POMPA AIR TENAGA GRAVITASI ( 2 )

POMPA AIR TENAGA GRAVITASI ( 2 )
By Paijo

( Update : Artikel ini berisi analisis bahwa pompa air tenaga gravitasi seperti pada gambar TIDAK MUNGKIN BERHASIL. Jadi artikel ini tidak membahas tentang cara membuat pompa air tenaga gravitasi )

( … baca juga bagian 1 )

Ketertarikan para eksperimenter terhadap desain maupun prototype Pompa Air Tenaga Gravitasi dari waktu ke waktu tidak pernah surut. Dengan adanya kenaikan harga BBM dan kenaikan TDL, ketertarikan tersebut berubah menjadi obsesi berdasarkan keyakinan bahwa Pompa Air Tenaga Gravitasi tersebut merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah energi yang berkepanjangan. Bahkan pada dekade delapanpuluhan, ada salah satu stasiun TV yang menayangkan ujicoba prototype yang diyakini sukses oleh banyak orang. Sebagian besar orang amat terkesan dengan penemuan yang spektakuler tersebut. Betapa tidak, dengan Pompa Air Tenaga Gravitasi tersebut, orang dapat menaikkan air dari sumur ke permukaan tanah tanpa memerlukan bahan bakar maupun listrik. Tinggal putar keran, maka air akan naik dari sumur melalui pipa dan drum dan keluar dari keran menuju bak atau ember.

Pompa Air Tenaga Gravitasi

Kemudian ide tersebut berkembang lebih lanjut untuk membuat pompa dengan ukuran besar. Dengan pompa ukuran besar, maka jumlah air yang dihasilkan juga lebih besar sehingga dapat digunakan untuk menggerakkan kincir atau turbin air. Selanjutnya, kincir atau turbin digunakan untuk menggerakkan generator sehingga dapat menghasilkan listrik. Untuk menghemat air, maka air yang telah digunakan untuk memutar kincir atau turbin dikembalikan lagi ke sumur untuk dipompa lagi sehingga membentuk suatu siklus. Jadi secara keseluruhan, sistem tersebut dapat dikatakan sebagai pembangkit listrik tenaga gravitasi yang dapat menghasilkan listrik tanpa bahan bakar. Sungguh merupakan suatu ide yang brilian, yang pasti didukung oleh masyarakat luas yang sedang mengalami krisis energi.

Ditengah optimisme dan euforia para pendukung Pompa Air Tenaga Gravitasi tersebut, ternyata ada segelintir eksperimenter yang skeptis dengan ide brilian tersebut. Saya adalah salah satu yang paling getol mengajukan argumen bahwa ide tersebut mustahil untuk diwujudkan karena berlawanan dengan hukum alam. Hukum alam pertama yang dilawan yaitu bahwa air dalam sistim pipa hanya dapat mengalir dari yang bertekanan lebih tinggi menuju ke yang bertekanan lebih rendah. Tentang hal itu telah saya bahas dalam tulisan saya terdahulu. Hukum alam kedua yang dilawan yaitu hukum kekekalan energi mekanik. Hukum tersebut sederhana dan sudah clear dan dalam konteks pompa gravitasi tidak mungkin salah.

Untuk memindahkan suatu benda ke tempat yang lebih tinggi, diperlukan usaha yang besarnya sama dengan perubahan energi potensial mekanik benda tersebut. Jadi untuk memindahkan air dari sumur ke permukaan tanah yang lebih tinggi diperlukan usaha, berarti diperlukan energi dari luar sistem. Jadi Pompa Air Tenaga Gravitasi seperti pada gambar tidak mungkin bisa bekerja karena tidak ada masukan energi dari luar sistem.

Selain adanya kemustahilan berdasarkan analisa tekanan dan analisa energi mekanik, juga terdapat kejanggalan dari sisi sosialisasi dan komersialisasi dari pompa jenis tersebut. Pompa Air Tenaga Gravitasi dipublikasikan pertama kali pada dekade delapan puluhan atau sekitar 20 tahun yang lalu. Seandainya temuan tersebut dipatentkan pada waktu itu juga, maka patent tersebut telah atau hampir kadaluwarsa. Yang janggal, pompa tersebut sampai sekarang belum pernah diproduksi dan dipasarkan kepada masyarakat umum padahal telah ditemukan sejak lama. Demikian juga tidak ada satupun lembaga ilmu pengetahuan semacam LIPI, BPPT, maupun perguruan tinggi dan pabrikan yang menyatakan bahwa Pompa Air Tenaga Gravitasi seperti pada gambar maupun variannya dapat bekerja sesuai dengan abstraksi desainnya. Oleh karena itu, saya berkesimpulan bahwa berita penemuan Pompa Air Tenaga Gravitasi yang sangat spektakuler tersebut merupakan berita bohong belaka ( HOAX, hoak….hoak….saya mau muntah….maaf ). Berkaitan dengah hal itu, saya membuka kesempatan untuk semua netter yang memiliki informasi yang berkaitan dengan Pompa Air Tenaga Gravitasi tersebut untuk berbagi informasi di forum ini. Informasi tersebut bisa berupa URL, nama lembaga, atau nama orang yang mempunyai bukti fisik atau dokumentasi tentang Pompa Air Tenaga Gravitasi.
Terimakasih dan salam eksperimen.

& Komentar

  1. Paijo berkata,

    November 15, 2009 pada 1:36 pm

    @ Michael
    Jika bagian 1-3 dibuang dan bagian 4-5 diisi air kemudian bagian atasnya ditutup rapat maka maka akan keluar air sedikit ( bisa beberapa puluh liter tergantung h2 ) dan akan berhenti setelah terjadi kesetimbangan tekanan. Jika tidak digunakan leher angsa ( langsung pipa lurus ), maka air akan keluar sampai habis dan akan digantikan oleh udara yang akan masuk melalui pipa yang sama jika ukuran pipa cukup besar. Jika diameter pipa cukup kecil, maka air tetap akan keluar tapi tidak sampai habis. Air akan berhenti keluar setelah tercapai kesetimbangan tekanan.
    Tentang hitung-hitungannya, bisa agak rumit kalau ingin menghitung ketinggian kolom air yang tersisa setelah keadaan setimbang. Supaya real betul, musti anda tentukan dulu berapa h2, diameter drum, panjang drum, dan diameter pipa. Kalau itu sudah lengkap, saya bisa kasih hitung-hitungannya.
    Pada keadaan setimbang, tekanan udara dalam drum ditambah tekanan hidrostatik air di leher angsa sama dengan tekanan udara luar ( tekanan atmosfer ). Dari situ, dapat disusun persamaan dengan he ( ketinggian kolom air ketika terjadi kesetimbangan tekanan ) sebagai variabel bebasnya. Dengan menyelesaikan persamaan tersebut, maka nilai he dalam keadaan setimbang dapat ditentukan.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  2. deKing berkata,

    Maret 7, 2007 pada 6:08 am

    Sebelumnya salam kenal
    Artikel bagus, tapi maaf gambar kurang jelas sehingga untuk saya yang bingung tentang Fisika lumayan repot untuk mencocokkan analisis dengan keterangan di gambar (terutama di sumur Part 1). Padahal artikelnya keren sekali dan benar2 menarik.
    Sekedar tanya nich:

    Untuk memindahkan suatu benda ke tempat yang lebih tinggi, diperlukan usaha yang besarnya sama dengan perubahan energi potensial mekanik benda tersebut

    Saya bingung dengan istilah energi potensial mekanik (maklum saya benar2 bingung dengan Fisika), tapi seingat saya Energi mekanik=Energi potensial+Energi Kinetik dimana besarnya energi mekanik selalu konstan sehingga semakin besar EP maka semakin kecil EK. Jadi saya bingung dengan penggunaan kata potensial dan mekanik secara bersamaan mengikuti kata energi.
    Terima kasih atas penjelasannya…

  3. Paijo berkata,

    Maret 7, 2007 pada 8:58 am

    @ DeKing
    Anda benar. Kalau kata mekanik yang saya gunakan kurang pas, bisa anda anggap tidak ada. Kata mekanik dalam artikel di atas untuk menekankan bahwa yang saya maksud memang Energi Potensial Mekanik. Penekanan saya rasa perlu karena ada energi potensial lainnya yaitu Energi Potensial Kimia. Energi potensial mekanik dapat diekstrak dan dikonversi dalam bentuk lain ketika benda berpindah ke tempat yang lebih rendah seperti pada PLTA. Sedangkan Energi Potensial Kimia dapat diekstrak dengan cara mereaksikan dengan zat lain seperti pada pembakaran bahan bakar pada motor bakar.
    Sebagai contoh, sepotong kayu yang berada ketinggian 1 meter di atas lantai memiliki 2 macam energi potensial. Energi potensial mekanik karena ketinggiannya dan energi potensial kimia karena dapat menghasilkan energi jika dibakar. Pada air, memang hanya mengandung energi potensial mekanik saja karena tidak bisa dibakar.
    Untuk menghindari kebingungan lebih lanjut, maka kata mekanik akan saya coret ( strikethrough ) agar masih tetap bisa dilihat. Terimakasih dan salam eksperimen.

  4. jokotaroeb berkata,

    Maret 7, 2007 pada 12:04 pm

    Pertama salam kenal dari saya,

    Bagus sekali artikelnya mas betul yang deKing bilang gambarnya ga jelas coba diperjelas lagi mas.

  5. Paijo berkata,

    Maret 7, 2007 pada 12:15 pm

    @ Jokotaroeb
    Itu sudah maksimal je, kalau dibersarkan lagi tempatnya tidak muat. Kalau mau jelas betul, didownload dulu gambarnya dengan menggerakkan mouse pada gambar kemudian klik gambar disket yang muncul di pojok kiri atas gambar tersebut. Ukuran filenya sangat kecil karena saya gunakan format PNG. Terimakasih dan salam eksperimen.

  6. qzplx berkata,

    Maret 7, 2007 pada 9:14 pm

    Mas paijo, thanks uda mampir yah, hehehe, menurutku pompa gravitasi itu logis juga, cuman daya tekananya kan hanya sebatas gravitasi 10ms kwadrat, saya kurang nangkap, saya suka fisika, coba di ilustrasikan……

  7. Paijo berkata,

    Maret 8, 2007 pada 10:15 am

    @ qzplx
    Terimkasih juga anda telah mampir ke blog saya.
    Kalau dipikir mendalam betul, sebenarnya tidak logis juga. Karean gaya gravitasi arahnya ke bawah kok diharapkan mengalirkan air yang arahnya ke atas. Yang logis itu ya kalau mengharapkan gravitasi mengalirkan air ke bawah seperti pada sistim irigasi atau sistim pipa PDAM. Banyak eksperimenter yang terobsesi dan terjebak karena mengira sistim pipa dan drum seperti pada gambar bisa bekerja seperti jungkat-jungkit. Padahal hasil percobaan di lab tidak demikian halnya. Air sebagai zat cair akan berperilaku sebagai fluida yang hanya bisa mengalir dari yang bertekanan lebih tinggi ke arah yang bertekanan lebih rendah. Pada Pompa Air Tenaga Gravitasi seperti gambar di atas atau variannya ( gambar dapat anda download / save di PC anda supaya bisa dilihat dengan jelas ), perancang mengharapkan bahwa akan terjadi yang sebaliknya. Apa mungkin ?

    Ternyata batu sandungan bukan hanya Pompa Air Tenaga Gravitasi tapi masih banyak yang laiinya termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Magnet. Di India dan di beberapa negara lain, bahkan ada museum tentang prototype gagal alat-alat semacam itu. Anda bisa mencarinya di Google dengan kata kunci PERPETUAL WHEEL atau FREE ELETRICITY. Kalau dirunut penyebab banyaknya eksperimenter yang “terantuk batu yang sama” tersebut kemungkinan besar adalah buruknya sistim pembelajaran IPA dan Matematika di sekolah. Banyak pelajar yang memahami fisika hanya sebatas rumus matematis dan melupakan aspek fisis. Padahal seharusnya, rumus matematis hanya alat yang digunakan untuk meng-kuantifikasikan besaran dan untuk melihat pola hubungan antar variabel yang berpengaruh pada sistem. Semua rumus di fisika klasik diperoleh dari analisis data percobaan di lab. Alat analisisnya adalah statistik regresi, terutama regresi linier, regresi kuadratik, dan regresi eksponensial. Sedangkan regresi logaritmik jarang dipakai. Untuk fisika klasik macam mekanika dan mekanika fluida, mustinya harus saling mendukung antara teori dan praktek di lab. Kalau hanya teori saja, maka akan melahirkan pelajar yang lebih mempercayai teori dari pada fakta di lab atau lapangan. Logikanya sederhana saja, kalau teori dan fakta tidak sesuai, yang salah teorinya atau faktanya. Masalah tersebut menyebabkan miskonsepsi dan misunderstanding berantai yang semakin hari bisa semakin parah. Celakanya lagi, banyak guru IPA dan Fikika yang juga mengalami miskonsepsi dan misunderstanding tersebut, bisa dibayangkan bagaimana muridnya. Sistim evaluasi juga turut ambil bagian karena penguasaan materi Fisika hanya diukur dengan nilai Ujian Nasional saja yang membuat guru semakin malas memanfaatkan lab yang notabene boros waktu dan tenaga. Akhirnya jalan pintas diambil seiring dengan menjamurnya lembaga bimbingan belajar yang mencekoki siswa dengan soal-soal tanpa menggarap konsep dasarnya. Hal tersebut rupanya sudah disadari oleh para segelintir pendidik ( guru ) tetapi tampaknya masih kurang disadari oleh penentu kebijakan di negeri ini.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  8. edylu berkata,

    Maret 8, 2007 pada 3:16 pm

    Salam kenal …. ni kang
    Wah kang paijo nih artikel bisa ga di gabung dengan listrik tenaga air,
    air yang keluar dari pompa di salurkan ke turbin….biar bisa mengahasilkan listrik

  9. Maret 8, 2007 pada 3:23 pm

    “Untuk fisika klasik macam mekanika dan mekanika fluida, mustinya harus saling mendukung antara teori dan praktek di lab. Kalau hanya teori saja, maka akan melahirkan pelajar yang lebih mempercayai teori dari pada fakta di lab atau lapangan”.

    Ya.. ini sama saja dengan belajar Sejarah Fisika.

    Pada praktek di Lab, sering seorang asisten praktikum meminta kepada peserta untuk mengulang praktikum karena hasilnya melenceng jauh dengan teori. Lah ini kan aneh, karena harus mengulang supaya hasilnya mendekati atau sama dengan teori. Tidak masalah kalo tujuan mengulang adalah untuk membuat peserta mengerti dan lebih berhati-hati dalam bereksperimen, tetapi bukankah lebih penting kalau peserta itu bisa menganalisa bagian mana dari uji lab-nya yang salah. Parahnya lagi, nilai praktikum juga ditentukan oleh “kedekatan” hasil uji lab dengan teori.

    Bagaimana menurut Bapak?
    Mohon dijelaskan juga mengenai pengertian miskonsepsi.

    Terima kasih Pak.

  10. Paijo berkata,

    Maret 9, 2007 pada 12:31 pm

    @ Edylu
    Mungkin anda belum sempat membaca artikel diatas secara lengkap. Untuk menggabungkannya dengan PLTA, jelas tidak mungkin karena pompa tersebut tidak akan pernah bisa bekerja.

    @ Arief Fajar Nursyamsu
    Mempelajari sejarah fisika, itu hal lain lagi dan hal itu justru cukup penting dan sangat bagus jika dilakukan bersamaan dengan mempelajari teori. Sebagai contoh, saya pernah bertanya kepada seorang siswa SMA tentang sebuah rumus. Pertanyaannya : “Diantara rumus-rumus berikut ini, manakah yang paling dulu ditemukan, F = m.a ,atau m = F / a ataukah a = F / m ?”. Beberapa siswa tersebut bingung dan tidak dapat memberi jawaban yang memuaskan karena mereka hanya berfikir bahwa ketiga rumus tersebut sebenarnya adalah sama dan hanya dibolak-balik secara matematis seperti 6 = 2×3 , 2 = 6/3 , 3 = 6/2. Seandainya mereka mempelajari sejarah/kronologi ditemukannya rumus tersebut, maka hal kebingungan tersebut tidak akan terjadi. Kebingungan yang sama juga terjadi ketika ditanyakan bagaimana caranya diperoleh tetapan-tetapan pada fisika/kimia/matematika seperti tetapan gravitasi Newton ( G ), bilangan Pi ( 3,14… ), bilangan avogadro, dsb. Sebagaian besar guru mungkin tidak pernah membicarakan apalagi mengajarkan hal-hal semacam itu. Kemungkinan penyebabnya sekurang-kurangnya ada dua hal. Pertama, gurunya sendiri tidak menguasai tentang hal tersebut. Kedua, tidak menyadari pentingnya hal tersebut untuk siswa karena tidak pernah ditanyakan pada soal Ujian Nasional.

    Tentang carut-marutnya urusan yang menyangkut praktikum di lab, itu sudah merupakan lagu lama yang masih sering dinyanyikan. Menurut pendapat saya, beberapa penyebabnya adalah :
    1. Kurangnya pengetahuan sejarah fisika seperti di atas baik oleh guru maupun murid.
    2. Kurangnya penguasaan statistik khususnya analisis regresi oleh sebagain asisten lab. Sebagai contoh, secara statistik data dikatakan cukup banyak kalau minimal 30 data. Dalam praktek di lab, hanya diambil misalnya 10 data. Jadi tidak heran jika hasilnya melenceng jauh dari teori. Seandainya cukup dekat dengan teori sekalipun, masih tidak cukup meyakinkan kebenarannya.
    3. Buruknya kualitas maupun kuantitas alat lab yang ada ditambah dengan tidak pernah ditera ulang. Dengan alat yang baik saja hasilnya belum tentu akurat, apalagi kalau alatnya jelek.
    4. Rendahnya sikap ilmiah yang dimiliki peserta didik maupun pendidiknya. Sikap ilmiah yang dimaksud diantaranya adalah teliti, tekun, taat, kritis, analitis, dsb.
    5. Kurangnya usaha dari satuan pendidikan untuk mengintegrasikan pengetahuan dan kompetensi yang telah dikuasai oleh peserta didik. Banyak hal yang telah dikuasai siswa tapi tidak memberi manfaat yang maksimal karena terdiri atas potongan-potongan yang terpisah satu sama lain dan tidak terintegrasi dengan baik. Hal itu merupakan efek samping adanya pemisahan matapelajaran dan pemisahan pokok bahasan. Sebagai contoh, seorang siswa yang telah mempelajari regresi linier ( statistik ), sistem persamaan linier ( matematika ), dan hukum penawaran dan permintaan ( ekonomi ) ternyata mengalami masalah ketika diminta untuk menentukan titik keseimbangan pasar dari sejumlah data harga, penawaran, dan permintaan yang diperoleh dari survey pasar selama 60 hari. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan data tersebut, padahal semua alat analisisnya sudah dikuasai. Berarti siswa tersebut belum kompeten karena belum mampu menerapkan pada situasi nyata yang dihadapi. Jangankan siswa/mahasiswa, guru/dosen dan eksperimenter juga banyak yang menderita ”penyakit” seperti itu.

    Mengenai miskonsepsi ( salah mengerti tentang konsep tertentu ), juga dialami oleh banyak orang. Sebagai contoh, miskonsepsi tentang tekanan. Pertanyaan :”Seekor kucing berada di atas sebuah meja. Kucing tersebut semula berdiri, kemudian duduk ( Jawa : mendak ), dan akhirnya tidur. Jelaskan tentang perbandingan tekanan yang diterima ( dialami ) oleh permukaan meja pada setiap posisi kucing tersebut. ( Jika menjawab tekanannya sama, jelaskan mengapa. Jika menjawab tekanannya berbeda, urutkan dari yang terbesar sampai yang terkecil dan jelaskan alasannya )”. Berikut ini adalah jawaban yang mungkin keluar dari siswa beserta kemungkinan miskonsepsi yang dialaminya.
    1. Tekanannya sama karena berat ( massa ) kucing pada ketiga posisi tersebut sama ( tidak berubah ).
    Siswa menjawab seperti itu kemungkinan karena tidak bisa membedakan antara tekanan dengan gaya tekan. Miskonsepsi tentang tekanan.
    2. Tekanannya sama karena berat kucing sama dan luas meja juga tidak berubah.
    Siswa menjawab seperti itu kemungkinan karena tidak memahami luas bidang kontak. Miskonsepsi tentang bidang kontak yang berakibat miskonsepsi pada tekanan.
    3. Tekanannya berbeda dengan urutan, posisi berdiri ( terbesar ), posisi duduk, posisi tidur ( terkecil ). Alasanya berat kucing tetap tapi luas bagian kucing yang menyentuh meja berbeda, semakin luas maka tekanannya semakin kecil.
    Hanya siswa yang paham betul dengan konsep tekanan yang bisa menjawab seperti itu.
    4. Tekanannya berbeda juga dengan urutan yang sama seperti nomor 3 tapi dengan alasan yang berbeda. Alasannya adalah bahwa pada posisi berdiri, kucing perlu menjaga keseimbangan dengan otot-otot kakinya yang menimbulkan tambahan gaya pada permukaan meja. Pada posisi duduk, gaya tambahan tersebut lebih kecil dan pada posisi tidur bisa dianggap tidak ada.
    Siswa yang menjawab seperti itu kemungkinan juga karena tidak bisa membedakan antara tekanan dengan gaya tekan seperti pada nomor 1.
    Selain ke-4 macam jawaban di atas, masih banyak jawaban-jawaban lain yang bisa muncul dengan bermacam-macam miskonsepsi lainnya. Untuk bisa mendeteksi ada tidaknya miskonsepsi, perlu dibuat tes diagnostik yang musti didesain khusus sesuai dengan jenis konsep yang akan diuji penguasaannya. Setelah hasil tes dianalisis, juga musti ada tindaklanjut untuk memperbaiki miskonsepsi tersebut. Pekerjaan itu mustinya dikuasai dan dilakukan oleh para pendidik. Sedangkan eksperimenter seperti saya hanya bisa memberikan ide dan saran saja.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  11. koecing berkata,

    Maret 9, 2007 pada 2:02 pm

    wah.. artikelnya banyak ttg xperimen2 yah.. jadi inget waktu kecil dulu. cita2 mau jd ilmuan… tau2nya malah banting stir gini…:D

    btw artikelnya banyak yang menarik ya… oya, dengan kata lain klo mau pompa itu jalan, harus bisa menghasilkan energi yang lebih besar dari energi potensial kan ya? jadi harus eh, butuh energi yang amat sangat besar kan ya?… secara semua benda di dunia sll dipengaruhi ma grafitasi. jadi ini mksud melawan hukum alam ya? brusaha melawan grvitasi. padahal untuk nerbangin roket aja butuh tenaga yang amat sanagat besar.

    hihihi… brusaha memanusiakan bahasa ilmiah.. benr g’mas? berhubung udah lama nih g’bersentuhan ma yang namanya fisika. jadi rada lemot… maaf ya.. ^_^

  12. Paijo berkata,

    Maret 9, 2007 pada 2:20 pm

    @ Koecing
    Terimakasih neng, telah mampir ke blog saya. Blog saya memang hanya berisi dua hal saja, yang berkaitan dengan eksperimen dan humor. Bukan hanya karena mau tampil beda, tapi itulah hobi saya disamping hobi hobi yang lain. Soal bahasa, itu tidak jadi soal karena ini kan forum bebas bukan seminar. Bahasa saya juga amburadul tapi pede aja karena saya bukan pakar dan bukan akedemisi. Saya hanyalah seorang eksperimenter bonek yang suka berdiskusi tentang apa saja.
    Lho, salamnya Koecing mestinya meong atau miau supaya khas dan gampang dikenali. Contohnya saya yang selalu menggunakan salam eksperimen.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  13. michael berkata,

    Maret 9, 2007 pada 4:48 pm

    terimakasih sama kang paijo, yang mau bagi ilmu sama experimenter kroco kaya saya. bagi saya eksperiment hanya sarana, yang terpenting adalah ilmu apa yang bisa didapat.

    kalau boleh, saya mau nanya lagi ( so’alnya dapat mandat disuruh nuntut ilmu walau sampai ke negri cina, sayang gak banyak duit, jadi ga’bisa kemana-mana, he..he.he..), seperti yang kita ketahui bersama, energi / gaya gravitasi merupakan (kalau boleh saya bilang) energi yang menarik zat apapun menuju inti bumi, baik padat, cair, maupun gas. dari tiga jenis utama zat ini memiliki struktur dan massa-jenis yang berbeda-beda, ini pula yang menyebabkan terjadinya lapisan lapisan pada zat yang ada di bumi, baik pada gas, zat cair, maupun pada zat (benda) padat, dimana zat dengan masa atom paling besar akan menduduki posisi terbawah secara natural. seperti pada udara yang merupakan gas, terdiri dari tujuh lapisan yang akrab disebut atmosfir, pada tanah juga terdiri dari banyak lapisan yang akrab disebut kerak bumi, dan seterusnya

    pada rancangan diatas, bila di asumsikan bagian 1,2,3, di buang, bagian 4,5, diisi air sebanyak 200 liter, namun masih menyisakan ruang yang terisi udara yang jumlahnya setara dengan volume 10 liter air, kemudian ditutup kembali rapat-rapat. nah, yang saya mau tanyakan, apa yang terjadi bila kran dibuka, apakah air sama sekali tidak keluar, keluar dalam jumlah tertentu, atau air akan terus keluar sampai habis, dan minta di jelaskan itung-itungannya kang.

    terimakasih buat kang paijo.

  14. Paijo berkata,

    Maret 13, 2007 pada 3:30 pm

    @ Michael
    Jika bagian 1-3 dibuang dan bagian 4-5 diisi air kemudian bagian atasnya ditutup rapat maka maka akan keluar air sedikit ( bisa beberapa puluh liter tergantung h2 ) dan akan berhenti setelah terjadi kesetimbangan tekanan. Jika tidak digunakan leher angsa ( langsung pipa lurus ), maka air akan keluar sampai habis dan akan digantikan oleh udara yang akan masuk melalui pipa yang sama jika ukuran pipa cukup besar. Jika diameter pipa cukup kecil, maka air tetap akan keluar tapi tidak sampai habis. Air akan berhenti keluar setelah tercapai kesetimbangan tekanan.
    Tentang hitung-hitungannya, bisa agak rumit kalau ingin menghitung ketinggian kolom air yang tersisa setelah keadaan setimbang. Supaya real betul, musti anda tentukan dulu berapa h2, diameter drum, panjang drum, dan diameter pipa. Kalau itu sudah lengkap, saya bisa kasih hitung-hitungannya.
    Pada keadaan setimbang, tekanan udara dalam drum ditambah tekanan hidrostatik air di leher angsa sama dengan tekanan udara luar ( tekanan atmosfer ). Dari situ, dapat disusun persamaan dengan hs ( tinggi kolom air dalam keadaan setimbang ) sebagai variabel bebasnya. Dengan menyelesaikan persamaan tersebut, maka nilai hs dalam keadaan setimbang dapat ditentukan.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  15. Kang Adhi berkata,

    Maret 13, 2007 pada 9:04 pm

    Kang coba buat galeri hasil eksperimennya dunk!

  16. Paijo berkata,

    Maret 14, 2007 pada 10:09 am

    @ Kang Adhi
    Galeri hasil eksperimen, ide bagus sekali kang. Untung ada Kang Adhi, karena selama ini hal itu tidak pernah terpikirkan sama sekali. Akibatnya banyak prototype yang terlanjur dibongkar dan didaur ulang karena tidak ada lagi tempat untuk menyimpan. Yang tersisa sekarang ini mungkin tidak sampai sepertiganya. Jika di pajang seperti stand pameran atau museum, mungkin memerlukan ruangan sekitar 200-300 meter persegi. Tiap tahun koleksi juga terus bertambah sekitar 2-5 macam. Seandainya ada lembaga atau sponsor atau donatur yang bisa membantu menyediakan tempat dan dana eskperimen, pasti cepat terwujud.
    Rencana eskperimen untuk beberapa tahun kedepan sudah banyak sekali. Yang paling besar adalah KOLEKTOR SINAR MATAHARI SISTIM CLUSTER ( 20 kw ) yang scalable ( bisa dibuat dalam skala besar ) . Desainnya tidak menggunakan sistim cermin parabola karena cermin parabola tidak feasible secara teknis maupun ekonomis jika dibuat dalam skala besar. Dilengkapi dengan automatic sun tracker mekanik geoaxis yang dipercanggih dengan sensor-sensor untuk autocorection. Didesain untuk multifungsi, memasak di dapur ( indoor ), memompa air, memanaskan air, dan menggerakkan generator listrik. Saya perkirakan memerlukan waktu 3-4 tahun untuk menyelesaikan prototype yang memerlukan lahan 6 x 6 meter di atas atap rumah tersebut. Kalau prototype yang ini kang, tidak bisa dipajang di galeri kecuali replika jam panggungnya yang merupakan mesin penggerak utama suntracker mekanik dan sebagain dari cluster-nya atau sistim pengatur sudutnya.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  17. shella berkata,

    Maret 14, 2007 pada 11:48 am

    oom paijo… tks… (kayaknya lebih match kalau “lek paijo”…)
    iya neh aku lagi nyoba2 bin eksperimen… hik hik….
    kayaknya daddy dulu juga pernah nyoba bikin pompa yang kayak gitu, tapi yahhh gagal maning… gagal maning….
    apa oom sudah berhasil buat…? (he he he… lumayan kan buat materi presentasi di skul…..)
    tengkiyu ya oommm….
    (btw, kenapa cuman bawa lumpurnya sebotol sih…? coba kalo dibawa semua pasti SDA aman tentram gak ada ekspresi kekesalan….)

    attn:… pls jangan posting koment ini….. nggak bermutu !!!

  18. shella berkata,

    Maret 14, 2007 pada 11:58 am

    jadi penasaran pengen nambah nih… oom paijo bilang; “Untuk memindahkan suatu benda ke tempat yang lebih tinggi, diperlukan usaha yang besarnya sama dengan perubahan energi potensial mekanik benda tersebut. Jadi untuk memindahkan air dari sumur ke permukaan tanah yang lebih tinggi diperlukan usaha, berarti diperlukan energi dari luar sistem. Jadi Pompa Air Tenaga Gravitasi seperti pada gambar tidak mungkin bisa bekerja karena tidak ada masukan energi dari luar sistem”

    aku berpikir: ==gimana kalo untuk starternya pake energi dari luar sistem, setelah pompa jalan, biarkan hukum kekekalan energi nya yang jalan== gimana hayo…?

    taat hanya kalo ada yang liat
    tanya-ken apa?

  19. adi berkata,

    Maret 14, 2007 pada 5:47 pm

    mas paijo bagaimana kalau sistem pompa grafitasi masih belum berhasil setidaknya buat percobaan dengan mengefisienkan daya pompa: misal: prototype yang mas paijo buat di sedot dengan pompa kecil ( 125 watt ) dengan kedalaman permukaan air 24 meter . aku sih belum coba karena ngak ada materialnya tapi kalau berhasil dan ketemu itung-itunganya khan lumayan bisa merubah dari pompa jet pump menjadi pompa biasa sehingga dayanya tidak terlalu besar ” Putut di coba mas kalau berhasil tolong kasih tahu saya, akan saya coba dirumah. karena aku dirumah harus pakai pompa jet pump 500 watt (ampun mas listriknya gede banget ) thanks kalau mas mau coba.

    salam

  20. Evy berkata,

    Maret 15, 2007 pada 7:46 am

    Paijo, iku angel ga nggawene? bikin experiment yg simple dunk, anak2ku suka experiment, so biar bisa ngikutin lengkap dg gambare yo lik…suwun

  21. Paijo berkata,

    Maret 15, 2007 pada 8:54 am

    @ shella
    Bisa mendapat LUSI ( Lumput Sidoarjo ) sebotol saja sudah untung neng, itupun berkat bantuan teman kantor yang lagi cuti ke daerah asalnya ( Porong ). Untuk mengatasi LUSI, kalau menurut saya sih manfaatkan dulu energi panasnya untuk membangkitkan listrik. Kalau melihat kepulan uapnya, mungkin bisa menghasilkan beberapa megawatt. Listrik yang dihasilkan bisa untuk mensuplai pabrik yang mengolah LUSI menjadi blok beton ( bahan bangunan ). Blok beton yang bentuknya seperti lego-lego mainan anak-anak dalam ukuran besar yang sudah populer di negara-negara maju. Bisa juga untuk batako. Asal kualitasnya bagus dan harganya bersaing, pasti laku karena di daerah pasca gempa seperti Bantul sedang membutuhkan bahan bangunan dalam jumlah sangat besar.
    Artikel saya diatas ( bagian 1 maupun bagian 2 ), menjelaskan bahwa pompa air tenaga gravitasi tersebut tidak mungkin bisa bekerja termasuk jika digunakan starter sekalipun.

    @ Adi
    Pompa air tenaga gravitasi di atas hanyalah sebagian dari mimpi-mimpi di siang bolong dari beberapa eksperimenter. Jadi tidak mungkin bisa bekerja, dan juga tidak mungkin untuk meningkatkan efisiensi jetpump. Jadi, saya sarankan untuk tidak mencobanya karena hanya akan membuang-buang uang saja. Saya termasuk eksperimenter yang skeptis dengan pompa tersebut. Kalau saya membuat prototypenya, itu untuk membuktikan pada eksperimenter lain bahwa pompa tersebut tidak mungkin bisa bekerja, bukan sebaliknya.

    @ Evy
    Soal nggawene gampang bu. Tapi tidak akan mungkin bisa bekerja karena melawan hukum alam. Kalau anak sampean suka eksperimen, itu bagus sekali untuk perkembangan diri maupun perkembangan intelektualnya. Hal itu perlu didukung dengan mainan, buku, informasi, dan juga dana. Jika eksperimen gagal, beri dukungan moril agar tidak putus asa dan beri bantuan untuk menemukan sebab kegagalan sehingga bisa memperbaikinya. Eksperimen yang gagal total sekalipun tetap menghasilkan pengetahuan dan pemahaman baru bagi pelakunya yang nilai sepadan dengan pengorbanannya. Itu yang perlu ditanamkan sejak dini kepada eksperimenter muda.
    Tentang kebanyakan eksperimen saya, sebagaian besar memang bukan untuk pemula. Saya akan coba tulis artikel untuk level pemula agar anak sampean bisa mencobanya. Supaya bisa pas betul, saya perlu informasi anak sampean usianya berapa, sekolahnya apa dan kelas berapa, laki-laki atau perempuan, ketrampilan khsusus yang sudah dimiliki apa. Saya usahakan untuk dilengkapi gambar. Namun harus sabar karena sampai bulan Mei saya sedang membina anak-anak SMA yang sedang membuat prototype alat untuk babak final LCEN ITS. Hal itu cukup menyita waktu saya karena dilakukan setiap hari sepulang kantor ( jam 15.00 – 22.00 ). Jika hari libur, mulainya sejak pagi jam 08.00. Karena itu, untuk sementara ini saya tidak melakukan eksperimen dulu.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  22. Dee berkata,

    Maret 16, 2007 pada 11:19 am

    Di kampung saya asli ada pompa air tenaga gravitasi kang. Namanya senggot. Sebatang bambu yang diberi penumpu di tengahnya. Satu ujungnya diberi beban, sementara ujung yang lainnya dimasukkan ke sumur dan diberi ember. Cara pakenya gampang, tarik saja ujung yang ada embernya ke dalam sumur, kemudian setelah berisi air, dilepas. Gaya gravitasi akan menarik beban turun, dan ember terangkat ke atas. Yang penting ada gaya gravitasinya, sambil dikombinasikan dengan gaya gratisnasi atau gaya gratis-asi.
    Kalau yang di atas, sebagai makhluk berakal saya sepakat 100% sama Kang Paijo, lebih banyak kepentingan lain di luar permasalahan teknologinya

  23. adi berkata,

    Maret 16, 2007 pada 5:47 pm

    mas paijo, kalau memang eksperiment pompa gravitasi gagal ya..udah sekarang kita pikirin bagaimana caranya cari sumber air yang keluar sendiri sehingga ngak usah susah-susah bikin pompa tampa listrik. Yang jelas yang sudah berhasil mencari sumber air keluar sendiri yaitu Lapindo Branstas. Kita harus tanyakan kepada mereka tapi sayang mereka berhasil menemukan cari sumber air keluar sendiri tapi gagal cara nutup . Mungkin temen-temen ada yang mau bantuin teknik nutup air +lumpur keluar sendiri.

  24. Paijo berkata,

    Maret 20, 2007 pada 9:43 am

    @ Dee
    Tenaga gratisnasi, he he he, lucu juga.

    @ Adi
    Gagalnya eksperimen pompa tenaga gravitasi tersebut di atas, ternyata berbuntut panjang hingga sekarang. Hal itu dikarenakan adanya beberapa eksperementer yang tetap ngotot walaupun telah ditunjukkan berbagai analisis yang membuktikan bahwa pompa tersebut tidak mungkin dapat bekerja. Sedangkan eksperimen saya tentang pompa tersebut sukses karena tujuan eksperimen saya adalah untuk membuktikan bahwa pompa tersebut tidak mungkin bisa bekerja. dan terbukti benar.
    Saya setuju dengan usulan anda untuk mencari sumber air yang bisa keluar sendiri seperti artesis, tapi bukan kayak LUSI ( lumpur sidoarjo ). Terimakasih dan salam eksperimen.

  25. michael berkata,

    Maret 20, 2007 pada 10:52 pm

    hallo kang Paijo …

    mau nanya lagi nih kang, dari uraian kang paijo dari seri satu – seri dua, saya lihat penekanan lebih pada teori “siphoning”, dimana selisih h1 dan h2 adalah harga mati yang dijadikan patokan, berat air tidak perlu di permasalahkan karena tanpa diperhitungkanpun pasti akan selisih bila h1 dan h2 selisih. itu disebabkan penggunaan diameter pipa yang sama.

    yang mau saya tanyakan, apa yang akan terjadi bila pipa “siphon” kita manipulasi sebagai berikut :
    h1 = 1m
    h2 = 2m
    di asumsikan pipa naik adalah pipa A
    pipa mendatar adalah pipa B
    pipa menurun adalah pipa C
    kondisi standar, pipa A-B-C memiliki diameter sama, kemudian kita manipulasi dalam dua kondisi
    kondisi satu
    pipa A berdiameter 20cm
    pipa B-C berdiameter 1cm
    kondisi dua
    pipa A berdiameter 1cm
    pipa B-C berdiameter 20cm

    apa yang akan terjadi pada kondisi satu dan dua, setelah kita menghisap terlebih dahulu ujung pipa c hingga mengeluarkan air, apakah “siphoning” bisa berjalan ? dan kesimpulan apa yang bisa diambil ?

    terimakasih kang paijo …

  26. andreas wahyuno / uno berkata,

    Maret 22, 2007 pada 1:40 pm

    mau memperpanjang nih …

    gimana kalau kita pergunakan pipa2 kapiler untuk mengisi drum, karena dlm keadaan normal permukaan air di dlm pipa kapiler akan lebih tinggi dari permukaan air di kiri dan kanannya, dan kalau tidak salah di daerah probolinggo jawa timur ada sebuah danau yang mempunyai pompa air dengan menggunakan tenaga gravitasi, secara physic ada dua pipa diameter -/+ 12 inci dan ditengah (antara ujung2 pipa terdapat box pompa) yang selalu terdengar bunyi dug2 pada peride tertentu seperti tenaga yang terjadi untuk menaikan/memompa air tersebut ke atas.

  27. eric berkata,

    Maret 22, 2007 pada 3:42 pm

    pompa air tenaga gravitasi sudah saya coba rakit sendiri, setelah tangki sudah menjadi vakum air memang tidak keluar, sedang ketinggian dari permukaan tanah hanya 3 m.

  28. mus berkata,

    Maret 22, 2007 pada 4:13 pm

    tolong rinci lebih detail mengenai pompa air pada artikel bapak Paijo . terima kasih sebelumnya.

  29. Paijo berkata,

    Maret 22, 2007 pada 9:35 pm

    @ Michael
    Tekanan hidrostatik tidak tergantung pada diameter pipa maupun gaya berat seluruh air dalam pipa sehingga memang hanya h1 dan h2 yang berpengaruh.
    Jika ujung pipa C diisap dulu untuk memulai siklus, maka begitu pengisapan dihentikan air masih akan mengalir untuk beberapa saat kemudian berhenti juga. Air berhenti mengalir ketika telah tercapai keseimbangan tekanan yang baru atau jika air dalam pipa dan reservoir telah habis digantikan oleh udara. Kesimpulannya tetap sama, pompa tersebut hanya mimpi di siang bolong.

    @ Andreas Wahyuno
    Btw … ada teman kuliah saya di Yogya dulu ( tidak terlalu dekat ) yang namanya sama dengan nama belakang anda ( Wahyuno ). Tidak banyak yang saya ingat, kalau tidak salah angkatan 88, tapi yang ingat pasti dia anggota Menwa.
    Kalau gaya kapiler, justru bisa menaikkan air seperti yang anda katakan tapi masih belum ditemukan cara untuk memanfaatkan dalam skala besar.
    Pompa yang bunyi dug-dug tersebut namanya POMPA HIDRAM ( Hidraulik Ram ), yang menaikkan air menggunakan tenaga luncuran air dalam pipa. Hanya sebagian kecil air yang akan naik dan sebagain besar lainnya “terbuang” melalui klep pembuangan. Sebagian besar tenaga yang digunakan diperoleh dari energi kinetik air yang “terbuang” tersebut.
    Jadi pompa yang anda maksud bukan jenis Pompa Air Tenaga Gravitasi yang saya bahas dalam artikel saya di atas. Untuk menghindari kerancuan, mungkin perlu saya jelaskan bahwa tidak semua yang memanfaatkan tenaga gravitasi lantas diberi embel-embel “tenaga gravitasi” di belakang namanya. Sebagai contoh, PLTA tidak ada embel-embel gravitasi padahal air bisa menggerakkan turbin karena adanya gravitasi.

    @ Eric
    Terimakasih anda telah berbagi pengalaman nyata. Benar seperti yang anda sampaikan, air akan mengalir untuk beberpa saat tapi akan berhenti setelah tercapai keseimbangan tekanan yang baru. Istilah vakum yang anda gunakan kurang tepat karena jika h1 kurang dari 10,34 meter maka tidak akan tercipta ruang hampa ( vakum ) di bagian atas.

    @ Mus
    Anda bisa lihat detail analisisnya pada gambar ( dapat didownload supaya jelas )

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  30. michael berkata,

    Maret 23, 2007 pada 12:41 pm

    @ kang paijo..

    wah maaf nih kang, pada pertanyaan diatas saya gabisa menyertakan gambarnya.

    yang saya tanyakan diatas bukan masalah pompa gravitasi dengan gambar diatas, tapi tentang water siphoning yang gambarnya seperti pada link http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/8/86/Syphoning2.jpg/250px-Syphoning2.jpg
    yang merupakan kosef dasar percobaan pompa gravitasi, apakah system water siphoning ini bisa bekerja bila variabel dari system diganti seperti pada perinsif dasar pertanyaan saya ?, dan minta analisanya kang…

    terimakasih.

  31. Ali berkata,

    Maret 24, 2007 pada 12:26 am

    pak paijo,
    saya baru tahu kalo pak paijo punya blog yang dijadikan forum sebagus ini. saya ali yang pernah nulis POMPA AIR GRAFITASI di FORUM ENERGI.
    to the point
    menurut saya tentang apa yang dimunculkan bapak di atas bisa saja terwujud. singkatnya dengan menggunakan prinsip keseimbaangan. dengan memanfaatkan sistem hidloulik yang ditarik oleh beratnya air sehingga dapat menyedot air ke atas. ketika penyedotan air yang di atas dan yang di bawah disekat.
    bisa dipahami nggak

  32. Paijo berkata,

    Maret 26, 2007 pada 10:12 am

    @ Michael
    Saya minta maaf kalau jawaban pertama saya di atas tidak sesuai dengan pertanyaan anda. Jika yang anda maksud adalah siphoning seperti pada gambar yang anda kirimkan link-nya, maka siphoning akan tetap berlangsung meskipun pipa di sebelah kiri diperbesar ukurannya. Hal itu terjadi karena diameter pipa tidak berpengaruh terhadap tekanan hidrostatik. Hanya ketinggian vertikal kolom air saja yang berpengaruh. Jadi jangan terkecoh dengan perbedaan gaya berat total air dalam pipa.

    @ Ali
    Selamat bergabung dengan forum ini, saya sudah lama berikan URL blog ini di forum diskusi kita di LIPI. Tapi sayang sekarang forum tersebut rusak berantakan akibat ulah para spamer.
    Mungkin bagus jika anda sempat mencoba mempraktekkan percobaan seperti pada gambar yang linknya diberikan oleh sdr Michael di atas. Dari situ akan jelas betul bahwa pompa seperti gambar saya di atas tidak mungkin untuk diwujudkan.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  33. michael berkata,

    Maret 26, 2007 pada 3:14 pm

    @ Paijo

    pak, itu berdasarkan teori apa eksperiment pak, kalau menurut uji lab yang saya lakukan, ketika data dan sarana di manipulasi sesuai variable yang saya cantumkan, proses water siphoning akan tidak bekerja dengan gejala sebagai berikut :
    kondisi satu ===>
    ketika ujung C dihisab dan air sudah mencapai titik tersebut, air akan kembali seluruhnya ke A dan air kembali pada posisi seperti sebelum dihisab.
    kondisi dua ===>
    lebih fatal dari uji coba satu, saat ujung C dihisap, air akan langsung meluncur ke penghisab tanpa sempat memampatkan ruang pipa, sepelan apapun kita menghisap, air akan tetap meluncur dengan kecepatan penuh (8-10km/jam) ketika melewati ujung pertemuan pipa hurizontal B dan pipa vertikal C

    dari kondisi satu bisa dilihat bahwa berat air juga berpengaruh, dan dari kondisi dua bisa dilihat bahwa yang bekerja dalam sistem ini adalah tekanan yang dihasilkan dari pemampatan ruang oleh air yang menghasilkan tekanan

    saya rasa itu garisbesarnya, dan kalau mau di definisikan lebih rinci, mungkin akan membutuhkan beberapa halaman analisa.

  34. yudhi berkata,

    Maret 26, 2007 pada 6:44 pm

    mas paijo aku mo minta tolong neh….tau nggak stus yang bagus tentang
    tata cara perawatan sistem bahan bakar turbin uap…klau dapat yang jurnalnya yah…..thanks sebelumnya…..

  35. haidar aliy berkata,

    April 24, 2007 pada 1:10 pm

    salam sukses..luarrr biasaaa

    mas,tolong bantu saya.saya mau buat pompa air otomatis.jika ada air yang mengalir maka sensor akan memberi sinyal untuk menggerakkan motor pompa.dan jika air yang ada di penampungan air sdh penuh, maka motor pompa berhenti.selain itu, untuk mengamankan motor akibat debit air yg tdk stabil(tersendat2) maka saya pasang timer 5 menit dan sensor suhu apabila suhu motor meningkat.dan jg hal ini untuk membantu pemerintah menghemat energi listrik.tolong mas kirim saya gambar rangkaiannya dan cara kerja sensor secara interconnection..serta program mikrokontrollernya….trima kasih mas paijo.saya tgg jawabannya serta emailnya..salam sukses…luarrr biasa….

  36. Teddy Ardiansyah berkata,

    Mei 2, 2007 pada 2:26 pm

    Justru yang masuk akal adalah pompa air tenaga panas/tekan bumi. Seperti gletser yang ada di taman nasional yellowsmith amerika, atau pompa lumpur tenaga lapindo yang ada di porong sidoarjo.

  37. Jan Haurissa berkata,

    Mei 3, 2007 pada 10:26 pm

    Salam kenal,Mas Paijo, nama saya Jan haurissa, saya juga sedang membuat pompa air dengan bantuan grafitasi bumi, dengan melihat disain paijo, sebagai referensi bagi saya, cuman disain saya berbeda dengan punya paijo, saya masih experiment namun belum sempurna, nanti kalau sudah sukses baru saya tunjukan.

    Salam
    Jan Haurissa

    Jayapura.- Papua

  38. lonk berkata,

    Mei 4, 2007 pada 7:09 pm

    haloo…pa..?
    saya pelajar dan saya sudah lihat yang pak tulis din atas tapi kok gak ada gambar2 yang adanya xpriment nya..?
    saya pingin tau gimna .cara sistim kerja pompa tersebut..!!

  39. tenade hikaru tsunade a berkata,

    Mei 4, 2007 pada 7:14 pm

    pak kok ga ada gambar-gambar experimen nya
    saya..pingin tau pak bagai mna terjadinya
    pompa tersebut.pasang gambarnya jdi bsa tau saya

  40. Jan Haurissa berkata,

    Mei 5, 2007 pada 4:48 pm

    Tunggu saja yach dek, pasti saya tunjukan gambar experimennya doakan biar experiment saya berhasil. kalau bisa pakai nama asli jangan pakai nama samaran. Karena kita bicara tentang ilmu, harus yang benar. Supaya semua bisa berjalan dengan baik. OK,

  41. Uci Stp berkata,

    Juni 19, 2007 pada 10:27 pm

    salam eksperimen mas Paijo, saya pernah denar dari seorang tukang pompa belasan tahun yang lalu tentang ide pompa tersebut. dia bilang pernah merakit beberapa, mudah2han orangnya masih hidup, saya akan tanayakan lagi tengtang kebenaranya, terimakasih. :)

  42. d''googling berkata,

    Juni 20, 2007 pada 11:40 am

    slam eksperimen mas paijo??sya pikir eksperimenya bagus tapi kalau hanya sekedar teori saja kan tidak ada gunanya.Harus ada realisasinya dong….?kan lebih asyik. lagi pula benar-benar dapat di buktikan….?

  43. dencitro berkata,

    Juli 13, 2007 pada 3:42 pm

    Ketua Bappenas Kagum Perkembangan Gorontalo
    Jumat, 07 April 2006
    Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional RI DR Paska Suzeta selama dua hari 4-5 April 2006 berada di Gorontalo mengaku kagum dengan perkembangan Gorontalo yang begitu cepat dan penuh dengan berbagai inovasi. Gorontalo kata Paska yang juga Ketua Bappenas itu sudah begitu popular di seantero nusantara, itu karena daerah ini fokus mengembangkan satu komoditi pertanian dengan komoditi unggulannya jagung. Jagung Gorontalo sudah sangat dikenal diseantero Nuasantara,? ungkapnya, dalam berbagai pertemuan dengan masyarakat dan pemerintah daerah.

    Menteri yang datang bersama rombongannya ketika tiba di Gorontalo, disambut upacara adat oleh para pemangku adat Gorontalo, kemudian melanjutkan berbagai kegiatan yang telah diagendakan Pemprov, yakni peninjauan infrastruktur irigasi yakni Pompa Air Tanpa Mesin (PATM) yang berlokasi di kelurahan Hunggaluwa Kecamatan Limboto.
    Di tempat ini Menteri PPN menyaksikan langsung cara kerja pompa yang hanya menggunakan tekanan gravitasi tanpa menggunakan energi listrik.

    Menteri bersama rombongan didampingi Gubernur Fadel Muhammad kemudian menuju kecamatan Telaga meresmikan pemanfaatan Tele Center, dilokasi yang sama menteri melihat dari dekat peragaan dari beberapa pengrajin kerawang beserta hasil kerajinan, serta pemanfaatan telecenter.
    Secara marathon menteri usai beristirahat sejenak di rudis Gubernur, menteri bersama rombongan meninjau instalasi pengolahan air bersih di Kelurahan Botu, Kecamatan Kota Timur Kota Gorontalo, sekaligus meresmikan pemanfaatan instalasi pengolahan air bersih itu.

    Instalasi air bersih yang diresmikan tersebut kapasitasnya bisa melayani kebutuhan sekitar 20 kepala keluarga. instalasi itu tidak hanya diperuntukan untuk mensuplai air bagi kebutuhan perkantoran di Botu,tapi juga untuk masyarakat sekitar.
    Selama hampir 40 menit berada di lokasi tersebut menteri dan rombongan kemudian melanghadiri pemaparan mengenai konsep pembangunan kawasan industri terpadu atau yang dikenal dengan KIAT, ditempat itu menteri disamping mendengar pamaparan dari Pamprov mengenai rencanan tersebut, menteri juga memberi arahan menyangkut rencana pembangunan nasional kedepan dan prioritasnya.

    Malamnya menteri menghadiri sekaligus membuka pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda) yang diikuti pemda se Provinsi Gorontalo di gedung serba guna Bele Li Mbui.
    Sebelum kembali Kejakarta Menteri bersama rombongan mengunjungi kawasan pengembangan agropolitan show window Agropolitan di desa Tenilo Kecamatan Limboto Barat Kabupaten Gorontalo.
     
    © 2006 :: Gorontalo ~ Provinsi Agropolitan ::
    Site Engine Using Joomla

    Inserted from

  44. dencitro berkata,

    Juli 13, 2007 pada 3:44 pm

    Rumah Sejuk tanpa AC : Aneka Cara Hemat Energi ala Siswa SMA 1
    roz
    Kenaikan harga bahan bakar (BBM) memotivasi siswa-siswi SMA 1 Sidoarjo berinovasi. Hasil putar otak mereka ternyata berbuah hasil. Anak-anak SMA ini menemukan berbagai alat hemat energi dengan memanfaatkan teori-teori fisika.
    Karya-karya siswa-siswi itu, antara lain, miniatur mesin uap, pemanfaatan aki bekas untuk lampu darurat, rumah dingin tanpa AC, sampai pompa air tanpa listrik. Semua karya itu menjadi salah satu bahan presentasi sekolah tersebut dalam Lomba Sekolah Sehat tingkat Jawa Timur hari ini.
    Menurut Sudarmadji, guru fisika SMA 1, karya-karya ini merupakan temuan siswa dalam praktikum pelajaran fisika. Mereka mencoba menerapkan teori-teori fisika untuk mencari solusi atas mahalnya harga BBM maupun listrik.
    Dia mencontohkan pemanfaatan aki bekas untuk lampu darurat jika terjadi pemadaman listrik. Satu aki bekas sepeda motor yang sudah tidak terpakai bisa digunakan untuk menyalakan lima lampu neon sekaligus. Umumnya rumah-rumah menggunakan satu aki saja untuk satu lampu. Tapi dengan inovasi siswa, aki bekas yang umunya dibuang itu bisa justru sangat bermanfaat.
    Selain aki bekas, mereka juga membuat pembangkit listrik tenaga matahari sederhana dari transistor bekas. Alat yang disebut solar cell ini akan menjadi miniatur cara hemat energi.
    Inovasi lain yang menarik ialah pompa air tanpa listrik. Prinsip pompa air tanpa listrik ini menggunakan teori dasar fisika bahwa air akan mengalir dari tempat yang bertekanan udara tinggi ke tempat yang tekanan udaranya rendah.
    “Pembuatannya sangat sederhana, tapi belum banyak yang memanfaatkan,” tambah Sudarmadji.
    Selain teknologi hemat energi, SMA 1 telah mempersiapkan diri dengan menjalin kerja sama mewujudkan sarana dan prasarana serta rumah sehat di lingkungan sekitar sekolah. Juga ada dokter jaga yang seminggu sekali datang. “Dokter ini alumnus SMA 1 yang siap jadi sukarelawan setiap minggu,” kata Humas SMA 1 Achmad Shodiq.
    Sumber : Jawa Pos (24 November 2005)

    revisi terakhir : 17 April 2006
    Inserted from
    PERHATIAN : fisik@net berusaha memberikan informasi seakurat mungkin, namun tidak bisa menjamin tidak terjadi kesalahan baik disengaja maupun tidak. Segala akibat dari pemakaian sarana ini merupakan tanggung-jawab pemakai !
    - sejak 17 Agustus 2000 -
      Created by Fisika LIPI
    Copyright © 2000-2007 LIPI, All Rights Reserved  

  45. dencitro berkata,

    Juli 13, 2007 pada 4:08 pm

    Salam kenal Pak Paijo dan netter (telaaat…), ini sekedar info saja (ke-3), yang ini memainkan grafitasi atau jungkat-jungkit atau apa namanya…???

    Cara Menaikkan Air Sumur Tanpa Pompa
     Oleh : Sartono Staf Media Optik – Bid. Media Pembelajaran

    Kebutuhan air bersih penduduk Jakarta pada umumnya mengandalkan air tanah yaitu dengan cara membuat sumur pantek/bor. Membuat sumur dengan kedalaman 0 – 40 meter relatif lebih murah dan tidak diperlukan izin khusus. Hanya dengan menambah sebuah peralatan yaitu pompa listrik atau pompa tangan, dapat diperoleh sejumlah air untuk keperluan rumah tangganya (Harap periksa dahulu air tersebut ke laboratorium, apakah air telah memenuhi syarat untuk minum/memasak).
    Yang menjadi masalah adalah kalau pompa rusak. Selain membutuhkan waktu untuk memperbaikinya juga harus mengeluarkan biaya. Belum tentu tempat servis pompa letaknya dekat dengan tempat tinggal, apalagi setiap orang belum tentu telah siap dengan pengeluaran biaya ekstra untuk perbaikan pompa tersebut.
    Hal ini pernah dialami oleh penulis pada medio Mei ketika Jakarta dan sekitarnya terjadi kerusuhan yaitu pompa tiba-tiba rusak. Untuk memperbaikinya penulis kesulitan mencari suku tempat servis ataupun cadang. Maklum banyak toko yang dijarah dan semua toko yang lain tutup. Untunglah ada tetangga yang baik hati dengan rela memberi air untuk mandi. Bagaimana seandainya kita berada jauh dari tetangga ?
    Dari pengalaman penulis tersebut, ternyata ada cara menaikkan/menyedot zat cair tanpa menggunakan pompa. Cara ini yang telah lama dipakai oleh tukang jualan minyak tanah zaman dulu yaitu cukup dibutuhkan peralatan yang sederhana antara lain :
     Pralon ½” – 1″ panjang pralon sesuai dalamnya sumber air/sumur.
     Sok drat luar ½” – 1″ dan sok penyambung ½” – 1″
     Solatipe seel
     Klep
     Lem pralon
     Gergaji untuk memotong pralon
     Kunci Inggris/kunci pas besar
    Cara pembuatannya :
     Pasang sok drat pada ujung pralon dengan menggunakan lem pralon.
     Agar sambungannya rapat, lilitkan solatipe seel pada drat secara merata.
     Pasang klep pada sok drat dan putar untuk lebih kencang gunakan kunci Inggris/pas.
     Masukkan pralon dengan posisi klep di bawah ke dalam sumur dan bila pralon belum mencapai air bisa disambung dengan pralon berikutnya.
     Bila semuanya telah selesai tunggu beberapa saat agar lem mengering/sambungan betul-betul kuat.
     Cek apakah klep berfungsi dengan baik atau tidak.
     Masukkan pralon yang telah di pasang klep ke dalam sumur dengan posisi klep di bawah, sampai ke dasar sumur/air.
     Dengan membuat gerakan menaik-turunkan pipa secara berulang-ulang, air makin naik ke pipa dan akhirnya air akan keluar . (perhatikan proses buka tutup klep pada gambar di bawah ini)
    Untuk menguji kebenarannya, kita bisa melakukan percobaan dengan menggunakan bak mandi yang telah kita isi dengan air. Pralon yang diperlukan cukup 2 m – 2,5 m saja dengan ukuran ½”. Klep juga dapat dibuat sendiri dengan cara sederhana/menggunakan klep bekas asalkan tidak bocor. Selamat mencoba !

    Inserted from :

  46. dencitro berkata,

    Juli 13, 2007 pada 4:39 pm

    Nah, yang di Aceh ini pompa tanpa mesin apa? apakah yang sejenis dengan punya Pak Paijo(PATMO)atau penemuan / konsep “mesin” yang diributkan kebenarannya tsb? atau ada jenis lain lagi?

     Jumat, 13 Jul 2007 | 15:38:42 WIB

    • 18/05/2007 09:05 WIB

    Pompanisasi Bantuan Provinsi di Juli tak Berfungsi

    BIREUEN – Proyek bantuan provinsi NAD berupa 20 unit pompa air tanpa mesin di KM 5 Juli Bireuen yang dibangun tahun 2006 lalu hingga sekarang tidak berfungsi maksimal. Masyarakat setempat meminta Bupati Bireuen dan Kimpraswil untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

    Keluhan itu disampaikan M Taher, Keujruen Chik Kemukiman Juli Baroh yang sengaja mengundang Bupati Bireuen dan dinas terkait ke Meunasah Desa Tgk Dipulo, Kamis (17/5). M Thaher menerangkan, pompa air tanpa mesin itu, dibangun pada masa Gubernur Azwar Abubakar.

    Penjaga pintu air, Marzuki mengatakan, salah satu alat di pompa air tanpa mesin yakni penyupai air tidak berfungsi, sehingga daya dorong air ke saluran yang telah dikerjakan tidak maksimal. Selain itu, kata dia, bak penampung air sedikit rendah yang menyebabkan distribusi air tidak maksimal. “Tekanan air dari bak penampung tidak kuat,” katanya ketika menjelaskan penyebab tidak normalnya 20 unit pompa air bantuan untuk mengairi 500 hektar sawah.

    Persoalan tidak berfungsinya pompa air itu sebenarnya telah disuarakan sejak beberapa waktu lalu, baik ke Kimpraswil Bireuen maupun ke pihak lainnya untuk dicari pemecahannya. Bupati Bireuen berjanji akan mengirim surat ke Pimpro proyek tersebut untuk menanyakan penyebab tidak berfungsinya alat dimaksud.(yus)
    Inserted from

  47. Paijo berkata,

    Agustus 2, 2007 pada 9:05 am

    @ Semua
    Sempat terbersit penyesalan di benak saya karena saya terlanjur posting artikel ini. Saya menyesal karena tampaknya banyak pembaca yang memahaminya sepotong-sepotong sesuai kepentingan masing-masing sehingga tidak memahami maknanya secara utuh. Mungkin tidak semua sih, tapi setidaknya hanya ada satu dua pembaca yang dapat menangkap pesan saya dalam posting tersebut di atas. Kalau dibaca dengan cermat termasuk keterangan pada gambar secara mendetail ( gambar dapat didownload ke harddisc ), posting saya sama sekali tidak membahas cara membuat pompa air tenaga gravitasi seperti yang ditangkap oleh sebagaian besar pembaca. Padahal, posting saya di atas justru menguraikan hasil analisis dan bukti ilmiah bahwa pompa air tenaga gravitasi seperti pada gambar tidak mungkin dapat bekerja.

    @ Dencitro
    Pompa air tanpa mesin ada banyak jenisnya. Ada yang menggunakan kincir air atau kincir angin dan ada juga yang menggunakan prinsip water hammer ( pukulan air ). Jenis yang saya sebut terakhir ini biasa disebut pompa Hidram ( Hidraulik Ram ). Sedangkan yang saya analisis pada posting di atas adalah pompa jenis lain lagi yang sempat dipublikasikan pada dekade delapan puluhan. Menurut analisa dan percobaan yang saya lakukan, pompa tersebut tidak akan pernah dapat bekerja seperti yang saya katakan pada posting saya di atas dan posting saya sebelumnya. Sayang sekali bahwa banyak pembaca yang kurang teliti dan mengira saya menguraikan cara pembuatan pompa tersebut.

    Terimakasih dan salam eksperimen untuk semua.

  48. sam berkata,

    Agustus 15, 2007 pada 10:06 am

    salam kenal mas saya lagi percobaan pompa gravitasi, tapi masih belum bisa bekerja alias gagal. tolong analisakan percobaan saya ini mas.
    h1=3m
    h2=1.75m
    dia. drum=800mm
    tinggi drum=2m
    pipa masuk=2″
    pipa keluar=4″
    pipa keluar posisinya di samping drum dan saya bikin belokan untuk menahan udara masuk lewat pipa keluar.

  49. Paijo berkata,

    Agustus 15, 2007 pada 12:11 pm

    @ Sam
    Percobaan anda tidak akan pernah berhasil. Simak comment saya pada nomor 47. Postingan saya di atas ( POMPA AIR TENAGA GRAVITASI 2 ) maupun postingan sebelumnya ( POMPA AIR TENAGA GRAVITASI ) adalah berisis analisis saya bahwa pompa tersebut tidak pernah akan bisa bekerja seperti yang diharapkan. Terimakasih dan salam eksperimen.

  50. sokran berkata,

    September 8, 2007 pada 5:21 pm

    bagus boss aku atrep praktek lek iso

  51. sokran berkata,

    September 8, 2007 pada 5:23 pm

    jooos siipssss

  52. knie berkata,

    September 20, 2007 pada 12:07 pm

    pak pay ,apa anda pernah melakukan eksperimennya seperti skema gambar??.Masalahnya saya udah praktekkan persis skema ,tapi hasilnya gak sesuai yang kita harapkan.tapi ide dari anda ini saya kembangkan dan saya UTHEK-UTHEK sekarang saya telah menuai hasil.dan pompa air di rumah udh saya LEGO ke temen saya.Terimakasih banyak pa pay untuk Ide briliannya ,coba saya lebih berterimakasih pabila saya dikasih ide bagus lagi,tentang fungsi alat untuk kemaslahatan KamPunG guwee..he…heee

  53. Paijo berkata,

    September 20, 2007 pada 2:22 pm

    @ Sokran
    Silakan dicoba aja.

    @ Knie
    Saya pernah melakukan eksperimen seperti skema di atas dan hasilnya sama seperti yang anda alami yaitu gagal. Makanya saya posting artikel di atas yang menjelaskan secara teoritis mengapa pompa seperti dalam desain di atas gagal. Sayangnya banyak pengunjung yang tidak membacanya dengan teliti dan lengkap sehingga banyak yang mengira bahwa posting tersebut merupakan petunjuk untuk membuat pompa air tenaga gravitasi.
    Btw … saya jadi tertarik dengan hasil uthek-uthek anda yang sudah berhasil. Kalau tidak keberatan, bisa dikirim foto atau gambarnya ke saya melalui e-mail ( mr_paijo_paidin@yahoo.co.id ) agar dapat dipublikasikan.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  54. nuri berkata,

    September 28, 2007 pada 11:19 am

    met pagi…
    artikelnya tentang eksperimen semuanya ya??
    bisa gak saya minta cariin ide untuk membuat proposal penelitian fisika murni.Saya lagi bingung judulnya apa dan masalahnya apa?kalo bisa yang sederhana aja dan mudah dipahami aja Makasih

  55. Paijo berkata,

    September 28, 2007 pada 1:10 pm

    @ Nuri
    Artikel saya sebagian besar memang berupa eksperimen, sisanya berupa humor. Kalau ide untuk penelitian fisika murni, kayaknya sekarang ini belum ada, tapi kalau fisika terapan mungkan saya bisa carikan beberapa. Maklum, background saya bukan fisika dan bukan juga teknik tapi matematika. Terimakasih dan salam eksperimen.

  56. Guh berkata,

    September 28, 2007 pada 2:48 pm

    Parah banget pak, orang banyak yang males baca, akhirnya ga ngerti kalo tulisan bapak itu untuk menunjukkan bahwa pompa ajaib itu tak mungkin berhasil. Gimana kalo di update aja pak, di bagian atas dikasih sedikit peringatan seperti :

    “Tulisan ini untuk membuktikan bahwa pompa gravitasi TIDAK MUNGKIN bisa berhasil.”

    Diwarnai merah biar kelihatan. Btw, gambarnya mana sih pak?

  57. nuri berkata,

    Oktober 1, 2007 pada 11:02 am

    ga papa mas,fisika terapan jg boleh..
    ditunggu ya..

  58. Paijo berkata,

    Oktober 4, 2007 pada 4:06 pm

    @ Guh
    Saran yang bagus, saya akan lakukan segera.

    @ Nuri
    Ini ide saya aja, gak tahu nyambung atau kagak ya.
    1. Kalau ayam merasa nyaman dengan penerangan berwarna merah, makanya produksi telur akan meningkat jika kandang diberi lampu merah dan kalau perlu ayamnya diberi lensa kontak berwarna merah. Hal itu sudah ada yang meneliti dan hasilnya terbukti. Dari situ saya punya ide untuk meneliti spektrum cahaya yang paling disukai oleh sapi ( sapi perah ) supaya senantiasa merasa nyaman dan produksi susunya meningkat. Kemungkinan juga dapat dicoba pada sapi potong supaya tidak stress dan cepat besar / gemuk. Dugaan sementara, sapi menyukai spektrum cahaya sekitar warna hijau sampai biru. Waktu kecil, saya pernah iseng membuat kacamata dari plastik warna hijau untuk sapi. Ternyata nafsu makannya meningkat, biar jerami kering yang dicampur air+urea dia sikat habis karena kelihatan segar berwarna hijau.

    2. Ada fenomena pada penetasan telur yaitu telur yang lebih bulat ternyata lebih tinggi prosentase menetasnya. Padahal dengan volume yang sama, telur yang lebih lonjong justru memiliki luas permukaan yang lebih besar dibandingkan telur yang lebih bulat. Itu berarti telur yang lebih lonjong akan menerima kalor dari pengeram ( mesin tetas atau induk ayam ) lebih banyak atau lebih cepat dibandingkan telur yang lebih bulat. Dengan demikian, kita mengharapkan telur yang lebih lonjong seharusnya memiliki prosentase menetas yang lebih tinggi. Tapi ternyata fakta di lapangan sepertinya justru kebalikannya. Itulah yang menarik untuk diteliti yaitu hubungan antara tingkat kelonjongan telur dengan prosentase menetasnya.

    Terimakasih dan salam eksperimen.

  59. agus berkata,

    Oktober 5, 2007 pada 2:22 pm

    Salam kenal.
    Saya pernah mencoba. pompa gravitasi yang seperti gambar kan paijo, dan seperti banyakdi bicarakan hasinya gagal. tapi jujur saja dalam hati kecil saya masih meyakini itu dapat berhasil teknik teknik tertentu. dan harapan saya itu semua bisa berhasil. Tentunya tugas para ekperimenter lah yang harus mewujudkannya. Kalaukita berkata tidak bisa pasti hasilnya tidak bisa. tapi kalo kita bicara bisa, setidaknya kita akan terus berfikir dengan segala kemungkinan yang ada. Buat kang paijo, saya yakin anda sangat mumpuni di bidang ini, semestinya anda dengan kemampuan yang anda miliki mencari kemungkinan kemungkinan lain agar harapan saya tadi terwujud. Tidak malah membuat patah semangat bagi pada experimental pompa gravitasi ini. Tetaplah mencoba, karena itu adalah harapan.

  60. dhianz berkata,

    Oktober 11, 2007 pada 11:01 am

    saya butuh perhitungan detailnya cz saya mengambil skripsi tentang pompa ini . . . tolong di kirim langsung k e-mail saya. trims paijo
    yang saya butuhkan :
    - teori
    - perhitungan
    - kejelasan lebih lanjut mengenai pompa tersebut

    tolong di kirim langsung k email saya…..

  61. SONY berkata,

    Oktober 11, 2007 pada 10:46 pm

    Paijo yang baik..maaf kalau penjelasan tentang Pound yang di konversikan menjadi kilogram bagaimana?

  62. min berkata,

    Oktober 16, 2007 pada 10:32 am

    Mas Paijo, biar gak salah paham, ganti judulnya, jangan “pompa air tenaga gravitasi”, coba jadi “pompa air tenaga gravitasi tak akan berhasil”
    gettooooo…
    Btw, gambar stx-2 nya mana, ato plg gak, itu alat buat apaan, prinsip kerja gimana..

  63. Jan Haurissa berkata,

    Oktober 16, 2007 pada 10:47 am

    Mas Paijo,
    saya butuh perhitungan tentang pompa yang sudah mas paijo buat. . . tolong yach di kirim langsung k e-mail saya. trims paijo
    yang saya butuhkan :
    - teori
    - perhitungan
    - kejelasan lebih lanjut mengenai pompa tersebut

    tolong di kirim langsung k email saya…..

  64. pa'Ben berkata,

    Oktober 23, 2007 pada 12:40 am

    Salam kenal Mas Paijo,
    lama sebelum saya baca blog ini saya sudah pernah tau pompa ini,dan saya pernah lihat orang merancang dan berhasil,(waktu saya lihat di daerah bandung).Kira2 itu tahun 1989 an.Dan pada waktu dekat ini ada juga terdengar kabar bahwa di daerah jawa tengah,(tepatnya purbalingga) ada 1 area pertanian menggunakan sistim pompa tersebut.Bahkan kabarnya mereka membuat dari cor2an.
    Lalu dalam waktu belakangan ini saya pernah mencoba ( PRAKTEK).Dengan drum kapasitas 100 liter.Pipa sedotnya 1/2″ dan pipa keluarnya 1″ (lengkap dengan leher angsanya),cuma tidak di ukur berapa jarak air yg mau di sedot dan berapa panjang pipa keluarnya.
    Tapi saya belum putus harapan.Saya yakin ini bisa berhasil.Dikarenakan saya tidak memahami fisika,saya punya sebercik harapan kalau2 aja ada yg pintar mau berbagi ilmu dan mengajari saya.
    Kalau saja ada yg mau berbagi,harap saya di e mail.
    Makasih mas Paijo
    Salam ekperimen.

  65. Oktober 23, 2007 pada 10:05 am

    [...] … bersambung ke bagian 2 [...]

  66. engkuk berkata,

    Oktober 28, 2007 pada 12:05 am

    salam eksperimen
    HIDUP SANYO, RAJANYA POMPA AIR

    PEACE

  67. ardy berkata,

    November 2, 2007 pada 2:49 pm

    salam pak paijo aku jadi penasaran klo membaca artikel2 bapak. pak paijo ini sebenarnya seorang eksperimenter,guru,atau seorang dosen

  68. masboy berkata,

    November 6, 2007 pada 1:24 am

    bagus Kang.. kalo pake dua tabung gimana? saya pernah juga nyoba, pake dua tabung. katakanlah botol A dan B, dan masing2 hrs vakum, tanpa ada kebocoran sama sekali, waktu ntu saya pake botol bekas bimoli (he2 bekas nyokap). di Dasar botol A dihubungkan dengan selang ke bak yang saya anggap sbg sumur, botol A dan B dihubungkan dengan selang kira2 10cm, dibagian atas botol saya hubungkan dengan selang ke bak. air dapat naik lho Kang, belum sempat ngucur memang. tapi karna botol bimoli (yg B) kempes saat air bergerak turun dari pipa A, botol B gak bisa mempertahankan volumnya. kempesnya botol bimoli tersebut menunjukkan bahwa dengan pergerakan air kebawah menimbulkan gaya hisap pada bagian yang lainnya bila dalam botol vakum. sekarang lagi cari bahan yang keras dululah Kang. kapan2 disambung lagi, kalo dah jadi pumpnya tolong dimail saya Kang.

  69. widha berkata,

    November 24, 2007 pada 11:49 pm

    kang paijo..
    nek masalah energi gravitasi u pompa air iku adalah teori belaka..
    sy pernah coba & gagal..
    setelah saya analisa ternyata ada faktor loses energi sehingga lama kelamaan energi tersebut akan berubah bentuk…
    ingat “energi tdk dpt diciptakan & tdk dapat dihancurkan”
    tapi hanya bs diubah….

    nuwun kang

  70. sigit berkata,

    November 27, 2007 pada 9:24 pm

    Kang Paijo, pernah ada temen yang mau beli drum bekas ke tempat saya untuk bikin sedotan kayak gitu. Bedanya, saluran air masuk dan keluar sama sama dari bawah, cuma beda lobang. Katanya dia sudah pernah liat yang bekerja. Ketika nyedot dan buang, drum berbunyi dung-dung karena nyedot dan buang. Nanti tek tanya lagi kalau ketemu orangnya.

  71. eddy prabowo berkata,

    November 30, 2007 pada 11:21 pm

    saya akan mencoba patmo ini,……….
    untuk debit outflow sekitar 1-2 l/dt kira2 berapa diameter pipa inlet & pipa outletnya……….
    kira2 belinya dimana?
    btw : patmo ini bagus banget

  72. bayu zi berkata,

    Desember 3, 2007 pada 7:31 pm

    salam kenal mas…
    saya pernah coba tuh pompa gravitasi… dari skala kecil kecilan sampe pake dum… nda berhasil… memang saya tertarik dengan prinsip atau mimpi pompa tersebut…sangat ekonomis, saya ingat dahulu ketika cuma siaran televisi cuma TVRI, pernah ada tayangan cara pembuatan pompa gravitasi, entah dari LIPI atau yang lain… saya tidak ingat untuk yang satu ini. Tapi dengan penjabaran dari mas paijo tentang fluida, baru terbuka logika saya, kalau pompa tersebut masih harus di sempurnakan lagi dengan mengkombinasi dengan teknologi lain. saya pernah juga membayangkan teknologi pompa hidram… apakah mungkin jika 2 teknologi atau teknologi pompa hidram di buat agar bisa menaikan air dari sumur ke atas, dengan prinsip sirkulasi sebagai energi untuk pompa hidram.. hanya angan angan mas… jika mungkin mas paijo bisa memberikan saran atau skema serta prinsip dasar dari teknologi ‘mimpi’ ini … siapa tahu lewat jabaran serta pengalaman mas paijo dapat membuat hal ini jadi nyata..

    tabik teknologi tepat guna

  73. Desember 10, 2007 pada 9:49 pm

    PAIJOOOOOOOOOOOO PAIJO, MAKIN GILA AJA EKSPERIMEN LO, AYO JO TAK DUKUNG KAMU, SEMOGA SUKSES EKSPERIMEN LO, JANGAN MENYERAH KAWAN,

  74. ZAELANI berkata,

    Desember 26, 2007 pada 2:11 pm

    Kang Paijo aku suka sekali semangat mu,aku punya saran,kalau bisa idemu
    semua tertulis pada satu papan besar sehingga mudah untuk dilihat,problem dan action dari 4M(4m yaitu Methode,Machine,Material,Manusia) bila semua tertulis pada satu papan besar maka hal hal yg kecil akan terlihat problemnya dan bila perlu,panggil temen untuk dimintain pendapat,krn makin byk ide makin bgs juga hasilnya
    thx
    Paijo

  75. zaelani berkata,

    Desember 26, 2007 pada 2:19 pm

    semangat mas paijo

  76. zaelani berkata,

    Desember 26, 2007 pada 2:23 pm

    Mas paijo gmn kalau pakai 2 drum,posisi drum tinggi rendah,drum tinggi harus hampa udara(full air),drum rendah 1/4 drum ada udara sebagai penghisap,drum 1 ke drum 2 dihantarkan dngan pipa,drum rendah untuk membuang air dan drum tinggi untuk menghisap ke sumur,
    Zaelani

  77. satriawan berkata,

    Januari 8, 2008 pada 6:40 pm

    makasih dengan tulisan mas aku bisa ikut ujian.sekali lagi makasih

  78. sataria berkata,

    Januari 20, 2008 pada 8:31 pm

    ass….bang paijo…..
    klo saya simak sebenrnya pompa air tenaga gaya grafitasi seperti yang telah bang paijo pikirkan adalah sama sekali tidak dapat mendistribusikan air ….itu saja bukan sebaliknya….
    bang paijo..saya mau nanya kbtlan saya lgi buat makalah ilmiah tentang distribusi air bersih…pada suatu baggunan bertingkat sistimnya sistim tangki atap. pertanyaannya ;
    1.knpa diameter hisap dan diameter buang sama direncanakan..?
    2.apabila dameter hisap lebih kecil atau lebih besar apa pengaruhnya.atau sebakinya pada diameter buang ?
    terimaksih sebelumnya
    ………

  79. Muji Burokhman A.Md. berkata,

    Januari 28, 2008 pada 6:49 pm

    Ya saya setuju pendapat mas paijo .. tapi rancangan tangki hisap dapat di aplikasikan untuk memompa air dengan h sumber yang lebih tinggi misalnya untuk mengalirkan air dari balik bukit atau melalui gedung yang pipanya tidak mungkin menembus……….trims (Mahasiswa S1 STT Wiworotomo Purwokerto)

  80. SUTARMIN berkata,

    Januari 31, 2008 pada 4:53 pm

    ass.wr.wb
    Yth mas paijo jangan berkecil hati dengan pemikiran anda yang saat ini kelihatannya banyak yang mencemooh Saudara karena saya sendiri telah menyaksikan pompa gravitasi beberapa tahun yang lalu di sebuah televisi cuma saya sudah lupa tv mana.
    melihat argumentasi para netter saya jadi ingin ikut mencoba bereksperimen guna membuktikan bahwa pompa gravitasi itu bisa menjadi kenyataan.
    wss.wr.wb

  81. andi syahibul berkata,

    Februari 1, 2008 pada 10:00 pm

    tolong Mas Sutarmin jika percobaannya berhasil mohon designnya ditampilkan. Terima kasih.

  82. budi susanto berkata,

    Maret 6, 2008 pada 5:14 pm

    Seperti ilusrasi rancangan di atas tentu saja tidak bisa bekerja sistemnya, walaupun massa air dalam tangki lebih besar dibandingkan massa air dari tangki hisap, karena air itu bukan molekul dlm bentuk padat, tidak bisa disamakan dgn sistem jungkit, malahan nanti pada saat valve dibuka justru akan terjadi kevakuman dalam pipa keluar sehingga udara yg bertekanan atmosfir justru akan menekan dan masuk ke dalam tangki, sehingga air yg keluar dari pipa pembuangan (keluaran) hanyalah air sisa tangki sampai habis dan selajutnya akan terisi udara sampai pipa hisap dan air dalam pipa hisap akan sama ketinggiannya dgn air dalam sumur.
    Tapi jangan salah kami (saya bersama tim) sudah membuktikan bahwa sistem air dgn gravitasi BERHASIL dibuat dengan beberapa MODIFIKASI….

  83. Pay berkata,

    Maret 7, 2008 pada 6:08 pm

    Mas.numpang tanya,ada ga alat buat mindahin air ke tempat yang tingginya kaga terlalu tinggi,tetapi secara terus menerus gitu. . . .

    Saya juga lagi buat eksperimen,konsepnya sama buat tenaga listrik yang simpel aja,mudah mudahan jadi dan bisa berguna..

    buat semua orang…..

    amieeeeen………..

  84. hilman berkata,

    Maret 8, 2008 pada 1:58 pm

    salam kenal mas beserta team nya..
    saya berencana akan membuat eksprimen pompa gravitasi meggunakan drum. tapi kendalanya hitung2an fisikanya sedikit susah, apalagi buat wong deso sama sekali kagak mengerti. jadi kalo bisa saya minta tolong sama mas, kalo pake drum berapa diameter dan panjang pipa inlet. dan berapa pula diameter dan panjang pipa outlet. thank ya mas

  85. yupy berkata,

    Maret 24, 2008 pada 7:51 pm

    Salam kang paijo…
    Prinsip pompa air tsb pasti berhasil tinggal percobaan aja yang berulang” pasti ketemu krn saya ud coba pake ken plastik 5 lt di tempat yg sejajar lebih tinggi sekitar 5-8cm bisa kok jadi tinggal pelajari prinsipnya ajah mirip” sistem infus tinta di printer tuh asal tak ada kebocoran ataupun rembesan sekecil apapun saya yakin akan berhasil mas paijo coba lagi hayo maju terus jangan gentar mas paijo….. MERDEKA…
    Selamat Berkotak Katik Ria Ojo nyerah mas………….

  86. bayu zi berkata,

    Maret 25, 2008 pada 1:06 pm

    buat mas budi susanto, sharing dong hasil eksperimennya jika memang berhasil.. di beri ilustrasi saja biar mudah menangkap jabarannya…
    terima kasih ya mas bud..
    tabik teknologi tepat guna

  87. masduqi berkata,

    Maret 25, 2008 pada 8:06 pm

    mas paijo aku sangat interes nih coz aku sudah lama juga mikir tentang hal ini. bisa kita email-emailan aja…coz ak ingin tahu tempat sampean jo…pilihan10kata@yahoo.com

  88. Leonardus Nana berkata,

    Maret 27, 2008 pada 12:55 pm

    BANGSA KITA ADALAH BANGSA PEMIMPI HIGH TEHNOLOGI/CANGGIH, KARENA ITU KITA ENGAN/MALU MELAKUKAN PENELITIAN/PERCOBAAN YANG SEDERHANA TAPI TEPAT GUNA SEPERTI POMPA TENAGA GRAFITASI.

    Pompa tenaga grafitasi! Dari ilustrasi gambar dan cara kerja air, PTG bisa saja bisa bekerja dengan baik.Persoalannya apakah ada keseriusan para ahli/penemu dan pemerintah untuk terus menelita dan mencoba dan mencoba hingga berhasil?

  89. Q4 berkata,

    April 13, 2008 pada 5:50 pm

    eh…maaf, saya punya komentar nyasar di jemuran, eh…maksud saya di kolom jemuran pintar. Ringkasnya, ide saya memanfaatkan tenaga air (contoh) sungai/lainnya didekatnya untuk menggerakkan pompa hydram guna mengangkat air sumur yang bersih. maaf klo ide saya ini nampak lugu ato bodoh ya………
    Terima kasih.

  90. Makmur Marzuki berkata,

    April 15, 2008 pada 11:45 pm

    Ma Paijo,
    saya merasa “setuju sebagian” dengan penjelasan mas paijo diatas, sayang sekali gambarnya kurang jelas, padahal dari gambar yang disajikan, dengan uraian berdasarkan fluida statis dan dinamis jelas menyalahi hukum fisika klasik. Sebenarnya kita dapat melakukan evaluasi sekaligus koreksi dari uraian persamaan yang disajikan dalam gambar tersebut, agar pendapat netter tidak harus selalu berakhir dengan argue.

    Ke”tidak setuju”an saya sebagian, adalah : Bagaimana kalau seandainya fenomena diatas dihubungkan dengan gejala kapiler (hukum kapilaritas) dimana setiap zat cair puny tegangan permukaan yang berimplikasi timbulnya gaya kapilaritas seperti fenomena naiknya munyak ke permukaan ruang bakar melalui sumbu kompor atau naiknya air tanah melalui akar terus batang hingga ke daun dan seterusnya, rasanya itu bisa “mungkin” deh tapi barangkali debitnya cukup kecil….

  91. Makmur Marzuki berkata,

    April 16, 2008 pada 12:07 am

    Menanggapi netter yang lain, yang berpendapat tentang kemungkinan “Energi Potensial Kimia” rasanya kurang pas, karena tidak ada reaksi kimia dalam proses ini, seperti proses pembakaran… dari dasar sumur air, tetapi sampai ke atas (keluar dari kran) masih tetap air… maaf, jadi penjelasan ini tidak nyambung.

    Sedangkan argumen Q4 tentang pompa Hidram (Hydraulic Ram) itu memang memenuhi hukum fisika yang penjelasan awamnya kira kira seperti ini : Secara teoritis, apabila energi 10 liter air perdetik memiliki tinggi jatuh 1 meter, maka energi tersebut dapat mengangkat 1 liter air perdetik setinggi 10 meter, tetapi kenyataannya hanya 5 atau 6 meter, karena adanya rugi-rugi (loses), tetapi akan terbuang 9 liter air yang energi potensialnya sudah diserap untuk mengngkat air yang 1 liter tadi ke tempat yang lebih tinggi..

    Prinsip Pompa Hidram semakin tinggi discharge head yang anda harapkan maka semakin banyak dibutuhkan banyak anda kehilangan air yang perlu diambil energi potensialnya untuk dirubah menjadi energi mekanik untuk mengngkat air yang 1 liter tadi …..

    Yang Pasti adalah : Tidak mungkin mendisain apalagi membuat pompa Hidram, tanpa ada air yng terbuang, itu sudah hukum alam yang sesuai dengan hukum fisika selama ini.. Thanks
    Dan adalah mustahil

  92. Makmur Marzuki berkata,

    April 16, 2008 pada 12:56 am

    Saran saya buat yang tertarik untuk meneruskan pengembangan pompa gravitasi ini, ada baiknya pada pipa isap (kalau tidak salah no. 3 pada gambar diatas) ditambahkan bahan serat sintetis yang steril (tidak membahayakan kesehatan) yang berfungsi seperti pada sumbu kompor minyak tanah…
    Dan perencanaan disainnya lebih mengacu kepada hukum kapilaritas, yah emang sedikit rada komplikated sih…

    Semoga berhasil, dan seandainy berhasil apa masih harus disebut dengan Pompa Gravitasi, apa tidak sebaiknya Popma Kapiler saja he he he

    Salam Sukses buat netter semua…

  93. Andie berkata,

    Mei 1, 2008 pada 6:15 pm

    Leonardus bujang..
    banyak cerita kau!!!!!

  94. SiThol berkata,

    Mei 3, 2008 pada 6:18 pm

    Wah mas ku kira artikelnya tentang keberhasilan membuat pompa gravitasi, ternyata kegagalan.

    Eh di depan disebutkan mengenai mekanika fluida, tetapi dalam rumusan hitungan sama sekali tidak digunakan rumus mekanika fluida.

    Coba mas cari tentang Hukum Bernauli, di sana terdapat komponen gamma water (berat jenis), head (ketinggian), kecepatan dan debit ( berhubungan dengan diameter pipa) kalo udah di itung lagi……

    Saya pernah liat orang yang membuat dan berhasil kog, cuman masalahnya waktu itu yang dapat digunakan adalah drum dari logam, jadi sulit menjaganya tetap kedap udara, maintenance-nya mahal…..kalo sekarang kan ada drum PVC, kayak bwt tower air di rumah2 itu….. mungkin lebih berhasil….

    Nanti ku cari orang yg pernah bisa itu trus ku tanya itung2annya….

    Wis yo see you..
    Matur Nuwun

  95. manusia_super69 berkata,

    Mei 7, 2008 pada 6:09 pm

    maaf ya… jika berdasarkan gambar, maka air tidak akan pernah ada siklusnya… karena sudah pernah saya coba…. ada cara untuk mensikluskan air tersebut yaitu dengan memanfaatkan tekanan yang ada pada bejana (pada gambar sampean), tapi penampang pipa masukkan dan keluarannya tidak sama….

  96. benn berkata,

    Mei 8, 2008 pada 3:19 pm

    gut gut gut, terus kembangkan rek.. untuk bantu petani miskin kita..ok..

  97. edan berkata,

    Mei 9, 2008 pada 12:10 pm

    misalkan head air B mengasilkan daya lebih besar dari daya pompa yang dibutuhkan bisa saja terjadi, namun dengan demikian jika proses ini tertutup maka lama kelamaan kehabisan energi dan pompanya tidak jalan…jadi saya setuju sama pak paijo

  98. SUGIYANTO berkata,

    Mei 15, 2008 pada 4:27 pm

    Salam kenal,
    Maaf nimbrung, menurut logika saya pompa gravitasi tsb masuk akal asalkan perhitungannya benar, kira kira hitungannya sprti ini :

    bj air x Volume reservoir x Tinggi reservoir
    beratnya harus lebih besar dari
    bj air x Volume pipa hisap x Tinggi Hisap

    dan ada syaratnya lagi jangan sampai dalam sistemnya kemasukan udara karena terjadi reduksi / artinya pipa masuk reservoir harus terendam air / kaclap.
    demikian.

  99. Wong Kuper berkata,

    Mei 20, 2008 pada 5:10 pm

    kang Paijo, aku mau tanya apa kang Paijo buat tong hisapnya dibuat double.
    Jadi air-sumur dihisap tong-1 lalu dihisap lagi tong-2 dua ,apa menurut kang Paijo Hitungannya tetep sama [tidak berhasil] ?.

    terima-kasih

  100. dono ahmad berkata,

    Mei 22, 2008 pada 2:00 pm

    maap ikut nimbrung juga,
    saya setuju apa yg disampaikan mas Makmur Marzuki, karena sesuai dg apa yg saya renungkan saat ini, yaitu dg semacam sumbu utk mendukung hukum kapilaritas.
    menyinggung ttg gambarnya, dulu kami pernah melakukan percobaan yg sama, namun kami menggunakan dua drum, drum pertama kedap udara, dan drum kedua sbg penyeimbang air dan agar drum kedap udara tdk kemasukan udara. namun percobaan itu gagal. pisss

  101. Fredy berkata,

    Mei 24, 2008 pada 2:56 am

    Mas Paijo,

    Kalo tabung, di beri ruang untuk udara bagaimana ? mungkin 1/4 ato 1/5 bagian atas. terus pipa yang masuk ke tabung di masukan kedalam sehingga ujung tetap terendam air. Fungsi udara adalah untuk membuat ruang hampa. Sepertinya lebih mudah “menghampakan” udara ketimbang air.

    Mengenai leher angsa, Saran saya jangan menggunakan itu. Karena dengan menggunakan itu maka tenaga hisap akan berkurang / menghambat. Padahal kita meng inginkan saat air keluar, vol air lebih besar sehingga hisap nya juga lebih besar.
    Supaya udara ngga masuk (kalo pipa lurus setelah valve), gunakan ember ato apa, yang di isi air dan pipa harus terendam air.

    Percobaan saya yg pertama (gagal he he), menggunakan itu. tapi belum menggunakan ruang hampa. Nanti percobaan yg berikutnya akan sy coba (drumnya ilang, abis udah lama sih.. he he)

    Perhitungan anda juga harus ditambahkan hambatan oleh karena panjang pipa, elbow, reducer, check valve(?) dll. Ada tabelnya yg berisi koefisien tsb

    Mengenai saran dengan 2 tabung perlu dikaji juga karena itu akan membuat daya hisap lebih besar.

    Itu dulu mas, maturnuwun.

    Salam,
    Fredy

  102. ryan berkata,

    Mei 24, 2008 pada 3:39 pm

    Eksperimennya bagus mas. air dalam sumur bisa saja naik ke atas dengan catt:
    1. semua rangkaian dan sambungan harus erat (dipastikan tidak ada kebocoran)
    2. Pada reservoar (4) harus di isi air dengan penuh.
    3. Pas kran di buka kan akan terjadi tekanan kebawah tu, trus klo reservoar vakum dia akan mengisap yang dari pipa (air yang dari sumur)
    4. Kran harus tertutup rapat supaya udara tidak masuk ke reservoar.

  103. deni berkata,

    Mei 24, 2008 pada 9:53 pm

    Saya pernah nyoba seperti teori mas ryan, tapi airnya cuma keluar sebentar setelah itu terjadi keseimbangan artinya air di dalam drum tidak mau keluar lagi padahal masih banyak.
    Tadinya saya browsing2x ini untuk mencari solusi kali aja ada yg berhasil, eh ternyata memang gak mungkin berhasil menurut Kang Paijo.
    Walaupun ada yg bilang sudah pernah berhasil tetapi gak mau juga sharing pengalamannya.

  104. abd.rosyid berkata,

    Mei 28, 2008 pada 5:44 pm

    Wi web ini jelas dan sederhana dan mudah dicoba
    http://www.lpmpjabar.go.id/lpmp/index.php?option=com_content&task=view&id=126&Itemid=288

  105. abd.rosyid berkata,

    Mei 28, 2008 pada 5:54 pm

    oh ya tahun 90-an saya sudah nyoba seperti keterangan di atas, saya beli tong tapi tidak berhasil saya kira karena ada yang bocoor, juga saya coba saya coba dg skala kecil tidak bisa lalu saya berkesimpulan seperti kesimpulan penulis di atas sehingga tidak saya lanjutkan. karena saya tertarik dg berita bbm tenaga air laut di: http://malas.web.id/2007/12/05/bbm-dari-air-laut-ditemukan-orang-indonesia/ lalu saya ingat lagi dg yang dulu sehingga saya cari. tapi web yang saya tunjukkan di atas sepertinya masuk akal saya akan segera mencoba.

  106. darsono hadi berkata,

    Mei 29, 2008 pada 3:12 pm

    Ide pompa grafitasi ini sudah berkembang pada tahun 1989 an ……ya yang pasti pompa ini pasti tidak akan berhasil.

  107. darsono hadi berkata,

    Mei 29, 2008 pada 3:21 pm

    Kalau ada ditemukan sistem pengaliran dari tempat lebih rendah ke tempat lebih tinggi itu hanya bisa dilakukan diantara dua bukit dimana air akan mengalir ke kaki bukit dahulu, perubahan energi grafitasi ke energi kinetik (kecepatan air) digunakan untuk menggerakkan pompa membran. Pompa membran memompa air ke atas bukit lainnya tentu dengan tingkat effisiensi (sebagaian air akan terbuang di bawah bukit).

  108. handoyo seto berkata,

    Mei 29, 2008 pada 4:09 pm

    Pompa air grafitasi kemungkinan keran keluarannya harus lebih besar dari diameter selang penyedot contoh awal : botol air minum ukuran 1 liter kita balik tutup botol berada di bawah lalu buka tutupnya maka air akan mengalir udara pun ikut masuk ke botol ( selang keluaran harus panjang = supaya udara tidak masuk) +( selang keluaran harus besar = air dapat mengalir kebawah) Contoh akhir : selanjutnya botol pada bagian bawah kita lubangin isi air kedua ujung botol berlubang tapi pada bagian belakang botol ukuran lubang setengah dari ukuran lubang pada tutup botol, kita balik lagi tutup di bawah kita buka botol maka air akan turun udara masuk bukan dari lubang tutup botol melainkan dari belakang botol ( selang belakang botol/selang hisap harus lebih kecil = air dari sumur dapat tersedot) mengukur ukuran selang ukuran liter pada selang hisap harus lebih kecil dari ukuran liter selang keluar ( hisap=0,5 liter +keluar diatas 0,5 /1 liter )dah ah ikutannya semogaja berguna. contoh jadi :( air sumur–>selang hisap 0,5 liter –>drum diatas 10 +liter –> klep –> selang keluar 1 liter –>drum 2 liter —>selang 1 liter –>kran). cuma masukan.

  109. DeDeL berkata,

    Juni 3, 2008 pada 2:50 pm

    Lek PAIJO…
    Saya termasuk orang yang gemar memperhatikan sistem mekanik dan sejenisnya.
    Kalau menurut lek PAIJO ide sumur gravitasi buatan lek PAIJO tersebut tidak bisa jalan karena hanya masalah h2 < h1, bagaimana jika kita beri bantuan energi Potensial dari luar ?…
    Bagaimana jika pada diagram gambar no. 8 (Output pada C) diberi T yang ujungnya nantinya diberi selang yang ada tekanan air yang mengalir..
    Kemungkinan air akan tersedot dari A menuju ke C bukan…???
    Masalahnya tekanan air tadi bagaimana mendapatkannya secara gratis alias tidak mengeluarkan biaya dan terjadi secara kontinyu….
    Saya punya angan – angan ‘MENGGABUNG SUMUR PAIJO (SUMUR GRAVITASI) DENGAN SUMUR HIDRAM’. Bisa dikata SIMBIOSIS MUTUALISME. Sumur Hidram butuh tekanan (tandon) air yang tinggi untuk menggerakkan katup hidramnya yang outputnya bisa digunakan untuk membantu tenaga dorong dari sumur sampeyan tersebut sedangkan output dari sumur gravitasi sebagian bisa digunakan untuk mengisi tandon intut dari sumur hidram….
    Betul nggak Lek JO…. emang sih bikin 2 sistem tapikan bisa ngambil air dari sumur secara ostosmastis…. qiqiqiqiqiqiqiiiii…

    :o )
    Wong DeDeL

    Nah kan

  110. JAJA berkata,

    Juni 3, 2008 pada 9:17 pm

    MAS gimana kalo kontrolnya jangan cuma pakai rangkaian dc! sensornya pake thermistor aja.

  111. bogel berkata,

    Juni 7, 2008 pada 12:39 am

    Saya koq masih optimis pompa sistem gravitasi bisa bekerja…seingat saya memang ada dulu di TVRI ditayangkan….tinggal designnya saja yang kurang pas…mungkin kalau air di tangkinya tidak penuh (ada ruang udara) justru bisa terjadi kevakuman terus bisa mengangkat air dari pipa supply. Saya baru aja coba pakai botol plastik seadanya..cuma jadi penyok botolnya…tapi yang bikin semangat dari selang supply air sudah mulai naik walaupun gak sampai botolnya…

    Jujur masih penasaran….rasanya gak mungkin TVRI bohong waktu itu….

    Selamat berexperimen…

    Cheers, Bogel Balikpapan

  112. DeDeL berkata,

    Juni 9, 2008 pada 6:21 pm

    Bogel…

    Naiknya air dari selang supply itu dikarenakan penyoknya botol…
    Jadi jika botolnya tidak penyok maka air tidak akan naik… bukan begitu..???

    :o )
    DeDeL

  113. agus zulfa berkata,

    Juni 10, 2008 pada 2:15 pm

    halo pak paijo..

    saya juga tertarik untuk eksperimen pompa tanpa listrik ini, tp lom berhasil…
    apakah udah ada yg berhasil melakukan eksperimen ini???
    klo ada kasih liat gambar nya??
    thanks pak paijo

  114. DeDeL berkata,

    Juni 10, 2008 pada 6:09 pm

    Semuanya…..

    Pada dasarnya apa yang telah dikatakan lek PAIJO kemungkinan besar adalah benar (sumur tidak bisa bekerja/jalan) meskipun sudah ada yang mengatakan sudah bisa namun saya yakin mereka yang bilang bisa itu belum mencoba hingga air yang keluar sebanyak air yang ada di dalam tabung kedap udara tersebut, maksudnya begitu air keluar dari selang output langsung teriak Horeeeeeee bisaaaa…. qiqiqiqiqiqiiiii
    Namun demikian saya juga punya keyakinan bahwa sumur PAIJO tersebut bukan berarti tidak bisa. Kalau hanya mengandalkan dari skema diatas memang saya agak PESIMIS akan keberhasilannya, akan tetapi jika skema diatas diberi bantuan tenaga dari luar (misal berupa kipas penyedot) kan jadi bisa… tul nggak..?? dan menurut pandangan saya kok tenaga tambahan untuk mengangkat air dari dalam sumur dengan menggunakan metode sumur Paijo kok tidak terlalu besar, mungkin cukup dengan menggunakan adaptor sudah bisa mengangkat air dari dalam sumur…
    Dalam waktu dekat saya akan mencoba mengkombinasikan sumur paijo dengan metode sumur Hidram, Outputnya sumur Hidram akan menggerakkan baling-baling yang ada didalam output sumur gravitasi Paijo.
    Mungkin ini akan berhasil…. karena saya sudah mencoba membuat sumur hidram dan berhasil.. tinggal outputnya mau saya masukkan kedalam sumur gravitasi tsb.
    Doakan saya ya… jiiiiahahahahahaha
    btw… jika ini berhasil berarti Lek Paijo memang penemu yang hebyaaaaatttt….

    :o )
    DeDeL

  115. abd.rosyid berkata,

    Juni 11, 2008 pada 9:59 am

    Kayaknya gak bisa nih… Saya sudah mencoba seperti alamat website yang saya beritahukan di atas yaitu:

    http://www.lpmpjabar.go.id/lpmp/index.php?option=com_content&task=view&id=126&Itemid=288

    Percobaaan saya gak berhasil atau karana peralatan yang sangat terbatas ya? Tapi sepertinya memang tidak bisa… Mungkin benar kata kang Paijo.

  116. Bogel berkata,

    Juni 11, 2008 pada 10:11 pm

    Mas Dedel,

    Penyoknya botol disebabkan kondisi vakum yang dihasilkan pada saat air keluar dari botol (penyok kedalam), saya sangat yakin kalau botol atau tangkinya kuat akan terjadi kevacuman yang kuat dan cukup untuk mengangkat air dari pipa inlet dengan catatan posisi air bisa sedekat mungkin dengan tangki. saya ada gambar konsepnya pakai paint brush gimana ya cara upload ke blog ini.

    salam
    Bogel

  117. DeDeL berkata,

    Juni 12, 2008 pada 3:16 pm

    Bogel…
    Menurut saya yang sampeyan katakan bahwa “Penyoknya botol disebabkan kondisi vakum” adalah betul, akan tetapi jika botol sangat kuat, maka dugaan saya kok tekanan air yang diujung selang output (karena gravitasi air dlm botol) tidak cukup kuat untuk melawan tekanan udara dari luar botol sehingga air jadi tidak keluar, pun kalau lebih besar (misal selang outputnya dibuat besar) air akan keluar, namun tidak berapa lama kemudian berat air dlm botol tsb tidak akan mampu melawan tekanan udara dari luar botol (seperti yang dikatakan Lek PAIJO adalah benar). Saya sudah mencoba dengan menggunakan botol bensin 1liter, dengan selang diameter 3 mm gak berhasil, kemudian saya ganti dengan selang sebesar spidol (bukan yang besar) air memang keluar, tapi tidak lama. Kemudian saya mencoba dengan drum tangki 30 liter dengan paralon input 3/4″ dan outputnya 1/2″, hasilnya juga sama NIHIL…. :o (
    Sekarang saya akan mencoba mengkombinasikan percobaan yang gagal ini dengan percobaan sumur HIDRAM saya yang sudah berhasil…
    Output sumur gravitasi ini akan saya beri 2 kipas (semacam kincir), besar dan kecil yang porosnya jadi satu. yang kecil berada vakum didalam tabung, yang besar terbuka, nah output dari sumur hidram akan saya pergunakan untuk menggerakkan kipas yang besar sehingga kipas yang kecil tadi juga ikut bergerak dan akan membantu menyedot air dari tabung keluar…
    Kalau tidak kuat juga ya kipasnya akan saya gerakkan dengan adaptor.. qiqiqiqiqiqi…

    :o )
    DeDeL

  118. amyn berkata,

    Juni 12, 2008 pada 10:56 pm

    pompa gravitasi banyak yang coba dan nemuin kegagalan, coba para neter coba yang lain aja, misalnya yang pernah saya coba, pompa air tenaga angin, kalau lokasinya ada terjunan air coba pompa hidram. mudah dan juga hemat energi.

  119. Bogel berkata,

    Juni 12, 2008 pada 11:41 pm

    Mas Dedel

    Makasih atas komentarnya……
    Tapi omong2 gimana ya cara masukan gambar disini? bisa upload gak mas Paijo? atau tak kirim aja ke email sampean….jujur nich masih penasaran…barangkali dengan bantuan gambar dan detail cara kerjanya bisa dijadikan bahan diskusi…..saya kalau ada waktu luang memang mau coba….

    regards,
    Bogel

  120. DeDeL berkata,

    Juni 13, 2008 pada 2:35 pm

    Bogel…
    Dari hati kecil saya sudah gak yakin kalau sumur gravitasi ini bisa bekerja tanpa bantuan dari luar, tapi dari hati besar saya (emang hati itu ada yang kecil, ada yang besar..???) masih penasaran bahwa sumur gravitasi ini masih menarik untuk disukseskan meski harus dipikirkan pakai apa bantuan dari luar tsb. Saya masih belum sempat untuk mencoba menggabung sumur gravitasi dgn sumur hidram. Insya Allah hari minggu nanti akan saya coba karena kedua alat (gravitas dan hidram) tersebut sudah saya buat semua.
    O ya … tuan rumahnya mana nih kok gak nongol-nongol ???
    Lek PAIJO…. lagi cuci-cuci ya…??

    Teng Kyu

    :o )
    DeDeL

  121. hamuro berkata,

    Juni 16, 2008 pada 4:11 pm

    Buat yang punya rumah tiga lantai, taruh ember berisi air di lantai dua di rumah kamu, sediaakan selang yang cukup panjang dan isilah air sampai penuh, tutup kedua ujung selang agar tidak tumpah. Masukkan satu ujung selang ke ember, tarik ujung yg lain ke lantai 3, dari lubang ventilasi di atas jendela lnatai 3 kamu keluarin tuh ujung selang tadi dan tarik ke bawah sampai lantai satu, masukkan ke dalam ruangan lantai satu lewat lubang ventilasi juga. Trus tarus ujung selang tadi di masukkan ke dalam ember kosong. Buka penutup selang yang di kedua ujungnya. Maka mengalirlah air tadi dari lantai 2 ke lantai 3. Tapi keluarnya di lantai 1. Nah kamu udah bisa menaikkan air dari lantai 2 ke lantai 3 dengan tenaga gravitasi kan? Hehehe… Gw heran kenapa masih ada aja orang yang percaya kalo gaya gravitasi bisa menaikkan air, perasaan gaya gravitasi itu selalu berusaha menurunkan, menjatuhkan, tidak pernah mengangkat (hamuro, http://www.vidisonic.com)

  122. muhasan berkata,

    Juni 17, 2008 pada 12:41 pm

    salam kenal mas Paijo. saya ini adalah salah satu yang penasaran dengan pompa grafitasi meski secara teori tidak mungkin. yng membuat saya penasaran adalah rekan kerja saya mengatakan bahwa di kampung halamannya yaitu Bojonegoro sudah ada pompa semacam ini dan katanya lagi yang bisa membuatnya adalah orang-orang yang pernah tinggal atau bekerja di Malaysia. saya sangat penasaran sekali hingga saya buka kembali semua buku yang berhubungan dengan pompa dan grafitasi tapi hasilnya nihil. pada pompa air tenaga grafitasi satu mas paijo menulis bahwa sang eksperimenter muda sudah melakukan perhitungan dengan cermat dan sudah menanyakan kepada para ahli yang memungkinkan pompa ini berjalan meski kemudian saat praktik tidak bekerja sesuai harapan. untuk perhitungan yang memungkinkan pompa ini bekerja saya mohon mas paijo memberikannya pada saya karena saya membutuhkannya. dan ada keraguan dalam hati saya pada desain pompa air tenaga grafitasi diatas yaitu cara memasukan air. saya meragukan karena menurut saya sulit untuk memastikan seluruh bagian terisi dengan air. sebagai perbandingan saya melakukan percobaan pada sebuah selang dengan panjang 1m vertikal kemudian saya isi dengan air dari ujung atas hasilnya ada udara yang masih terjebak di dalam dan saya gagal untuk membuktikan efek siphon yang sudah di akui di seluruh dunia untuk kebenarannya. sekian dulu komentar dari saya. untuk Mas Paijo saya ucapkan terimakasih.

  123. DeDeL berkata,

    Juni 17, 2008 pada 2:27 pm

    Horeeeee….
    Berhasil…berhasil…. horeeee…
    Akhirnya penggabungan sumur gravitasi dengan sumur hidram berhasil juga.
    Meski harus membuat 2 alat, tapi kan bisa mengambil air gratis, meski cuman sedikit tapi kan icrit – icrit lama-lama jadi bukit dan yang penting GRATIS nya itu lho… qiqiqiqiqi….

    :o )
    DeDeL

  124. BUNG DULLAH berkata,

    Juni 24, 2008 pada 3:01 pm

    Saya sepakat dengan kang Paijo. komentar ini saya ambil dari komentar saya dijilid 1 tentang pompa gravitasi ini. Saya sendiri memang pernah menyaksikan pada era 80 di TVRI yang mencoba membuat pompa macam ini dan di TVRI memang berhasil cuma tidak diliput apa air keluar terus atau tidak. saya sendiri udah nyoba n ngak sukses walau terus penasaran kenapa ngak bisa. pas baca penjelasan kang paijo baru saya ketemu kenapa ngak bisa bekerja. Penjelasan kang paijo Sangat logis sekali. Mungkin teman-teman netter mesti jeli. Gaya gravitasi itu baru akan bekerja jika ada ketinggian. Jika kita lihat gambar, ketinggian h1 lebih tinggi dari h2. Artinya tinggi h2 dianggap lebih rendah berarti gaya tarik yang disebabkan gravitasi pada h1 lebih besar dibanding h2. Sehingga air tidak akan tertarik. air keluar dari tempat penampungan ke keran pasti. Tapi itu tidak diikuiti oleh terhisapnya air ke tempat penampungan karena gaya tarik gravitasi di h1 lebih besar dari h2. Lho h2 kok bisa lebih rendah gaya tariknya? karena semua benda tertarik ke dalam bumi karena gaya gravitasi. tentu berbeda besar gaya gravitasi yang dihasilkan antara h2 dan h1 mengingat h1 lebih dalam ke perut bumi jadi memiliki ketinggian lebih tinggi dibanding h2 yang hanya bisa sampai di permukaan tanah. Inilah kelogisan mengapa pompa gravitasi itu tidak dapat berfungsi. Memang sekilas jika kita pake fealling aneh jika tidak bisa bekerja. Tapi justru lebih aneh kalo pompa itu bekerja dengan melawan prinsip hukum alam… tul ngak kang.

  125. Dalijo berkata,

    Juni 24, 2008 pada 9:18 pm

    Salam kenal mas Paijo,

    Tentang pompa tenaga gravitasi ada yang berhasil loh,
    Didaerah cangkringan, lereng gunung merapi jateng.
    Mereka telah berhasil membangun dan digunakan bersama2 untuk keperluan sehari hari

    salam,

  126. rein berkata,

    Juni 28, 2008 pada 12:16 pm

    Mas….
    Bisa enggak kita ambil sebagai perbandingannya dengan teknik primitif para penjual bensin yang masukin selang/hose kedalam drum dan kemudian disedot ama mulutnya ampe itu hose terisi semua dan kemudian lagi ngocor dech bensinnya ampe semuanya habis dari drum?
    Ini ada persamaannya enggak ya?soalnya teknik diatas kayaknya sama hanya saja lebih sederhana.

  127. Juni 29, 2008 pada 3:20 pm

    emank tu pompa bisa digunakan. di tempat kami mala dibuat untuk menyuplai minum ternak ayam. selamat mencoba.

  128. bodor berkata,

    Juni 30, 2008 pada 9:04 pm

    ikut bingung..
    secatraperbandingan masa air, air yang ada pada h1 akan lebih ringan jika dibandingkan dengan masa air yang ada pada h2. dengan melihat kondisi ini maka ir akan tesedot ke h2. Tapi ketika air keluar dari h2 apakah udara tidak akan masuk ke h2 karena udara memiliki masa yang lebih ringan jika dibandingkan dengan masa air yang ada pada h1 dan air mempunyai sifat yang mudah tembus oleh udara. mungkin masalah itu dapat diatasi oleh adanya leher angsa. dengan dengan adanya leher angsa bukankah akan menambah gaya berat air yang harus diangkat ato dengan kata lain delta akan semakin kecil. trus gimana solusinya… jika pompa dibuat untuk sumur yang kedalamannya mencapau 30 m(bukan sumur bor)

  129. bodor berkata,

    Juni 30, 2008 pada 9:07 pm

    berapa ci ukuran yang tepat untuk sumur dengan kedalaman 30 m

  130. DeDeL berkata,

    Juli 1, 2008 pada 2:26 pm

    Hallo semua….
    Kenapa sih kita masih tetap membahas SUMUR GRAVITASI yang hampir semua yang telah mencoba mengalami kegagalan..? kenapa gak memanfaatkan energi yang lain saja… misal sebut saja MAGNET.
    Saya sudah googling artikel tentang MAGNET dari berbagai situs dan ternyata kesimpulannya Magnet dapat membuat roda jadi berputar secara kontinue tanpa berhenti. Saya sebentar lagi akan mencoba mengembangkan hasil eksperimen sebelumnya (perkawinan sumur Gravitasi dgn sumur Hidram) menjadi yang lebih praktis lagi, menjadi lebih power lagi, yaitu dengan Magnet. Mungkin dapat dilihat disini
    http://www.youtube.com/watch?v=jSmASF3OQTA

    :o )
    DeDeL

  131. Aji berkata,

    Juli 21, 2008 pada 11:58 am

    Mas Paijo Paidin Yang baik… saya suka membaca blog yang panjenengan buat. Memang mustahil membuat pompa seperti yang mas utarakan di atas, pada waktu saya kuliah di Yogya dulu sempat di buat pusing. apa iya iso kayane mustahil! eeh jebulane ya eksperimen dari pada turu awan alias mimpi di siang hari bolong.

  132. zoel berkata,

    Juli 22, 2008 pada 3:19 pm

    fungsi leher angsa pada setelah resevoir pada pompa drum untuk apa, gimana kalau leher angsa tidak dibuat dan pipa dibuat langsung aja apa pengaruhnya ?

  133. zoel berkata,

    Juli 22, 2008 pada 3:27 pm

    pada pompa drum untuk pipa hisap yang ditempatkan pada resevoir pipa masuknya coba dirobah jangan dari atas melainkan dari samping karena kalau dari atas pada saat pengisian air ke drum pipa hisap tidak terisi air sehingga kepakuman dalam resevoir tidak dapat menaikkan air dari dalam sumur

  134. BUNG DULLAH berkata,

    Juli 24, 2008 pada 1:53 pm

    MAS DEDEL,mana videonya di youtube g bisa dibuka dan dilihat karena telah diremove oleh pengirimnya…

  135. gamacca berkata,

    Juli 28, 2008 pada 6:49 pm

    bung dul, coba diliat dihttp://subterra.web.id/index2.php?option=com_content&task=view&id=89&pop=1&page=0&Itemid=1

  136. DeDeL berkata,

    Juli 31, 2008 pada 12:38 pm

    Wooo….
    Saya sudah download sih, klo mau JAPRI aja ntar tak kirimi.

    Teng Kyu

    DeDeL

  137. Fujianto berkata,

    Agustus 3, 2008 pada 3:17 pm

    mas jo… aku tertarik ide sampean, aku nyuwun tolong itungke banyu sumurku jerune seko daratan 10 meter. supoyo iso munggah manyune, aku perlu alate opo tolong itungke yo mas. trus barange’ opo wae sing disiapke

    soewoen

  138. Bogel berkata,

    Agustus 9, 2008 pada 11:31 am

    Mas Dedel,

    Coba dech lihat postingan mas Bupunsu disebelah http://paijo1965.wordpress.com/2007/03/06/pompa-air-tenaga-gravitasi-1

    memang bisa tuch air naik hanya pakai drum….aku lagi usaha dapatin gambarnya kalau memang boleh disharing…..

    Gak tau knapa aku yakin pasti ada cara naikin air tanpa pompa listrik atau aliran air deras seperti hydram…

  139. agus berkata,

    Agustus 13, 2008 pada 1:57 pm

    coba kalau dahulu penemu pesawat terbang ditertawakan dan berhenti sampai disitu. maka sampai sekarang kita tidak akan pernah melihat benda yang lebih berat dari burung bisa terbang. hidup peneliti-peneliti. jangan malu ditertawakan. segera patenkan hasil pebnemuan anda sebelum dibajak negara lain.

  140. DeDeL berkata,

    Agustus 19, 2008 pada 12:16 pm

    Mas Bogel

    Menurut saya…
    Di dunia ini tidak ada kata TIDAK MUNGKIN..
    Semua pasti ada kemungkinan atau cara untuk mengatasi semua permasalahan yang ada (cuman kita manusia perlu waktu untuk mengetahui cara tersebut karena keterbatasannya).
    Seperti kata hati anda tentang keyakinan anda PASTI ADA CARA MENAIKKAN AIR TANPA POMPA LISTRIK ATAU HYDRAM.
    Jujur saja, saya sehati dengan anda (please artikan sependapat… jangan diartikan yang lain yah.. qiqiqiqi).
    Awalnya saya sudah mecoba menaikkan air secara GRATIS dengan mengkombinasikan pompa GRAVITASI dengan pompa HYDRAM (hasilnya OK tapi hasilnya sak iprit alias sedikuuuuiiiittttt). Kemudian dari percobaan ini saya berfikir bahwa pompa GRAVITASI memang tidak bisa bekerja bila sendiri, tapi bukan berarti pompa Gravitasi tidak ada gunanya. Dengan adanya pompa Gravitasi, kita hanya perlu sedikit tenaga untuk mengalirkan air yang ada di dalam tangki. Tenaga ini tidak perlu sekuat pompa listrik. cukup dengan pompa aquarium 12 volt air sudah bisa keluar (setidaknya ini sudah mendingan dibanding pompa listrik yang 125 watt meski sama-sama keluar listrik). Nah sekarang bagaimana caranya tenaga untuk mengeluarkan air dari tangki tersebut FREE alias gratis tis tiiiiiiis.. Jawabnya adalah MAGNET. Seperti keyakinan anda, saya sangat yakin bahwa daya tolak menolak magnet dapat kita manfaatkan untuk bisa menggerakkan roda agar berputar. Saya sudah mengumpulkan beberapa masukan data-data perhitungan ,video dan cara – cara pembuatannya, saya juga sudah mendapatkan magnet dalam jumlah agak banyak secara kebetulan meski bentuknya seperti kelereng (padahal yang saya butuhkan bentuknya seperti uang koin). Sekarang tinggal mau buat rodanya dan menancapkan magnet tersebut ke roda. OK nanti kalo eksperimen tahap III ini berhasil akan saya tularkan ke komunitas blog ini .. Matur nuwun mas Paidjo…. boleh to…???

    Teng Kyu
    si sok yakin

    :o )
    DeDeL

  141. Ivanza Nasution berkata,

    Agustus 20, 2008 pada 10:26 am

    Salam kenal kang Paijo. Pompa gravitasi ini menurut saya bisa bekerja tapi dengan syarat tekanan bumi yang sangat tinggi seperti itu lho lumpur Lapindo yang enggak dipompa – pompa terus ngedur keluar entah sampai kapan. Tapi jika tekanan bumi enggak ada jangan harap itu air mau keluar, jangankan mengalir mentes saja tidak. he..he..he… Salam

  142. rickyR berkata,

    Agustus 20, 2008 pada 6:33 pm

    quote
    “Leonardus Nana berkata,

    Maret 27, 2008 pada 12:55 pm

    BANGSA KITA ADALAH BANGSA PEMIMPI HIGH TEHNOLOGI/CANGGIH, KARENA ITU KITA ENGAN/MALU MELAKUKAN PENELITIAN/PERCOBAAN YANG SEDERHANA TAPI TEPAT GUNA SEPERTI POMPA TENAGA GRAFITASI.”

    Bangsa kita? bangsa loe kaleee wong bilang gravitasi aja salah SWT

  143. Bogel berkata,

    Agustus 21, 2008 pada 12:30 am

    Mas Dedel…

    Thanks atas “sependapatnya” hehehe…….
    saya beberapa bulan terakhir lakukan experiment tentang magnet…sudah beberapa repliklasi yg sudah saya buat dan umumnya bisa berputar hanya dengan sedikit power imput (belum ada yg bisa berputar dengan sendirinya)…tapi dari semua percobaan dengan Magnet sejauh ini sampai pada kesimpulan ..Magnet tidak dapat meng”create” daya besar (Torque dalam hal ini) dlm kata lain kalau dikasih beban kurang cukup kuat….kecuali bila dibantu induksi dengan tegangan tinggi yang ujung2nya bukan free energy lagi…..

    Sepertinya kita sudah perlu wadah diskusi yg bisa upload gambar2 untuk mempermudah dalam menyampaikan ide2….atau barangkali mas Paijo bisa menfasilitasi lewat blog ini?

    Atau kalau tidak mungkin saya bisa usahakan buka forum khusus “gratisan” kalau rekan2 – rekan yang lain mendukung….

    Regards,
    Bogel – Dirgahayu Indonesiaku

  144. gogon berkata,

    Agustus 21, 2008 pada 2:08 pm

    saya pernah lihat hal semacam ini saat pameran tehnologi tepat guna di Medan
    kalau melihat dari hasil nya cukup berhasil dan bahkan mereka sudah berani nerima borongan alias pesanan bagi yang berminat , namun yang saya menjadi bingung sepertinya antara ketinggian pipa hisap dan pipa buang sama jadi sepertinya hanya sekedar seperti hanya memindahkan air ketempat yang berbeda dengan ketinggian yang sama , terus terang saya belum pernah buat , tapi buat mas paijo apakah seandainya drum nya dibuat lebih besar bisa ada pengaruh nya

  145. Bogel berkata,

    Agustus 22, 2008 pada 1:01 am

    Dear All,

    Kadang – kadang suatu keyakinan atas sesuatu terkesan dipaksakan…misalnya pompa gravitasi ini….., kalau kita melihat kebelakang para penemu hal-hal besar, saya yakin sekali mereka pada awalnya berangkat dari sebuah keyakinan yg kemudian mereka coba rumuskan sampai akhirnya berhasil. Kembali ke topic ini, pompa ini telah sering kali dibahas, dipertontonkan di TVRI tahun 90-an dan bahkan saya pernah lihat langsung di daerah Tumpang Malang sekitar tahun 93, sekarang tugas kita semua berusaha merumuskan kembali system ini agar dapat bekerja sesuai harapan.

    Saya upload ide pompa gravitasi ini di http://www.4shared.com/dir/8870104/772e94b7/sharing.html

    disana ada 4 gambar plus 1 penjelasan cara kerjanya….
    saya juga belum coba , tapi barangkali rekan2 bisa memberikan komentar.

    Tambahan lagi ada beberapa link menarik
    http://www.geocities.com/mj_17870/free1.htm
    http://www.geocities.com/mj_17870/free2.htm
    http://www.geocities.com/mj_17870/free3.htm

    Regards,
    Bogel

  146. DeDeL berkata,

    Agustus 26, 2008 pada 7:04 pm

    Mas Bogel…
    Kenapa saya begitu yakin bahwa magnet dapat menggerakkan roda tanpa bantuan energy lain, ini alasannya….
    Coba anda cari di google dengan kata TSEUNG FREE ENERGY MACHINE.
    Disitu dlm situsnya Prof.TSEUNG malah mengklaim bisa menghasilkan listrik sampai 5 KVA atau 5000 watt dengan alatnya yang cuman hampir sebesar bola volley, malahan rencananya akan membuat yang lebih besar yang katanya bisa menghasilkan sampai 50KVA.
    Kalau soal magnet yang tidak cukup kuat memutar bila diberi beban, jawabnya cukup mudah, kita beri saja semacam puli/gir pembanding (seperti pada kerekan pancing) dan pemberat (seperti roda gila pada mobil mainan anak kecil yang cara menjalankannya dengan memajukan 3 sampai 4 kali lalu memepasnya). Awalnya saya juga ragu terhadap kekuatan dari gaya tolak menolak magnet, tapi setelah saya secara kebetulan nemu magnet bentuk kelereng, lalu saya coba yang sederhana dulu dengan menggunakan sebatang kayu, saya bor pas ditengah untuk diberi as, lalu ujung-ujungnya saya beri magnet dengan sudut kemiringan yang sudah ditentukan, lalu saya dekatkan magnet yang sekutub, lalu tahu apa yang terjadi… ? kayu tersebut terdorong secara cepat bergerak berputar. Nantinya saya akan coba dengan kayu berbentik koin yang saya tempelin magnet secara melingkar. Saya yakin pasti ini bisa berhasil.

    Teng Kyu

    :o )
    DeDeL

  147. Bogel berkata,

    Agustus 26, 2008 pada 11:15 pm

    Hehehe…saya juga punya document soal magnet Tseung mas, lengkap dengan gamabarnya…meski gak begitu jelas/komplit…..dan banyak beberapa file free energy. beberapa replikasi yg coba saya buat tidak bekerja seperti teorinya tapi ada beberapa yg memang bekerja meski dengan hasil kurang maksimal…kalau ada yg tertarik boleh kasih tau emailnya dech…atau nanti saya upload di file sharing saya diatas…

    Good luck and keep up good work…..
    Bogel

  148. Bogel berkata,

    Agustus 26, 2008 pada 11:41 pm

    Hi All,

    File sudah saya upload…
    http://www.4shared.com/file/60536038/8065e4bc/LTseung.html
    mudah-mudahan jadi inspirasi anda semua…

    regards,
    Bogel

  149. DeDeL berkata,

    Agustus 29, 2008 pada 3:51 pm

    Buat mas Bogel…

    Wooooo alaaahh…. ternyata infonya lebih lengkap sampeyan dibanding punyak saya… :o ) jiaahahahahahahaaaa.
    Seperti keyakinan anda yang kuat, saya tetap punya keyakinan bahwa magnet bisa menjadi solusi pada topik ini, selama saya belum mencobanya sendiri.
    BTW… teng kyu atas informasi tambahannya (file PDF) dapat menjadi inputan bagi saya damal mencoba.

    Teng Kyu

    :o )
    DeDeL
    asalah inidigunakan untuk mengkasilkanbisa

  150. Daulat Paulus berkata,

    September 8, 2008 pada 7:05 pm

    Pak, saya baru baca ttg blog Bapak ini, salut, saya mohon kesediaan Bapak membimbing saya. Saya mau coba bertani, tp didaerah sini (Pekan Baru) ada masalah dengan air. Dan saya masih baru disini. sebenarnya saya ngak terlalu familiar dengan internet tp saya coba aja. kalau tidak keberatan Pak, tolong gambar untuk membuat pompa kincir angin. Terimakasih moga Tuhan Berkati kita semua

  151. Bogel berkata,

    September 8, 2008 pada 10:30 pm

    Pak Daulat Paulus,

    Silahkan baca dech di http://paijo1965.wordpress.com/kincir-air-paijo-1/
    kebetulan tuan rumah sudah terangkan disini

    Saya sendiri juga belum baca tuntas…tapi sekilas saya lihat sepertinya cocok dengan yg bapak butuhkan…untuk gambar lebih detail …Mas Paijo sepertinya menawarkan dikirim via email…

    Regards,
    Bogel

  152. Bogel berkata,

    September 8, 2008 pada 11:12 pm

    Untuk pompa air pakai system Hydram juga oke…

    cek link berikut

    http://virtual.clemson.edu/groups/irrig/Equip/ram.htm#Links
    http://www.lifewater.org/resources/rws4/rws4d5.htm

    dan cara kerjanya bisa dilihat disini

    http://virtual.clemson.edu/groups/irrig/Equip/ram4.htm

    saya usahakan bisa segera upload file tentang Hydram yg saya dapat dr internet..

    Mudahan bisa membantu…

    Regards,
    Bogel

  153. Bogel berkata,

    September 8, 2008 pada 11:29 pm

    Hi All,

    Saya baru upload file tentang Hydram as link…..:

    http://www.4shared.com/file/62195112/74fe167/HydRam1.html
    http://www.4shared.com/file/62195428/ca7c9951/Hydram2.html
    http://www.4shared.com/file/62195553/132dbc29/Hydram3.html
    http://www.4shared.com/file/62195643/8703331/HYDRAULIC_RAM_PUMP.html

    Semoga bermanfaat.. (file masih dalam bentuk aslinya termasuk bahasa tanpa diubah sedikitpun)

    Regards,
    Bogel

  154. michael purwadi berkata,

    September 16, 2008 pada 5:53 pm

    th 90an saya pernah coba pakai jerigen bimoli 20 liter yang disambung pipa suplay 1/2 inchi sepanjang 3 m dengan ujung dalam sumur dipasangi tosen klep dan pipa output 3/4 inchi.Kemudian sistem diisi penuh dengan air melalui intake khusus.Begitu output dibuka, air naik sampai ke jerigen ! tapi…..jerigennya menjadi KEMPOT(PENYOK), terus bocor, sehingga udara masuk ke dalam jerigen. Kemudian saya coba lagi dengan menggunakan paralon 4 inchi sebagai penampung(dengan harapan tidak akan Kempot/Penyok) , namun apa yang terjadi…… , ketika output dibuka , air malah tidak keluar………..
    Sekarang saya sedang mencari skema pompa air tenaga angin(kincir), seperti yang dapat kita lihat di film2 koboy di Amerika tempo dulu.
    Ada yang bisa bantu?

  155. daulat p berkata,

    September 16, 2008 pada 10:22 pm

    trims Pak Bogel, kalau ada yang udah coba tenaga angin yg digabung dengan pompa model pompa dragaon untuk ngangkat airnya.

  156. daulat p berkata,

    September 16, 2008 pada 10:27 pm

    langsung aja ke email ku dau_p@yahoo.com trims

  157. ahmad iryanto berkata,

    September 22, 2008 pada 4:47 pm

    mas paijo, saya salut atas keberanian anda mempublikasikan artikel “Pompa Air Tenaga Gravitasi” yang tidak mungkin berhasil. yang saya ingin tanyakan pada mas paijo adalah seandainya sistim tersebut dimodifikasi bisa nggak berhasil, soalnya dari jaman kakek buyut saya sampai jaman saya punya anak yang dibahas “kegagalan suatu sistim” tidak pernah dibahas kata kegagalan sistim tersebut diobok-obok berubah menjadi “keberhasilan”. thank

  158. ahmad iryanto berkata,

    September 22, 2008 pada 4:49 pm

    mas paijo, saya salut atas keberanian anda mempublikasikan artikel “Pompa Air Tenaga Gravitasi” yang tidak mungkin berhasil. yang saya ingin tanyakan pada mas paijo adalah seandainya sistim tersebut dimodifikasi bisa nggak berhasil?. Soalnya dari jaman kakek buyut saya sampai jaman saya punya anak yang dibahas “kegagalan suatu sistim” tidak pernah dibahas kata kegagalan sistim tersebut diobok-obok berubah menjadi “keberhasilan”. thank

  159. kebowireng berkata,

    September 23, 2008 pada 6:08 pm

    mas paijo… saya saat ini masih dalam tahap penghitungan dalam perancangan sistem pompa ini.dari apa yang mas paijo paparkan mengenai prinsip tekanan air yang dilawan oleh sistem ini.saya ingin mempertanyakan perhitungan mengenai tekanan tersebut
    saat ini,saya berencana mengaplikasikan sistem ini ke dalam sistem coolant mesin (dimana kedalaman air yang dipompa tidaklah sedalam sumur). prinsipnya bahwa, akan terbentuk siklus yang dibentuk dari aliran air tersebut. dimana air keluaran akan disimpan kebali ke dalam tempat penampungan.
    saat ini saya mempunyai hipotesa bahwa syarat dalam sistem/siklus tersebut adalah debit air yang keluar dari setiap selang haruslah sama.sehingga siklus dalam sistem ini dapat tetap terjaga.
    dimana debit air ini tergantung dari cepat rambat air dalam selang dan luas penampang selang. sehingga perlu dicari perbandingan diameter dan panjang selang untuk mendapatkan siklus ini.

    kemudian hipotesa saya yang kedua adalah mengenai energi dari mana air tersebut dapat naik ke atas. dalam tabung reservoir akan terdapat udara, diman udara tersebut tidak akan keluar dari reservoir.dengan membuat reservoir tersebut kedap.

    saat kran terbuka, air dalam reservoir akan berkurang.dengan asumsi bahwa volume dalam reservoir tersebut akan selalu tetap (karen keadaan awalnya,kedap), maka air dalam tempat penampungan akan naik tersedot untuk menggantikan volume yang hilang dala reservoir.

    mohon as paijo dapat embantu saya dalam perhitungan tekanan fluida yang terjadi.mungkin perhitungan dapat di kiri ke e-mail saya.terima kasih
    sala semangat eksperimen

  160. muzakkad berkata,

    Oktober 28, 2008 pada 11:01 pm

    gue punya generator listrik bertenaga jin,ada yang mao beli?

  161. jan warisman berkata,

    Oktober 31, 2008 pada 1:14 am

    salam kenal
    saya tertarik dengan debat yang ada di atas. saya lagi mencoba prototype yang sama . Yang membedakan hanya pipa yang menuju ke tanah. bagaimana menurut teman-teman jika pipa tersebut di buat leher angsa. Dimaksudkan untuk melawan tekanan yang terjadi di H1. Sehingga dapat membantu meningkatkan tekanan di H2. Jadi leher angsa tersebut dimaksudkan sebagai penyeimbang tekanan. Sehingga akan di dapat H2>H1.

    terima kasih

  162. Pemanfaatan ruang kamar sempit berkata,

    November 2, 2008 pada 10:49 pm

    Umumnya orang sangat merasa bingung jika hanya mempunyai rumah yg berukuran luas tanah yg serba nanggung. Maksudnya disini ukuran rumah RSSNN ( Rumah Susah Sekali NgaturNya ) yg mau tidak mau pasti ukuran kamarnya pun tidak seperti Sinetron Sinetron Indonesia yg serba wah dan Megahhhhhh. Umumnya ukaran ukurang kamarnya pun paling top hanya 2X 3 M saja.

    Tapi jangan binggung dulu bila anda mempunyai masalah seperti itu. Saya punya resep jitu coy…..
    Dimana kita hanya berusaha membuat kamar kita terlihat luas…nikmatkan jika kamar tidur kita terlihat luas bisa ngapain aja……

    Solusinya gampang tempat tidur yg mempunyai hak wajib dikamar tidur kita buat bisa trelipat ke arah dinding

    Nih gambarnya …… silahkan di copy untuk mencoba membuatnya

  163. Colombus berkata,

    November 22, 2008 pada 5:59 pm

    Mas, Saya juga bersyukur forum ini,
    Percobaan saya sudah lakukan dengan drum, memodifikasi pipa atas dari atas dan semua saya pastikan tidak ada celah dan air. pengamatan saya udara masuk lewat kran buang. Kran tertempel pada bagian samping bawah drum dan dgan percobaan dngsn kran yang telah disambung pipa 1″ sepanjang 3m hasil sam
    Dengan jeregen 5 liter juga saya buat tapi hanya terangkat sedikit.
    Percobaan saya sekarang adalah dengan drum palstik 40 ltr dan pipa isap diameter 4mm, kran plastik 1/2″. Air dipipa isap hanya naik 60cm dan tidak jalan lagi.
    Buat yang udah berhasil tolong info ke: hiburaku@yahoo.com trimakasih ya

  164. M.BADAR berkata,

    November 30, 2008 pada 12:17 pm

    Cobalah dengan mengganti pipe isap dengan pipe kapiler yang terkecil. Caranya masukkan gulungan strimin aluminium kedalam pipa isap sampai penuh, jangan terlalu mampat. Gantilah pipa keluar dengan pipe yang lebih besar dari pada pipe isap. Perbandingannya adalah volume air yang ada di pipe isap lebih kecil dari vulome air yang ada di pipa keluar. 1: 3. Gunakan 1 leher angsa saja di bawah kran. Hilangkan one way valve.Buatlah sambungan T di atas drum ( satu saluran kearah pipa isap, satu saluran ke drum, satu saluran keatas drum ) dan taruhlah stop kran diatasnya, berguna untuk memasukkan air ke dalam drum dan untuk mengontrol bilamana masih ada udara didalam drum. Lambat laun drum akan kempis / peot. Untuk mengantisipasinya buatlah beberapa batang ( 6-7 batang ) lingkaran besi kira2 12 mm seukuran bulatan drum tersebut. Tempelkan lingkaran2 besi tersebut pada dinding drum dengan cara di las. Ingat jangan sampai bocor sekecil apapun. SELAMAT MENCUBA. ANDAIKAN BELUM BERHASIL, CUBA PERIKSA MASIH ADAKAH UDARA DI DALAM DRUM, DAN DARI MANA UDARA ITU BISA MASUK USAHAKAN DITUTUP RAPAT2 JANGAN SAMPAI BOCOR. ANDAIKAN ITU JUGA BELUM BERHASIL SILAHKAN DATANG KE RUMAH SAYA, ATAU E-MAIL KE SAYA. SEMOGA BERMANFAAT. SALAM.

  165. M.BADAR berkata,

    November 30, 2008 pada 12:22 pm

    YANG TELAH BERHASIL SILAKAN BERITAHU SAYA VIA E-MAIL. DAN SEBARKAN LAH PENGALAMAN ANDA

  166. muhammad rusdi berkata,

    Desember 12, 2008 pada 10:01 pm

    mas paijo, saya yakin apa yang mas paijo kemukakan memang benar, karena merujuk pada teori dan hukum alam, namun sebetulnya seperti teman-teman yang lain sy jg masih penasaran, barangkali ,masih ada cara untuk mengakali supaya alat tersebut dapat bekerja, bisanya orang kita paling bisa mengakali sesuatu, makanya saya sarankan kepada teman-teman supaya jangan putus asa dan terus berusaha mencari cara supaya alat ini dapat bekerja.

  167. james berkata,

    Desember 19, 2008 pada 11:42 pm

    tertarik juga neh, cuma numpang lewat seh, klo yang dipaparkan diatas ma pa ijo yach,,,,! dah gamblang tuh, maaf klo agak teoritis, bagi yang mau dapat energi gratis yach, kaya’nya mustahil dah kecuali nyolong, tapi klo ada yang mau, coba aja bedah(uraikan 1 by 1) bagian dari system tersebut trus itung variable yang kemungkinan dapat mempengaruhi air dapat mengalir, cos formula yang di tuliskan diatas itu didapatkan dari beberapa kali turunan, klo mau detail cari dulu monyangnya tuh formula, nah disitu baru tau secara rinci faktor2 yang berpengaruh terhadap hukum fluida cair. klo cuma eksperimen tanpa perhitungan agah susah dah menurut aku. aku seh malas itung2 apa lagi eksperimen cos dah impossible air mau ngalir, klo mang itu bisa g mungkin jepang membuat PLTA yang outputnya cuma 50% bisa di gunakan buat publik, selebihnya buat PS (Pemakaian sendiri) tuk pompa kembali air dari waduk bawah ke waduk atas. tuh kan g mungkin juga ada PLTA or PLTM yang akan kekurangan air klo itu bisa terjadi. yang perlu sekarang perbanyaklah ilmu sehingga g mudah percaya ma yang tidak2. orang gile kale yach yang sebar tuh issue. buat yang penasaran, jangan sampe mati penasaran yach,,,,,,! hehehehe

  168. JORGEA berkata,

    Desember 21, 2008 pada 9:35 pm

    Hi, Mr.james
    I hope you still have a good memories.
    Does your school have?
    Whether you can read and think positive?
    Do you believe that the iron or the like
    will never be able float in the water?
    Could not possible with a little blackmail mind?
    I hope you can still use most sense for you if you are a normal male.

  169. Surya berkata,

    Desember 28, 2008 pada 1:02 am

    Saya, sebetulnya bingung.

    Saudara saya cerita (saya belum lihat):
    di rumahnya tak perlu sanyo, air mengalir dari air sumur dengan tenaga gravitasi, sudah 2 tahun berjalan.
    Saya belum melihat ke rumahnya, tapi saya searching, mampir ke sini, saya kaget dengan ‘maaf’ sinisme kang paijo ini.
    Saya sangat yakin saudara saya tidak bohong,

    Setelah ikutan komentar di website ini, saya harus datang ke rumah saudara saya tersebut, untuk membuktikan fakta sebenarnya.

  170. Bogel berkata,

    Januari 4, 2009 pada 9:53 am

    Pak Surya,

    Terima kasih atas postingannya…
    Mohon informasi kalau memang pompa gravitasi yang anda maksud benar2 bisa bekerja. Kalau memang benar adanya dan saudara sampean mau berbagi tentang kontruksinya kiranya saya bisa diberitau alamatnya…

    Dengan senag hati saya mau datang untuk belajar..mengingat hal ini sangat berguna buat semua orang dan tentunya akan sangat membantu bila di sharing ke tempat2 yang kesulitan air …

    Regards,
    Bogel

  171. dandykaya berkata,

    Januari 21, 2009 pada 7:26 pm

    HENOLAH

  172. The Sedayu berkata,

    Januari 23, 2009 pada 9:41 pm

    Wah gimana yah model yang mungkin untuk adearh perbukitan yg kurang air :)
    Mudahd an muirahnya

  173. glatik berkata,

    Februari 1, 2009 pada 1:16 pm

    sebenernya bisa, asalkan kerapatan dan kekedapan udara terjaga tetap rapat dan tidak sedikitpun udara yang bisa masuk. mulai dari dalam sumur sampai leher angsa, karena saya sudah pernah mencoba, namun tabung atau penampungan air yang saya gunakan kurang cukup kuat, sehngga kempes, harusnya digunakan tabung yang cukup kuat.

  174. kurzz berkata,

    Februari 1, 2009 pada 9:31 pm

    mas paijo, yang anda kemukakan itu benar, tetapi saya punya ide lain untuk menaikkan air dari sumber air di lereng gunung ke atas gunung. Idenya kira spt ini :
    “Pompa” ini terdiri dari 2 bagian utama, turbin air dan pompa air. Sebagian air dari mata air dialirkan ke BAWAH melewati turbin air dengan debit yang cukup BESAR. Putaran yang dihasilkan oleh turbin air ini dipakai untuk memutar pompa air dan menaikkan sebagian kecil air ke atas gunung. Tentu saja hukum kekekalan energi berlaku disini, yaitu total energi yang dihasilkan oleh turbin harus sama dengan total energi yang diperlukan untuk menaikkan air ke gunung. Pada prakteknya debit air yang bisa dinaikkan ke atas akan jauh lebih kecil daripada debit air yang dialirkan ke bawah. CMIIW.

  175. tito berkata,

    Februari 4, 2009 pada 5:20 pm

    yang mungkin itu kalau kita pake pipa kapiler. ingat kain kalo dibasahi bisa memindahkan air, walaupun tempatnya lebih tinggi ?!. jadi ya
    saya termasuk yang skeptis kalau dengan sistem sesederhana itu bisa mindahin air. haha

  176. Wahyu berkata,

    Februari 6, 2009 pada 2:40 pm

    Mas Paijo dan rekan rekan semua, saya bukan ahli fisika tapi saya tertarik eksperimen ini, mohon komentar mas Paijo dan rekan rekan untuk artikel di Kompas http://sains.kompas.com/read/xml/2009/02/03/22501899/listrik.tenaga.gravitasi.hebohkan.pamekasan
    Terimakasih

  177. AL basir berkata,

    Februari 9, 2009 pada 9:55 pm

    mas.,,sebuah pembudidaya ikan di jambi sudah menggunakan Pompa Gravitasi,,,

  178. AL basir berkata,

    Februari 9, 2009 pada 10:08 pm

    kemungkinan besar Gambar dan file2 saya akan berikan kepada Penggemar Pompa Gravitasi agar Bisa membantu masyrakat kecil,Apalagi di zaman sekarang segala Kebutuhan meninggkat,,

  179. rudra berkata,

    Februari 9, 2009 pada 10:20 pm

    sori om napa kok gakada yang aktif lagi. ayo pada semangat experimentnya jangan jadi rakyat yang gampang jenuh , kalau dah dapet caranya cepet bagi2 ilmunya kirim foto & vidio serta penjelasan biar pada ngerti. biar semua bisa aplikasikan buat diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa ini. trus kalau dah pada dapet dari orang jangan coba2 ngakuin temuan sendiri, ntar disantet rame2. salam kenal buat smua By : RUDRA

  180. sanpri berkata,

    Februari 11, 2009 pada 4:14 am

    jd ….menurut tmn2…yg cocok mesin yg cocok untuk manaikan air ( buster ) yg baik ,spt apa sih?

  181. momox berkata,

    Februari 13, 2009 pada 3:42 pm

    bisa berhasil asal output jangan langsung pake pipa. tetapi menggunakan sistem kayak galon air yang hanya saja mulutnya lebih besar sehingga tekanan kebawahnya lebih besar.

  182. yonga berkata,

    Februari 13, 2009 pada 4:21 pm

    Saya ingin menambahkan turunnya air dalam reservoir bisa berfungsi sebagai katub (klep). Asalkan air turun secara uniform. supaya hal tersebut bisa terjadi maka sebelum penggunaan seluruh sistem harus terisi air.
    Ukuran reservoir tergantung pada kedalam air yang di pompa.Mengenai perumusannya belum tahu. Tangki reservoir harus kuat menahan hisapan.

  183. Bandi berkata,

    Februari 17, 2009 pada 11:33 am

    Gagal itukan suksestertunda tomas, ya,,.. coba dan coba lagi sampai berhasil

  184. yonga berkata,

    Februari 19, 2009 pada 1:43 pm

    Pompa seperti ini sudah pernah di buat. Untuk reservoir kalau pakai drum minyak/oil tanpa modifikasi, ndak kuat menahan tekanan vacum. Maka harus dibuat penahan/rangka untuk drum tersebut biar ndak mlempet (penyok).
    Silahkan dibuat, Pasti berhasil…

  185. Februari 24, 2009 pada 4:20 pm

    [...] dengan banyaknya coment pada dua artikel saya sebelumnya yaitu POMPA AIR TENAGA GRAVITASI dan POMPA AIR TENAGA GRAVITASI (2) , maka saya posting lagi yang mengupas tentang masalah tersebut lebih lanjut. Bukan untuk [...]

  186. ERNES berkata,

    Februari 27, 2009 pada 10:06 pm

    BAGAIMANA DENGAN AIR bARITO YANGTERKENAL DENGAN WC TERPANJANG DIDUNIA

  187. ANDRI berkata,

    Februari 27, 2009 pada 10:10 pm

    SUNGAI BARITO TERKENAL DENGAN WC TERPANJANG APAKAH DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI POMPA AIRTENAGA GRAFITASI? MOHON PENJELASAN

  188. ANDRI berkata,

    Februari 27, 2009 pada 10:11 pm

    APAKAH ADA JENIS MESIN BOR PEMBUAT MESIN POMPA

  189. arianto berkata,

    Maret 13, 2009 pada 11:16 pm

    Saya pernah bertaruh dengan seorang teman, jika pompanya (semacam itu) berhasil, akan saya ganti seluruh biayanya. Jika gagal, saya cukup ketawa.
    Teman saya menghabiskan dana sekitar 2 juta,
    Dan ternyata saya berhasil…………………ketawa :) )

  190. semprul berkata,

    Maret 13, 2009 pada 11:19 pm

    Semoga_para_penipu_tidak_berkeliaran_sepanjang_jaman_agar_masyarakat_tidak_dirugikan_oleh_kebodohan_dan_kebohongan

  191. semprul berkata,

    Maret 13, 2009 pada 11:21 pm

    Semoga para penipu tidak berkeliaran sepanjang jaman agar masyarakat tidak dirugikan oleh kebodohan dan kebohongan

  192. skywalker_skyline berkata,

    Maret 31, 2009 pada 11:59 am

    Ya…ya………
    yang ini aku juga mau coba
    nanti balik lagi tuk ngasi coment….

  193. Rony berkata,

    April 18, 2009 pada 11:36 pm

    saya pernah mencobanya, di tahun 1991 ketika saya masih SMA. dan saya berhasil melakukannya, tetapi sayang alat2 eksperimen saya itu hilang ketika banjir tahun 2007 di grobogan. saya tidak menggunakan sesuatu yang besar seperti itu, tetapi hanya menggunakan tabung kecil dan berhasil. jadi jangan apriopri dulu ya

  194. Riono Adhi berkata,

    April 19, 2009 pada 1:14 am

    Heee…heee..heee, HUKUM ALAM KOK DILAWAN!!! wong rumsnya belum bener! Mas paijo, jelas2 ide anda percuma…PERCUMA!!! Rumus2 yang dipakai tidak praktis, tidak tepat sasaran, dan tidak berkaitan dg prinsip air mengalir dari atas ke bawah. tekanan air berdasarkan ketinggian bukan volume air…. belajar fisika dulu dech! Asas doppler. Kalo mau mengangkat air sebanyak 0.1 liter keatas setinggi 100meter, selama 10 detik maka perlu energi seperti mesin jungkat jungkit dengan beban 738juta kilogram. bayangkan, hampir milyar kilogram dengan pipa 3/4inchi. kalo pipa seukuran sedotan maka cuma 320juta kilogram sebagai bebannya…!!! semakin tinggi air yang akan diangkat maka akan semakin besar tenaga yang dibutuhkan.
    Lebih hemat energi jika pake turbin dengan gaya putar spt pompa air biasa, memanfaatkan gaya sentrifugal pada fluida tertutup.

    Perlu diingat bahwa air dlm pipa tertutup rapat, jika bagaian bawah terbuka, akan tetap mengalir kebawah, sesuai gaya gravitasi, kecuali paling atas/paling bawah menggunakan klep pompa air. Efek gravitasi ini bisa dilawan jika menggunakan pompa yang seperti pompa sumur manual/dg hidrolik. denga klep-klep yang bekerja membuka jika air berjalan naik. pompa sumur ini digerakkan dg tenaga air pula yang volumenya lebih besar. mirip pompa pengeboran minyak yang menggunakan engkol. Nah itu baru berhasill… tanpa energi listrik, diesel, dsb., tetapi saya punya ide lain untuk menaikkan air dari sumber air di lereng gunung ke atas gunung. Idenya kira spt ini :
    “Pompa” ini terdiri dari 2 bagian utama, turbin air dan pompa air. Sebagian air dari mata air dialirkan ke BAWAH melewati turbin air dengan debit yang cukup BESAR. Putaran yang dihasilkan oleh turbin air ini dipakai untuk memutar pompa air dan menaikkan sebagian kecil air ke atas gunung. Tentu saja hukum kekekalan energi berlaku disini, yaitu total energi yang dihasilkan oleh turbin harus sama dengan total energi yang diperlukan untuk menaikkan air ke gunung. Pada prakteknya debit air yang bisa dinaikkan ke atas akan jauh lebih kecil daripada debit air yang dialirkan ke bawah. kalo tingkat efisiensi alat hanya 0.8, maka 20% energi kinetiknya hilang.
    akibatnya air yang mengalir ke atas cukup kecil dibanding air yang mengalir ke Bawah. angka 0.8 adalah konstanta yang rasional karena perbedaan luas penampang Turbin. Rotasi per menit yang ideal adalah dg perbandingan 1:600, artinya jika turbin besar yang menurunkan air KEBAWAH berputar 5rpm, mak turbin kecil yang mengangkat air KEATAS berputar 5 X 600 = 3000 putaran per menit. (diingat turbin kecil idealnya berputar antara 1600 sd 5000 rpm, jika tidak maka air tidak akan naik spt keinginan/macet)
    Turbin kecil tidak bekerja jika rpm rendah karena diingat gaya sentrifugal yang dibutuhkan turbin kecil ini cukup besar.

    Energi Potensial/Ep dirumuskan:
    0.8 X (Ek air KEBAWAH/ Ek air KEATAS)
    0.8 X {(vol air ke Bawah X tinggi air ke BAWAH) / (vol air KEATAS X tinggi air
    keatas)}
    Tinggi air KEATAS=0.8 X (Vol air KEBAWAH X tinggi air KEBAWAH) / Vol Air KEATAS
    Vol Air KEATAS= 0.8 X (Vol air KEBAWAH X tinggi air KEBAWAH) / tinggi Air keatas

  195. Herman berkata,

    April 24, 2009 pada 8:37 pm

    yang namanya experimen pasti ada kekurangannya.. tapi kalau memangnya terbukti kenapa pemerintah gak segera ambil alih atau memfasilitasinya… seperti air laut yang bisa menggantikan BBM … ya to ???

    Saya juga menemukan tai kebo bisa jadi makanan pokok (beras)… caranya tai kebo dikumpulkan sebanyak satu truk…dipadatkan dan dijual… lha hasil penjualannya dipakai buat beli beras… okai to… salam experimen dan pasti sukses

  196. warid ramdhani berkata,

    April 27, 2009 pada 9:47 pm

    saya sangat tertarik dengan masalah pompa ini karena menjadi ilustrasi buat teman saya untuk membayar hutang kepada orang tuanya.jadi jika berhasil maka akan lunaslah hutangnya. mohon bantuan doa dari para pembaca

  197. warid ramdhani berkata,

    April 27, 2009 pada 9:50 pm

    alam diciptakan untuk dipelajari kawan maka bantulah aku menemukan sesuatu dari alam

  198. ARI SUGIONO berkata,

    April 30, 2009 pada 9:41 pm

    ass…nma sy ari…. mahasiswa smster akhir jur teknk mesin universitas islam riau…mas paijo…..saya sedang menyelesaikan tugas akhir untuk pembuatan pompahidram…… dan saya kekeurangan referensi mengenai pmpa hidarm…. mohon sekiranya mas paijo dapat mengirimkan referensi untuk saya …..sebelumnya saya ucapkan terima kasih,,,,,,,,,,

  199. mei berkata,

    Mei 2, 2009 pada 12:46 pm

    sepertinya defenisinya seperti apa setau saya pekerjaan itukan menggunaka tenaga listrik,,, apa keuntungan dan kekurangan dari pembangkit ini??????

    dan apakah pembangkit ini sudah banyak digunakan di indonesia kita yang tecinta ini?????????????????????????????

  200. roy berkata,

    Mei 8, 2009 pada 10:57 pm

    asskum…
    p’ nma sya roy,
    sy sangat tertarik degnan pomp hidram buatan p paidjo,
    ba g bapak mengirimkan cara2 perancangan pompa hidram, krn sy ingin membuatnya di kampung saya, hung2 bantu ortu untuk irigasi sawah si kampung.
    bls y p’
    ke: mangunsongroy@yahoo.com

  201. budi isprioyanto berkata,

    Mei 11, 2009 pada 10:08 am

    Tahun 1975 , Bapak saya yang sekarang telah almarhum telah mencoba 2 kali alat yang seperti om paijo buat, tapi 2 kali coba itu semua gagal. Kira kira dimana letak kegagalannya ? pertama menggunakan blek tempat minyak goreng, hasilnya gleknya kempis seperti krupuk, kedua menggunakan drum minyak tanah, drumnya aman, tapi air tidak keluar sama sekali. Kasihan sampai meninggal nggak kesampaian idenya itu. Kira kira sebabnya apa ya om paijo ? saya juga penasaran. Tolong kalau ada jawabannya kirimkan ke email saya juga ya. Trims atas bantuannya.

  202. warid ramdhani berkata,

    Mei 15, 2009 pada 5:48 pm

    salam kenal untuk berjuang demi menemukan sesuatu bagi umat manusia…atas nama pendidikan dan jajarannya.saya pun mencoba alat yang anda pumya ide.kebetulan saya dan teman saya sedang menyusun skripsi tenta pompa grafitasi.ada cara yang yamg memang ketidak mungkinan terjadi menjadi realita.saya sudah mencoba pompa anda dengan di gabungkan dengan ide kami berdua dan ternyata berhasil.pompa ini bisa bekerja dengan baik hanya saja perlu tambahan saja sedikit.dan alhamdillah tugar akhir saya dan teman saya di acc.saya kuliah di universitas subang (created by warid dan anton pribadi)

  203. warid ramdhani berkata,

    Mei 15, 2009 pada 5:54 pm

    selanjutnya tinggal kita fikirkan modifikasi ini.saya menggunkan galon untuk tabung akan tetapi di bungkus dengan besi agar tidak mengkerut.dan pada percobaan.pada diameter pipa .25in air bisa di angkat samapai 3 meter lebik pak….ini merupakan suatu keberhasilan kami sedang merancang pimpa untuk ketinggian 10-15m meter tapi kita berkendala pada pada dana dan rancangan tabung dengan tekanan air yang cukup besar….by anton n warid (081320238484)

  204. anton pribaadi berkata,

    Mei 16, 2009 pada 4:09 pm

    salam kenaal tuk semuanyaaa…mugkin anda semua gak percaya tentang pnemun kami,pompa gravitasi ga mungkin bisa terelisasi tanpa ada pnggabugan,cuma dg sdikit modifiksi alat itu bsa terealisasi dan itu nyata kawan….obsesi saya masyarakat kcil bisa menikmati pompa hmat energi…buktikan kau kawan2 jga bsa tanpa saling mncela…berkunjng lah k kmpus universits subang

  205. vhatarayluwu berkata,

    Mei 21, 2009 pada 11:53 pm

    maju terus tuk tetap berkreasi…., pokoknya aku seh positive thinking mi saja nda mau peduli apa kata mereka yang kurang percaya…., sekiranya itu sudah ada hubungi aku kawan biar petani yang ada dikampungku itu bisa sejahtera

  206. MADE berkata,

    Mei 23, 2009 pada 11:44 am

    MAS SAYA MAU TANYA..? TOLONG DONK MAS JELASKAN BESERTA GAMBARNYA ;;CARA PERENCANAAN POMPA AIR” (PAKAI RUMUS DAN HITUNG-HITUNGAN) MAKASIH YAAAAA

  207. waridramdhani berkata,

    Mei 23, 2009 pada 9:09 pm

    trima kasih buat made,alat yang kami buat telah bekerja dengan baik…mudah mudahan bisa membatu umat manusia,alat ini belum pernah ada yang tahu haya kami dan dosen saja, mungkin saya akan tampilkan vidio alat yang kami buat dan buktinya bahwa alat ini bisa digunakan dan berfungsi dengan baik….terima kasih kawan jika kalian ingin bertanya hubungi (081320238484)anton pribadi……kalian bisa bertanya

  208. Joko S berkata,

    Juni 2, 2009 pada 12:19 pm

    Yang jelas udah dikatakan lik Paijo, bahwa alat tersebut tak mungkin berhasi jika tanpa ada masukan energi lain(hukum kekekalan energi, dan keseimbangan).
    Namun jika ditambahkan dengan tenaga lain yang ada di alam gimana lik Paijo, Soalnya saya ingan lumpur Sidoarjo, Lha ini Tuhan telah memberi petunjuk suatu ilmu yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk umat manusia. Di Sidoarjo tanpa alat buatan manusia untuk menaikan lumpur ( yang lebih berat dari pada air) ternyata dapat naik, bahkan hingga kini belum mampu dihentikan.
    Nah dari kegagalan percobaan sumur tenaga gravitasi tersebut bukan merupakan kegagalan tapi dengan semangat dan bereksperimen yang lebih baik lagi , insya Allah akan merupakan awal kesuksesan.
    Semangat terus, maju dan sukses!!

  209. Rioh dan Massiman berkata,

    Juni 15, 2009 pada 1:40 pm

    Salam Kenal Coy.

    Gue bkn seorang yang sering bergelut eksperiment. Saya hanya orang biasa yang hanya mencoba2 dengan pengetahuan pas2an.
    Tapi Saya mau berbagi tentang Pompa Air dengan Tenaga Gravitasi. Saya Sudah mencoba dan ternyata itu berhasil. Bahan yang kami gunakan hanya Pipa, Kran dan Drum Sebagai Ruangan Vacum. Soal hitung2an wah.. Kami hanya memperkirakan (hampir tidak ada rumus yang kami gunakan), tapi toh bisa berhasil. hanya satu perbedaan dengan yang ada pada gambar (dan mungkin masih ada perbedaan yang lain yang belum diketahui) adalah pada ujung keluaran dicelupkan kedalam air coy.
    Pada saat kran pembuangan dibuka maka air akan menghisap pada wadah yang telah disediakan yang diisi dengan air.

  210. helanianto berkata,

    Juni 25, 2009 pada 11:19 pm

    Wah….menarik sekali perbincangannya seputar eksperimen. mungkin suatu saat saya bisa turut bergabung diforum ini, sementara masih belum punya ide mas….

  211. cyber berkata,

    Juni 26, 2009 pada 9:25 pm

    rioh kalau uotputnya dicelupkan air dimana air bisa mengalir dung

  212. suherman syah berkata,

    Juni 28, 2009 pada 2:22 am

    gak mas yg pake drum x . tpkan bising setiapx mau isap atw keluar airnya,kan bunyi dang dung trus mas selama pompa bekerja.jd mkn yg di manfaatkam gaya fleksibel dr drum(tutupnya)waktu drum membuang en ngisap air td mas mungkin tp ya. dulu waktu ku kcil di kampung ku ada mas .tp kan aq blm tau gimana dan apa itu .

  213. Syamson achmady berkata,

    Juli 1, 2009 pada 9:09 am

    kalau ada investor mau,bikin aja paket knock down,bongkar pasang untuk dijual murah kedaerah pedalaman RI,sehingga ada kemakmuran merata,terutama pemda setempat

  214. palupi........ berkata,

    Juli 9, 2009 pada 1:04 pm

    bisa dijelasin lebih detail sistem kerja-nya

  215. arsa berkata,

    Juli 20, 2009 pada 5:01 pm

    kebiasaan buruk hanya bisa berkomentar saja. Sangatlah saya kagum jika anda dapat membuktikan dan menemukan yang lebih baek. bukan mengomentari yang nga2 tentang karya orang. Klo km pintar Tunjukkan kemampuanmu baru komentarin py orang.

  216. fransiskus xaverius berkata,

    Agustus 2, 2009 pada 3:28 am

    klo bsa kita kasi gambar rinciannya dunk…. ^_^

  217. dhen berkata,

    September 3, 2009 pada 10:59 am

    sistem tersebut hanya kurang sempurna , karena pada pipa yang masuk diatas harus ada kran pembuka pada saat mengisi air, sedangkan ujung pipa dalam sumur juga ahrus ada kran penutup yang berfungsi untuk menutup kran pada saat mengisi air untuk menyedot, sedangkan pada tabung perlu adanya lubang yang bisa ditutup kembali setelah terisi penuh.

  218. siddiqpoltek berkata,

    September 7, 2009 pada 6:38 am

    AKU BISA GAK MINTA ARTIKEL MNENTUKAN MOTOR LISTRIK UNTUK POMPA AIR..

    KALO JARAK TANDON DARI TANAH 75 METER

  219. sang guru berkata,

    September 15, 2009 pada 2:59 pm

    sinau sik joh

  220. Sainihadi berkata,

    Oktober 4, 2009 pada 6:13 pm

    mas rioh, bisa minta gambar detailnya gak?

  221. Mbah Wek... berkata,

    Oktober 11, 2009 pada 8:33 pm

    Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini…dan tidak selamanya hukum fisika buatan manusia selalu benar…!! tidak tentu energi masuk harus = energi keluar, tidak tentu energi tidak bisa di ciptakan dan dimusnahkan, dll karena pada kenyataannya, bumi dari 150 milyar tahun yang lalu mengeluarkan energi berbilyun2 joule…untuk memutarkan dirinya…tanpa diketahui energi yang masuk dari mana dan berapa joule tenaga yang dipakai untuk memutarkannya. dan tentunya saat kiamat tiba nanti, semua energi akan bisa dimusnahkan. jadi tidak ada yang tidak mungkin…pesulap ada yang bisa menembus kaca, bisa terbang, bisa jalan diatas air, bisa dibelah masih hidup, setan bisa menghilang dll …adalah suatu ketidak mungkinan bisa di jadikan mungkin. dan itu semua berlawanan dengan hukum alam (kata orang pintar sih). jadi, janganlah berputus asa … energi grafitasi untuk memompa air secara gratis pastilah hal yang tadinya mustahil, akan bisa di jadikan menjadi hal yang real…..lakukan experiment wahai anak bangsa…jangan mudah putus asa ….!!! merdeka.

  222. fathoni berkata,

    Oktober 16, 2009 pada 10:36 pm

    Salam kenal…
    Membaca mesin pompa air tenaga grafitasi , mungkin nalar susah untuk dipercaya. Tapi say benar – benar heran ternyata barang itu emang ada. Waktu itu saya berumur sekitar 8 – 12 an tahun ( sekarang saya 31 tahun ), saya pulang ke desa kakek saya .. ketka di sungai saya mendengar desingan air yang keras, saya tertarik untuk menelusuri dari mana asal suara tersebut. Maklum masih kecil rasa ingin tahunya naudzubillah . Setelah dekat ternyata asal suara dari dua buah pipa yang beda diameter. Seingat saya yang kecil keluar airnya. Waktu itu ada penduduk disitu, saya tanya ” Pa..banyune iki soko ngendhi pak ? kok mili terus ..” Paknya jawab ” Ooo .. banyu iki soko ngisor kono..” aku heran ” terus mesin ne endhi ? ” . Iki ora nganggo mesin.. le “. Kok iso munggah ? ” Mboh aku yo bingung , seng nggawe londo kok le ..” Nggak tahu dia bohong apa nggak kalo alat itu memang peninggalan Belanda , maklum masih kecil . Saya sekarang tinggal di Bali ..Mas Paijo kalo mau lihat ke sana silahkan. Mudah – mudahan masih ada nggak kemakan ama usia.. Boleh tu dipatenkan ama Indonesia daripada keserobot ama negara tetangga. Alamatnya di dusum Lopait, Tuntang, Salatiga. di belakang Masjidnya..kalo pun sudah nggak ada bisa tanya sama sesepuh desa sana pasti tahu. Alasan nggak diproduksi sih menurut saya karena suaranya yang ngerock abizzz
    Demikian share saya mudah – mudahan berguna

  223. culun berkata,

    Oktober 17, 2009 pada 10:43 am

    sederhana aja, deh… gaya gravitasi itu kan yang membuat benda jatuh ke pusat bumi…

  224. culun berkata,

    Oktober 17, 2009 pada 10:44 am

    sederhana aja, deh… gaya gravitasi itu kan yang membuat benda jatuh ke pusat bumi…ko yang ini malah kebalikannya ya?

  225. Adek berkata,

    Oktober 24, 2009 pada 10:31 pm

    mas paijo, terimakasih sebelumnya
    saya pernah mencoba tp gagal (Menurut saya ada kebocoran)
    yg saya tanyakan fungsi leher angsa apa berpengaruh besar ? (kalo jumlahnya ditambah bagaimana)
    mohon penjelasannya


Tulis sebuah Komentar