnya pengetahuan sejarah fisika seperti di atas baik oleh guru maupun murid.
    2. Kurangnya penguasaan statistik khususnya analisis regresi oleh sebagain asisten lab. Sebagai contoh, secara statistik data dikatakan cukup banyak kalau minimal 30 data. Dalam praktek di lab, hanya diambil misalnya 10 data. Jadi tidak heran jika hasilnya melenceng jauh dari teori. Seandainya cukup dekat dengan teori sekalipun, masih tidak cukup meyakinkan kebenarannya.
    3. Buruknya kualitas maupun kuantitas alat lab yang ada ditambah dengan tidak pernah ditera ulang. Dengan alat yang baik saja hasilnya belum tentu akurat, apalagi kalau alatnya jelek.
    4. Rendahnya sikap ilmiah yang dimiliki peserta didik maupun pendidiknya. Sikap ilmiah yang dimaksud diantaranya adalah teliti, tekun, taat, kritis, analitis, dsb.
    5. Kurangnya usaha dari satuan pendidikan untuk mengintegrasikan pengetahuan dan kompetensi yang telah dikuasai oleh peserta didik. Banyak hal yang telah dikuasai siswa tapi tidak memberi manfaat yang maksimal karena terdiri atas potongan-potongan yang terpisah satu sama lain dan tidak terintegrasi dengan baik. Hal itu merupakan efek samping adanya pemisahan matapelajaran dan pemisahan pokok bahasan. Sebagai contoh, seorang siswa yang telah mempelajari regresi linier ( statistik ), sistem persamaan linier ( matematika ), dan hukum penawaran dan permintaan ( ekonomi ) ternyata mengalami masalah ketika diminta untuk menentukan titik keseimbangan pasar dari sejumlah data harga, penawaran, dan permintaan yang diperoleh dari survey pasar selama 60 hari. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan data tersebut, padahal semua alat analisisnya sudah dikuasai. Berarti siswa tersebut belum kompeten karena belum mampu menerapkan pada situasi nyata yang dihadapi. Jangankan siswa/mahasiswa, guru/dosen dan eksperimenter juga banyak yang menderita ”penyakit” seperti itu.

    Mengenai miskonsepsi ( salah mengerti tentang konsep tertentu ), juga dialami oleh banyak orang. Sebagai contoh, miskonsepsi tentang tekanan. Pertanyaan :”Seekor kucing berada di atas sebuah meja. Kucing tersebut semula berdiri, kemudian duduk ( Jawa : mendak ), dan akhirnya tidur. Jelaskan tentang perbandingan tekanan yang diterima ( dialami ) oleh permukaan meja pada setiap posisi kucing tersebut. ( Jika menjawab tekanannya sama, jelaskan mengapa. Jika menjawab tekanannya berbeda, urutkan dari yang terbesar sampai yang terkecil dan jelaskan alasannya )”. Berikut ini adalah jawaban yang mungkin keluar dari siswa beserta kemungkinan miskonsepsi yang dialaminya.
    1. Tekanannya sama karena berat ( massa ) kucing pada ketiga posisi tersebut sama ( tidak berubah ).
    Siswa menjawab seperti itu kemungkinan karena tidak bisa membedakan antara tekanan dengan gaya tekan. Miskonsepsi tentang tekanan.
    2. Tekanannya sama karena berat kucing sama dan luas meja juga tidak berubah.
    Siswa menjawab seperti itu kemungkinan karena tidak memahami luas bidang kontak. Miskonsepsi tentang bidang kontak yang berakibat miskonsepsi pada tekanan.
    3. Tekanannya berbeda dengan urutan, posisi berdiri ( terbesar ), posisi duduk, posisi tidur ( terkecil ). Alasanya berat kucing tetap tapi luas bagian kucing yang menyentuh meja berbeda, semakin luas maka tekanannya semakin kecil.
    Hanya siswa yang paham betul dengan konsep tekanan yang bisa menjawab seperti itu.
    4. Tekanannya berbeda juga dengan urutan yang sama seperti nomor 3 tapi dengan alasan yang berbeda. Alasannya adalah bahwa pada posisi berdiri, kucing perlu menjaga keseimbangan dengan otot-otot kakinya yang menimbulkan tambahan gaya pada permukaan meja. Pada posisi duduk, gaya tambahan tersebut lebih kecil dan pada posisi tidur bisa dianggap tidak ada.
    Siswa yang menjawab seperti itu kemungkinan juga karena tidak bisa membedakan antara tekanan dengan gaya tekan seperti pada nomor 1.
    Selain ke-4 macam jawaban di atas, masih banyak jawaban-jawaban lain yang bisa muncul dengan bermacam-macam miskonsepsi lainnya. Untuk bisa mendeteksi ada tidaknya miskonsepsi, perlu dibuat tes diagnostik yang musti didesain khusus sesuai dengan jenis konsep yang akan diuji penguasaannya. Setelah hasil tes dianalisis, juga musti ada tindaklanjut untuk memperbaiki miskonsepsi tersebut. Pekerjaan itu mustinya dikuasai dan dilakukan oleh para pendidik. Sedangkan eksperimenter seperti saya hanya bisa memberikan ide dan saran saja.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  11. koecing berkata,

    Maret 9, 2007 pada 2:02 pm

    wah.. artikelnya banyak ttg xperimen2 yah.. jadi inget waktu kecil dulu. cita2 mau jd ilmuan… tau2nya malah banting stir gini… :D

    btw artikelnya banyak yang menarik ya… oya, dengan kata lain klo mau pompa itu jalan, harus bisa menghasilkan energi yang lebih besar dari energi potensial kan ya? jadi harus eh, butuh energi yang amat sangat besar kan ya?… secara semua benda di dunia sll dipengaruhi ma grafitasi. jadi ini mksud melawan hukum alam ya? brusaha melawan grvitasi. padahal untuk nerbangin roket aja butuh tenaga yang amat sanagat besar.

    hihihi… brusaha memanusiakan bahasa ilmiah.. benr g’mas? berhubung udah lama nih g’bersentuhan ma yang namanya fisika. jadi rada lemot… maaf ya.. ^_^

  12. Paijo berkata,

    Maret 9, 2007 pada 2:20 pm

    @ Koecing
    Terimakasih neng, telah mampir ke blog saya. Blog saya memang hanya berisi dua hal saja, yang berkaitan dengan eksperimen dan humor. Bukan hanya karena mau tampil beda, tapi itulah hobi saya disamping hobi hobi yang lain. Soal bahasa, itu tidak jadi soal karena ini kan forum bebas bukan seminar. Bahasa saya juga amburadul tapi pede aja karena saya bukan pakar dan bukan akedemisi. Saya hanyalah seorang eksperimenter bonek yang suka berdiskusi tentang apa saja.
    Lho, salamnya Koecing mestinya meong atau miau supaya khas dan gampang dikenali. Contohnya saya yang selalu menggunakan salam eksperimen.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  13. michael berkata,

    Maret 9, 2007 pada 4:48 pm

    terimakasih sama kang paijo, yang mau bagi ilmu sama experimenter kroco kaya saya. bagi saya eksperiment hanya sarana, yang terpenting adalah ilmu apa yang bisa didapat.

    kalau boleh, saya mau nanya lagi ( so’alnya dapat mandat disuruh nuntut ilmu walau sampai ke negri cina, sayang gak banyak duit, jadi ga’bisa kemana-mana, he..he.he..), seperti yang kita ketahui bersama, energi / gaya gravitasi merupakan (kalau boleh saya bilang) energi yang menarik zat apapun menuju inti bumi, baik padat, cair, maupun gas. dari tiga jenis utama zat ini memiliki struktur dan massa-jenis yang berbeda-beda, ini pula yang menyebabkan terjadinya lapisan lapisan pada zat yang ada di bumi, baik pada gas, zat cair, maupun pada zat (benda) padat, dimana zat dengan masa atom paling besar akan menduduki posisi terbawah secara natural. seperti pada udara yang merupakan gas, terdiri dari tujuh lapisan yang akrab disebut atmosfir, pada tanah juga terdiri dari banyak lapisan yang akrab disebut kerak bumi, dan seterusnya

    pada rancangan diatas, bila di asumsikan bagian 1,2,3, di buang, bagian 4,5, diisi air sebanyak 200 liter, namun masih menyisakan ruang yang terisi udara yang jumlahnya setara dengan volume 10 liter air, kemudian ditutup kembali rapat-rapat. nah, yang saya mau tanyakan, apa yang terjadi bila kran dibuka, apakah air sama sekali tidak keluar, keluar dalam jumlah tertentu, atau air akan terus keluar sampai habis, dan minta di jelaskan itung-itungannya kang.

    terimakasih buat kang paijo.

  14. Paijo berkata,

    Maret 13, 2007 pada 3:30 pm

    @ Michael
    Jika bagian 1-3 dibuang dan bagian 4-5 diisi air kemudian bagian atasnya ditutup rapat maka maka akan keluar air sedikit ( bisa beberapa puluh liter tergantung h2 ) dan akan berhenti setelah terjadi kesetimbangan tekanan. Jika tidak digunakan leher angsa ( langsung pipa lurus ), maka air akan keluar sampai habis dan akan digantikan oleh udara yang akan masuk melalui pipa yang sama jika ukuran pipa cukup besar. Jika diameter pipa cukup kecil, maka air tetap akan keluar tapi tidak sampai habis. Air akan berhenti keluar setelah tercapai kesetimbangan tekanan.
    Tentang hitung-hitungannya, bisa agak rumit kalau ingin menghitung ketinggian kolom air yang tersisa setelah keadaan setimbang. Supaya real betul, musti anda tentukan dulu berapa h2, diameter drum, panjang drum, dan diameter pipa. Kalau itu sudah lengkap, saya bisa kasih hitung-hitungannya.
    Pada keadaan setimbang, tekanan udara dalam drum ditambah tekanan hidrostatik air di leher angsa sama dengan tekanan udara luar ( tekanan atmosfer ). Dari situ, dapat disusun persamaan dengan hs ( tinggi kolom air dalam keadaan setimbang ) sebagai variabel bebasnya. Dengan menyelesaikan persamaan tersebut, maka nilai hs dalam keadaan setimbang dapat ditentukan.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  15. Kang Adhi berkata,

    Maret 13, 2007 pada 9:04 pm

    Kang coba buat galeri hasil eksperimennya dunk!

  16. Paijo berkata,

    Maret 14, 2007 pada 10:09 am

    @ Kang Adhi
    Galeri hasil eksperimen, ide bagus sekali kang. Untung ada Kang Adhi, karena selama ini hal itu tidak pernah terpikirkan sama sekali. Akibatnya banyak prototype yang terlanjur dibongkar dan didaur ulang karena tidak ada lagi tempat untuk menyimpan. Yang tersisa sekarang ini mungkin tidak sampai sepertiganya. Jika di pajang seperti stand pameran atau museum, mungkin memerlukan ruangan sekitar 200-300 meter persegi. Tiap tahun koleksi juga terus bertambah sekitar 2-5 macam. Seandainya ada lembaga atau sponsor atau donatur yang bisa membantu menyediakan tempat dan dana eskperimen, pasti cepat terwujud.
    Rencana eskperimen untuk beberapa tahun kedepan sudah banyak sekali. Yang paling besar adalah KOLEKTOR SINAR MATAHARI SISTIM CLUSTER ( 20 kw ) yang scalable ( bisa dibuat dalam skala besar ) . Desainnya tidak menggunakan sistim cermin parabola karena cermin parabola tidak feasible secara teknis maupun ekonomis jika dibuat dalam skala besar. Dilengkapi dengan automatic sun tracker mekanik geoaxis yang dipercanggih dengan sensor-sensor untuk autocorection. Didesain untuk multifungsi, memasak di dapur ( indoor ), memompa air, memanaskan air, dan menggerakkan generator listrik. Saya perkirakan memerlukan waktu 3-4 tahun untuk menyelesaikan prototype yang memerlukan lahan 6 x 6 meter di atas atap rumah tersebut. Kalau prototype yang ini kang, tidak bisa dipajang di galeri kecuali replika jam panggungnya yang merupakan mesin penggerak utama suntracker mekanik dan sebagain dari cluster-nya atau sistim pengatur sudutnya.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  17. shella berkata,

    Maret 14, 2007 pada 11:48 am

    oom paijo… tks… (kayaknya lebih match kalau “lek paijo”… ;)
    iya neh aku lagi nyoba2 bin eksperimen… hik hik….
    kayaknya daddy dulu juga pernah nyoba bikin pompa yang kayak gitu, tapi yahhh gagal maning… gagal maning….
    apa oom sudah berhasil buat…? (he he he… lumayan kan buat materi presentasi di skul…..)
    tengkiyu ya oommm….
    (btw, kenapa cuman bawa lumpurnya sebotol sih…? coba kalo dibawa semua pasti SDA aman tentram gak ada ekspresi kekesalan….)

    attn:… pls jangan posting koment ini….. nggak bermutu !!!

  18. shella berkata,

    Maret 14, 2007 pada 11:58 am

    jadi penasaran pengen nambah nih… oom paijo bilang; “Untuk memindahkan suatu benda ke tempat yang lebih tinggi, diperlukan usaha yang besarnya sama dengan perubahan energi potensial mekanik benda tersebut. Jadi untuk memindahkan air dari sumur ke permukaan tanah yang lebih tinggi diperlukan usaha, berarti diperlukan energi dari luar sistem. Jadi Pompa Air Tenaga Gravitasi seperti pada gambar tidak mungkin bisa bekerja karena tidak ada masukan energi dari luar sistem”

    aku berpikir: ==gimana kalo untuk starternya pake energi dari luar sistem, setelah pompa jalan, biarkan hukum kekekalan energi nya yang jalan== gimana hayo…?

    taat hanya kalo ada yang liat
    tanya-ken apa?

  19. adi berkata,

    Maret 14, 2007 pada 5:47 pm

    mas paijo bagaimana kalau sistem pompa grafitasi masih belum berhasil setidaknya buat percobaan dengan mengefisienkan daya pompa: misal: prototype yang mas paijo buat di sedot dengan pompa kecil ( 125 watt ) dengan kedalaman permukaan air 24 meter . aku sih belum coba karena ngak ada materialnya tapi kalau berhasil dan ketemu itung-itunganya khan lumayan bisa merubah dari pompa jet pump menjadi pompa biasa sehingga dayanya tidak terlalu besar ” Putut di coba mas kalau berhasil tolong kasih tahu saya, akan saya coba dirumah. karena aku dirumah harus pakai pompa jet pump 500 watt (ampun mas listriknya gede banget ) thanks kalau mas mau coba.

    salam

  20. Evy berkata,

    Maret 15, 2007 pada 7:46 am

    Paijo, iku angel ga nggawene? bikin experiment yg simple dunk, anak2ku suka experiment, so biar bisa ngikutin lengkap dg gambare yo lik…suwun

  21. Paijo berkata,

    Maret 15, 2007 pada 8:54 am

    @ shella
    Bisa mendapat LUSI ( Lumput Sidoarjo ) sebotol saja sudah untung neng, itupun berkat bantuan teman kantor yang lagi cuti ke daerah asalnya ( Porong ). Untuk mengatasi LUSI, kalau menurut saya sih manfaatkan dulu energi panasnya untuk membangkitkan listrik. Kalau melihat kepulan uapnya, mungkin bisa menghasilkan beberapa megawatt. Listrik yang dihasilkan bisa untuk mensuplai pabrik yang mengolah LUSI menjadi blok beton ( bahan bangunan ). Blok beton yang bentuknya seperti lego-lego mainan anak-anak dalam ukuran besar yang sudah populer di negara-negara maju. Bisa juga untuk batako. Asal kualitasnya bagus dan harganya bersaing, pasti laku karena di daerah pasca gempa seperti Bantul sedang membutuhkan bahan bangunan dalam jumlah sangat besar.
    Artikel saya diatas ( bagian 1 maupun bagian 2 ), menjelaskan bahwa pompa air tenaga gravitasi tersebut tidak mungkin bisa bekerja termasuk jika digunakan starter sekalipun.

    @ Adi
    Pompa air tenaga gravitasi di atas hanyalah sebagian dari mimpi-mimpi di siang bolong dari beberapa eksperimenter. Jadi tidak mungkin bisa bekerja, dan juga tidak mungkin untuk meningkatkan efisiensi jetpump. Jadi, saya sarankan untuk tidak mencobanya karena hanya akan membuang-buang uang saja. Saya termasuk eksperimenter yang skeptis dengan pompa tersebut. Kalau saya membuat prototypenya, itu untuk membuktikan pada eksperimenter lain bahwa pompa tersebut tidak mungkin bisa bekerja, bukan sebaliknya.

    @ Evy
    Soal nggawene gampang bu. Tapi tidak akan mungkin bisa bekerja karena melawan hukum alam. Kalau anak sampean suka eksperimen, itu bagus sekali untuk perkembangan diri maupun perkembangan intelektualnya. Hal itu perlu didukung dengan mainan, buku, informasi, dan juga dana. Jika eksperimen gagal, beri dukungan moril agar tidak putus asa dan beri bantuan untuk menemukan sebab kegagalan sehingga bisa memperbaikinya. Eksperimen yang gagal total sekalipun tetap menghasilkan pengetahuan dan pemahaman baru bagi pelakunya yang nilai sepadan dengan pengorbanannya. Itu yang perlu ditanamkan sejak dini kepada eksperimenter muda.
    Tentang kebanyakan eksperimen saya, sebagaian besar memang bukan untuk pemula. Saya akan coba tulis artikel untuk level pemula agar anak sampean bisa mencobanya. Supaya bisa pas betul, saya perlu informasi anak sampean usianya berapa, sekolahnya apa dan kelas berapa, laki-laki atau perempuan, ketrampilan khsusus yang sudah dimiliki apa. Saya usahakan untuk dilengkapi gambar. Namun harus sabar karena sampai bulan Mei saya sedang membina anak-anak SMA yang sedang membuat prototype alat untuk babak final LCEN ITS. Hal itu cukup menyita waktu saya karena dilakukan setiap hari sepulang kantor ( jam 15.00 - 22.00 ). Jika hari libur, mulainya sejak pagi jam 08.00. Karena itu, untuk sementara ini saya tidak melakukan eksperimen dulu.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  22. Dee berkata,

    Maret 16, 2007 pada 11:19 am

    Di kampung saya asli ada pompa air tenaga gravitasi kang. Namanya senggot. Sebatang bambu yang diberi penumpu di tengahnya. Satu ujungnya diberi beban, sementara ujung yang lainnya dimasukkan ke sumur dan diberi ember. Cara pakenya gampang, tarik saja ujung yang ada embernya ke dalam sumur, kemudian setelah berisi air, dilepas. Gaya gravitasi akan menarik beban turun, dan ember terangkat ke atas. Yang penting ada gaya gravitasinya, sambil dikombinasikan dengan gaya gratisnasi atau gaya gratis-asi.
    Kalau yang di atas, sebagai makhluk berakal saya sepakat 100% sama Kang Paijo, lebih banyak kepentingan lain di luar permasalahan teknologinya

  23. adi berkata,

    Maret 16, 2007 pada 5:47 pm

    mas paijo, kalau memang eksperiment pompa gravitasi gagal ya..udah sekarang kita pikirin bagaimana caranya cari sumber air yang keluar sendiri sehingga ngak usah susah-susah bikin pompa tampa listrik. Yang jelas yang sudah berhasil mencari sumber air keluar sendiri yaitu Lapindo Branstas. Kita harus tanyakan kepada mereka tapi sayang mereka berhasil menemukan cari sumber air keluar sendiri tapi gagal cara nutup . Mungkin temen-temen ada yang mau bantuin teknik nutup air +lumpur keluar sendiri.

  24. Paijo berkata,

    Maret 20, 2007 pada 9:43 am

    @ Dee
    Tenaga gratisnasi, he he he, lucu juga.

    @ Adi
    Gagalnya eksperimen pompa tenaga gravitasi tersebut di atas, ternyata berbuntut panjang hingga sekarang. Hal itu dikarenakan adanya beberapa eksperementer yang tetap ngotot walaupun telah ditunjukkan berbagai analisis yang membuktikan bahwa pompa tersebut tidak mungkin dapat bekerja. Sedangkan eksperimen saya tentang pompa tersebut sukses karena tujuan eksperimen saya adalah untuk membuktikan bahwa pompa tersebut tidak mungkin bisa bekerja. dan terbukti benar.
    Saya setuju dengan usulan anda untuk mencari sumber air yang bisa keluar sendiri seperti artesis, tapi bukan kayak LUSI ( lumpur sidoarjo ). Terimakasih dan salam eksperimen.

  25. michael berkata,

    Maret 20, 2007 pada 10:52 pm

    hallo kang Paijo …

    mau nanya lagi nih kang, dari uraian kang paijo dari seri satu - seri dua, saya lihat penekanan lebih pada teori “siphoning”, dimana selisih h1 dan h2 adalah harga mati yang dijadikan patokan, berat air tidak perlu di permasalahkan karena tanpa diperhitungkanpun pasti akan selisih bila h1 dan h2 selisih. itu disebabkan penggunaan diameter pipa yang sama.

    yang mau saya tanyakan, apa yang akan terjadi bila pipa “siphon” kita manipulasi sebagai berikut :
    h1 = 1m
    h2 = 2m
    di asumsikan pipa naik adalah pipa A
    pipa mendatar adalah pipa B
    pipa menurun adalah pipa C
    kondisi standar, pipa A-B-C memiliki diameter sama, kemudian kita manipulasi dalam dua kondisi
    kondisi satu
    pipa A berdiameter 20cm
    pipa B-C berdiameter 1cm
    kondisi dua
    pipa A berdiameter 1cm
    pipa B-C berdiameter 20cm

    apa yang akan terjadi pada kondisi satu dan dua, setelah kita menghisap terlebih dahulu ujung pipa c hingga mengeluarkan air, apakah “siphoning” bisa berjalan ? dan kesimpulan apa yang bisa diambil ?

    terimakasih kang paijo …

  26. andreas wahyuno / uno berkata,

    Maret 22, 2007 pada 1:40 pm

    mau memperpanjang nih …

    gimana kalau kita pergunakan pipa2 kapiler untuk mengisi drum, karena dlm keadaan normal permukaan air di dlm pipa kapiler akan lebih tinggi dari permukaan air di kiri dan kanannya, dan kalau tidak salah di daerah probolinggo jawa timur ada sebuah danau yang mempunyai pompa air dengan menggunakan tenaga gravitasi, secara physic ada dua pipa diameter -/+ 12 inci dan ditengah (antara ujung2 pipa terdapat box pompa) yang selalu terdengar bunyi dug2 pada peride tertentu seperti tenaga yang terjadi untuk menaikan/memompa air tersebut ke atas.

  27. eric berkata,

    Maret 22, 2007 pada 3:42 pm

    pompa air tenaga gravitasi sudah saya coba rakit sendiri, setelah tangki sudah menjadi vakum air memang tidak keluar, sedang ketinggian dari permukaan tanah hanya 3 m.

  28. mus berkata,

    Maret 22, 2007 pada 4:13 pm

    tolong rinci lebih detail mengenai pompa air pada artikel bapak Paijo . terima kasih sebelumnya.

  29. Paijo berkata,

    Maret 22, 2007 pada 9:35 pm

    @ Michael
    Tekanan hidrostatik tidak tergantung pada diameter pipa maupun gaya berat seluruh air dalam pipa sehingga memang hanya h1 dan h2 yang berpengaruh.
    Jika ujung pipa C diisap dulu untuk memulai siklus, maka begitu pengisapan dihentikan air masih akan mengalir untuk beberapa saat kemudian berhenti juga. Air berhenti mengalir ketika telah tercapai keseimbangan tekanan yang baru atau jika air dalam pipa dan reservoir telah habis digantikan oleh udara. Kesimpulannya tetap sama, pompa tersebut hanya mimpi di siang bolong.

    @ Andreas Wahyuno
    Btw … ada teman kuliah saya di Yogya dulu ( tidak terlalu dekat ) yang namanya sama dengan nama belakang anda ( Wahyuno ). Tidak banyak yang saya ingat, kalau tidak salah angkatan 88, tapi yang ingat pasti dia anggota Menwa.
    Kalau gaya kapiler, justru bisa menaikkan air seperti yang anda katakan tapi masih belum ditemukan cara untuk memanfaatkan dalam skala besar.
    Pompa yang bunyi dug-dug tersebut namanya POMPA HIDRAM ( Hidraulik Ram ), yang menaikkan air menggunakan tenaga luncuran air dalam pipa. Hanya sebagian kecil air yang akan naik dan sebagain besar lainnya “terbuang” melalui klep pembuangan. Sebagian besar tenaga yang digunakan diperoleh dari energi kinetik air yang “terbuang” tersebut.
    Jadi pompa yang anda maksud bukan jenis Pompa Air Tenaga Gravitasi yang saya bahas dalam artikel saya di atas. Untuk menghindari kerancuan, mungkin perlu saya jelaskan bahwa tidak semua yang memanfaatkan tenaga gravitasi lantas diberi embel-embel “tenaga gravitasi” di belakang namanya. Sebagai contoh, PLTA tidak ada embel-embel gravitasi padahal air bisa menggerakkan turbin karena adanya gravitasi.

    @ Eric
    Terimakasih anda telah berbagi pengalaman nyata. Benar seperti yang anda sampaikan, air akan mengalir untuk beberpa saat tapi akan berhenti setelah tercapai keseimbangan tekanan yang baru. Istilah vakum yang anda gunakan kurang tepat karena jika h1 kurang dari 10,34 meter maka tidak akan tercipta ruang hampa ( vakum ) di bagian atas.

    @ Mus
    Anda bisa lihat detail analisisnya pada gambar ( dapat didownload supaya jelas )

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  30. michael berkata,

    Maret 23, 2007 pada 12:41 pm

    @ kang paijo..

    wah maaf nih kang, pada pertanyaan diatas saya gabisa menyertakan gambarnya.

    yang saya tanyakan diatas bukan masalah pompa gravitasi dengan gambar diatas, tapi tentang water siphoning yang gambarnya seperti pada link http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/8/86/Syphoning2.jpg/250px-Syphoning2.jpg
    yang merupakan kosef dasar percobaan pompa gravitasi, apakah system water siphoning ini bisa bekerja bila variabel dari system diganti seperti pada perinsif dasar pertanyaan saya ?, dan minta analisanya kang…

    terimakasih.

  31. Ali berkata,

    Maret 24, 2007 pada 12:26 am

    pak paijo,
    saya baru tahu kalo pak paijo punya blog yang dijadikan forum sebagus ini. saya ali yang pernah nulis POMPA AIR GRAFITASI di FORUM ENERGI.
    to the point
    menurut saya tentang apa yang dimunculkan bapak di atas bisa saja terwujud. singkatnya dengan menggunakan prinsip keseimbaangan. dengan memanfaatkan sistem hidloulik yang ditarik oleh beratnya air sehingga dapat menyedot air ke atas. ketika penyedotan air yang di atas dan yang di bawah disekat.
    bisa dipahami nggak

  32. Paijo berkata,

    Maret 26, 2007 pada 10:12 am

    @ Michael
    Saya minta maaf kalau jawaban pertama saya di atas tidak sesuai dengan pertanyaan anda. Jika yang anda maksud adalah siphoning seperti pada gambar yang anda kirimkan link-nya, maka siphoning akan tetap berlangsung meskipun pipa di sebelah kiri diperbesar ukurannya. Hal itu terjadi karena diameter pipa tidak berpengaruh terhadap tekanan hidrostatik. Hanya ketinggian vertikal kolom air saja yang berpengaruh. Jadi jangan terkecoh dengan perbedaan gaya berat total air dalam pipa.

    @ Ali
    Selamat bergabung dengan forum ini, saya sudah lama berikan URL blog ini di forum diskusi kita di LIPI. Tapi sayang sekarang forum tersebut rusak berantakan akibat ulah para spamer.
    Mungkin bagus jika anda sempat mencoba mempraktekkan percobaan seperti pada gambar yang linknya diberikan oleh sdr Michael di atas. Dari situ akan jelas betul bahwa pompa seperti gambar saya di atas tidak mungkin untuk diwujudkan.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  33. michael berkata,

    Maret 26, 2007 pada 3:14 pm

    @ Paijo

    pak, itu berdasarkan teori apa eksperiment pak, kalau menurut uji lab yang saya lakukan, ketika data dan sarana di manipulasi sesuai variable yang saya cantumkan, proses water siphoning akan tidak bekerja dengan gejala sebagai berikut :
    kondisi satu ===>
    ketika ujung C dihisab dan air sudah mencapai titik tersebut, air akan kembali seluruhnya ke A dan air kembali pada posisi seperti sebelum dihisab.
    kondisi dua ===>
    lebih fatal dari uji coba satu, saat ujung C dihisap, air akan langsung meluncur ke penghisab tanpa sempat memampatkan ruang pipa, sepelan apapun kita menghisap, air akan tetap meluncur dengan kecepatan penuh (8-10km/jam) ketika melewati ujung pertemuan pipa hurizontal B dan pipa vertikal C

    dari kondisi satu bisa dilihat bahwa berat air juga berpengaruh, dan dari kondisi dua bisa dilihat bahwa yang bekerja dalam sistem ini adalah tekanan yang dihasilkan dari pemampatan ruang oleh air yang menghasilkan tekanan

    saya rasa itu garisbesarnya, dan kalau mau di definisikan lebih rinci, mungkin akan membutuhkan beberapa halaman analisa.

  34. yudhi berkata,

    Maret 26, 2007 pada 6:44 pm

    mas paijo aku mo minta tolong neh….tau nggak stus yang bagus tentang
    tata cara perawatan sistem bahan bakar turbin uap…klau dapat yang jurnalnya yah…..thanks sebelumnya…..

  35. haidar aliy berkata,

    April 24, 2007 pada 1:10 pm

    salam sukses..luarrr biasaaa

    mas,tolong bantu saya.saya mau buat pompa air otomatis.jika ada air yang mengalir maka sensor akan memberi sinyal untuk menggerakkan motor pompa.dan jika air yang ada di penampungan air sdh penuh, maka motor pompa berhenti.selain itu, untuk mengamankan motor akibat debit air yg tdk stabil(tersendat2) maka saya pasang timer 5 menit dan sensor suhu apabila suhu motor meningkat.dan jg hal ini untuk membantu pemerintah menghemat energi listrik.tolong mas kirim saya gambar rangkaiannya dan cara kerja sensor secara interconnection..serta program mikrokontrollernya….trima kasih mas paijo.saya tgg jawabannya serta emailnya..salam sukses…luarrr biasa….

  36. Teddy Ardiansyah berkata,

    Mei 2, 2007 pada 2:26 pm

    Justru yang masuk akal adalah pompa air tenaga panas/tekan bumi. Seperti gletser yang ada di taman nasional yellowsmith amerika, atau pompa lumpur tenaga lapindo yang ada di porong sidoarjo.

  37. Jan Haurissa berkata,

    Mei 3, 2007 pada 10:26 pm

    Salam kenal,Mas Paijo, nama saya Jan haurissa, saya juga sedang membuat pompa air dengan bantuan grafitasi bumi, dengan melihat disain paijo, sebagai referensi bagi saya, cuman disain saya berbeda dengan punya paijo, saya masih experiment namun belum sempurna, nanti kalau sudah sukses baru saya tunjukan.

    Salam
    Jan Haurissa

    Jayapura.- Papua

  38. lonk berkata,

    Mei 4, 2007 pada 7:09 pm

    haloo…pa..?
    saya pelajar dan saya sudah lihat yang pak tulis din atas tapi kok gak ada gambar2 yang adanya xpriment nya..?
    saya pingin tau gimna .cara sistim kerja pompa tersebut..!!

  39. tenade hikaru tsunade a berkata,

    Mei 4, 2007 pada 7:14 pm

    pak kok ga ada gambar-gambar experimen nya
    saya..pingin tau pak bagai mna terjadinya
    pompa tersebut.pasang gambarnya jdi bsa tau saya

  40. Jan Haurissa berkata,

    Mei 5, 2007 pada 4:48 pm

    Tunggu saja yach dek, pasti saya tunjukan gambar experimennya doakan biar experiment saya berhasil. kalau bisa pakai nama asli jangan pakai nama samaran. Karena kita bicara tentang ilmu, harus yang benar. Supaya semua bisa berjalan dengan baik. OK,

  41. Uci Stp berkata,

    Juni 19, 2007 pada 10:27 pm

    salam eksperimen mas Paijo, saya pernah denar dari seorang tukang pompa belasan tahun yang lalu tentang ide pompa tersebut. dia bilang pernah merakit beberapa, mudah2han orangnya masih hidup, saya akan tanayakan lagi tengtang kebenaranya, terimakasih. :)

  42. d''googling berkata,

    Juni 20, 2007 pada 11:40 am

    slam eksperimen mas paijo??sya pikir eksperimenya bagus tapi kalau hanya sekedar teori saja kan tidak ada gunanya.Harus ada realisasinya dong….?kan lebih asyik. lagi pula benar-benar dapat di buktikan….?

  43. dencitro berkata,

    Juli 13, 2007 pada 3:42 pm

    Ketua Bappenas Kagum Perkembangan Gorontalo
    Jumat, 07 April 2006
    Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional RI DR Paska Suzeta selama dua hari 4-5 April 2006 berada di Gorontalo mengaku kagum dengan perkembangan Gorontalo yang begitu cepat dan penuh dengan berbagai inovasi. Gorontalo kata Paska yang juga Ketua Bappenas itu sudah begitu popular di seantero nusantara, itu karena daerah ini fokus mengembangkan satu komoditi pertanian dengan komoditi unggulannya jagung. Jagung Gorontalo sudah sangat dikenal diseantero Nuasantara,? ungkapnya, dalam berbagai pertemuan dengan masyarakat dan pemerintah daerah.

    Menteri yang datang bersama rombongannya ketika tiba di Gorontalo, disambut upacara adat oleh para pemangku adat Gorontalo, kemudian melanjutkan berbagai kegiatan yang telah diagendakan Pemprov, yakni peninjauan infrastruktur irigasi yakni Pompa Air Tanpa Mesin (PATM) yang berlokasi di kelurahan Hunggaluwa Kecamatan Limboto.
    Di tempat ini Menteri PPN menyaksikan langsung cara kerja pompa yang hanya menggunakan tekanan gravitasi tanpa menggunakan energi listrik.

    Menteri bersama rombongan didampingi Gubernur Fadel Muhammad kemudian menuju kecamatan Telaga meresmikan pemanfaatan Tele Center, dilokasi yang sama menteri melihat dari dekat peragaan dari beberapa pengrajin kerawang beserta hasil kerajinan, serta pemanfaatan telecenter.
    Secara marathon menteri usai beristirahat sejenak di rudis Gubernur, menteri bersama rombongan meninjau instalasi pengolahan air bersih di Kelurahan Botu, Kecamatan Kota Timur Kota Gorontalo, sekaligus meresmikan pemanfaatan instalasi pengolahan air bersih itu.

    Instalasi air bersih yang diresmikan tersebut kapasitasnya bisa melayani kebutuhan sekitar 20 kepala keluarga. instalasi itu tidak hanya diperuntukan untuk mensuplai air bagi kebutuhan perkantoran di Botu,tapi juga untuk masyarakat sekitar.
    Selama hampir 40 menit berada di lokasi tersebut menteri dan rombongan kemudian melanghadiri pemaparan mengenai konsep pembangunan kawasan industri terpadu atau yang dikenal dengan KIAT, ditempat itu menteri disamping mendengar pamaparan dari Pamprov mengenai rencanan tersebut, menteri juga memberi arahan menyangkut rencana pembangunan nasional kedepan dan prioritasnya.

    Malamnya menteri menghadiri sekaligus membuka pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda) yang diikuti pemda se Provinsi Gorontalo di gedung serba guna Bele Li Mbui.
    Sebelum kembali Kejakarta Menteri bersama rombongan mengunjungi kawasan pengembangan agropolitan show window Agropolitan di desa Tenilo Kecamatan Limboto Barat Kabupaten Gorontalo.
     
    © 2006 :: Gorontalo ~ Provinsi Agropolitan ::
    Site Engine Using Joomla

    Inserted from

  44. dencitro berkata,

    Juli 13, 2007 pada 3:44 pm

    Rumah Sejuk tanpa AC : Aneka Cara Hemat Energi ala Siswa SMA 1
    roz
    Kenaikan harga bahan bakar (BBM) memotivasi siswa-siswi SMA 1 Sidoarjo berinovasi. Hasil putar otak mereka ternyata berbuah hasil. Anak-anak SMA ini menemukan berbagai alat hemat energi dengan memanfaatkan teori-teori fisika.
    Karya-karya siswa-siswi itu, antara lain, miniatur mesin uap, pemanfaatan aki bekas untuk lampu darurat, rumah dingin tanpa AC, sampai pompa air tanpa listrik. Semua karya itu menjadi salah satu bahan presentasi sekolah tersebut dalam Lomba Sekolah Sehat tingkat Jawa Timur hari ini.
    Menurut Sudarmadji, guru fisika SMA 1, karya-karya ini merupakan temuan siswa dalam praktikum pelajaran fisika. Mereka mencoba menerapkan teori-teori fisika untuk mencari solusi atas mahalnya harga BBM maupun listrik.
    Dia mencontohkan pemanfaatan aki bekas untuk lampu darurat jika terjadi pemadaman listrik. Satu aki bekas sepeda motor yang sudah tidak terpakai bisa digunakan untuk menyalakan lima lampu neon sekaligus. Umumnya rumah-rumah menggunakan satu aki saja untuk satu lampu. Tapi dengan inovasi siswa, aki bekas yang umunya dibuang itu bisa justru sangat bermanfaat.
    Selain aki bekas, mereka juga membuat pembangkit listrik tenaga matahari sederhana dari transistor bekas. Alat yang disebut solar cell ini akan menjadi miniatur cara hemat energi.
    Inovasi lain yang menarik ialah pompa air tanpa listrik. Prinsip pompa air tanpa listrik ini menggunakan teori dasar fisika bahwa air akan mengalir dari tempat yang bertekanan udara tinggi ke tempat yang tekanan udaranya rendah.
    “Pembuatannya sangat sederhana, tapi belum banyak yang memanfaatkan,” tambah Sudarmadji.
    Selain teknologi hemat energi, SMA 1 telah mempersiapkan diri dengan menjalin kerja sama mewujudkan sarana dan prasarana serta rumah sehat di lingkungan sekitar sekolah. Juga ada dokter jaga yang seminggu sekali datang. “Dokter ini alumnus SMA 1 yang siap jadi sukarelawan setiap minggu,” kata Humas SMA 1 Achmad Shodiq.
    Sumber : Jawa Pos (24 November 2005)

    revisi terakhir : 17 April 2006
    Inserted from
    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Created by Fisika LIPI
    Copyright © 2000-2007 LIPI, All Rights Reserved  

  45. dencitro berkata,

    Juli 13, 2007 pada 4:08 pm

    Salam kenal Pak Paijo dan netter (telaaat…), ini sekedar info saja (ke-3), yang ini memainkan grafitasi atau jungkat-jungkit atau apa namanya…???

    Cara Menaikkan Air Sumur Tanpa Pompa
     Oleh : Sartono Staf Media Optik – Bid. Media Pembelajaran

    Kebutuhan air bersih penduduk Jakarta pada umumnya mengandalkan air tanah yaitu dengan cara membuat sumur pantek/bor. Membuat sumur dengan kedalaman 0 – 40 meter relatif lebih murah dan tidak diperlukan izin khusus. Hanya dengan menambah sebuah peralatan yaitu pompa listrik atau pompa tangan, dapat diperoleh sejumlah air untuk keperluan rumah tangganya (Harap periksa dahulu air tersebut ke laboratorium, apakah air telah memenuhi syarat untuk minum/memasak).
    Yang menjadi masalah adalah kalau pompa rusak. Selain membutuhkan waktu untuk memperbaikinya juga harus mengeluarkan biaya. Belum tentu tempat servis pompa letaknya dekat dengan tempat tinggal, apalagi setiap orang belum tentu telah siap dengan pengeluaran biaya ekstra untuk perbaikan pompa tersebut.
    Hal ini pernah dialami oleh penulis pada medio Mei ketika Jakarta dan sekitarnya terjadi kerusuhan yaitu pompa tiba-tiba rusak. Untuk memperbaikinya penulis kesulitan mencari suku tempat servis ataupun cadang. Maklum banyak toko yang dijarah dan semua toko yang lain tutup. Untunglah ada tetangga yang baik hati dengan rela memberi air untuk mandi. Bagaimana seandainya kita berada jauh dari tetangga ?
    Dari pengalaman penulis tersebut, ternyata ada cara menaikkan/menyedot zat cair tanpa menggunakan pompa. Cara ini yang telah lama dipakai oleh tukang jualan minyak tanah zaman dulu yaitu cukup dibutuhkan peralatan yang sederhana antara lain :
     Pralon ½” - 1″ panjang pralon sesuai dalamnya sumber air/sumur.
     Sok drat luar ½” - 1″ dan sok penyambung ½” - 1″
     Solatipe seel
     Klep
     Lem pralon
     Gergaji untuk memotong pralon
     Kunci Inggris/kunci pas besar
    Cara pembuatannya :
     Pasang sok drat pada ujung pralon dengan menggunakan lem pralon.
     Agar sambungannya rapat, lilitkan solatipe seel pada drat secara merata.
     Pasang klep pada sok drat dan putar untuk lebih kencang gunakan kunci Inggris/pas.
     Masukkan pralon dengan posisi klep di bawah ke dalam sumur dan bila pralon belum mencapai air bisa disambung dengan pralon berikutnya.
     Bila semuanya telah selesai tunggu beberapa saat agar lem mengering/sambungan betul-betul kuat.
     Cek apakah klep berfungsi dengan baik atau tidak.
     Masukkan pralon yang telah di pasang klep ke dalam sumur dengan posisi klep di bawah, sampai ke dasar sumur/air.
     Dengan membuat gerakan menaik-turunkan pipa secara berulang-ulang, air makin naik ke pipa dan akhirnya air akan keluar . (perhatikan proses buka tutup klep pada gambar di bawah ini)
    Untuk menguji kebenarannya, kita bisa melakukan percobaan dengan menggunakan bak mandi yang telah kita isi dengan air. Pralon yang diperlukan cukup 2 m – 2,5 m saja dengan ukuran ½”. Klep juga dapat dibuat sendiri dengan cara sederhana/menggunakan klep bekas asalkan tidak bocor. Selamat mencoba !

    Inserted from :

  46. dencitro berkata,

    Juli 13, 2007 pada 4:39 pm

    Nah, yang di Aceh ini pompa tanpa mesin apa? apakah yang sejenis dengan punya Pak Paijo(PATMO)atau penemuan / konsep “mesin” yang diributkan kebenarannya tsb? atau ada jenis lain lagi?

     Jumat, 13 Jul 2007 | 15:38:42 WIB

    • 18/05/2007 09:05 WIB

    Pompanisasi Bantuan Provinsi di Juli tak Berfungsi

    BIREUEN – Proyek bantuan provinsi NAD berupa 20 unit pompa air tanpa mesin di KM 5 Juli Bireuen yang dibangun tahun 2006 lalu hingga sekarang tidak berfungsi maksimal. Masyarakat setempat meminta Bupati Bireuen dan Kimpraswil untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

    Keluhan itu disampaikan M Taher, Keujruen Chik Kemukiman Juli Baroh yang sengaja mengundang Bupati Bireuen dan dinas terkait ke Meunasah Desa Tgk Dipulo, Kamis (17/5). M Thaher menerangkan, pompa air tanpa mesin itu, dibangun pada masa Gubernur Azwar Abubakar.

    Penjaga pintu air, Marzuki mengatakan, salah satu alat di pompa air tanpa mesin yakni penyupai air tidak berfungsi, sehingga daya dorong air ke saluran yang telah dikerjakan tidak maksimal. Selain itu, kata dia, bak penampung air sedikit rendah yang menyebabkan distribusi air tidak maksimal. “Tekanan air dari bak penampung tidak kuat,” katanya ketika menjelaskan penyebab tidak normalnya 20 unit pompa air bantuan untuk mengairi 500 hektar sawah.

    Persoalan tidak berfungsinya pompa air itu sebenarnya telah disuarakan sejak beberapa waktu lalu, baik ke Kimpraswil Bireuen maupun ke pihak lainnya untuk dicari pemecahannya. Bupati Bireuen berjanji akan mengirim surat ke Pimpro proyek tersebut untuk menanyakan penyebab tidak berfungsinya alat dimaksud.(yus)
    Inserted from

  47. Paijo berkata,

    Agustus 2, 2007 pada 9:05 am

    @ Semua
    Sempat terbersit penyesalan di benak saya karena saya terlanjur posting artikel ini. Saya menyesal karena tampaknya banyak pembaca yang memahaminya sepotong-sepotong sesuai kepentingan masing-masing sehingga tidak memahami maknanya secara utuh. Mungkin tidak semua sih, tapi setidaknya hanya ada satu dua pembaca yang dapat menangkap pesan saya dalam posting tersebut di atas. Kalau dibaca dengan cermat termasuk keterangan pada gambar secara mendetail ( gambar dapat didownload ke harddisc ), posting saya sama sekali tidak membahas cara membuat pompa air tenaga gravitasi seperti yang ditangkap oleh sebagaian besar pembaca. Padahal, posting saya di atas justru menguraikan hasil analisis dan bukti ilmiah bahwa pompa air tenaga gravitasi seperti pada gambar tidak mungkin dapat bekerja.

    @ Dencitro
    Pompa air tanpa mesin ada banyak jenisnya. Ada yang menggunakan kincir air atau kincir angin dan ada juga yang menggunakan prinsip water hammer ( pukulan air ). Jenis yang saya sebut terakhir ini biasa disebut pompa Hidram ( Hidraulik Ram ). Sedangkan yang saya analisis pada posting di atas adalah pompa jenis lain lagi yang sempat dipublikasikan pada dekade delapan puluhan. Menurut analisa dan percobaan yang saya lakukan, pompa tersebut tidak akan pernah dapat bekerja seperti yang saya katakan pada posting saya di atas dan posting saya sebelumnya. Sayang sekali bahwa banyak pembaca yang kurang teliti dan mengira saya menguraikan cara pembuatan pompa tersebut.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  48. sam berkata,

    Agustus 15, 2007 pada 10:06 am

    salam kenal mas saya lagi percobaan pompa gravitasi, tapi masih belum bisa bekerja alias gagal. tolong analisakan percobaan saya ini mas.
    h1=3m
    h2=1.75m
    dia. drum=800mm
    tinggi drum=2m
    pipa masuk=2″
    pipa keluar=4″
    pipa keluar posisinya di samping drum dan saya bikin belokan untuk menahan udara masuk lewat pipa keluar.

  49. Paijo berkata,

    Agustus 15, 2007 pada 12:11 pm

    @ Sam
    Percobaan anda tidak akan pernah berhasil. Simak comment saya pada nomor 47. Postingan saya di atas ( POMPA AIR TENAGA GRAVITASI 2 ) maupun postingan sebelumnya ( POMPA AIR TENAGA GRAVITASI ) adalah berisis analisis saya bahwa pompa tersebut tidak pernah akan bisa bekerja seperti yang diharapkan. Terimakasih dan salam eksperimen.

  50. sokran berkata,

    September 8, 2007 pada 5:21 pm

    bagus boss aku atrep praktek lek iso

  51. sokran berkata,

    September 8, 2007 pada 5:23 pm

    jooos siipssss

  52. knie berkata,

    September 20, 2007 pada 12:07 pm

    pak pay ,apa anda pernah melakukan eksperimennya seperti skema gambar??.Masalahnya saya udah praktekkan persis skema ,tapi hasilnya gak sesuai yang kita harapkan.tapi ide dari anda ini saya kembangkan dan saya UTHEK-UTHEK sekarang saya telah menuai hasil.dan pompa air di rumah udh saya LEGO ke temen saya.Terimakasih banyak pa pay untuk Ide briliannya ,coba saya lebih berterimakasih pabila saya dikasih ide bagus lagi,tentang fungsi alat untuk kemaslahatan KamPunG guwee..he…heee

  53. Paijo berkata,

    September 20, 2007 pada 2:22 pm

    @ Sokran
    Silakan dicoba aja.

    @ Knie
    Saya pernah melakukan eksperimen seperti skema di atas dan hasilnya sama seperti yang anda alami yaitu gagal. Makanya saya posting artikel di atas yang menjelaskan secara teoritis mengapa pompa seperti dalam desain di atas gagal. Sayangnya banyak pengunjung yang tidak membacanya dengan teliti dan lengkap sehingga banyak yang mengira bahwa posting tersebut merupakan petunjuk untuk membuat pompa air tenaga gravitasi.
    Btw … saya jadi tertarik dengan hasil uthek-uthek anda yang sudah berhasil. Kalau tidak keberatan, bisa dikirim foto atau gambarnya ke saya melalui e-mail ( mr_paijo_paidin@yahoo.co.id ) agar dapat dipublikasikan.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  54. nuri berkata,

    September 28, 2007 pada 11:19 am

    met pagi…
    artikelnya tentang eksperimen semuanya ya??
    bisa gak saya minta cariin ide untuk membuat proposal penelitian fisika murni.Saya lagi bingung judulnya apa dan masalahnya apa?kalo bisa yang sederhana aja dan mudah dipahami aja Makasih

  55. Paijo berkata,

    September 28, 2007 pada 1:10 pm

    @ Nuri
    Artikel saya sebagian besar memang berupa eksperimen, sisanya berupa humor. Kalau ide untuk penelitian fisika murni, kayaknya sekarang ini belum ada, tapi kalau fisika terapan mungkan saya bisa carikan beberapa. Maklum, background saya bukan fisika dan bukan juga teknik tapi matematika. Terimakasih dan salam eksperimen.

  56. Guh berkata,

    September 28, 2007 pada 2:48 pm

    Parah banget pak, orang banyak yang males baca, akhirnya ga ngerti kalo tulisan bapak itu untuk menunjukkan bahwa pompa ajaib itu tak mungkin berhasil. Gimana kalo di update aja pak, di bagian atas dikasih sedikit peringatan seperti :

    “Tulisan ini untuk membuktikan bahwa pompa gravitasi TIDAK MUNGKIN bisa berhasil.”

    Diwarnai merah biar kelihatan. Btw, gambarnya mana sih pak?

  57. nuri berkata,

    Oktober 1, 2007 pada 11:02 am

    ga papa mas,fisika terapan jg boleh..
    ditunggu ya..

  58. Paijo berkata,

    Oktober 4, 2007 pada 4:06 pm

    @ Guh
    Saran yang bagus, saya akan lakukan segera.

    @ Nuri
    Ini ide saya aja, gak tahu nyambung atau kagak ya.
    1. Kalau ayam merasa nyaman dengan penerangan berwarna merah, makanya produksi telur akan meningkat jika kandang diberi lampu merah dan kalau perlu ayamnya diberi lensa kontak berwarna merah. Hal itu sudah ada yang meneliti dan hasilnya terbukti. Dari situ saya punya ide untuk meneliti spektrum cahaya yang paling disukai oleh sapi ( sapi perah ) supaya senantiasa merasa nyaman dan produksi susunya meningkat. Kemungkinan juga dapat dicoba pada sapi potong supaya tidak stress dan cepat besar / gemuk. Dugaan sementara, sapi menyukai spektrum cahaya sekitar warna hijau sampai biru. Waktu kecil, saya pernah iseng membuat kacamata dari plastik warna hijau untuk sapi. Ternyata nafsu makannya meningkat, biar jerami kering yang dicampur air+urea dia sikat habis karena kelihatan segar berwarna hijau.

    2. Ada fenomena pada penetasan telur yaitu telur yang lebih bulat ternyata lebih tinggi prosentase menetasnya. Padahal dengan volume yang sama, telur yang lebih lonjong justru memiliki luas permukaan yang lebih besar dibandingkan telur yang lebih bulat. Itu berarti telur yang lebih lonjong akan menerima kalor dari pengeram ( mesin tetas atau induk ayam ) lebih banyak atau lebih cepat dibandingkan telur yang lebih bulat. Dengan demikian, kita mengharapkan telur yang lebih lonjong seharusnya memiliki prosentase menetas yang lebih tinggi. Tapi ternyata fakta di lapangan sepertinya justru kebalikannya. Itulah yang menarik untuk diteliti yaitu hubungan antara tingkat kelonjongan telur dengan prosentase menetasnya.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  59. agus berkata,

    Oktober 5, 2007 pada 2:22 pm

    Salam kenal.
    Saya pernah mencoba. pompa gravitasi yang seperti gambar kan paijo, dan seperti banyakdi bicarakan hasinya gagal. tapi jujur saja dalam hati kecil saya masih meyakini itu dapat berhasil teknik teknik tertentu. dan harapan saya itu semua bisa berhasil. Tentunya tugas para ekperimenter lah yang harus mewujudkannya. Kalaukita berkata tidak bisa pasti hasilnya tidak bisa. tapi kalo kita bicara bisa, setidaknya kita akan terus berfikir dengan segala kemungkinan yang ada. Buat kang paijo, saya yakin anda sangat mumpuni di bidang ini, semestinya anda dengan kemampuan yang anda miliki mencari kemungkinan kemungkinan lain agar harapan saya tadi terwujud. Tidak malah membuat patah semangat bagi pada experimental pompa gravitasi ini. Tetaplah mencoba, karena itu adalah harapan.

  60. dhianz berkata,

    Oktober 11, 2007 pada 11:01 am

    saya butuh perhitungan detailnya cz saya mengambil skripsi tentang pompa ini . . . tolong di kirim langsung k e-mail saya. trims paijo
    yang saya butuhkan :
    - teori
    - perhitungan
    - kejelasan lebih lanjut mengenai pompa tersebut

    tolong di kirim langsung k email saya…..

  61. SONY berkata,

    Oktober 11, 2007 pada 10:46 pm

    Paijo yang baik..maaf kalau penjelasan tentang Pound yang di konversikan menjadi kilogram bagaimana?

  62. min berkata,

    Oktober 16, 2007 pada 10:32 am

    Mas Paijo, biar gak salah paham, ganti judulnya, jangan “pompa air tenaga gravitasi”, coba jadi “pompa air tenaga gravitasi tak akan berhasil”
    gettooooo…
    Btw, gambar stx-2 nya mana, ato plg gak, itu alat buat apaan, prinsip kerja gimana..

  63. Jan Haurissa berkata,

    Oktober 16, 2007 pada 10:47 am

    Mas Paijo,
    saya butuh perhitungan tentang pompa yang sudah mas paijo buat. . . tolong yach di kirim langsung k e-mail saya. trims paijo
    yang saya butuhkan :
    - teori
    - perhitungan
    - kejelasan lebih lanjut mengenai pompa tersebut

    tolong di kirim langsung k email saya…..

  64. pa'Ben berkata,

    Oktober 23, 2007 pada 12:40 am

    Salam kenal Mas Paijo,
    lama sebelum saya baca blog ini saya sudah pernah tau pompa ini,dan saya pernah lihat orang merancang dan berhasil,(waktu saya lihat di daerah bandung).Kira2 itu tahun 1989 an.Dan pada waktu dekat ini ada juga terdengar kabar bahwa di daerah jawa tengah,(tepatnya purbalingga) ada 1 area pertanian menggunakan sistim pompa tersebut.Bahkan kabarnya mereka membuat dari cor2an.
    Lalu dalam waktu belakangan ini saya pernah mencoba ( PRAKTEK).Dengan drum kapasitas 100 liter.Pipa sedotnya 1/2″ dan pipa keluarnya 1″ (lengkap dengan leher angsanya),cuma tidak di ukur berapa jarak air yg mau di sedot dan berapa panjang pipa keluarnya.
    Tapi saya belum putus harapan.Saya yakin ini bisa berhasil.Dikarenakan saya tidak memahami fisika,saya punya sebercik harapan kalau2 aja ada yg pintar mau berbagi ilmu dan mengajari saya.
    Kalau saja ada yg mau berbagi,harap saya di e mail.
    Makasih mas Paijo
    Salam ekperimen.

  65. POMPA AIR TENAGA GRAVITASI « PAIJO berkata,

    Oktober 23, 2007 pada 10:05 am

    [...] … bersambung ke bagian 2 [...]

  66. engkuk berkata,

    Oktober 28, 2007 pada 12:05 am

    salam eksperimen
    HIDUP SANYO, RAJANYA POMPA AIR

    PEACE

  67. ardy berkata,

    Nopember 2, 2007 pada 2:49 pm

    salam pak paijo aku jadi penasaran klo membaca artikel2 bapak. pak paijo ini sebenarnya seorang eksperimenter,guru,atau seorang dosen

  68. masboy berkata,

    Nopember 6, 2007 pada 1:24 am

    bagus Kang.. kalo pake dua tabung gimana? saya pernah juga nyoba, pake dua tabung. katakanlah botol A dan B, dan masing2 hrs vakum, tanpa ada kebocoran sama sekali, waktu ntu saya pake botol bekas bimoli (he2 bekas nyokap). di Dasar botol A dihubungkan dengan selang ke bak yang saya anggap sbg sumur, botol A dan B dihubungkan dengan selang kira2 10cm, dibagian atas botol saya hubungkan dengan selang ke bak. air dapat naik lho Kang, belum sempat ngucur memang. tapi karna botol bimoli (yg B) kempes saat air bergerak turun dari pipa A, botol B gak bisa mempertahankan volumnya. kempesnya botol bimoli tersebut menunjukkan bahwa dengan pergerakan air kebawah menimbulkan gaya hisap pada bagian yang lainnya bila dalam botol vakum. sekarang lagi cari bahan yang keras dululah Kang. kapan2 disambung lagi, kalo dah jadi pumpnya tolong dimail saya Kang.

  69. widha berkata,

    Nopember 24, 2007 pada 11:49 pm

    kang paijo..
    nek masalah energi gravitasi u pompa air iku adalah teori belaka..
    sy pernah coba & gagal..
    setelah saya analisa ternyata ada faktor loses energi sehingga lama kelamaan energi tersebut akan berubah bentuk…
    ingat “energi tdk dpt diciptakan & tdk dapat dihancurkan”
    tapi hanya bs diubah….

    nuwun kang

  70. sigit berkata,

    Nopember 27, 2007 pada 9:24 pm

    Kang Paijo, pernah ada temen yang mau beli drum bekas ke tempat saya untuk bikin sedotan kayak gitu. Bedanya, saluran air masuk dan keluar sama sama dari bawah, cuma beda lobang. Katanya dia sudah pernah liat yang bekerja. Ketika nyedot dan buang, drum berbunyi dung-dung karena nyedot dan buang. Nanti tek tanya lagi kalau ketemu orangnya.

  71. eddy prabowo berkata,

    Nopember 30, 2007 pada 11:21 pm

    saya akan mencoba patmo ini,……….
    untuk debit outflow sekitar 1-2 l/dt kira2 berapa diameter pipa inlet & pipa outletnya……….
    kira2 belinya dimana?
    btw : patmo ini bagus banget

  72. bayu zi berkata,

    Desember 3, 2007 pada 7:31 pm

    salam kenal mas…
    saya pernah coba tuh pompa gravitasi… dari skala kecil kecilan sampe pake dum… nda berhasil… memang saya tertarik dengan prinsip atau mimpi pompa tersebut…sangat ekonomis, saya ingat dahulu ketika cuma siaran televisi cuma TVRI, pernah ada tayangan cara pembuatan pompa gravitasi, entah dari LIPI atau yang lain… saya tidak ingat untuk yang satu ini. Tapi dengan penjabaran dari mas paijo tentang fluida, baru terbuka logika saya, kalau pompa tersebut masih harus di sempurnakan lagi dengan mengkombinasi dengan teknologi lain. saya pernah juga membayangkan teknologi pompa hidram… apakah mungkin jika 2 teknologi atau teknologi pompa hidram di buat agar bisa menaikan air dari sumur ke atas, dengan prinsip sirkulasi sebagai energi untuk pompa hidram.. hanya angan angan mas… jika mungkin mas paijo bisa memberikan saran atau skema serta prinsip dasar dari teknologi ‘mimpi’ ini … siapa tahu lewat jabaran serta pengalaman mas paijo dapat membuat hal ini jadi nyata..

    tabik teknologi tepat guna

  73. JiN_iPRIT_BERSABDA berkata,

    Desember 10, 2007 pada 9:49 pm

    PAIJOOOOOOOOOOOO PAIJO, MAKIN GILA AJA EKSPERIMEN LO, AYO JO TAK DUKUNG KAMU, SEMOGA SUKSES EKSPERIMEN LO, JANGAN MENYERAH KAWAN,

  74. ZAELANI berkata,

    Desember 26, 2007 pada 2:11 pm

    Kang Paijo aku suka sekali semangat mu,aku punya saran,kalau bisa idemu
    semua tertulis pada satu papan besar sehingga mudah untuk dilihat,problem dan action dari 4M(4m yaitu Methode,Machine,Material,Manusia) bila semua tertulis pada satu papan besar maka hal hal yg kecil akan terlihat problemnya dan bila perlu,panggil temen untuk dimintain pendapat,krn makin byk ide makin bgs juga hasilnya
    thx
    Paijo

  75. zaelani berkata,

    Desember 26, 2007 pada 2:19 pm

    semangat mas paijo

  76. zaelani berkata,

    Desember 26, 2007 pada 2:23 pm

    Mas paijo gmn kalau pakai 2 drum,posisi drum tinggi rendah,drum tinggi harus hampa udara(full air),drum rendah 1/4 drum ada udara sebagai penghisap,drum 1 ke drum 2 dihantarkan dngan pipa,drum rendah untuk membuang air dan drum tinggi untuk menghisap ke sumur,
    Zaelani

  77. satriawan berkata,

    Januari 8, 2008 pada 6:40 pm

    makasih dengan tulisan mas aku bisa ikut ujian.sekali lagi makasih

  78. sataria berkata,

    Januari 20, 2008 pada 8:31 pm

    ass….bang paijo…..
    klo saya simak sebenrnya pompa air tenaga gaya grafitasi seperti yang telah bang paijo pikirkan adalah sama sekali tidak dapat mendistribusikan air ….itu saja bukan sebaliknya….
    bang paijo..saya mau nanya kbtlan saya lgi buat makalah ilmiah tentang distribusi air bersih…pada suatu baggunan bertingkat sistimnya sistim tangki atap. pertanyaannya ;
    1.knpa diameter hisap dan diameter buang sama direncanakan..?
    2.apabila dameter hisap lebih kecil atau lebih besar apa pengaruhnya.atau sebakinya pada diameter buang ?
    terimaksih sebelumnya
    ………

  79. Muji Burokhman A.Md. berkata,

    Januari 28, 2008 pada 6:49 pm

    Ya saya setuju pendapat mas paijo .. tapi rancangan tangki hisap dapat di aplikasikan untuk memompa air dengan h sumber yang lebih tinggi misalnya untuk mengalirkan air dari balik bukit atau melalui gedung yang pipanya tidak mungkin menembus……….trims (Mahasiswa S1 STT Wiworotomo Purwokerto)

  80. SUTARMIN berkata,

    Januari 31, 2008 pada 4:53 pm

    ass.wr.wb
    Yth mas paijo jangan berkecil hati dengan pemikiran anda yang saat ini kelihatannya banyak yang mencemooh Saudara karena saya sendiri telah menyaksikan pompa gravitasi beberapa tahun yang lalu di sebuah televisi cuma saya sudah lupa tv mana.
    melihat argumentasi para netter saya jadi ingin ikut mencoba bereksperimen guna membuktikan bahwa pompa gravitasi itu bisa menjadi kenyataan.
    wss.wr.wb

  81. andi syahibul berkata,

    Februari 1, 2008 pada 10:00 pm

    tolong Mas Sutarmin jika percobaannya berhasil mohon designnya ditampilkan. Terima kasih.

  82. budi susanto berkata,

    Maret 6, 2008 pada 5:14 pm

    Seperti ilusrasi rancangan di atas tentu saja tidak bisa bekerja sistemnya, walaupun massa air dalam tangki lebih besar dibandingkan massa air dari tangki hisap, karena air itu bukan molekul dlm bentuk padat, tidak bisa disamakan dgn sistem jungkit, malahan nanti pada saat valve dibuka justru akan terjadi kevakuman dalam pipa keluar sehingga udara yg bertekanan atmosfir justru akan menekan dan masuk ke dalam tangki, sehingga air yg keluar dari pipa pembuangan (keluaran) hanyalah air sisa tangki sampai habis dan selajutnya akan terisi udara sampai pipa hisap dan air dalam pipa hisap akan sama ketinggiannya dgn air dalam sumur.
    Tapi jangan salah kami (saya bersama tim) sudah membuktikan bahwa sistem air dgn gravitasi BERHASIL dibuat dengan beberapa MODIFIKASI….

  83. Pay berkata,

    Maret 7, 2008 pada 6:08 pm

    Mas.numpang tanya,ada ga alat buat mindahin air ke tempat yang tingginya kaga terlalu tinggi,tetapi secara terus menerus gitu. . . .

    Saya juga lagi buat eksperimen,konsepnya sama buat tenaga listrik yang simpel aja,mudah mudahan jadi dan bisa berguna..

    buat semua orang…..

    amieeeeen………..

  84. hilman berkata,

    Maret 8, 2008 pada 1:58 pm

    salam kenal mas beserta team nya..
    saya berencana akan membuat eksprimen pompa gravitasi meggunakan drum. tapi kendalanya hitung2an fisikanya sedikit susah, apalagi buat wong deso sama sekali kagak mengerti. jadi kalo bisa saya minta tolong sama mas, kalo pake drum berapa diameter dan panjang pipa inlet. dan berapa pula diameter dan panjang pipa outlet. thank ya mas

  85. yupy berkata,

    Maret 24, 2008 pada 7:51 pm

    Salam kang paijo…
    Prinsip pompa air tsb pasti berhasil tinggal percobaan aja yang berulang” pasti ketemu krn saya ud coba pake ken plastik 5 lt di tempat yg sejajar lebih tinggi sekitar 5-8cm bisa kok jadi tinggal pelajari prinsipnya ajah mirip” sistem infus tinta di printer tuh asal tak ada kebocoran ataupun rembesan sekecil apapun saya yakin akan berhasil mas paijo coba lagi hayo maju terus jangan gentar mas paijo….. MERDEKA…
    Selamat Berkotak Katik Ria Ojo nyerah mas………….

  86. bayu zi berkata,

    Maret 25, 2008 pada 1:06 pm

    buat mas budi susanto, sharing dong hasil eksperimennya jika memang berhasil.. di beri ilustrasi saja biar mudah menangkap jabarannya…
    terima kasih ya mas bud..
    tabik teknologi tepat guna

  87. masduqi berkata,

    Maret 25, 2008 pada 8:06 pm

    mas paijo aku sangat interes nih coz aku sudah lama juga mikir tentang hal ini. bisa kita email-emailan aja…coz ak ingin tahu tempat sampean jo…pilihan10kata@yahoo.com

  88. Leonardus Nana berkata,

    Maret 27, 2008 pada 12:55 pm

    BANGSA KITA ADALAH BANGSA PEMIMPI HIGH TEHNOLOGI/CANGGIH, KARENA ITU KITA ENGAN/MALU MELAKUKAN PENELITIAN/PERCOBAAN YANG SEDERHANA TAPI TEPAT GUNA SEPERTI POMPA TENAGA GRAFITASI.

    Pompa tenaga grafitasi! Dari ilustrasi gambar dan cara kerja air, PTG bisa saja bisa bekerja dengan baik.Persoalannya apakah ada keseriusan para ahli/penemu dan pemerintah untuk terus menelita dan mencoba dan mencoba hingga berhasil?

  89. Q4 berkata,

    April 13, 2008 pada 5:50 pm

    eh…maaf, saya punya komentar nyasar di jemuran, eh…maksud saya di kolom jemuran pintar. Ringkasnya, ide saya memanfaatkan tenaga air (contoh) sungai/lainnya didekatnya untuk menggerakkan pompa hydram guna mengangkat air sumur yang bersih. maaf klo ide saya ini nampak lugu ato bodoh ya………
    Terima kasih.

  90. Makmur Marzuki berkata,

    April 15, 2008 pada 11:45 pm

    Ma Paijo,
    saya merasa “setuju sebagian” dengan penjelasan mas paijo diatas, sayang sekali gambarnya kurang jelas, padahal dari gambar yang disajikan, dengan uraian berdasarkan fluida statis dan dinamis jelas menyalahi hukum fisika klasik. Sebenarnya kita dapat melakukan evaluasi sekaligus koreksi dari uraian persamaan yang disajikan dalam gambar tersebut, agar pendapat netter tidak harus selalu berakhir dengan argue.

    Ke”tidak setuju”an saya sebagian, adalah : Bagaimana kalau seandainya fenomena diatas dihubungkan dengan gejala kapiler (hukum kapilaritas) dimana setiap zat cair puny tegangan permukaan yang berimplikasi timbulnya gaya kapilaritas seperti fenomena naiknya munyak ke permukaan ruang bakar melalui sumbu kompor atau naiknya air tanah melalui akar terus batang hingga ke daun dan seterusnya, rasanya itu bisa “mungkin” deh tapi barangkali debitnya cukup kecil….

  91. Makmur Marzuki berkata,

    April 16, 2008 pada 12:07 am

    Menanggapi netter yang lain, yang berpendapat tentang kemungkinan “Energi Potensial Kimia” rasanya kurang pas, karena tidak ada reaksi kimia dalam proses ini, seperti proses pembakaran… dari dasar sumur air, tetapi sampai ke atas (keluar dari kran) masih tetap air… maaf, jadi penjelasan ini tidak nyambung.

    Sedangkan argumen Q4 tentang pompa Hidram (Hydraulic Ram) itu memang memenuhi hukum fisika yang penjelasan awamnya kira kira seperti ini : Secara teoritis, apabila energi 10 liter air perdetik memiliki tinggi jatuh 1 meter, maka energi tersebut dapat mengangkat 1 liter air perdetik setinggi 10 meter, tetapi kenyataannya hanya 5 atau 6 meter, karena adanya rugi-rugi (loses), tetapi akan terbuang 9 liter air yang energi potensialnya sudah diserap untuk mengngkat air yang 1 liter tadi ke tempat yang lebih tinggi..

    Prinsip Pompa Hidram semakin tinggi discharge head yang anda harapkan maka semakin banyak dibutuhkan banyak anda kehilangan air yang perlu diambil energi potensialnya untuk dirubah menjadi energi mekanik untuk mengngkat air yang 1 liter tadi …..

    Yang Pasti adalah : Tidak mungkin mendisain apalagi membuat pompa Hidram, tanpa ada air yng terbuang, itu sudah hukum alam yang sesuai dengan hukum fisika selama ini.. Thanks
    Dan adalah mustahil

  92. Makmur Marzuki berkata,

    April 16, 2008 pada 12:56 am

    Saran saya buat yang tertarik untuk meneruskan pengembangan pompa gravitasi ini, ada baiknya pada pipa isap (kalau tidak salah no. 3 pada gambar diatas) ditambahkan bahan serat sintetis yang steril (tidak membahayakan kesehatan) yang berfungsi seperti pada sumbu kompor minyak tanah…
    Dan perencanaan disainnya lebih mengacu kepada hukum kapilaritas, yah emang sedikit rada komplikated sih…

    Semoga berhasil, dan seandainy berhasil apa masih harus disebut dengan Pompa Gravitasi, apa tidak sebaiknya Popma Kapiler saja he he he

    Salam Sukses buat netter semua…

  93. Andie berkata,

    Mei 1, 2008 pada 6:15 pm

    Leonardus bujang..
    banyak cerita kau!!!!!

  94. SiThol berkata,

    Mei 3, 2008 pada 6:18 pm

    Wah mas ku kira artikelnya tentang keberhasilan membuat pompa gravitasi, ternyata kegagalan.

    Eh di depan disebutkan mengenai mekanika fluida, tetapi dalam rumusan hitungan sama sekali tidak digunakan rumus mekanika fluida.

    Coba mas cari tentang Hukum Bernauli, di sana terdapat komponen gamma water (berat jenis), head (ketinggian), kecepatan dan debit ( berhubungan dengan diameter pipa) kalo udah di itung lagi……

    Saya pernah liat orang yang membuat dan berhasil kog, cuman masalahnya waktu itu yang dapat digunakan adalah drum dari logam, jadi sulit menjaganya tetap kedap udara, maintenance-nya mahal…..kalo sekarang kan ada drum PVC, kayak bwt tower air di rumah2 itu….. mungkin lebih berhasil….

    Nanti ku cari orang yg pernah bisa itu trus ku tanya itung2annya….

    Wis yo see you..
    Matur Nuwun

  95. manusia_super69 berkata,

    Mei 7, 2008 pada 6:09 pm

    maaf ya… jika berdasarkan gambar, maka air tidak akan pernah ada siklusnya… karena sudah pernah saya coba…. ada cara untuk mensikluskan air tersebut yaitu dengan memanfaatkan tekanan yang ada pada bejana (pada gambar sampean), tapi penampang pipa masukkan dan keluarannya tidak sama….

  96. benn berkata,

    Mei 8, 2008 pada 3:19 pm

    gut gut gut, terus kembangkan rek.. untuk bantu petani miskin kita..ok..

  97. edan berkata,

    Mei 9, 2008 pada 12:10 pm

    misalkan head air B mengasilkan daya lebih besar dari daya pompa yang dibutuhkan bisa saja terjadi, namun dengan demikian jika proses ini tertutup maka lama kelamaan kehabisan energi dan pompanya tidak jalan…jadi saya setuju sama pak paijo

  98. SUGIYANTO berkata,

    Mei 15, 2008 pada 4:27 pm

    Salam kenal,
    Maaf nimbrung, menurut logika saya pompa gravitasi tsb masuk akal asalkan perhitungannya benar, kira kira hitungannya sprti ini :

    bj air x Volume reservoir x Tinggi reservoir
    beratnya harus lebih besar dari
    bj air x Volume pipa hisap x Tinggi Hisap

    dan ada syaratnya lagi jangan sampai dalam sistemnya kemasukan udara karena terjadi reduksi / artinya pipa masuk reservoir harus terendam air / kaclap.
    demikian.

  99. Wong Kuper berkata,

    Mei 20, 2008 pada 5:10 pm

    kang Paijo, aku mau tanya apa kang Paijo buat tong hisapnya dibuat double.
    Jadi air-sumur dihisap tong-1 lalu dihisap lagi tong-2 dua ,apa menurut kang Paijo Hitungannya tetep sama [tidak berhasil] ?.

    terima-kasih

  100. dono ahmad berkata,

    Mei 22, 2008 pada 2:00 pm

    maap ikut nimbrung juga,
    saya setuju apa yg disampaikan mas Makmur Marzuki, karena sesuai dg apa yg saya renungkan saat ini, yaitu dg semacam sumbu utk mendukung hukum kapilaritas.
    menyinggung ttg gambarnya, dulu kami pernah melakukan percobaan yg sama, namun kami menggunakan dua drum, drum pertama kedap udara, dan drum kedua sbg penyeimbang air dan agar drum kedap udara tdk kemasukan udara. namun percobaan itu gagal. pisss

  101. Fredy berkata,

    Mei 24, 2008 pada 2:56 am

    Mas Paijo,

    Kalo tabung, di beri ruang untuk udara bagaimana ? mungkin 1/4 ato 1/5 bagian atas. terus pipa yang masuk ke tabung di masukan kedalam sehingga ujung tetap terendam air. Fungsi udara adalah untuk membuat ruang hampa. Sepertinya lebih mudah “menghampakan” udara ketimbang air.

    Mengenai leher angsa, Saran saya jangan menggunakan itu. Karena dengan menggunakan itu maka tenaga hisap akan berkurang / menghambat. Padahal kita meng inginkan saat air keluar, vol air lebih besar sehingga hisap nya juga lebih besar.
    Supaya udara ngga masuk (kalo pipa lurus setelah valve), gunakan ember ato apa, yang di isi air dan pipa harus terendam air.

    Percobaan saya yg pertama (gagal he he), menggunakan itu. tapi belum menggunakan ruang hampa. Nanti percobaan yg berikutnya akan sy coba (drumnya ilang, abis udah lama sih.. he he)

    Perhitungan anda juga harus ditambahkan hambatan oleh karena panjang pipa, elbow, reducer, check valve(?) dll. Ada tabelnya yg berisi koefisien tsb

    Mengenai saran dengan 2 tabung perlu dikaji juga karena itu akan membuat daya hisap lebih besar.

    Itu dulu mas, maturnuwun.

    Salam,
    Fredy

  102. ryan berkata,

    Mei 24, 2008 pada 3:39 pm

    Eksperimennya bagus mas. air dalam sumur bisa saja naik ke atas dengan catt:
    1. semua rangkaian dan sambungan harus erat (dipastikan tidak ada kebocoran)
    2. Pada reservoar (4) harus di isi air dengan penuh.
    3. Pas kran di buka kan akan terjadi tekanan kebawah tu, trus klo reservoar vakum dia akan mengisap yang dari pipa (air yang dari sumur)
    4. Kran harus tertutup rapat supaya udara tidak masuk ke reservoar.

  103. deni berkata,

    Mei 24, 2008 pada 9:53 pm

    Saya pernah nyoba seperti teori mas ryan, tapi airnya cuma keluar sebentar setelah itu terjadi keseimbangan artinya air di dalam drum tidak mau keluar lagi padahal masih banyak.
    Tadinya saya browsing2x ini untuk mencari solusi kali aja ada yg berhasil, eh ternyata memang gak mungkin berhasil menurut Kang Paijo.
    Walaupun ada yg bilang sudah pernah berhasil tetapi gak mau juga sharing pengalamannya.

  104. coba ini sepertinya bisa berkata,

    Mei 28, 2008 pada 5:42 pm

    Di web ini keterangan jelas, sepertinya bisa:
    http://www.lpmpjabar.go.id/lpmp/index.php?option=com_content&task=view&id=126&Itemid=288

  105. abd.rosyid berkata,

    Mei 28, 2008 pada 5:44 pm

    Wi web ini jelas dan sederhana dan mudah dicoba
    http://www.lpmpjabar.go.id/lpmp/index.php?option=com_content&task=view&id=126&Itemid=288

  106. abd.rosyid berkata,

    Mei 28, 2008 pada 5:54 pm

    oh ya tahun 90-an saya sudah nyoba seperti keterangan di atas, saya beli tong tapi tidak berhasil saya kira karena ada yang bocoor, juga saya coba saya coba dg skala kecil tidak bisa lalu saya berkesimpulan seperti kesimpulan penulis di atas sehingga tidak saya lanjutkan. karena saya tertarik dg berita bbm tenaga air laut di: http://malas.web.id/2007/12/05/bbm-dari-air-laut-ditemukan-orang-indonesia/ lalu saya ingat lagi dg yang dulu sehingga saya cari. tapi web yang saya tunjukkan di atas sepertinya masuk akal saya akan segera mencoba.

  107. darsono hadi berkata,

    Mei 29, 2008 pada 3:12 pm

    Ide pompa grafitasi ini sudah berkembang pada tahun 1989 an ……ya yang pasti pompa ini pasti tidak akan berhasil.

  108. darsono hadi berkata,

    Mei 29, 2008 pada 3:21 pm

    Kalau ada ditemukan sistem pengaliran dari tempat lebih rendah ke tempat lebih tinggi itu hanya bisa dilakukan diantara dua bukit dimana air akan mengalir ke kaki bukit dahulu, perubahan energi grafitasi ke energi kinetik (kecepatan air) digunakan untuk menggerakkan pompa membran. Pompa membran memompa air ke atas bukit lainnya tentu dengan tingkat effisiensi (sebagaian air akan terbuang di bawah bukit).

  109. handoyo seto berkata,

    Mei 29, 2008 pada 4:09 pm

    Pompa air grafitasi kemungkinan keran keluarannya harus lebih besar dari diameter selang penyedot contoh awal : botol air minum ukuran 1 liter kita balik tutup botol berada di bawah lalu buka tutupnya maka air akan mengalir udara pun ikut masuk ke botol ( selang keluaran harus panjang = supaya udara tidak masuk) +( selang keluaran harus besar = air dapat mengalir kebawah) Contoh akhir : selanjutnya botol pada bagian bawah kita lubangin isi air kedua ujung botol berlubang tapi pada bagian belakang botol ukuran lubang setengah dari ukuran lubang pada tutup botol, kita balik lagi tutup di bawah kita buka botol maka air akan turun udara masuk bukan dari lubang tutup botol melainkan dari belakang botol ( selang belakang botol/selang hisap harus lebih kecil = air dari sumur dapat tersedot) mengukur ukuran selang ukuran liter pada selang hisap harus lebih kecil dari ukuran liter selang keluar ( hisap=0,5 liter +keluar diatas 0,5 /1 liter )dah ah ikutannya semogaja berguna. contoh jadi :(air sumur–>selang hisap 0,5 liter –>drum diatas 10 +liter –> klep –> selang keluar 1 liter –>drum 2 liter —>selang 1 liter –>kran). cuma masukan.

  110. DeDeL berkata,

    Juni 3, 2008 pada 2:50 pm

    Lek PAIJO…
    Saya termasuk orang yang gemar memperhatikan sistem mekanik dan sejenisnya.
    Kalau menurut lek PAIJO ide sumur gravitasi buatan lek PAIJO tersebut tidak bisa jalan karena hanya masalah h2 < h1, bagaimana jika kita beri bantuan energi Potensial dari luar ?…
    Bagaimana jika pada diagram gambar no. 8 (Output pada C) diberi T yang ujungnya nantinya diberi selang yang ada tekanan air yang mengalir..
    Kemungkinan air akan te