PEMOTONG RUMPUT “PAIJO”
Februari 6, 2007 pada 1:15 am (Energi)
PEMOTONG RUMPUT “PAIJO”
By Paijo
Halaman yang luas, belum tentu merupakan aset tapi mungkin justru merupakan kewajiban. Hal itu saya alami karena biaya mengurus halaman berbanding lurus dengan luasnya, sedangkan halaman tidak menghasilkan return sepeserpun. Untuk pinggiran hutan seperti di daerah saya, biaya pemotongan rumput untuk halaman seluas 500-600 meter persegi bisa mencapai 150 ribu sekali potong. Karena jenis rumput yang banyak tumbuh adalah rumput liar ( rumput hutan ) yang sangat subur, maka pemotongan musti dilakukan 2-3 bulan sekali secara rutin. Jadi dalam setahun bisa 4-6 kali pemotongan dengan biaya total sekitar 600-900 ribu rupiah, suatu jumlah yang cukup besar. Berdasarkan kalkulasi tersebut, saya mencoba untuk mengkaji alternatif untuk membeli mesin pemotong rumput yang banyak dijual di toko-toko teknik. Setelah survey harga, ternyata harga mesin pemotong dengan kualitas bagus berkisar 2-3 juta atau setara dengan biaya pemotongan rumput untuk 3-4 tahun. Untuk yang kualitas kurang bagus, berkisar 1-2 juta atau setara biaya pemotongan rumput 2-3 tahun. Jadi menurut saya kurang ekonomis jika membeli mesin pemotong rumput karena break even point-nya terlalu lama. Kemudian saya memikirkan alternatif lain yang lebih gila yaitu membuat sendiri mesin pemotong rumput bertenaga listrik.
Mesin pemotong rumput “Paijo” generasi pertama menggunakan motor listrik AC 220 volt 125 watt 6000 rpm merk YKK yang lazim digunakan pada mesin jahit. Untuk mereduksi putaran, saya gunakan pulley dan belt dengan ratio 1 : 6 sehinga putaran pisau pemotong 1000 rpm. Mesin yang dibuat dengan biaya sekitar 100 ribu tersebut sukses dan dipakai selama 1-2 tahun. Secara umum, saya tidak puas dengan kinerja mesin tersebut yang kurang bertenaga, belt sering putus, dan pisau beberapa kali patah. Akhirnya mesin saya preteli dan sebagian komponennya dipakai untuk mesin generasi berikutnya.
Mesin pemotong rumput “Paijo-2 “ akhirnya selesai juga saya buat dengan tetap menggunakan stick dari mesin yang lama. Motor penggerak saya gunakan mesin gerinda dan pisaunya menggunakan pisau pemotong rumput standar. Mesin ini sangat powerfull tapi bising karena menggunakan motor AC yang memakai carbon brush. Selain itu, stick jadi agak berat karena motor terletak di ujung stick. Selain itu, putaran pisau terlalu cepat ( 2000-3000 rpm ) sehingga kurang aman dan mesin cenderung cepat panas. Mesin yang menghabiskan biaya sekitar 200 ribu ini sukses dan dipakai selama 2-3 tahun sebelum akhirnya rontok. Secara umum, mesin tersebut cukup memuaskan.
Pada bulan September 2004, saya menyelesaikan mesin pemotong rumput “Paijo-3” yang jauh berbeda dari 2 pendahulunya. Saya menggunakan stick dan flexi shaft standar buatan Taiwan seharga 400 ribu. Blades saya beli kiloan di pengumpul besi tua untuk menghemat karena harga blade baru sekitar 100-150 ribu tergantung kualitas. Saya juga mencoba membuat blade sendiri dengan menggunakan plat baja 1,5 mm. Untuk kerangka mesin, saya menggunakan pipa bekas ( dibeli kiloan ) berdiameter luar 0,5 inci yang dibentuk dengan tangan dan dilas. Mesin penggerak menggunakan bekas dinamo ( motor ) pompa air merk National 220 volt 300 watt 1000 rpm yang saya beli di pasar loak Poncowinatan Yogya seharga 50 ribu rupiah. Agar flexi shaft terhubung ke dinamo dengan mantab, maka saya buatkan dudukan dengan plat besi 2 mm berbentuk segitiga sama sisi ( panjan sisi 11 cm ) dan pipa berukuran 1 inci sepanjang 12 cm yang disambung dengan las. Pada pipa tersebut dipasang baut pengunci agar selongsong flexi shaft tidak lepas tapi masih bisa berputar bebas dan mudah dibongkar pasang. Antara poros dinamo dengan flexi shaft juga dibuatkan sambungan yang diberi baut pengunci agar tidak terlepas. Pada kotak penutup kapasitor, saya pasang sebuah saklar on-off sebagai pengaman. Saklar tersebut terhubung secara seri dengan saklar push-on yang terpasang pada stick melalui konektor kabel power komputer sehingga mudah dibongkar pasang bersama flexi shaft. Body mesin juga digrounding agar operator aman dari setrum jika dinamo bermasalah. Dinamo juga dipasang pada sebuah dudukan yang bisa berputar pada poros vertikal untuk menjamin posisi stick yang fleksibel pada berbagai posisi pemotongan. Untuk menjamin keamanan pemakaian, saya menggunakan kabel listrik serabut isi 3 yang berkualitas bagus sepanjang 5 meter. Agar nyaman digendong, saya menggunakan plat alumunium 3 mm ukuran 30 x 30 cm yang dilengkungkan dan dilapisi karet lembut sebagai pengalas punggung. Adapun penggendongnya, saya gunakan bekas gendongan tas ransel yang bisa menahan beban cukup berat. Pada stick, saya memasang saklar push-on merk Microswitch 15 ampere yang saya comot dari bekas mesin cuci merk GE. Handle berbentuk busur setengah lingkaran dari pipa besi diameter luar 0,5 inci juga saya pasang pada stick bagian atas. Untuk meningkatkan safety factor, saya menambahkan spatboard dari plat alumunium 3 mm pada stick bagian bawah dekat pisau. Spatboard tersebut berfungsi untuk menghalangi kerikil, kayu, atau potongan rumput yang terlempar agar tidak mengenai kaki operator. Untuk lebih menjamin keselamatan, maka pada waktu mengoperasikan mesin ini musti selalu mengenakan sepatu bot, celana jeans, baju/kaos tebal lengan panjang, helm pengaman, sarung tangan dan sefety glasses ( kacamata safety ). Karena kabel pada mesin cukup pendek ( 5 m saja ), maka perlu kabel panjang dari stop kontak sampai ke halaman sekitar 25 meter.
Kelebihan mesin ini adalah, cukup powerfull, tidak bising ( karena mengunakan motor induksi ), getarannya lemah, bebas asap dan polusi ( sehingga tidak membahayakan kesehatan operator ), dan ergonomis ( nyaman dipakai ). Adapun kelemahannya, tenaga tidak sebesar yang menggunakan motor bakar, harus menggunakan kabel, hanya bisa digunakan di tempat yang ada sumber listrik, tidak aman jika digunakan pada saat hujan ( bisa kesetrum ). Mesin yang saya buat dengan biaya sekitar 550 ribu tersebut masih saya pakai hingga sekarang, belum pernah rusak/bermasalah dan secara umum kinerjanya memuaskan. Terus terang saya bangga telah membuat dan mengoperasikannya. Terimakasih dan salam eksperimen.
mrtajib berkata,
Februari 6, 2007 pada 7:54 am
wah pak, smoga bermanfaat…saya juga ingin bikin yang kaya gitu…kpan-kapansaya niru…gak pake copyrights kan?
helgeduelbek berkata,
Februari 6, 2007 pada 11:28 pm
Walah mesin pemotong rumput di sekolah saya sebentar2 rusak terus jeee. Kalau pakai listrik gini mestinya lebih awet nuuuuh… Kusimpan dulu kang nanti saya praktiken …tambah keren saja…. banyak ide gila… salam eksperimen daaah matur nuwun
Paijo berkata,
Februari 7, 2007 pada 1:23 am
@ Mrtajib
Saya sengaja posting ini memang supaya bisa ditiru siapa saja, jadi silakan anda coba sendiri. Untuk desain ini tidak ada copyright segala, yang ada copyleft saja ( katanya pak Rovicky ).
@ Helgeduelbek
Silakan anda praktekkan untuk sekolah anda. Saya memang mempunyai banyak ide gila ( tapi saya gak gila lho ) yang banyak diantaranya masih berupa konsep dan sketsa kasar dan menunggu untuk dilakukan eksperimennya.
Terimakasih dan salam eksperimen.
Sugeng berkata,
Maret 8, 2007 pada 11:48 am
eksperimennya bapak lumayan bagus sehingga saya berminat maka ini minta izin boleh kah saya meminta salah satu karya bapak untuk tugas akhir.prinsip kerja pemotong rumput yang otomatis.o y saran saya sebaiknya karya bapak disalurkan dengan berkempintangan umum.
Paijo berkata,
Maret 8, 2007 pada 2:50 pm
@ Sugeng
Terimakasih atas apresiasi anda. Saya mengijinkan anda untuk untuk mengambil salah satu eksperimen saya untuk tugas akhir anda asal bukan yang akan saya patentkan. Kebetulan, desain pemotong rumput tersebut tidak akan saya patenkan jadi silahkan dipakai untuk tugas akhir. Untuk itu, anda hanya perlu mencantumkan nama serta URL saya pada daftar referensi anda. Jika anda perlu penjelasan lebih lanjut tentang eksperimen tersebut, saya juga bersedia untuk membatantu anda melalui blog ini.
Kalau soal menyalurkan hasil karya saya untuk kepentingan umum, itu akan terus saya lakukan secara konsisten. Untuk sementara ini, saya baru bisa melakukannya dengan berbagi informasi melalui web blog supaya bisa diakses oleh banyak orang dari seluruh penjuru tanah air.
Terimakasih dan salam eksperimen.
Roedhie berkata,
April 13, 2007 pada 12:28 pm
Pak eeeee
Kok gambarnya gak kelihatan…..???
Saya jadi penasaran tuchk….
Roedhie berkata,
April 13, 2007 pada 12:30 pm
Pak eeeeeee
Gambarnya kok gak kelihatannn…..
saya jadi penasaran tuchk…..
Thanks…. berat kalo Pak Paijo mau kirimin ke saya.
paijo berkata,
Mei 16, 2007 pada 7:11 pm
edan potongan rumput ae di piblish,koyok kurang bahan ae…
sulaiman berkata,
Juli 15, 2007 pada 3:22 pm
Pak Paijo , wah saya tertarik mesin potong rumputnya, karena saya punya pekarangan yang saat ini ditumbuhi rumput, capek juga motongnya, kalau boleh saya beli produk Pak Paijo ini bagaimana?, lumayan saya juga hemat uang dari pada beli di toko. Oh ya kalau di saya beli harganya berapa? sekalian beramal lewat ilmu inovasinya kan Pak - tolong ditanggapi ya
dewo berkata,
Juli 17, 2007 pada 9:58 am
Keren & awet.
Tinggal diproduksi massal saja, Pak.
Salam experimen.
Paijo berkata,
Agustus 23, 2007 pada 2:38 pm
@ Roedhie
Kalau mau lebih jelas, gambar dapat dicopy ke harddisc dulu. Kalau saya ada waktu, akan saya foto lagi dengan resolusi dan pencahayaan yang lebih baik.
@ Paijo ( tapi bukan saya lho )
Yang saya publish bukan potongan rumput tapi pemotong rumput. Bukan kekurangan bahan karena di rumah saya masih banyak hasil karya yang belum saya publish dan nunggu giliran.
@ Sulaiman
Saya memang sempat berfikir untuk menjual mesin pemotong yang saya buat. Setelah saya diskusikan dengan anak dan istri saya akhirnya gak jadi karena semua hasil karya saya akan saja jadikan koleksi pribadi dan jika ada dana akan dibuatkan semacam galery agar bisa dipelajari oleh yang membutuhkan. Btw … koleksi saya dan team saya sudah bisa memenuhi sebuah galeri ukuran 200 meter persegi.
@ Pak Dewo
Kalau ada pabrikan yang mau ya silakan saja, saya tidak patentkan kok.
Terimakasih dan salam eksperimen.
dodik berkata,
September 27, 2007 pada 9:54 am
maaf ya Mas Paijo kalau salah ruang bisakah saya mendapatkan spek & harga spare part untuk membuat kincir angin 1 Kw. Generator/alternator, diconnect switch,DC to AC inverter,dll termasuk juga toko yg jual alat2 tsb. tks ya
wida berkata,
Oktober 27, 2007 pada 10:29 pm
bapak kreatif banget ya……..
Tumijo berkata,
Desember 24, 2007 pada 5:09 pm
no coment
T-Bond berkata,
Januari 13, 2008 pada 4:05 pm
mas Paijo PEMOTONG RUMPUT “PAIJO” nya saya bikin buat TA ga’ papa kan ? soalnya saya belum nemu judul.
saksono berkata,
Maret 31, 2008 pada 11:03 pm
Salam kenal,
saya baru menemukan web anda dan sangat senang membacanya, salut atas hasil karya olah kreatif anda dalam mewujudkan suatu karya.
salam.
Saksono
Ohoy berkata,
April 9, 2008 pada 8:59 am
kebetulan halaman saya luas mas, jd k’lo pake listrik repot. ada yang pake energi lain tidak?pake bensin campur getho kaya’ mesin aslinya
zarro berkata,
April 16, 2008 pada 4:30 pm
wah mas paijo pinter banget, saya minta bantuannya dong untuk bikin mesin grinda batu untuk kondisi basah (untuk moles batu akik), saya mau jual akik produk sendiri biar untung lebih banyak, untuk mesin asah yg diputer pake tangan sekarang sudah g ada lagi uang jual krn kebanyakan pake listrik, padahal penghasilan penjualan akik minim banget lho pak, jangan lupa email saya ya pak, terimakasih
andry irawan berkata,
Juni 9, 2008 pada 12:05 pm
dijual tidak pak, hubungi saya via e-mail ya kalau dijual dan berapa harganya
thanks